Emi & Naomi

13712646_1013225565462072_225537333_n

E M I

Narumi Emi

Unknown, 1995

º

Layaknya idiot, senyuman tak pernah luput dari parasnya. Seperti air, perangainya begitu menenangkan. Namun selarasnya air pula, ia bisa menghanyutkan siapa saja yang mencoba menyelaminya. Emi mungkin terlihat seperti sosok gadis periang yang 24jam akan berbagi senyuman pada setiap orang yang ditemuinya, namun kau tidak akan menyangka kapan sarkasme melesat mulus dari bibirnya tatkala melempar senyum manisnya padamu.

Tinggal bersama seorang lelaki tua di Karuizawa, prefektur Nagano; sebelum akhirnya memutuskan untuk mencoba peruntungannya di pusat ibukota. Berbekal cello yang setia ia panggul kemanapun kakinya menjejak, Emi mengumpulkan koin demi koin dari pertunjukan kecilnya di pinggiran jalan bersama karibnya itu. Hidup luntang-lantungnya berakhir ketika ia berkenalan dengan tiga sekawan yang menawarkannya tempat tinggal layak; dan jabat hangat pertemanan.

Sama sekali tidak mengenal tempat jika itu menyangkut masalah tidur. Emi akan langsung terpejam pulas setiap kali ia mendapat kesempatan membaringkan badan. Kolong meja depan televisi jadi spot favoritnya untuk menghabiskan waktu tidur siang.

Tiada hari tanpa sekotak susu stroberi tandas olehnya. Johnny akan berbaik hati memenuhi kulkasnya dengan minuman kesukaan Emi sejak gadis itu jadi salah satu penghuni rumahnya.

12918517_1029955197074901_1011515540_n

N A O M I

Hirata Naomi

Osaka, 1995

Lahir dan tumbuh di Osaka bersama sang ayah, sebelum akhirnya terpaksa mengungsi ke tempat ibunya di Tokyo setelah kecelakaan merampas nyawa sang ayah. Kala itu, Naomi masih duduk di bangku sekolah menengah pertama dan tidak punya pilihan lain selain tinggal bersama wanita yang seharusnya ia benci untuk seumur hidup. Ia akhirnya meninggalkan rumah dan hidup terpisah dari wanita yang selalu ia tolak untuk memanggil ibu. Sejak saat itu, Naomi menjadi salah satu penghuni di rumah milik sahabatnya, Johnny.

Mengenyam pendidikan di sebuah kampus ternama, Meiji University. Sayangnya, Naomi terancam drop-out karena kebiasaannya mangkir dari jadwal kelas meski pada faktanya ia pernah menjadi mahasiswa teladan di awal semester. Ibunya memaksa untuk membiayai kuliahnya, itulah alasan di balik sikap Naomi yang terus-menerus melanggar aturan kampus, —berharap pihak kampusnya akan menendangnya keluar sehingga ia tidak perlu lagi menelan uang ibunya dan itu berarti Naomi tidak harus menanggung hutang sepeser pun pada wanita yang paling ia benci.

Banyak yang berpikir Naomi adalah seorang yang angkuh hanya karena parasnya yang dingin tanpa lengkung garis terpatut di tiap sisi bibirnya. Ia memang tidak banyak bicara, apalagi jika berurusan dengan orang asing yang baru beberapa hari ia kenal. Para sahabatnya sangat mengenalnya, mereka tahu di balik penampilan bak putri es, Naomi adalah sosok yang tanpa sungkan akan memberi perhatian lebih pada orang-orang yang ia sayangi. She’s surprisingly a thoughtful person who has fragile heart; and only her bestfriends know that side of hers.

Satu diantara segelintir anak muda yang masih menggandrungi musik enka. Sudah jadi kebiasaan Naomi di pagi hari memutar Yozora milik Itsuki Hiroshi, salah satu musisi enka yang ia kagumi. Seperti biasa, Yuta akan menghentikan konser kecil Naomi dan dilanjut satu ronde adu mulut sebagai sesi penutup.

º

6f4487483382d8af251df41001f81cdd

Y U T A

Nakamoto Yuta

Osaka, 1995

Meninggalkan kampung halamannya, beranjak memulai perantauan di pusat ibukota. Mencari peruntungan bukan jadi satu-satunya alasan mengapa Yuta datang ke Tokyo. Naomi, gadis pendiam yang ia kenal di kelas yang membosankan di masa sekolah, adalah alasan terbesarnya. Yuta selalu menganggap Naomi sebagai seseorang yang harus ia jaga apapun yang terjadi. Ia memberanikan diri menjelajahi Tokyo dan butuh beberapa bulan hingga ia menemukan sosok gadis yang sempat menghilang dari pandangnya.

Sebagaimana pemuda Kansai pada umumnya, Yuta adalah sosok yang penuh humor sarkastik namun menggelitik. Ia pandai memecah suasana, ramah dan tahu bagaimana bersosialisasi dengan banyak orang.

Tidak ada yang tahu ketika nasib mempertemukannya dengan Johnny, pelanggan pertama di hari pertamanya bekerja di sebuah kedai kopi. Berawal dari segelas americano dan obrolan random, hingga Johnny menawarkan untuk tinggal di rumahnya di sudut distrik Chiyoda. Yuta adalah orang pertama yang tinggal bersama Johnny, sebelum Naomi menjajah satu kamar di rumahnya.

T A E Y O N G

Lee Taeyong

Seoul, 1995

Pemuda berdarah Korea yang telah melewati sebagian hidupnya di negeri sakura bersama sang ayah, satu-satunya sanak keluarga yang ia miliki. Selalu menutup diri dan merasa nyaman dengan kesendirian. Tidak ada seorang pun yang tahu; bogem mentah, tendangan kaki, perihnya cambuk; sudah jadi makanannya setiap hari. Taeyong jadi korban tindak kekerasan sang ayah sejak ia kecil dan sudah amat terbiasa dengan perlakuan kasar. Taeyong lebih senang ketika orang menganggap memar di wajahnya adalah hasil dari tawuran kalangan anak muda, dengan begitu tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa ayahnya pelaku di balik luka yang ia derita hampir di sekujur tubuh.

Taeyong masih ingat ketika senja menjelang dan ia beranjak pulang, kakinya berhenti di kerumunan kecil yang mengelilingi seorang gadis yang tengah memainkan cello. Pertama kalinya ia merasa sesuatu yang amat menarik perhatian, alunan melodi yang mampu menentramkan jiwanya, dan lambat laun menjadi candu. Tidak setiap hari gadis itu bermain cello di spot yang sama, Taeyong harus menunggu setidaknya 2 hingga 3 hari hingga gadis itu kembali memainkan pertunjukkan musik jalanannya. Ia harus menelan kekecawaan untuk waktu yang cukup panjang ketika gadis itu menghilang dan tidak pernah kembali bersama cello-nya. Maka pada suatu hari, ketika pada akhirnya Tuhan memberinya kesempatan satu kali lagi melihat si gadis cello, Taeyong yang kehilangan akal sehat membuntuti hingga ia tahu dimana gadis itu tinggal.

Berawal dari kesalahpahaman konyol, Taeyong mengenal sosok Emi dan ketiga teman seatapnya; dan berujung dengan lembar kisah baru —mencicipi manis dan pahit persahabatan yang belum pernah ia rasa sebelumnya.

J O H N N Y

Johnny Seo

Chicago, 1995

Lahir dan menghabiskan sebagian masa kecilnya di Chicago. Sayangnya, tekanan keluarga yang membuatnya tenggelam dalam masa-masa penuh stres, membuatnya memutuskan untuk mengikuti sang kakak yang bekerja di sebuah perusahaan besar di Tokyo. Johnny pindah ke ibukota Jepang di pertengahan masa sekolah menengah atasnya. Ia tinggal bersama sang kakak selama beberapa tahun pertamanya di Tokyo hingga ia mampu membeli rumah dari hasil tabungannya.

Tinggal di rumah seorang diri, lama-kelamaan membuatnya bosan. Entah apa yang membuatnya berani mengajak seorang pelayan di sebuah kedai kopi yang baru ia kenal tak sampai sebulan untuk tinggal bersama. Dunia memang sempit, Johnny menyadari itu kala ia menawari tumpangan pada sahabatnya —Hirata Naomi— di satu kamar di rumahnya dan tanpa sengaja telah mempertemukan sahabatnya itu dengan pemuda Kansai yang juga ia tawari hunian. Johnny tidak pernah menyesal menyisakan beberapa kamar di sudut-sudut rumahnya untuk empat orang yang lambat laun mengenalkannya hangatnya sebuah keluarga.

Menghabiskan malamnya di sebuah kelab di kawasan Roppongi sebagai DJ dengan bayaran yang terbilang cukup tinggi. Benang merah menariknya pada gadis masa lalu yang pernah ia kenal selama tinggal kampung halamannya. Johnny bertemu dengan Moon Se Hwa, gadis yang sempat —dan harus ia akui, masih—menyabotase pikirannya, meski Johnny sadar tidak semua di dunia ini berjalan sesuai pinta hati manusia.

.

.

Covered by: Sayu & Sawa