Don’t Let Go

Kang Daniel (Wanna One) – Hwang Freya (OC) – Ten  (NCT)

CanonXAU

..

..

sky.l

..

..

Freya tak masalah, namun peringai bungkam Ten beberapa hari belakang membuat gadis itu gerah seakan tengah menjaga gerak gerik diri dari tatap tak tertafsir yang dilempar. Ten jarang marah, apalagi merajuk. Bukan tingkah lazim rasanya bila kini hal tersebut benar tengah diusung tertuju pada Freya.

Cerobohnya memang di atas rata-rata manusia kebanyakan, namun rasanya, setelah mengorek ulas memori, tak terdapat petunjuk alasan aksi Freya yang membuat Ten tetap datang pada jam biasa namun dengan bibir terkatup rapat hingga Bibi Hwang menyiku Freya dengan tatap penuh tanya. Gadis itu meninggi kedua bahu, tak paham juga mengapa.

Eonnie, tanganmu.” Tutur Se Ah membuat tangan Freya yang tengah mengaduk adonan pajeon berhenti. Sepupu jauh yang beberapa hari lalu datang dan menggantikan Min Jung tersebut menunjuk mangkuk besar yang pinggirannya sudah berceceran menciprati alas meja.

Freya hanya mengusung cengir kaku, menarik waslap yang diletak Se Ah untuk membereskan ‘mahakarya’ yang dibuat.

“Ada sesuatu yang sedang dipikirkan?” Se Ah tak segan bertanya, gadis satu ini tak memberikan aura mengesalkan seperti Min Jung, namun rasa ingin tahu yang tak segan dilontarkan kapan sajanya tersebut membuat Freya kadang tak nyaman. Se Ah juga dibekali sifat buta membaca situasi, entah menguntungkan atau sebaliknya, gadis itu sungguh tidak pandai menafsirkan mimik serta gelagat  keberatan lawan bicara yang enggan dikorek informasinya.

“Bertengkar dengan Ten oppa?” Mangkuk pajeon dalam genggam yang hendak diletak Freya kembali ke dapur hampir meluncur bebas ke lantai, beruntung tangan salah satu pegawai dapur telah mengambil alih benda tersebut. “Iya?” Suara Se Ah menguar lebih keras.

Freya menghela keras. Tidak ingin mengaku bukan pilihan, begitu bila sudah berurusan dengan Hong Se Ah. Meski tak lebih dari satu pekan keduanya saling mengenal.

“Tidak tahu.” Lontar Freya, membalas dengan satu-satunya kalimat yang mengaum dalam pikir.

“Eh?”

“Aku juga tidak tahu aku berbuat apa sampai Ten mogok bicara padaku.”

**

Tungkainya otomatis berhenti, sementara diri mempertanyakan keputusan yang membawa wujudnya kembali ke restauran bibi Hwang. Entah, mungkin memang sudah bawaan tak sadar yang menyeretnya menuju tempat tersebut seperti hari biasa.

Hari biasa, bilamana Ten tidak mempermasalahkan hal sepele seperti mantan pegawai paruh waktu yang menemui Freya pekan lalu. Tangannya sibuk mengacak-acak surai setengah basah. Kekanakan sekali, pikirnya. Namun terlalu menghenyak, tiap kali benak mulai memainkan skenario kemungkinan pertemua Freya dengan laki-laki tersebut. Sementara dirinya merasa seperti pengecut yang hanya bisa mengejar dan menunggu selama ini.

Satu tarikan nafas, Ten memutuskan membalik tubuh. Mungkin hari ini dirinya butuh waktu dan jarak sekejap dari Freya. Sekedar menetralisir luap yang tak kunjung redup.

“Khun¹-Ten.”

Terlambat. Selang beberapa sekon, Freya sudah berdiri tepat dua langkah dari Ten.

**

Kaleng cola yang sudah dibuka Freya tak kunjung bertemu bibir. Dibiarkan menjadi pajang yang dimainkan tangan kosong. Mengolah-olah kalimat pembuka yang harus diujar untuk memulai pembicaraan yang sesungguhnya terlalu berat untuk Freya usung.

“Khun-Ten.”

“Tidak perlu. Kenapa tiba-tiba memanggilku seperti baru kenal begitu.” Sela Ten, wajahnya menunjuk gusar.

Freya mengangguk, namun tetap tak membalas pasang tatap Ten.

“Kenapa?”

Freya mengetuk telunjuknya pada pengait kaleng. Satu tarikan berat sebelum dirinya berkata, “Aku salah apa? Apa aku tidak sengaja membuatmu marah?” Tunduk kepalanya semakin dalam, tak ingin mendongak tepat pada mimik Ten yang lantas makin membuat pelupuknya penuh.

“Frey…”

Ten hendak meraih bahu Freya yang tiba-tiba nampak kaku, jelas menahan seseguk yang membanjir lekas, namun terkatung diam, “Aku… aku sudah mencoba mengingat. Tapi aku tidak tahu. Kalau… kalau kau marah karena sesuatu. A-aku minta ma-af.” Potong katanya terjeda, menghalau sekeras mungkin sendat tangis.

“Frey… bukan. Aku tid-“

“Jangan pergi. Jangan pergi seperti semua orang. Kalau kau tidak ada, aku bagaimana!” Freya bertutur cepat, lebih lantang. Dua matanya merah, penuh tumpah dari pelupuk. “Kalau kau juga akan meninggalkanku, kenapa harus datang!” Pasang telapak tangan gadis itu menghantam keras meja plastik mini market, beberapa pelanggan yang keluar menoleh, sekilas mencuri telaah situasi.

Ganti Ten yang kini menghembus berat. Freya mengurung wajahnya pada lipat tangan bertumpu meja. Bahunya nampak naik turun, seiring redam gugu yang disembunyikan.

“Bodoh,” Ten menepuk-nepuk pundak Freya pelan. “Untuk apa aku datang jauh-jauh kesini kalau akhirnya hanya akan menghilang tiba-tiba, Frey…” Tangannya berpindah mengusap puncak kepala Freya, “Berhenti. Aku hanya butuh waktu menata hatiku. Bukannya menghadang jarak. Tssshh…”

Lima menit lebih lamanya, Ten berusaha tak menghirau tatap orang-orang yang berlalu lalang mengurai tatap ingin tahu selagi Freya membiarkan tangisnya tumpah dengan raung redam di balik kedua lengan.

Ten tahu, Freya tidak pernah menuntut janji darinya atau dari satu orang pun. Namun tak perlu dua kelingking bertaut, cukup ikrar pada dirinya sendiri; tidak akan membiarkan dunia gadis itu luluh lantah terburai kehilangan lagi.

“Tssshh… Frey, aku disini. Tidak akan kemana-mana.” Pelan ujarnya, masih mengusap kepala Freya sampai tangis gadis itu redup.

**

Hyung…. ayolah. Kumohon sampaikan ini, ya?”

Lelaki yang umurnya tak terpaut jauh tersebut nampak ragu, mengusap-usap tengkuk dengan kerut kening. Tangan satunya memegang sebuah tiket beserta keterangan lain yang menyebut si pemegang tiket akan diberikan tanda masuk sebagai pengunjung diundang, yang akan diiring ke belakang panggung selesai acara.

Sebagai penanggung jawab hampir segala hal yang berhubungan dengan pekerjaan, laki-laki tersebut sontak merasa dilangkahi dengan aksi Daniel tersebut.

“Tolong sampaikan ini. Urusan dia mau datang atau tidak, itu terserah dia. Ayolah hyung.” Kedua telapak terkatup rekat. “Tidak akan ada masalah. Aku akan bilang dia sepupu jauhku. Beres kan?”

Laki-laki itu menghempas lagi napasnya. “Haish. Kalau sampai ada rumor yang kudengar, tidak ada lagi permohonan semacam ini, mengerti?” Namun tetap  saja laki-laki itu tak sampai hati menolak permintaan sungguh-sungguh Daniel. Memuali langkah diatas panggung pertunjukan bukan hal kecil, meski dikelilingi banyak penggemar dirinya tahu, Daniel kala harus berpura-pura di atas rasa letihnya nampak kesepian.

Angguk Daniel antusias, rekah ujung bibir menanda kebersediaan menerima segala macam prasyarat selagi dirinya bisa bertemu wajah kembali dengan gadis itu.

-.-

notes;

[1] A polite/formal way to call someone in Thai.

tengtereeeeng, halo halo haloooo

maaf ya kalo disini Min Jung kena gusur sama Se Ah yang…… side storynya nanti sengaja aku paut sama Freya which will be post MAAAYYYBEEE kapan kapan kalo ada waktu di blog aing. I know, its kinda awkward with Freya crying her eyes out while Ten only sit across her and pat her head karena oh karena somehow Ten tahu Freya masih menggaris keras relation mereka….. jadi…. ya…. memang si klepon mesti sabar….

gitu aja, sekian. semoga sukak.

 

Advertisements

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s