Hi

Im Nari (OC)  – Park Jaehyung (DAY6)

..

..

sky.l

..

..

Sometime in 2015

DAY6 Dorm, Seoul.

 

Junhyeok bergeming di depan pintu dengan daunnnya menganga lebar. Tak tahu harus melakukan lakon apa selain berkedip sementara isi kepalanya melompong begitu sosok yang berhadap dirinya dapat dia identifikasi tanpa kesulitan tersebut muncul tanpa aba.

Namun penampakan mimik orang tersebut membuatnya tak tahu harus berlaku bagaimana; wajah memerah, mata sembap bengkak, serta bau alkohol yang menyegak penghidu. Terdengar sisa hela napas, ah… mungkin bekas tangis seseguk hebat, membuat udara yang dihirup tercekat sekejap.

Oppa.”

Tak lebih dari bisik, suara tersebut mendecit pelan.

Im Nari. Adik sepupu yang terakhir ia temui semasa mereka sama-sama berkejaran seusai mengusili tetangga tua bangka yang temperamen.

Oppa.”

Tak sampai tiga sekon setelahnya, gadis itu ambruk.

**

Jae pulang dengan muka semrawut seperti biasa. Menemani Younghyun bermalam di dalam ruang rekam sembari bermain lirik dan lantun nada.

Namun sesampai di peraduan, Junhyeok yang terduduk gusar di ruang tengah bertampang lebih kusut ketimbang dirinya.

“Ada apa?” Tanyanya, ikut merebah di samping teman satu rumah tersebut.

Junhyeok menghembus berat. Kening berkerut lebih dari pakaian di dalam mesin cuci.

“Uhm…. begini, aku tidak tahu kalau dia akan benar-benar datang,” Junhyeok melirik Jae dengan ekor pandang, “hyung, ada saudaraku berkunjung.”

Jae mengerjap beberapa kali, melepas benda yang bertengger diam membantu penglihatan. “Oh? Tidak ada kereta ke Incheon lagi?” diceknya pengarah waktu pada dinding ruang tengah, memang sudah terlalu larut. Setahunya kereta atau pun transportasi umum lain memang telah berhenti beroperasi pada jam larut.

Junhyeok tak mengiyakan atau menyelak pertanyaan Jae. Hanya menatap nanar tanpa respon. Lagi pula mereka belum menetapkan aturan, baru beberapa bulan terakhir enam laki-laki tersebut diberikan tempat tinggal tetap dari perusahaan. Rasanya tidak akan jadi masalah jika memang saudara Junhyeok tiba-tiba bermalam.

“Adikku. Adik sepupu perempuanku lebih tepatnya yang menginap.”

Junhyeok menghalau wajah dengan kedua telapak tangan.

Jae tak paham harus melempar tanggap macam apa.

**

Nari makan dengan lahap. Semacam tak tahu diri dengan kegusaran yang disebabkannya semalam suntuk, Junhyeok memandang tak percaya pada saudara karib dari sebelah ibu tersebut. Tak digubris pula lengkung kehitaman serta raut kusut yang tertera nyata pada wajah sang kakak lelaki.

“Kau ingat tidak sih apa yang terjadi padamu semalam?” Interupsi Junhyeok, hanya ditanggap lirik singkat dari ekor mata Nari. Gadis itu menggeleng sekena.

“Siapa yang bilang kau bisa datang kesini seenaknya? Siapa juga yang membuatmu menangis seperti habis ditinggal begitu? Kau ini mendengarkanku tidak sih?”

Nari mendengus, meletakkan kembali perangkat makannya dengan agak keras. Penglihatan memicing tantang, “Telingaku tidak rusak. Bisa kan rentet pertanyaanmu disimpan sebentar? Kepalaku tidak bisa berpikir kalau sedang kelaparan.”

Junhyeok balas berdecak. Tak percaya, setelah bertahun-tahun tak saling berjumpa, tingkah Nari berjumpalitan jauh dari Nari dalam ingT. Bukan saja dari penampakan, namun perangai pun telah berbeda signifikan.

“Kau kenapa sih?” Ujar Junhyeok, kesal juga memberi batas tolerir yang hampir dilangkah.

“Aku kabur dari rumah. Ibu dan Ayah sudah lama tidak memberiku uang saku, aku tinggal sendiri bekerja kesana kemari. Puas?”

Junhyeok bungkam, tak menyangka selak balas Nari membuatnya tak dapat mengumpul respon.

“Terima kasih sudah menampungku. Oh ya toilet di sebalah mana?”

Junhyeok masih belum menjulur ujar apa-apa, namu tangannya bergerak menunjuk pintu di belakang punggu Nari. Gadis itu menegak air dari gelas yang diletak Junhyeok disisinya. Bergumam melepas dahaga, lantas berdiri menuju pintu toilet.

Semalam Jae mempersuasi member lain perihal kedatangan mendadak seorang gadis ke dalam sangkar mereka. Junhyeok terlalu bingung dan kaget untuk berdebat, hingga Jae membantu.

BRAK!

Junhyeok terhenyak, kepala berputar ke arah suara barusan.

**

Kelopak Nari berkejap sewajarnya, tangan masih berpegang kenop pintu toilet yang beberapa sekon lalu ia ayun keras hingga berdebam nyaring berkat refleks.

Tiang berwarna putih dengan rambut kecoklatan memunggungi pintu berdiri tegak hanya dengan celana kotak-kotak pendek. Nyaris bungkamnya mengumpat lantang, namun tertahan.

Laki-laki bercelana pendek itu berputar lantas melontar sapaan dengan matanya yang masih setengah tertutup.

“Hi.”

Motoriknya merespon lekas, menarik daun pintu hingga tertutup rapat kembali. Memberi batas nyata dirinya dari manusia asing yang entah karena efek tak mengenakan atasan atau murni sebab terkejut berhasil membuat deru loncat dalam dadanya berkejaran.

“Kenapa?” Junhyeok masih duduk diam di meja makan, menarik kembali jiwanya yang hampir terhanyut.

Nari menggeleng.

“Pulang. Aku harus segera pergi, aku terlambat kerja.”

Gadis itu menyambar luaran serta menyorong cepat alas kaki. Melarikan diri secepat kilat sebelum sosok dari balik pintu toilet muncul.

Tidak lagi-lagi. Dia berjanji tidak akan bertemu orang itu lagi.

==

notes;

hihihihihihihi

huhu aku kangen sama cimik cimik dua ini, tapi akhir ini lagi gempor diserang uts dkk. maaf ya kalo ceritanya garing. udah lama gak nulis belakangan hikseu. ini sekedar prequel /ciaela/ pertamaaaa kali banget si ayam sama nari ketemuan /well in nari’s case sober/  tebak, sebenarnya yang udah suka dari awal itu siapa hayo mwehehehe

Advertisements