Q Time

1f18044af5d53bdc881479b8aa59848d--sweater-pillow-knit-pillow

 

Jung Taekwoon (VIXX) X Ryu Eunhee

Canon

By Rinchan

.

.

.

.

Ryu’s Company
25 July 2017

Matanya menatap meja kubikelnya, memastikan semua barang yang harus dibawa tak tertinggal. Sayangnya kali ini Taekwoon tak menjemputnya seperti biasa pemuda itu lakukan, ia tengah sibuk mempersiapkan fanmeeting. Sebenarnya Eunhee tak masalah kalau Taekwoon tak menjemputnya hanya untuk memastikan ia aman sampai di rumah. Pemuda itu sudah cukup sibuk dengan pekerjaanya.

“Hey, sekertaris Ryu. Mau ku antar pulang? Sepertinya pacarmu tak datang hari ini.” Ahn Taejoon yang muncul tiba tiba meletakan tangannya di pundak Eunhee. Gadis itu sempat terlonjak kaget dan tangannya hampir reflek memukul lengan Taejoon, beruntung Taejoon sudah mundur lebih dulu.

“Aku curiga selama ini kau mengikutiku.” Kata  Eunhee yang menyipitkan mata dengan tajam.

Taejoon tertawa, “Untuk apa aku mengikutimu dan pacar misteriusmu itu. Aku juga punya urusan lain, tahu. Memang kau saja yang punya teman kencan. Hanya kebetulan aku sering melihatnya menunggumu di dekat gedung.” Ucap Taejoon sebal sambil menarik rambut Eunhee.

Bukan hal asing kalau melihat interaksi Eunhee dan Taejoon yang membuat seluruh karyawan wanita iri karena kedekatan mereka. Bahkan berbagai macam rumor tersebar perihal hubungan Eunhee dan Taejoon. Kedua orang itu lebih memilih menutup mata, lagipula mereka bekerja dengan profesional selama di kantor, sikap mereka berubah ketika sudah keluar dari pintu kantor.

“Tawaranku masih berlaku dalam 5…4…3…. –“

“Cepat ambil mobilmu.” Suruh Eunhee.

“Tsk. Jangan lupa kabari pacar misteriusmu itu. Aku tak mau dia salah paham.” Kata Taejoon sebelum pergi ke parkir mobil.

Eunhee terkekeh setiap kali Taejoon menyebut ‘pacar misterius’, ia memang mengakui pada Taejoon kalau ia mempunyai pacar tapi enggan menyebut nama Taekwoon.

**

“Aku sedang dalam perjalanan pulang. Dengan siapa? Aku diantar Taejoon.” Ucap Eunhee, Taejoon sempat menoleh ketika namanya disebut, hendak protes. Namun Eunhee memberikan isyarat untuk diam, ia kembali berbicara dengan pemuda yang Taejoon tak ketahui namanya. Memilih tak perduli, ia fokus menjalankan mobilnya. Ah… Taejoon jadi ingin menelpon gadisnya.

“Dia tidak marah kau pulang denganku? Kalau aku jadi dia mungkin aku akan marah.” Tanya Taejoon ketika Eunhee sudah selesai menelpon.

Eunhee menggeleng santai, “Dia mengerti. Malah dia bilang titip mengucapkan terimakasih karena kau sudah mengantarku saat dia sedang tak bisa.” Jawab Eunhee terkekeh.

“Benarkah? Daebak! Pacarmu itu tipe boyfriend material  ternyata.” Ujar Taejoon.

“Kalau begitu aku beruntung mendapatkannya.” Ucap Eunhee bangga.

Nada bicara Taekwoon agak berubah ketika Eunhee menyebut nama Taejoon, namun pemuda itu tahu Eunhee dan Taejoon hanya sebatas teman dan Taejoon tak mungkin akan memiliki perasaan pada gadisnya, karena pemuda itu juga mempunyai pacar. Namun Taekwoon mengingatkan jangan terlalu sering bersama Taejoon, atau Taekwoon akan mengabaikan pesan Eunhee. Pernah melihat seorang Jung Taekwoon merajuk? Satu hal yang pasti, pemuda terlihat menggemaskan ketika merajuk.

Mobil Taejoon berhenti di depan sebuah gang, “Terimakasih atas tumpangannya.” Ucap Eunhee. Tak butuh waktu lama, mobil Taejoon sudah menghilang. Soal tempat tinggalnya, Eunhee memilih membeli rumah di dekat toko kue yang sedang dibangunnya. Jarak rumah orang tuanya terlalu jauh hingga ia memilih pindah. Beruntung orangtuanya tak keberatan dan mendukung usaha Eunhee.

Eunhee menghela napas ketika sudah sampai di rumahnya yang tak terlalu besar. Ia tak mau membeli rumah terlalu besar karena akan sulit membersihkan rumahnya, sementara ia tak selalu ada di rumah. Tungkainya melangkah masuk, sudut bibirnya terangkat ketika melihat sepatu yang dilkenalnya.

“Aku pulang.” Teriak Eunhee.

Tak ada jawaban. Eunhee menemukan Taekwoon yang tengah tertidur lelap. Tak bisa menahan tangannnya, jemarinya mengusap surai rambut hitam pekat pemuda yang terpejam. “Taekwoon-ah. Jung Taekwoon.” Ucap Eunhee pelan.

“Leo-ya, Leo-ya,Leo-ssi. Bangunnn,” Ujar Eunhee yang mencubit pipi Taekwoon.

“Hey singa, bangunlah. Singa pemalas. Cepat bangun.”

Yaampun. Taekwoon benar benar tidur seperti orang mati. Eunhee berdecak kesal. Bahkan membangunkan Heechul lebih mudah daripada Taekwoon. Eunhee memilih masuk ke kamarnya, lagipula Taekwoon akan bangun pada waktunya. Menunggu Taekwoon bangun sama dengan waktunya ganti baju dan membersihkan wajahnya, dan sekarang ia benar benar sedang melakukan itu.

Eunhee melangkah keluar, tak menemukan sosok Taekwoon di sofa. Ia berlari ke pintu depan, masih menemukan sepatu Taekwoon yang tak berubah posisi sejak ia pulang. “Siapa yang kau sebut singa pemalas?” Suara Taekwoon dari belakang membuat Eunhee terlonjak kaget.

“Ya! Jangan mengagetkanku seperti itu, singa jelek.” Sontak Eunhee menutup mulutnya sendiri dengan tangan.

Taekwoon berdecak sebal, meninggalkan Eunhee menuju ruang tengah. Secara otomatis gadis itu mengikuti Taekwoon dari belakang. “Lain kali kalau kau kaget, jaga bicaramu, nona manis.” Sindir Taekwoon.

“Tadi kau menyebutku singa pemalas kan? Aku mendengar semuanya.” Tambah Taekwoon.

Kalau diperhatikan, wajah dan ujung rambut pemuda itu sudah basah, kemungkinan besar pemuda itu sudah mencuci mukanya ketika Eunhee masih di dalam kamar. “Kau memang mirip singa pemalas kalau sudah tidur, apalagi dengan rambut acak – acakan seperti itu. Oh iya, apa kau lapar? Aku mau membuat makan malam.”

**

“Lumayan.”

Kata Taekwoon ketika Eunhee datang dengan 2 piring spagetti di tangannya. Selama 1 jam Taekwoon hanya bisa memandangi punggung Eunhee yang sibuk di dapur, gadis itu melarang keras Taekwoon membantunya.

“Sejak kapan kau sampai disini?” Tanya Eunhee yang sudah melepas celemeknya dan melahap makanan buatannya sendiri.

“Sejak jam 5.” Jawab Taekwoon singkat.

“Maaf tidak bisa menjemputmu. Ketika sampai disini aku langsung tidur. Mataku sudah terlalu lelah.” Ucap Taekwoon menyesal.

Eunhee menggeleng pelan, raut wajah pemuda itu bahkan masih menunjukan kalau ia masih lelah. Ia tak pernah memaksa Taekwoon untuk datang, pemuda itu yang rela menyisakan waktunya untuk sekedar melihat gadisnya sebagai penambah energinya. Hanya melihat senyum Eunhee sudah cukup untuk mengalahkan rasa lelahnya.

“Banyak istirahat. Jangan memaksa tubuhmu, bisa bisa nanti VIXX bisa kehilangan penyanyi utamanya. Kalau itu terjadi aku bisa menggantikanmu –“

“Tidak. Itu sama saja seperti bencana besar. Suaramu melengking seperti ayam yang sedang bertelur.” Potong Taekwoon.

Taekwoon mengaduh kesakitan, Eunhee mengapit hidung Taekwoon dengan kedua jarinya hingga berubah warna menjadi merah. Tawa Eunhee pecah melihat hidung Taekwoon yang memerah karena ulahnya.

“Aku selesai. Karena aku yang memasak, kau yang mencuci piring. Selamat melakukan tugasmu, jangan lupa bersihkan dapur.” Ucap Eunhee terkekeh, tangannya mengusap puncak kepala Taekwoon dan pergi dari dapur dengan tertawa puas. Taekwoon menatap punggung Eunhee yang menjauh dengan jengkel.

 

**

Mata Eunhee terpaku menatap layar laptop tanpa menoleh pada pemuda yang duduk disebelahnya. Taekwoon pun sibuk dengan ponselnya, mendengarkan musik yang mengalir lewat earphone, sesekali menoleh pada Eunhee yang sejak setengah jam yang lalu berada di posisi yang sama.

“Hei, Sekertaris.”

Eunhee menoleh, alis matanya naik sebelah, bertanya ‘ada apa’ lewat bahasa tubuhnya. Alih alih menjawab, Taekwoon melepaskan earphone sisi kanannya, memasangkan benda kecil itu ke telinga Eunhee, “Lanjutkan saja. Aku tak akan menganggu.”

“Jadi, kau tidak keberatan kalau aku pulang dengan Taejoon saat kau pergi tur nanti?” Tanya Eunhee. Matanya meneliti perubahan ekspresi pemuda itu, terdapat sorot mata tak suka dari mata Taekwoon.

“Terserah.”

Di kamus Taekwoon, kata ‘terserah’ menandakan bahwa ia sangat tak setuju dan itu kata terakhir dari sekian banyak kata penolakan Taekwoon. Eunhee mengulum senyum. “Oh, seseorang sedang merajuk. Aku cuma bercanda. Aku tak mau merepotkan Taejoon, jangan khawatir.” Ucap Eunhee.

Taekwoon memutar bola matanya. Eunhee mempercepat ketikannya, segera menutup laptopnya dan menaruh di meja. Kedua mata cokelatnya menatap Taekwoon, hingga pemuda itu merasa terganggu, “Hei, Leo-ya.”

“Taekwoon-ah

“Jung Taekwoon.”

“Aku serius. Jangan menyesal kalau kau tak mendengar kata kata ku saat kau pergi nanti.”

Taekwoon kalah, ia menoleh, menatap gadis yang sejak tadi menatapnya tanpa henti. Ia menyelipkan jemarinya diantara jemari kecil Eunhee. “Katakan.”

Eunhee diam sejenak, “Jangan sakit selama kalian tur, kau akan membuatku dan penggemarmu khawatir. Makanlah dengan baik dimana pun kau berada. Minum vitaminmu dan gunakan waktu kosongmu untuk istirahat.” Ujar Eunhee panjang.

Gadis itu tak pernah absen mengirimkan vitamin ke dorm. Ada kalanya ketika keduanya sama sama sibuk, ia tak pernah lupa mengingatkan agar tak lupa meminum vitamin. Taekwoon dan Hongbin menyebut gadis itu dengan panggilan ahjumma ketika gadis itu sedang cerewet. Terkadang tingkat cerewet Eunhee melebihi ibu kandung mereka sendiri.

Telapak tangan Taekwoon mengusap sisi kanan wajah Eunhee, “Aku akan selalu menghubungimu.” Ucap Taekwoon.

“Memang seharusnya begitu. Nah, selesai sudah.” Kening Taekwoon mengerut, tak paham kemana arah pembicaraan gadis itu. Tubuhnya tak bisa menolak ketika Eunhee menariknya berdiri. Membawa tubuhnya ke arah pintu.

“Pulanglah, kalau kau terus disini aku tak bisa istirahat.” Ucap Eunhee. Sudut bibir Taekwoon menekuk kebawah, sorot matanya memohon agar ia diijinkan tinggal lebih lama. Gadis itu terkekeh pelan, “Kau harus siap siap untuk penerbangan besok ke Kuala Lumpur.” Lanjut Eunhee.

Taekwoon mengangguk mengerti, kemudian merengkuh tubuh Eunhee kedalam pelukannya, menyesap aroma Stroberi yang akan dirindukannya selama beberapa hari kedepan. “Jangan tidur terlalu larut, Taekwoon-ah.”

Ne, ahjumma. Aduh!”

Taekwoon meringis pelan, merasakan cubitan kecil di perutnya. Eunhee melepaskan pelukan mereka, berjalan mundur masuk ke balik pintu. Senyumnya tak pudar hingga Taekwoon keluar pagar. “Selamat malam, ahjumma.” Kepala Taekwoon kembali muncul, dalam hitungan detik kembali menghilang.

YA!”

END

Then, setelah sekian lama mereka muncul lagi.

Kalau ada salah, let me know.

-Rinchan

 

Advertisements

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s