Who?

Hwang Freya (OC)

Canon/AU

..

..

sky.l

..

..

Restoran Hwang’s Family, Seoul 

Jam makan siang telah usai. Hanya senyawa dua nyawa makhluk yang masih duduk menikmati santap sajian. Mendekati sore memang jam-jam senggang sebelum malam menggelayut dan Freya kembali berderap kesana kemari membantu usaha bibinya tersebut.

Setelah selesai mengupasi segala macam bahan mentah di dapur, Freya kembali ke dalam restoran lalu memutuskan mengambil gagang alat pengepel dan membersihkan bercak-bercak jejak pelanggan dari sekitar area pembayaran dan pintu depan restoran.

Lalu tiba-tiba saja dirinya berhenti melarikan alat tersebut dari atas lantai. Lantas dagunya bertumpu pada ujung gagang. Arah tatapnya terpaku pada pintu kaca restoran yang tertutup rapat. Seperti tengah menunggu sesuatu, atau lebih tepatnya seseorang, mengayun terbuka pintu tersebut.

“Siapa yang kau harapkan masuk dari sana?” Min Jung -pekerja paruh waktu penjaga kasir- yang telah kembali menunggui area kerjanya berujar, toleh Freya memutar kepala pada gadis yang lebih muda kira-kira dua tahun darinya tersebut.

Freya mengerjap, tetap bungkam.

Siapa?

“Oh, kau menunggu teman bawelmu itu ya? Siapa namanya…. Ten?” Min Jung menginterupsi lagi, sembari masih mengunyah permen karet yang tak pernah absen dari indra pengecap.

Freya mengalih kembali pada pintu restoran, tak berniat menanggapi pertanyaan iseng Min Jung.

“Jangan-jangan mau menunggui siapa itu peserta acara yang pernah bekerja disini dulu…. Kang geun? Kang…. Kang…. sebentar,” Min Jung mengangkat ponselnya, mengusap-usap jemari pada layar sentuh, “Oh Kang Daniel! Woah! Aku tidak percaya dia dulu pernah bekerja disini. Woah…. apa dia masih sering kesini?”

Freya mengangkat kepala dari tumpu gagang. Menyeret alat pengepel lantai, tak berniat lagi meneruskan kegiatan tersebut.

“Aku tidak menunggu siapa-siapa.” Balas Freya, singkat. Kaki kembali mengusung langkah memasuki dapur.

Siapa? Ia hanya tiba-tiba ingin saja menatap pintu, memangnya aneh? 

Brak!

“Haish, Reya-a! Masak baskom sebesar itu kau tidak lihat?!”

Bibinya yang rehat sejenak mengambil sesuatu untuk dimasukkan dalam adukan kimchi kembali dari rak bumbu dan menemukan baskom kimchinya terjungkir di atas lantai dapur.

“Maaf, bibi.”

Holaaaaaa!

Lama tak menjajak karya, huhu harap maklum mahasiswa semester tua banyak pikiran banyak ujian.

Maaf juga kalau cerita singkat pembuka cinta ‘segitiga’ baru ini agak garing, udah lama nggak nulis juga soalnya.

Semoga suka ya! Sekian dulu perkenalan geng line 96 ini!

Advertisements