Unexpected

BN-DK853_soju_EA_20140625223430

Unexpected

Hoshi (Seventeen)  X Min Jiwoo (OC)

Canon – Repetita

Tungkainya melangkah keluar dari akademi, helaan pelan lolos dari bibirnya. Minggu ini bisa jadi termasuk hari terberat, kantung matanya menjadi bukti nyata hasil dari kurang tidur karena belajar hingga larut malam dan berharap kerja kerasnya terbayarkan dengan nilai yang bagus.

Perihal pendidikannya, beberapa bulan lalu Jiwoo mengikuti tes dan diterima di universitas Ehwa. Memang agak terlambat, tapi seharusnya kata terlambat lebih tepat ditujukan pada Hoshi. Pemuda itu juga mengikuti ujian dan diterima di sebuah universitas.

“Hai.” Sapa seseorang. Tangan pemilik suara itu mendarat di pundak Jiwoo. Sudut bibir Jiwoo tertarik melihat si pemilik suara adalah Minhyuk.

“Hai. Bagaimana kelasmu?” tanya Jiwoo. Ah, Jiwoo baru tiga bulan belakangan masuk ke akademi dan ternyata Minhyuk belajar di tempat yang sama.

“Melelahkan, seperti biasa. Bagaimana denganmu?” Jawab Minhyuk yang menghela napas.

“Melelahkan juga, tapi aku senang ujian sudah selesai. Sekarang aku bisa tidur dengan tenang.” Ucap Jiwoo.

Waktu itu, Minhyuk tak kaget melihat Jiwoo memasuki gedung akademi.Jinwoo yang memberitahu kalau adiknya masuk kesana. “Aku dan Jinwoo mau pergi makan daging. Mau ikut? Nanti aku kabari Jinwoo kalau kau ikut.” Tawar Minhyuk.

Jiwoo berpikir sejenak, detik selanjutnya Jiwoo mengangguk. Tak perlu jawaban pun Minhyuk tahu gadis itu akan ikut. Karena setahunya gadis itu shiksin.

**

Jiwoo mengusap perutnya yang membuncit karena kekenyangan. Dua pemuda di depannya juga tak jauh berbeda. Yang membuat mereka berbeda adalah, tingkat kesadaran. Jinwoo yang sudah hampir setengah sadar menuang cairan terakhir dari botol soju dan menenggaknya dalam sekejap. walaupun sudah memasuki usia legal, jiwoo tak tertarik minum, mengingat dirinyalah yang selalu membawa  Jinwoo karena saudaranya itu selalu menelponnya ketika mabuk.

Kedua pemuda itu rupanya kembali menambah botol soju, Jiwoo hanya bisa pasrah menunggu hingga mereka tidak sadarkan diri.

From : Hoshi-ssi

Aku baru selesai latihan, sudah tidur?

Nah! Hoshi muncul disaat yang tepat.

To : Hoshi-ssi

Aku masih diluar, menunggu dua orang didepanku terkapar. Boleh minta bantuanmu? Akan ku kirim lokasiku.

Jiwoo menyimpan ponselnya, mengamati dua orang yang mulai kehilangan kesadaran namun tangannya masih bergerak menuang soju. “Lain kali jangan pernah mengajakku lagi.” Ucap Jiwoo sinis.

Perihal hubungannya dengan Hoshi, kalau dipikir pikir ia bersikap biasa saja, namun semenjak ucapannya tentang hubungan mereka beberapa bulan lalu, pemuda itu semakin……. manis? Entah dari bahasanya ketika mengirim pesan atau pun sikapnya. Namun tak ada kata keluar dari Hoshi seperti yang orang biasa lakukan ketika dua orang sudah saling mengetahui perasaan masing masing.

Sebuah tangan menangkup puncak kepalanya, membuat bibir Jiwoo melengkung tersenyum, membalas sapaan Hoshi. “Maaf membuatmut datang kesini, tapi aku tidak sanggup harus membawa kedua manusia ini.” Ujar Jiwoo dengan nada bersalah.

“Dia siapa?” Kening Hoshi mengerut melihat seorang pemuda yang tak dikenalnya.

“Dia Minhyuk, teman sekolahku dan Jinwoo.” Jawab Jiwoo yang mengerti perubahan ekspresi Hoshi.

“Aku bayar dulu. Tunggu sebentar ya.” Jiwoo merogoh kantong Jinwoo dan segera ke kasir membayar makanan mereka.

“Jiwoo… Min Jiwoo…” Hoshi menoleh  ketika si pemuda yang bernama Minhyuk bergumam…. Nama Jiwoo?

“Jiwoo…. aku menyukaimu… Sejak dulu.”

Dan tubuh Hoshi membeku.

**

“Aku sudah selesai. Ayo pergi.”

Hoshi segera sadar, raut mukanya berubah menjadi cerah. Berbeda jauh dengan suasana hatinya yang rusak karena ucapan Minhyuk.

“Aku bawa Minhyuk, kau bawa Jinwoo. Aku minta tolong, ya.” Kata Jiwoo,  ada perasaan tak suka muncul ketika Jiwoo melingkarkan tangan Minhyuk di lehernya sendiri dan tangan Jiwoo melingkar di pinggang Minhyuk.

“Sudah? Ayo.” Ujar Hoshi.

Alih alih berjalan di depan, Hoshi berjalan dibelakang Jiwoo. Ia berharap jarak rumah Jiwoo dekat sehingga tak perlu berlama lama melihat punggung Jiwoo dan Minhyuk yang berdekatan. Sepanjang jalan, otaknya berpikir keras. Sisi egoisnya berkata Jiwoo harus menjadi miliknya agar Minhyuk tak bisa merebut Jiwoo darinya.

Jiwoo dan Hoshi menempatkan kedua pemuda itu di sofa ruang tengah ketika sudah dirumah. Gadis itu berjalan mengitari rumah memanggil orang tuanya namun tak ada respon, “Mungkin mereka masih di toko.” Ucap Jiwoo.

Hoshi mengangguk, tungkainya melangkah mengikuti Jiwoo ke dapur. Ia hanya tersenyum ketika Jiwoo memberikan gelas, tak mengeluarkan sepatah kata pun. Jiwoo berhenti melakukan kegiatannya, berbalik badan mencoba mencari sumber masalah kebisuan Hoshi yang secara tiba tiba. Gadis itu menempatkan dirinya disamping pemuda yang sejak tadi bungkam.

“Kenapa? Terjadi sesuatu?” Tanya Jiwoo khawatir.

“Kalau kau lelah, kau bisa istirahat disini sebentar. Akan aku siapkan kamar.” Lanjut Jiwoo, berniat berdiri namun tertahan karena Hoshi menarik pergelangan tangannya.

“Jiwoo-ya” panggil Hoshi, membuat si pemilik nama mengernyit heran.

“Aku takut kehilanganmu.” Ucap Hoshi.

Demi tuhan, Jiwoo semakin bingung.

“Kau ini kenapa sih?” Tanya Jiwoo heran.

Sekeras apapun usaha Jiwoo mencari celah bahwa ucapan Hoshi hanya sekedar untuk menjahilinya, ia tak dapat menemukannya. Hanya sorot mata yang menatapnya serius.

“Cih, tidak peka. Aku cemburu tahu.” Hoshi itu mendengus kesal. Jiwoo tak bisa menahan tawanya yang lepas begitu saja. Tawanya mendadak sirna ketika melihat keseriusan dari pemuda di depannya.

Sejak itu, tatapan itu berpengaruh besar pada detak jantungnya. Semakin lama mata itu menatapnya, semakin cepat pula detaknya. Jiwoo bungkam, menunggu ucapan selanjutnya. “Aku serius. Jangan dekat dekat pria lain. Seperti tadi.” Lanjut Hoshi.

“Maaf  membuatmu menunggu lama. Aku hanya ingin mencari waktu yang tepat tapi aku tak menyangka akan selama ini. Sekali lagi aku minta maaf.”

Nah, mungkin sebentar lagi Jiwoo akan pingsan ditempat. Ia tak mau melihat kaca, sudah dipastikan wajah merona karena ucapan Hoshi.

“Min Jiwoo. Jadi pacarku, ya?”

Jiwoo mendadak membeku. Dalam hitungan detik, ia berlari pergi dari dapur, meninggalkan Hoshi yang menunggu dengan penuh harapan. “Hei, Kwon Sunyoung. Balik badanmu. Sekarang!” Perintah Jiwoo dari balik dinding pemisah dapur dan ruang tengah.

Giliran Hoshi yang kebingungan, tanpa protes ia membalikkan badannya. Dibalik dinding, wajah Jiwoo memerah bak tomat ranum.  Gadis itu terlalu malu hingga tak sanggup membiarkan orang lain melihat wajahnya.

Tungkainya melangkah, mendekati Hoshi yang memunggungginya. Yakin dengan tindakannya, kedua lengannya melingkar di leher Hoshi, memeluk pemuda itu dari belakang dengan lemah lembut. Hoshi yang juga gugup menghela napas lega, sudut bibirnya tertarik ketika lengan Jiwoo melingkar di lehernya.

“Jangan menoleh atau ku tarik rambutmu.”

Hoshi terkekeh, yang bisa dilakukannya hanya mengusap pelan lengan Jiwoo yang mengitari pundaknya.

Fin

 

dan setelah berbulan bulan Jiwoo Hoshi absen…. FINALLY THEY COMEBACK! Sebenernya ini semua karena WB dan laptop tiba tiba error. Good newsnya, LAPTOPNYA UDAH BENER! (^o^)/ since semua draft ilang karena habis di install ulang yah…. ini post pertama setelah sekian bulan menghilang dari peredaran. Anyway, kalau ada yang kurang, tell me in comment box ya.

XOXO,

Rinchan

Advertisements

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s