Back In Time

af4e6c907374b5c2715a4edf06abeaab

Im Nari (OC)

Lee Chandong (Vromance)

..

..

sky.l

..

..

February, 2017 

RBW Entertainment, Seoul.

 Nanti kutelpon lagi. Maaf 😦

Nari memandang pesan terakhir tersebut, entah untuk keberapa kali. Tertanggal yang bertanda lima hari lalu, belum berganti tertimpa pesan anyar. Baru satu awal lingkar bulan namun terasa seperti berdekade panjangnya. Kurung napas menghambur, berat pikir mengarung deras.

Kembali berkutat dengan urusan pendidikan dan menunaikan pekerjaan sementara selama rehat sekolah benar-benar merengut waktu temu Nari dengan Jae. Mengerikan, bagaimana ketergantungan membuat rasa takut yang mengendap semakin berwujud. Tak ayal sekali dua kali Nari terbangun saat lelap ditamui bunga tidur tak sedap.

“Naria.”

Tepuk bahu barusan hampir membuat bibir Nari melolos umpat. Lihai gerak refleks segera menyurukkan kembali ponsel ke dalam saku jaket parasut.

Chandong berdiri, dengan fitur sumringah yang tak absen. “O sunbae.” Sapa Nari kaku.

“Kenapa? Wajahmu kelihatan muram.” Chandong menempati sisi kosong kursi yang diduduki Nari.

“O? Ah….. hanya menyayangkan sebentar lagi sudah waktunya liburan berakhir.” Berharap apa yang barusan diungkapnya terdengar meyakinkan. Chandong mengangguk. Tampaknya terbeli dengan dusta kosong Nari.

“Sayang sekali kau masih harus kembali ke sekolah. Orang-orang bagian relasi publik bilang kau pekerja teladan.” Ujar Chandong dengan wajah menggambar sedikit murung.

“Oh…. ya?” Nari menutup balas kakunya dengan tawa canggung.

Selama hampir satu bulan pengawal tahun bekerja di perusahaan yang menaung Chandong, Nari tidak perlu kewalahan menghindar lelaki kelewat ramah itu, karena grup mereka tengah sibuk melakukan tuntut wajib pekerjaan di panggung publik. Namun memasuki bulan kedua, gencar promosi sudah mendekat penghujung. Membuat sosok tersebut kembali mondar mandir di sekitar gedung.

“Waah… sebentar lagi musim semi. Kau ada rencana jalan-jalan di sekitar bunga ceri?” sorong Chandong, tiba-tiba. Nari melirik sekilas, mengamat maksud tanya barusan.

“Uhm…. tidak. Aku tidak begitu suka ramai, sunbae?

Chandong mengernyit, sepertinya karena Nari lagi-lagi memanggil dengan sebut formal alih-alih akrab. Kasat langkah gadis itu mengulas garis diantara.

“Tidak pergi dengan kekasihmu?”

Rahangnya mengencang, menahan deras adrenalin untuk mencecar Chandong atas pertanyaan yang paling dibencinya di atas dunia. Namun Chandong bukan penghuni lingkup dalam lingkar jangkau Nari, tak patut menampakkan warna asli pada pendatang lewat yang meskipun telah mengenal dirinya yang dulu sama sekali bukan termasuk manusia yang tega Nari caci.

Nari menghisap udara dalam-dalam, lantas menjawab, “Dia sibuk.” Mengatakan dalih adalah satu dari hal yang paling tidak lihai Nari lakukan. Kali ini dia akan menelan resiko, selagi tak pasti Chandong mengorek siapa lelaki yang dimaksud, mengumbar fakta lebih baik dari pada menelannya dengan asumsi personal -mengingat apa yang dulu terjadi.

Kepala Chandong berputar cepat, menagih pandang Nari. Gadis itu tersenyum kecil. Kedut-kedut tajam di wajah laki-laki itu mengendur. Kepalanya mengangguk pelan.

“Kau tahu, beberapa hari yang lalu Valentine. Aku teringat Valentine sebelum kau menghilang.”

Ya Tuhan. Nari menyembunyikan jemari yang bertekuk, kenang tertarik cetus Chandong kembali pada masa tahun menengah pertama sekaligus terakhir kalinya Nari bersekolah di sekolah umum. Kalau tahu pembicaran macam demikian yang tercungkil, seharusnya Nari beranjak cepat tadi.

“Memalukan, ya aku tahu.” Seloroh Nari, menggumam rendah.

Chandong tertawa pelan lagi. Warna cerianya kembali timbul. “Tidak. Sama sekali tidak.”

Kala itu Chandong murid tahun ketiga. Senior dengan perangai paling ramah, teladan, dengan  gitar yang tak lupa dibopong kesana kemari saat jam istirahat serta selalu menjadi orang terdepan setiap pentas unjuk bakat diusung. Sorak sorai para junior perempuan selalu menggiring tiap apa yang Chandong lakukan hampir setiap hari. Bahkan hal sepele seperti mencari tempat duduk saat jam makan siang.

Bagiamana Nari lantas ikut menjadi satu dari sekian pengagum Chandong? Berkat festival olahraga antar kelas. Chandong selalu jadi orang paling sigap untuk membantu teman-temannya yang butuh segera dialihkan ke klinik sekolah. Chandong tampak selalu sedia menolong tanpa menimbang pikir. Bukan karena tampil panggung Chandong yang menarik pikat murid-murid lain. Bagi seorang Nari, tingkah tersebut adalah hal luar biasa, mengingat perangai tertutup dan segannya yang membuat tak seorang pun hendak menjalin pertemanan.

Valentine tertanggal semester kedua tahun pertama, alih-alih memberikan cokelat atau makanan manis yang bertumpuk penuh di dalam laci meja Chandong, Nari memberikan bingkisan berisi satu pick gitar dan dua pak patch pereda rasa nyeri pada waktu berpapas mereka yang selalu sama di perpustakaan sekolah. Jam terakhir dimana Nari melarikan diri dari pelajaran sejarah dan Chandong beralih dari jam belajar mandirinya. Beruntung penjaga perpustakaan sekolah mereka bukan macam wanita paruh baya bawel yang tak pernah berkomentar tiap kali keduanya bertandang saat jam pengajaran masih berjalan.

“Aku fans oppa. Bukan karena penampilan oppa saat menyanyi, tapi karena oppa adalah orang paling baik yang pernah kutemui.” Ucap Nari, masa itu.

Sesal memalukan terhadap apa yang mengalir dari bibirnya baru terasa kini. Setelah kepindahan keluarganya yang tiba-tiba tepat satu minggu setelah kejadian tersebut hingga sekarang, ketika Nari harus kembali berhadap Chandong setelah sekian tahun.

“Waktu itu perasaanmu benar hanya kagum?”

Benar saja, pilihan Nari tetap duduk dan membiarkan percakapan ini berlangsung, salah adanya.

**

Gadis itu tak banyak berubah. Hanya nampak surai yang lebih panjang dan berwarna cokelat tua. Mimik wajah serta tampilan wataknya masih sama. Paras yang selalu bergambar tak tentu sulit ditelaah, tingkah acuh tak acuh akan pasang menuding dari orang sekitar pun tepat seperti yang Chandong kenal. Seakan tak ada sekat waktu panjang hingga pandangnya bertemu nyata kembali dengan kedua legam Nari.

Hening masih mengatung setelah tanyanya melambung. Lalu gadis itu menoleh, menuding pandang.

“Jujur, dulu sunbae pernah suka padaku atau tidak?” Alih-alih menjawab, gadis itu melayangkan pertanyaan lain.

Chandong mengerjap, terlalu kaget untuk memproses jawab. Dia mendeham pelan, “Kau belum menjawab pertanyaanku, Nari.”

Nari mengesah cukup keras. Nanar tatapnya tak diserta warna air wajah. “Sunbae orang pertama yang pernah kusuka.”

Kali kedua Nari membuat Chandong terkejut, lagi. Padahal Nari bukan baru saja mengaku sebagai alien atau semacamnya, namun Chandong terpaku bergeming tak tahu harus membalas seru bagaimana.

Sunbae…. jangan menyukai orang sepertiku.” Nari kembali menumpu tungkai, tampak hendak beranjak meski pembicaraan mereka terasa tak mengarah bersama penjelas masuk akal. “Nari yang dulu…. dan aku yang sekarang bukan satu orang yang sama.”

“Aku bukan orang baik seperti yang terlihat diluar. Atau seperti yang sunbae pikir, mungkin.”

Jika satu hal yang kontras berubah, gadis itu kini dengan mudah melontar ucap. Tak seperti gadis yang dulu ia kenal, mengalih tatap ketika pandang mereka bertemu, atau mengerjap bingung kala Chandong mengusung sapa singkat. Segan bimbang yang mengalir dalam ingat Chandong tak terlihat lagi pada Nari yang baru saja melenggang pergi meninggalkannya masih di tempat duduk balkon sisi gedung perusahaan, berusaha menjinak deru vital serta sontak dada yang membuncah, entah karena terlalu terkejut atau karena pengakuan perasaan lampau gadis tersebut.

notes;

. selamat menikmati roller coaster 😉

Advertisements

One Reply to “Back In Time”

  1. Jae calon minta ditimpukin /?/ Enak aja main sms tapi tahunya gak ditelepon, Nari dianggurin gitu idiih ntar kalau udah disambet sama cowo lain baru ketar-ketir terus curhat sana sini wkwkwk
    Pas Chandong ngomongin musim semi, kirain dia bakal langsung nabur ajakan ke Nari, eh dua-duanya malah terperangkap ke nostalgia wuhuu
    Dan terus waktu Chandong bilang perasaan Nari tempo lalu juga eaaaa aku kira Nari bakal khilaf wkwk siapa tahu karena Jae gak ada, dia kan kesepian juga terus main terima-terima aja karena terbawa esmosi XD eh ternyata digantungin gitu….T_T Gapapa mas, masih ada lain waktu, Nari bisa dikejer kok. Bawa aja duit banyak-banyak /digeplak nari/

    Okelah Li, ditunggu lagi kegalauan lainnya!! Apalagi pembalasan dendam ke Jae yang nganggurin Nari berbulan-bulan wkwkwk Semangaaat!!

    Liked by 1 person

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s