Over A Coke With You

Nanomura Keikou (OC) – Yoon Dowoon (DAY6)

..

..

sky.l

..

..

Seongsu-dong, Seoul

7:37 AM KST

Dia muncul, lagi. Kei mendengus, matanya berserobok dengan manusia tak diundang yang berdiri di sebelah tiang metal tinggi berhadap goshiwon. Kepala mendengung tanya, dari mana makhluk itu bisa tahu tempat tinggal barunya. “Lama-lama kulaporkan stalker juga kau!” geram Kei menggerak tungkai. Yang dikatai tak menggubris, selalu.

“Apa kabar Kei-chan? Latihanmu lancar ‘kan?” bola mata Kei mengitar rongga, muak dengan lakon sok akrab tanpa putus usaha tersebut. “Hmm? Kau tidak cidera ‘kan?” serunya kembali, acuh pasang wajah masam Kei.

“Yamato-san, aku baik-baik saja hidup tanpa embel-embel Nanomura. Sampaikan itu pada nechan,” gerutu Kei, berusaha menyeret langkah-langkah pendek lekas. Nihil, kaki jenjang Kohta –laki-laki bawel yang mensejajarinya- tetap mengimbang laju tanpa beban.

“Omong-omong pacarmu mana? Tidak berangkat bersama?” seru Kohta, mengaggap sekedar protes gadis itu.

“Bukan urusanmu.” Geram Kei. Berhenti di bawah naung halte, tangan mencengkram strap tas, diam-diam merapal pinta agar benda roda empat yang mesti ditumpang segera menampak wujud.

Tanpa permisi, Kohta mengacak-acak poni Keikou. Tangan kurusnya menyergap milik Kohta, picing netranya menyorot keberatan. “Auw…” Kohta meringis pelan. “Ah… aku lupa kau ini atlet.” Sakit, tapi Kohta malah terkekeh. Pusat syaraf laki-laki itu perlu ditelisik. Ada kemungkinan sesuatu disana tak berfungsi normal.

“Kei!” Toleh kepala Kei menangkap figur Kao berlari memotong jarak, tangan melambai sarat semangat melambung.

Rana tatapnya melesak ke arah Kohta. “Pergi.” Ancamnya kental dalam potong singkat. Entah konsekuensi macam apa yang menindak jika diabai. Kohta mengehela berat, memuat satu senyum singkat.

“Baiklah. Sampai jumpa.”

Jangan kembali lagi, mohonnya tak berubah. Sorot kelam Kei mengawas hingga pundak bidang Kohta benar-benar lenyap dari kerumun.

“Hei, siapa barusan?” Kao mencari sosok Kohta yang telah hilang terbawa arus manusia.

Ulas bibir Kei mengudara, “Turis. Sepertinya salah halte.” Kao hanya mengangguk, berdiri bersama Kei menanti bus tujuan mereka merapat.

*

Gangnam, Seoul

10:57 PM KST

Telunjuk kanan masih terus mengetuk-ngetuk pinggir ponsel. Menghitung kelopak kasat sembari menimbang; telepon, tidak, telepon, tidak….. telepon? 

Larut merayap pekat. Lelah menggelayut erat. Menelpon sekedar meminta temu jelas akan sangat merepotkan. Yang ingin Kei temui bukan orang biasa dengan waktu felksibel, sayangnya. Jadwal panjang mengular dan pekerjaan segunung, dibanding apa yang Kei tuntaskan perhari.

Setengah jam berpijak, hanya menatap layar ponsel -tertera kontak dan tombol hijau- serta bangunan menjulang di hadap, Kei memutuskan untuk merelakan asa. Dia tidak ingin mengusik Momo. Meskipun kesah tertahan menunggu lampias tuntas. Pundak serempak surut bergandeng hela panjang. Tungkainya terseok, pulang tanpa hasil.

Lelap mungkin bisa menyudahi dengung riuh yang mengacau seharian. Atau malah menjaganya nyalang semalaman. Entahlah. Melarikan diri terasa sulit. Menyuguh alkohol bukan budaya yang ingin ditanamnya. Susah sekali mengurai akal yang masai.

Sialan, maki Kei senyap. Menulis memo singkat agar lain kali bila Kohta menghampiri kembali, dia akan melarikan diri sekencang mungkin. Tidak membawa guna baik tiap temu paksa sepihak mereka.

“Kei?”

Kepala serta merta mendongak, mengusut pemanggil nama. Namun tanpa menoleh pun Kei kenal suara berat dengan sela aksen satoori kental.

Bahkan sudut bibir pun tak bertenaga untuk sekedar berjinjit sapa sesaat.

*

Kei duduk, jemarinya memainkan kait kaleng yang telah ditarik. Dowoon menawarinya menyantap sesuatu dari mini market. Sepertinya sekaligus ingin mengorek kenapa wajah Kei tak bertengger sumringah layak biasanya. Kei segan menolak, namun tak ingin segera terkurung sengap kamar.

“Sedang menunggu Momo?”

Kepala Kei menggeleng cepat. Ia ingin segera pamit. Tapi entah kenapa, sendiri membuat benang pikirnya semakin bergelung rumit. Tenggelam bersama hal-hal tersebut hanya akan membuatnya kehilangan waktu lelap. Menurunkan daya untuk perhelatan hari esok.

Oppa sibuk ya akhir-akhir ini?” Kei menangkap ceruk agak kehitaman di bawah mata Dowoon, wajahnya pun kuyu. Dia ingin menarik keluar pembicaraan ini sejauh mungkin dari beban pikir. Namun respon Dowoon hanya mengangguk, dengan seulas lemah sudut bibir.

“Momo juga sedang sibuk. Ada…. yang perlu sekali kau bicarakan dengannya ya?” Nada Dowoon hati-hati. Memerhati wajah Kei pasat, mencari keberatan yang barangkali timbul.

Kei menatap Dowoon, lalu meneguk habis sisa cola dalam kaleng. “Momo nechan pernah cerita apa soal aku?”

Dowoon mengernyit, menganggaruk-garuk tengkuk tampak berusaha menarik memori. “Tidak banyak. Dia hanya pernah cerita kau dan dia saling kenal karena pernah bertetangga dulu.”

Tidak banyak yang Dowoon pahami tentang Keikou. Hanya sejumput, dari seluruh cerita yang membawanya menjadi seorang Keikou di hadapan Yoon Dowoon.

“Orangtuaku memutuskan untuk tidak mengakuiku. Lalu aku pergi ke Korea. Semacam melarikan diri setelah dibuang.” Tawa sarkastik Kei terdengar. Sorot tatap yang tergurat ceria serta tampak selalu ramah selama ini tak nampak pada mimiknya. Persona gadis yang selalu Dowoon temukan menyapanya dengan lingkar senyum tak ada disana.

“Tapi sudah begitu mereka tetap saja mengusik hidupku. Seperti menanti kapan aku akan menyerah dan terseok pulang memohon diterima kembali.” Kei mengesah panjang. Tangannya mencengkram kaleng cola yang telah kosong. Benda yang nampak elok tersebut remuk sekejap.

Dowoon mengerjap berkali-kali. Agak sulit mengkondisi diri dengan temuan sisi lain Keikou. Terkejut, sedikit. Namun gadis itu nampak rapuh, seolah dapat roboh kapan saja.  Kepalnya tersimpan, menyurut ingin meraih Kei. Sekedar menepuk pundak gadis itu atau memberikan sedikit topang, agar tak terhempas jatuh.

“Jahat tidak, kalau aku berharap bisa menukar orangtuaku dengan yang lain? Aku kedengaran seperti orang yang tidak bersyukur ya?” telapak tangan Kei menghalau sepasang penglihat yang mengalirkan bulir-bulir penat. Sesak yang tersimpan setiap kali seseorang mengusut masa lalu, membalik dirinya kembali pada kenang-kenang tilas yang enggan dimainkan ingatnya lagi.

Dowoon menyeret kursinya, pelan-pelan menarik bahu Kei, lalu meletakkan kepala gadis itu pada sebelah kiri miliknya. Telapaknya menepuk-nepuk pundak gadis itu pelan. Isak rendahnya terdengar pilu. Namun tidak banyak yang Dowoon dapat lakukan. Menaruh diri berandai pada cerita Kei tidak membuatnya lantas mengerti seluruh rasa yang melebur dalam tangis Kei. Dia tidak merasa perlu berusaha mengerti, dia hanya ingin Kei merasa aman menguras tuntas keping-keping emosinya yang bercecaran.

Dowoon hanya ingin menemani gadis itu. Memastikan Kei tidak jatuh lepas tanpa ulur tarik mengembalikan tegaknya.

“Ssh…. ssh….” seru Dowoon kaku, berusaha melakukan apa yang dulu ibunya lakukan kala ia merasa bersalah telah melakukan hal buruk, “tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja. Ssh… sshh….”

Tiba-tiba Dowoon merasakan lengan Kei melilit lehernya, membenam wajah pada bahunya.

notes:

. he he he setelah sekian juta tahun mereka timbul kembali

. karena kemarin-kemarin banyak bagian pov Dowoon jadi gantian pov Kei dan karakter keras yang jarang dipertontonkan

. uhm ya yamato kohta ini semacam tukang lapor kei merangkap agak agak stalker

. maaf kalo agak monotn bosen gini

. semoga sukak!

Advertisements

2 Replies to “Over A Coke With You”

  1. Asiik, udah makin merapat ini mereka berdua. Omongannya juga udah berat, masalah keluarga, next time Dowoon beneran dibawa menghadap keluarga Nanomura /disepak/

    Kohta lama-lama ngeselin ya, ngelesnya cakep. Kei ngomong apa, dia nyamber apa. Lebih lincah daripada belut wkwkwkwk Curiga ini aku li, jangan-jangan dia ikutan masuk rombongan orang ketiga, kan bareng Kao /nebak seenak pantat/

    TAPI LI MARI KITA BICARAKAN LEBIH JAUH SAAT DUWUN UDAH BERANI NEPOK-NEPOK /?/ KEI

    DUWUN SAYA BANGGA AKHIRNYA, SKINSHIP PERTAMA, PERLU REBANAAN MALEM INI SEKALIAN BAGI NASI KOTAK /halah/ Seriusan ㅠㅠ biasanya kalau udah bisa gini, jalan agak semakin mulus. Walopun badai orang ketiga memungkinkan buat muncul juga muehehehe

    Okelah ditunggu lagi fiksi manis mereka Li!!!! (yang agak masem-masem gemes juga gapapa xD) Makasih!

    Liked by 1 person

  2. Salah satu couple unyu di chibi akhirnya ada kemajuan juga ihiiir obrolannya udah dalem. Kei cerita sedikit soal keluarga berarti udah mulai membuka hati buat dowoon aiiiih berapa gang lagi yg harus dilewatin sebelum dua unyu unyu ini bersatu?? 😗
    Kohta ini masuk keluarga nanomura apa sekedar tangan kanan yg disuruh mata matain alias stalker kei nih? Udah kayak sasaeng aja kamu, kohta /plak/ Mencurigakan juga nih ada bau bau jadi orang ketiga huhuhahahahaha dor!
    Kei jangan nangis lagi huhu ayo senyum biar cantiknya ga ilang 💕

    Liked by 2 people

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s