Blood Red Road

Illona Moon x Mitsuke Kobe

. . .

B L O O D

R E D  R O A D

. . .

 I don’t know if you’ve ever noticed this, but first impressions are often entirely wrong.

Lemony Snicket, The Bad Beginning


Roppongi District, Japan

“Lona-san,”

Se Hwa membersil dari pintu loker. “Anda sudah dengar berita dua hari lalu,” Irube, salah satu pegawai bershift sama dengannya bertanya. Kemudian membenahi posisi, berdiri sejajar. Se Hwa sendiri hanya menggeleng kaku, tidak mengerti dengan maksud pertanyaan barusan dan benar, ia tidak mendengar berita apapun dua hari lalu. “Sesuatu terjadi malam kemarin. Saya tiba-tiba teringat dengan Lona-san karena sering melewati perempatan setelah lampu merah. Akhir-akhir ini pegawai di sini sering mendengar mahluk astral di dekat sana.”

Alisnya berjingkat. “Mahluk astral?” Ujar Se Hwa, mengulang inti dari perucapan Irube.

“Ya,” seru Irube. “Seperti meringis kesakitan, tapi setelah dicari tidak ada siapa-siapa. Oh, kemarin juga. Yuko-san, melihat banyak darah dekat lampu merah itu. Menyeramkan,” temannya bergidik sembari menutup pintu loker. “Karena itu, hari ini Lona-san ikut dengan saya saja. Meskipun harus berputar jauh, tetapi demi keselamatan tidak masalah, ‘kan.”

Ia menggelengkan kepala pelan sembari tersenyum. “Saya akan baik-baik saja. Terimakasih atas tawaran baiknya, Irube-san.” Se Hwa ikut menutup pintu loker usai melilitkan scarf, ditambah tepukan ringan pada pundak Irube. “Lagipula,” imbuhnya, tepat saat gadis itu hendak protes. “Saya tidak percaya dengan mahluk astral, saya yakin mereka tidak ada. Jadi, Irube-san tidak perlu khawatir.”

“Baiklah,” Irube menyerah. “Tapi, kalau suatu hal terjadi, Lona-san harus cepat-cepat menghubungi saya, ya.”

. . .

Se Hwa mengangkat kepala. Ia pernah berpikir, malam di kota ini terasa lebih pekat daripada langit Chicago. Terkadang Se Hwa hanya melihat semesta kosong tanpa awan kumulus atau paling tidak, bulan mendominasi sendiri dan sepoi bergemuruh sepi di kehampaan tengah malam. Ia mengembus napas sembari membenahi letak tali tas, kemudian mulai melintasi pertokoan dalam gelap—didasari penerangan temaram dari lampu jalan otomatis. Bahu jalan telah sepi, terkadang terlihat beberapa orang di seberang, itu pun mereka yang menghabiskan malam dengan memulai ronde di bar tenda.

Kelab tempat ia mengadu nasib lagi-lagi memberikan jam kerja ekstra. Bermula dari salah satu staf pengurus audio di sana terkena penyakit perut kronis, Se Hwa terpaksa mengantikan karena ia memiliki pengalaman di bidang itu. Lalu, kelab yang mendadak dipenuhi oleh kaula muda—walaupun belum akhir pekan—dan dengar-dengar itu karena shiftnya serempak dengan DJ andalan kelab lantaran memiliki tampang lebih, juga kelihaian dalam memainkan turntable. Itulah mengapa Se Hwa berakhir pulang sedikit lebih malam dari hari biasa. Yang menyebalkan, tidak ada kas tambahan untuk hasil kerja kerasnya malam ini.

Untuk kesekian kali Se Hwa mengembuskan napas. Ia kembali memfokuskan pandangan ke arah jalan sembari menunggu lampu lalu lintas berubah warna dan dering suara memekak telinga terdengar. Iris cokelatnya tanpa sengaja beralih ke sisi kanan, di tengah persimpangan. Perlahan Se Hwa memicingkan mata, dirasa-rasa ia seperti melihat sosok berbentuk seperti manusia. Tidak yakin, Se Hwa mengayunkan tungkai selangkah—lantaran, kalau menggunakan akal, mengapa ada orang berjalan tertaih di persimpangan lampu merah tengah malam—dan keraguannya semakin berseru ketika sosok itu sekonyong-konyong tergeletak di atas aspal.

Kontan Se Hwa berlari mendekat.

“Anda baik-baik saja?” Hanya seruan itu dapat Se Hwa lontarkan ketika ia sudah berjongkok, menghampiri sosok pria yang terkulai dengan bercak darah di mana-mana tengah menatap langit kopong. Tak lama kemudian, pria itu tertawa kencang sementara Se Hwa dibuat semakin gelisah karena cairan kental berwarna merah maroon telah merembes sampai ke aspal. “…Darah Anda,” gumamnya, melotot tidak keruan. “Ya, berhenti tertawa! Di mana ponsel Anda, cepat sedikit Anda bisa mati!”

Mendengar kata mati mencuat dari mulut Se Hwa, pria itu kembali tersenyum tak acuh. Namun, irisnya bergulir menatap mata Se Hwa lurus; berubah teduh. “Tigapuluh menit.”

Dahi Se Hwa berkerut.

Pria itu terbatuk, memuntahkan darah berlebihan. “Siala…n. Rumahmu di mana? Kuperkirakan dekat sini melihat caramu berpakaian terlihat seperti orang yang tidak menggunakan transportasi publik.” Ia meringis, “kalau kau bisa membawaku ke rumahmu kurang dari tigapuluh menit dan melakukan pertolongan pertama, namamu bisa diselamatkan dari tuduhan pembunuhan.”

“Apa?”

Seketika kedua pundak Se Hwa melemas.

Blood Red Road; End

Notes;

  1. Fiksi perdana setelah sekian lama.
  2. Maaf kalau kaku atau banyak kemana-mana, masih belum selesai WB
  3. Mas jojon belum keluar karena Mitsuke mau garcep dulu sebelum negara api menyerang.
  4. Thanks!
Advertisements

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s