Trackback

Han Rami (OC) – Choi Seungcheol (Seventeen) //

Han Rami (OC) – Shownu (Monsta X)

..

..

sky.l

..

..

Han Min Hyung Pensiun, Memilih Kembali ke Tanah Kelahiran.

Rami mengabaikan lembar tebal surat kabar setelah meliriknya sekilas, melanjutkan sarapan pertama sekembali ke Seoul. Kepala masih terasa disorientasi akibat perbedaan waktu yang kentara tidak mencegat untuk mengisi perut yang meraung menuntut hak.

Ternyata memang takdir menariknya kembali ke tanah kelahiran. Setelah memutuskan menyelesaikan short course singkat di sebuah akademi fashion ternama di Milan ketimbang mengambil jalan panjang menuntut ilmu dari awal, ayahnya memberi kabar tentang rencana pensiun dan rencana kembali ke Seoul, satu minggu setelah tahun berganti. Julia -istri baru ayahnya- tidak keberatan mengekor meski meninggalkan kota gemerlap yang sangat dicintai. Ah, hubungannya dan Julia sudah lebih baik dari saat lampau. Meksipun Rami masih belum menerima seutuhnya wanita tersebut sebagai pendamping baru ayah.

Ayah Rami memutuskan pensiun setelah berkali-kali diperingati dokter jantung mengenai beban kerja yang terlalu berat dapat memperburuk kesehatan. Entah apa yang membuat Rami segera menerima tawaran untuk ikut kembali tinggal di Seoul. Enam bulan di Milan terasa sangat panjang ketika akhirnya Rami kembali meniti jejaknya di tempat yang disadarinya begitu familiar.

“Nona, mobilnya sudah siap di depan.” Kepala pelayan keluarga Rami mengumumkan tepat setelah suapan terakhir omelet dan susu hangatnya habis. Rami menarik serbet, mengelap sisi bibir.

Hak sepatunya berderak mengiring langkah. Tubuhnya menyuruk masuk ke dalam mobil begitu sang sopir membukakan pintu penumpang.

Mobil masih bergeming dengan sopir yang menunggu instruksi dan alamat tujuan.

Napasnya mengesah panjang. “Ke tempat Paman Han. Kantor Pledis.”

*

Seungcheol keluar dari ruang pertemuan di lantai tiga setelah membicarakan jadwal grup serta hal-hal lain yang butuh disampaikannya sebagai perantara dua belas kepala lain. Derap kakinya baru akan menjamah tangga untuk turun kembali ke studio, hendak menyelesaikan lirik dari lagu yang tempo hari diberikan Woozi -komposer terbaik grup mereka- begitu tanpa aba-aba keduanya terhenti, mendapati figur gadis yang tengah mengumpat cukup keras sembari memegangi kaki.

Kepalanya sibuk berdebat, bahwa yang dilihatnya hanya akal-akalan halusinasi. Namun sisi lain memprotes, membenarkan keberadaan sosok yang ditangkap pasang netra mata nyata adanya. Setengah tahun tak cukup lama pun tak begitu pendek. Surai berpotong pendek saat terakhir kali mereka bertatap wajah kini telah kembali menjulur sepanjang atas bahu dengan warna coklat tua dan ikal artifisial yang bergelayut. Tidak banyak yang nampak berubah selain itu.

Sesuatu dalam kepala Seungcheol berteriak nyaring, memaksanya untuk berbalik dan pura-pura tak pernah menangkap sosok gadis di atas anak tangga tersebut. Namun tak cukup lantang, karena kakinya tetap bergerak, menyusut jarak. Memenuhi ego sisinya yang membenarkan bentuk nyata Rami dalam jangkau.

“Hanra.” Lama lidah tak mengucap nama itu, rasanya ganjil.

Rami mendongak, wajahnya yang sesaat tampak kesal segera berganti. Matanya membulat terekejut.

“Apa kabar?” Seungcheol tersenyum tipis, berusaha mengabaikan tohokan keras yang serta merta mengikuti begitu matanya berhadap kembali dengan tatap gadis itu. Cukup keras, namun hanya sekejap. Berdamai dengan perasaannya pada Rami bukan perihal gampang, tetap patut diusahkan pun begitu. Tetoreh luka bukan berati dia ingin balik melukai.

Dia membaca headline yang muncul pada portal berita maya. Meski sejentik, ada harapan kecil bahwa Rami ikut pulang bersama ayahnya. Dan sekarang Seungcheol berhadap-hadapan lagi dengan gadis itu.

Ekspresinya masih sama seperti saat terakhir mereka saling bertukar cakap, canggung dan bingung. Seungcheol yakin, mimik mukanya tak jauh dari apa yang tertera pada wajah gadis itu.

*

Jemari Rami masih mengetuk-ngetuk bibir gelas. Sorot kelamnya belum cukup berani menengadah, beradu dengan tatap yang tengah lama-lamat menancap ke arahnya. Dia tahu, cepat atau lambat mereka pasti akan bertemu, tapi tidak dikiranya akan sekilat ini.

“Kau habis bertemu sajang?” Laki-laki itu memutuskan menuntaskan hening, mungkin jengah tak ada utara kata-kata setelah hampir sepuluh menit mereka duduk dihadap saji caffein.

Rami mengagguk, mau tak mau matanya nanar pada pandang Seungcheol saat membalas percakapan. “Paman menawariku pekerjaan.”

Seungcheol mengangkat gelasnya setelah mengangguk singkat. “Jadi kau benar-benar kembali?” Pertanyaan tersebut akhirnya mencuat.

Rami mengangguk lagi. “Karena dad,” jawabnya singkat.

Rami masih merasa bersalah, atas apa yang telah dilakukannya pada Seungcheol. Namun meski kembali bertatap seperti sekarang, pilihannya tak akan dia tarik kembali. Rami melukai Seungcheol, cukup berhenti sampai disana. Dia terus membanding-bandingkan Seungcheol dan Tim. Meski keduanya tak berbagi kesamaan. Mengulang kembali perasaanya pada Seungcheol entah kenapa selalu membuatnya kembali terseret pada masa lalu mengenaskan bersama Tim. Perasaan tersebut masih belum benar-benar lenyap, masih menghantuinya dengan jelas.

Keputusannya bergeming. Mengakhiri cerita panjang mereka yang tidak berakhir dengan cerita-cerita indah dan manis. Rami tak pernah benar-benar melangkah, sementara Seungcheol terlalu lama menunggu dengan asumsi optimis hingga harapan itu melompong tanpa usahanya.

Seungcheol tahu banyak tentang dirinya, tentang masalahnya, dan tentang rahasia yang tak ingin dibaginya pada orang lain. Bagi Rami, memilih menuju Seungcheol terasa seperti menderap mundur. Memandang nyata pada segala hal pada masa terburuk hidupnya. Rami benci bayangan tersebut.

Seungcheol menemukan Rami pada waktu yang tidak tepat. Meski semua telah bergulir maju.

“Selamat. Kalian benar-benar jadi selebriti sekarang.” Celetuk Rami, terkekeh pelan.

Seungcheol melakukan hal yang sama, tertawa pelan. “Jadi kau masih peduli dengan kabar tentang kami?”

Jenaka dalam selip bicara Seungcheol membuat Rami sedikit bernapas lega. Seungcheol tahu dirinya sebaik sahabat-sahabat terdekatnya. Meski mungkin masih akan sulit bagi laki-laki itu untuk menepikan masa lampau mereka dan memulai seolah hal tersebut tak pernah ada.

“Tidak juga sih. Lebih karena Vernon yang terus menerus mengirim setiap berita yang memuat kalian.”

Mereka sama-sama tertawa kali ini. Tensitas yang bergelung memudar sepersekian. “Ah… sudah lama kita tidak mengobrol ringan tanpa bertengkar ternyata.” Seungcheol berucap, memandang sisi lain nampak mengingat masa pertama mereka saling mengenal.

Rami mengiyakan dalam diam, hanya bibir yang ikut mengulas sembari mengekor masuk dalam memorinya sendiri, menguap kembali kenangan lama yang tersimpan jauh.

“Seungcheola…”

“Tentu saja, kita masih berteman. Aku adalah temanmu sebelum semuanya.” Seungcheol menyela Rami, dengan akurat menguar apa yang hendak Rami ucap namun tak kunjung terucap karena terlalu sibuk melempar argumen dengan dirinya sendiri.

Bongkah berat dalam dada Rami seperti baru saja bergelayut hilang. Bergulat dengan perpisahan terlalu sering tidak berarti dirinya siap kala harus kembali disodorkan. Setelah terlalu sering mengoyak harapan Seungcheol, yang Rami tahu hanya dirinya harus bersiap bilamana mereka harus berselisih jalan sebagai orang asing kembali.

“Aku masih temanmu, Rami. Mungkin memang pilihan bahagiamu bukan aku, tapi bukan berarti aku akan mengabaikan pertemanan kita yang sudah lebih dulu.”

Rami berharap ia bisa menghambur memeluk Seungcheol. Meminta maaf sebanyak mungkin meski tahu hal tersebut tidak akan membuat luka yang tertoreh lekas merapat kembali. Harusnya ia tidak berpikir demikian, Seungcheol tidak sedangkal yang ia pikir.

“Teman?” Seungcheol mengulur tangan, menyembul kelingking dan jempolnya ke arah Rami.

Rami menaut kelingking dan jempolnya pada Seungcheol. “Teman.”

Terima kasih, gumam hatinya.

**

Shownu memandang papan nama kedai kopi di atas pintu masuk, memastikan tempat tersebut sesuai dengan yang disebut Gayoung -salah satu penata gaya grup mereka- kemarin, saat tiba-tiba meminta Shownu mengembalikan sebuah bingkisan dengan alasan-alasan aneh yang tidak diingatnya lagi.

“Ada jadwal rapat mendadak soal konsep comeback dan hal-hal lain. Jadi… uhm… aku sudah janji akan segera mengembalikan. Tidak  begitu jauh dari tempat tinggal kalian.”

Bau pekat menyerebot pencium berbarengan pintu terdorong membuka diikuti ucap selamat datang dari salah satu pelayan. Bodohnya, Shownu lupa bertanya penampakan teman Gayoung. Gadis itu hanya berkata, “Nanti kau juga tahu.” Sambil  berlalu pergi, sementara Shownu hanya memandangi bingkisan yang sekarang dibawanya dengan bingung.

Tebakannya hanya satu; ia mengenal teman Gayoung tersebut. Namun matanya tak menemukan sosok tak asing di antara pelanggan yang nampak sibuk di lantai satu kedai kopi. Shownu menoleh, menemukan tangga sempit menuju lantai dua. Shownu naik tanpa berniat memesan apa-apa.

Hanya dua meja yang terokupasi pelanggan di lantai dua, salah satunya di tengah deretan meja di bagian luar. Shownu menoleh, pada pelanggan di meja tak jauh dari tangga. Seorang wanita yang nampak sibuk dengan perangkat laptop dan dua tumpuk buku. Positif bukan jenis sobat Gayoung. Gadis yang duduk pada meja di bagian teras tampak merenggang tubuh, kakinya di bawah meja tampak terjulur, dan punggungnya bersandar malas pada kursi plastik berwarna putih.

Shownu melangkah cepat tak mungkin salah mengenali ingatannya sendiri, kini berdiri di seberang gadis tersebut dengan ulas bibir begitu lebar dan mata yang tak tampak membuka lagi.

“Selamat datang kembali.”

Gadis itu pun balas tersenyum,

**

Mungkin selama ini Rami terlalu kalut untuk berpikir jernih, meniti apa yang dirasanya kala itu. Tidak sulit sebenarnya. Laki-laki dengan senyum menular dan figur besar yang tampak nyaman tersebut segera menyeruak dalam pikir tepat setelah dia mengiyakan ajakan ayah untuk pulang. Sangat mudah.

Tanpa banyak debat kosong yang mencegat, tanpa mengulur waktu, Rami meraih sisa langkahnya. Kali ini bukan hanya kamuflase menampik perasaannya yang lain. Kali ini ia hanya melakukan dikte hati, menulikan dengung yang menyuruh mempertimbangkan jalan pikir. Rami sudah lelah berpikir. Tidak ada lagi yang perlu dititik beratkan pada satu argumentasi.

Shownu selalu ada saat Rami membutuhkan. Bahkan saat dirinya terlalu sibuk berkutat dengan segala kelumit perasaannya yang rumit. Shownu tak pernah gagal membuatnya merasa berada pada dekap paling aman di dunia. Satu sisi dirinya memaki ego yang tak menggubris bagaimana dia selalu mencari Shownu meski hatinya tengah berusaha menempatkan orang lain disana. Mengesampingkan semesta yang mencemooh arogansinya seolah apa yang dia lakukan tak pernah sedikit banyak menyakiti Shownu.

Biar saja resiko yang belum pasti terwujud. Rami ingin memastikan insting hatinya.

“Sejak kapan pulang?” Senyum yang masih mengulas, Rami sama sekali tidak keberatan karena dirinya juga ikut tersenyum.

“Dua hari lalu. Kepalaku masih seperti jeli, pusing.” Sungut Rami, kontras dengan perkataan, sibuk mengunyah kue cokelat dan puding sutranya. Shownu hanya tertawa pelan, masih tidak menarik tatapan memandangi Rami.

Rami mengecap sendok yang dipakainya, lalu memerhatikan Shownu dan warna rambutnya.

“Kenapa? Aneh ya?” Shownu mengacak-acak rambutnya gusar. Rami lantas tertawa, wajah Shownu mengernyit bingung. Tawa yang terlalu lepas untuk jenaka yang sekedar.

“Kau baik-baik saja?” Tanya Shownu, begitu tawa Rami mereda -namun masih tersisa, nampak dari ujung-ujung bibir terus saling berjingkat. Lalu gadis itu menggeleng cepat.

Rami menutup mulutnya, berusaha menahan serbu tawa yang masih meletup. Lekas-lekas diminumnya sisa susu kocok stroberi di samping piring kue cokelat yang hanya bersisa remah. Kapan terakhir kali dirinya bisa tergelak lepas? Rami tak ingat.

“Kenapa? Masih gara-gara…”

“Aku kangen oppa. Tentu saja tidak baik-baik saja.” Sembur Rami. Merengut raut bingung Shownu, yang kini berganti wajah datar -menanda laki-laki itu semakin tak paham. “Tahu siapa yang ingin kutemui begitu dad bilang akan pulang ke Seoul? Tahu siapa yang kupikirkan selama perjalanan ke Milan? Tahu siapa yang ingin sekali kuajak mengobrol setiap aku kesepian tapi sayangnya orang tersebut tidak punya ponsel sendiri? Tahu siapa yang berbalik membuatku semakin merasa bersalah karena aku merasa seperti sedang berselingkuh dengan orang lain ketika persaanku sendiri sedang rumit-rumitnya?”

Shownu mengerjap berkali-kali. Tangannya menggaruk-garuk tengkuk. “Siapa?”

Rami mendengus, mengangkat telunjuknya tinggi-tinggi.

“Aku?” Shownu menunjuk tepat di hadap hidungnya. Rami mengangguk.

Tidak tahu sejak kapan dan bagaimana, entah karena mungkin perasaannya mencoba mencari pelarian semata atau memang menariknya menuju ketuk rasa lain yang sesungguhnya membuat Rami merasa lebih baik -apapun yang terjadi waktu itu. Namun isyarat-isyarat kecil itu kalah meningkahi aum langkah serta pikir yang keruh. Tidak sehari pun setelah mereka saling mengenal perasaan Rami terhadapnya terjebak kekacuan -seperti yang terjadi terhadap Seungcheol.

Waktu itu tangga yang tengah dituju Rami tak berkelok. Tapi tanpa disadarinya, sesekali langkahnya telah mengalih menyusur jalan kecil yang tidak terjal dan sesekali membuatnya ingin terus melangkah. Seperti apa yang Shownu pernah katakan padanya waktu itu, kali ini dia membiarkan hatinya yang memutuskan tanpa berkalkulasi sulit.

Buncah-buncah seperti gelembung menggelitik memenuhi dadanya -aneh tapi tetap menyenyangkan. Lompat-lompat jantungnya perlahan-lahan meninggi kadar endorphin memabukkan.

“Aku suka Han Rami.” Seloroh Shownu, sebelum Rami sempat mendorong kata-kata yang pernah ia lontar saat dulu mereka duduk di atas anak tangga darurat satu tahun silam, namun kali ini terasa lebih susah diucapnya.

Shownu menjulur tangannya, menangkup wajah Rami. “Aku suka Han Rami.” Ulangnya lebih lantang namun tetap perlahan.

Dadanya yang sesak seperti akan meledak tahu-tahu sudah membuatnya tergugu, tanpa disadari pelupuk matanya terasa semakin berat. Namun Rami bisa merasakan sudut-sudut bibirnya meninggi.

“Aku juga suka Hyunwoo oppa.”

=fin=

notes;

loh ini bakal dilanjutin? sebenarnya nggak kepikiran buat ngelanjutin cerita mereka, tapi emang aku pengin nulis ending yang ‘agak’ jelas dari pada yang terakhir aku post,walopun masih nggak jelas sih tetap kayaknya mwehehe

. wkwkwk ini juga atas protesan ka nad kemarin tapi emang ini cerita ngendap di file hanra dari lama dan nggak kesampean buat aku post  soalnya nggak dapet inspirasi ngelanjutin

. mungkin efek berkubang sama cinta segitiga baru yang lain jadinya bisa nemu ide buat nyelesaian cerita terakhir ini

. also…. this is my kind of story of  ‘second lead could also get the girl’ walopun mungkin ga seru dan agak gak adil juga sih buat sekop tapi ya…..

. I promise this is it, the last goodbye for them

. Thank you for all of you who read this and root for them till the end

Advertisements

3 Replies to “Trackback”

  1. Yah, aku kira mereka balik terus Hanra ngerubah pikiran buat Seungcheol, tahunya /menggelinding/ tapi aku seneng ih, second lead akhirnya dapet Justice di sini wkwkwk. Memang kebahagian second lead harus dibudidayakan Li.

    Jadi Han, udah sampe ditangganya ya.

    TAPI AKU BAHAGIA HANRA JADIAN SAMA BERUANGㅠㅠ Sumpah aku puas sama endingnya, entah kenapa bikin senyam-senyum juga. Longlast ya Hanra-Shownu!! Buat Seungcheol, ya sabar, nanti kalau jodoh gak bakal kemana kok, paling disambit orang aja kalau gak garcep /halah/ Tapi seenggaknya, Hanra masih disekitaran kan, mungkin bisa minta tolong dia cariin pasangan wkwkwk

    Okelah sekarang tinggal menunggu progres pasangan lain xD. Makasih li fiksinya!! ❤

    Liked by 1 person

  2. Hahah…. Ha… ‘Protesnya kak nad’….
    IYA SOALNYA PENONTONNYA KECIWA BERASA DI PHP KAKA LIA
    Terus sekarang pengen teriak…. AAAAAHHH AKHIRNYA HANRA KU YANG MANIS
    Pas di bagian sekop tuh rasanya udah kaya…. “Plis ama om aja, ama raja minyak aja plis”, terus pas dianggep temen gitu langsung yang “HHAHAHA SUDAH KUDUGA HAHAHAHA!!!”
    akhirnya Hanra bersama om beruang juga, sebenernya sih aku sukanya emang hanraxsonu, soalnya yang satu meledak2 gitu kan yang satu tuh bego2 kalem /aiih jadi saling melengkapi gitu seneng aja liatnya couple manis banget emang bedua, makanya ngena banget pas terakhir post ngegantung, langsung kaya “LOH LOH LOH”
    Makasih banget ya lia yang udah menanggapi protesanku yang sangat panjang dan menyebalkan itu, yang sampe gak sadar waktu, tapi… Aku baru sadar waktu itu lia pesen es bentuk beruang kan…? Kayaknya itu secara gak sadar udah jawaban akhirnya bakalan hanraxsonu….. Hmmm……..
    SEKALI LAGI MAKASIH LIAAA!!!!! Makasih sudah memberikan penutup yang manis banget buat Hanra, dan meredakan dahaga para pembaca yang merasa nggegantung hehehehe /plak
    Lanjutkan perjuanganmu anak muda /eee

    Thanks!
    All.want.candy

    Liked by 1 person

  3. ENDINGNYA KENAPA BIKIN YANG BACA BAHAGIA SENDIRI YHAAAA

    Pasti pas ngobrol sama sekop awkward bgt wkwkwk akhirnya second lead jadi pemeran utama :’) sekop sabar yha. Jodoh gak kemana, kalo blom ada jodoh jangan lupakan emak jeonghan dirumah /plak

    Bener kata kaknad shownu hanra saling melengkapi satu sama lain. Cucokk~~~~

    CONGRATS BUAT HANRA SHOWNU 😘😘😘😘

    Liked by 1 person

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s