I’ll Wait

nye

Im Nari (OC) – Park Jaehyung (DAY6)

..

..

sky.l

..

..

Nari melirik angka digital pada layar sentuh ponsel, lockscreen mata Jae yang berjajar segaris di balik kacamata mengusiknya. Alih-alih menghabiskan malam natal dan malam tahun baru bersama, laki-laki bak tiang listrik pinggir jalan itu tengah sibuk berkubang di dalam studio karena proyek tahun selanjutnya yang tidak bisa dialihkan.

Ibu memaksa Nari kembali ke rumah, gagasan yang segera ditolak. Apalagi dengan segala interogasi bahkan pemaksaan kencan buta seperti sebelum ia melarikan diri dari rumah. Menolak satu kali sekaligus menghindar ribuan telepon masuk.

Reo pergi berlibur entah ke negara tropis mana dengan kekasih barunya yang anak konglomerat. Junhyeok? Mungkin tampil di panggung di suatu tempat.

Ah… ternyata mengenaskan rupanya tidak punya satu teman normal pun di kala hari libur panjang.

Langkah Nari memilih berbelok pada tenda merah satu blok sebelum tempat tinggalnya.

Imo, soju dua botol.”

**

Jae segera mengecek ponsel begitu musik latihan atau turunan nada dalam studio redam. Kebiasaan yang melekat lebih sering berkat ancang-ancang proyek baru yang membuatnya terperangkap dalam petak kedap suara gedung agensi hampir setiap hari dua bulan belakang. Pesan terakhir tertuju anak gadis bermarga Im pada deret atas aplikasi chat messengernya tak bergeming, tak dibalas pun dibaca.

Malam natal kemarin Jae tak bisa meluangkan barang separuh jam bertemu Nari, meski tak terdengar kesal atau keberatan dari percakapan di telepon waktu itu, tetap saja Jae merasa tak enak.

Hyung, kita belum kembali ke dorm dari kemarin lusa.” Wonpil menggaruk-garuk kepala, memasang wajah kusut belum mandinya.

Sungjin berdecak pelan. “Gantian saja bagaimana? Aku, Brian, dan Jae hyung menyelesaikan lagu yang belum rampung, kalian kembali ke dorm. Istirahat sebentar sampai nanti pagi.”

Call.” sebelum yang lain menyahut Jae segera mengiyakan sembari bergegas menyambar tas punggung. Tak mendengar instruksi Sungjin.  “See ya.”

Well, kurasa hanya kita berdua kalau begitu.” Brian terkekeh pelan sambil menggeleng begitu pintu studio menutup rapat kembali setelah Jae pergi.

**

Jae? Jaeeee…. Yeeeey~” 

Hampir kelabakan tak disahuti sambung panggilannya, Jae menemukan Nari yang ponselnya berdering cukup nyaring pada tenda kedai yang kebetulan menuju arah apartemen gadis itu.

Tiga botol hijau kosong, beberapa piring kosong serta satu mangkuk yang hanya tinggal berisi kuah menanda bahwa Nari sudah cukup lama duduk di bawah tenda merah tersebut.

Jae duduk bersebarang gadis yang kedua pipinya berwarna merah muda dan terus-menerus meracau tak tentu.

Jae yey… woooa, kenapa kau disini? Hehe. Kau kan sedang sibuk, hehe. Tidak apa-apa kok, aku tidak kesepian.” Nari hendak menuang isi botol hijau keempat ke gelas kecil di depannya begitu Jae menyambar dua benda tersebut, menjauhkannya. “Yaiish.  Jaeeee!

“Ayo pulang.” Jae berdiri di sisi Nari setelah membayar pada bibi kedai, membereskan barang-barang di atas meja lantas menyampir tas selempang kumal Nari. Gadis itu mendengus pelan, namun menuruti permintaan Jae. Tubuhnya bangkit dengan keseimbangan payah.

Jae menggeleng sesaat, lalu berjongkok menawarkan punggung.

**

Perutnya yang terasa melilit tiba-tiba membuat ia terjaga. Satu toleh pada sisi kiri kamar menampakan kelam di balik tirai pastel kamar. Pagi belum menyingsing. Nari memutuskan bangkit, mencari sesuatu yang bisa membuat perutnya tak seperti diperas dalam pengering pakaian.

Belum langkah mendekat lemari pendingin, kakinya berhenti. Terkejut senyap menemukan Jae yang tertidur di meja makan kecil di samping kulkasnya. Pasti ia terlalu mabuk untuk ingat bahwa Jae yang mengangkutnya pulang.

Perut yang mengerang mengingatkan Nari kembali pada misi awal, mengambil air minum serta obat sakit perut.

“Nari?” Jae terbangun karena debam kabinet yang menutup.

Nari duduk di kursi kayu di sisi Jae, meneguk botol air mineral yang baru saja diteguk bersama satu tablet obat. Lampu area dapur tidak menyala, namun benderang dari ruang tengah cukup menampakkan paras kuyu Jae.

“Kenapa tidak istirahat di dorm?”

Jae menggeleng. “Pagi nanti masih harus latihan. Besok juga, besoknya lagi, besok besoknya lagi juga. Entah sampai kapan ada waktu kosong.”

“Waktu kosong yang harusnya kau pakai untuk istirahat. Mukamu seperti orang sakit,” Nari menangkup kedua pipi Jae yang kedua matanya terpejam. “Masih ada dua setengah jam lagi sebelum jam tujuh. Kau mau tidur disini?” Jae mengangguk singkat.

Sebenarnya tidak masalah dengan kesibukan menggila karena merampungkan proyek mendatang untuk grupnya, jadwal tidur serta makan yang terbengkalai atau bahkan terkurung dalam ruang studio hampir setiap hari. Tanggung jawab dan prioritas dalam satu paket, kalau berbicara soal pekerjaan.

Seberapa penuh pun kepalanya tercurah pada pekerjaan, tetap saja hatinya mengusik sekali waktu. Mengingatkan Jae ada satu hal lain yang terbengkalai disamping waktu tidur; separuh pijakan dunianya. Kebiasaan menghilang Nari yang kadang merasa tak perlu menggubris ponsel atau sarana komunikasi lain sangat tidak membantu hatinya tenang jika sedang harus mati-matian mengejar dateline sementara dirinya khawatir tak disahuti kabar.

Tapi kalau sudah saling berhadap, walau gadis itu mabuk dan menggigau tak jelas, hanya desah napas lega yang bersuara. Tak teringat segala omelan beruntut yang bersarang setiap Nari membuat seperempat kepalanya tak bisa berkooperasi penuh pada pekerjaan.

“Maaf aku sibuk.” Hanya kalimat tersebut yang terpikir mesti terutara.

It’s ok. I’ll wait.”

==

notes:

. yihaaaaa, sebenernya mau dikelarin abis rilis I Wait kemarin tapi karena masih ujian apalah daya

. selamat tahun baru ya semua semoga tahun ini masih cinta sama kopel ini hehe

. #EveryDay6 Yeaaay

Advertisements

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s