Draw A Line

red-line

Draw a line

Hoshi x Min Jiwoo

Canon – Repetita

.

.

.

.

Jinwoo menopang dagu, menatap heran adiknya yang hanya duduk terdiam, tatapannya kosong lurus kedepan. Nasi dihadapannya masih utuh tak tersentuh. Jiwanya entah berada dimana, yang jelas bukan berada disini.

“Min Jiwoo,” tangan Jinwoo melambai di depan wajah Jiwoo, tak ada respon darinya, masih tatapan kosong.

“JIWOO!” Jiwoo melonjak kaget, sontak Jiwoo melayangkan pukulan ke kepala belakang Jinwoo, membuat pemuda itu mengaduh kesakitan.

“Idiot. tak perlu teriak seperti itu.” Seru Jiwoo kesal.

“Kau yang idiot, tak menjawab panggilanku, malah melamun.” Balas Jinwoo tak terima.

Jiwoo memutar bola mata, mendengus kesal. Bukan kesal karena Jinwoo, kesal dengan dirinya sendiri yang termenung. Ia sendiri tak paham dengan jalan pikirannya semenjak Hoshi berhasil memporak poranda perasaannya.

“Jangan membaca pikiranku!” Teriak Jiwoo.

Seringaian muncul di bibir Jinwoo, tanpa membaca pikiran Jiwoo pun ia sudah tau penyebab lamunan Jiwoo, “Biar aku tebak, Hoshi?” skak mat. Jiwoo melotot, kemudian menekuk muka.

“Ku dengar dari teman perempuanku dia cukup terkenal. Waktu itu kau bertemu dengannya kan? Kalian bicara apa saja? Kalian tidak tertangkap wartawan kan?”

Ugh, terkadang Jinwoo bisa menjadi cenayang yang baik dan sekaligus menyebalkan dengan seringaian miliknya. Jiwoo menyendokan nasinya dan mengarahkan ke Jinwoo, memerintahkan pemuda itu membuka mulut. “Kalau sudah tau kenapa  masih bertanya? Tak usah pura pura tak tahu. Makan yang banyak, biar mulutmu diam.” Ujar Jiwoo yang memberikan suapan nasi kedua pada Jinwoo, sang kakak pasrah sambil sesekali mengulum senyum.

“Kalau suka, bilang saja.”

“Sudah aku katakan padanya.” Jawab Jiwoo santai.

“Kalau sudah mengatakannya, pacaran saja.”

Detik selanjutnya Jiwoo melayangkan sendok ke kepala Jinwoo.

***

“Kalian benar benar tak pacaran? Bahkan setelah tahu perasaan masing masing?” Tanya Jinwoo tak percaya.

Jiwoo memutar mata, menghela napas sebelum menjawab, “Kau pasti berharap seperti itu ya? Sayang sekali kami tidak pacaran. Jangan bertanya lagi. Aku mau pergi kerja.” Jiwoo menggeser tubuh Jinwoo yang menghadangnya. Sepertinya Jinwoo sudah gila, pemuda itu selalu tersenyum kalau melihat Jiwoo, kau tahu… senyum penuh arti. Bisa diartikan juga sebagai seringaian.

“Oh, aku kasihan dengannya, suka dengan gadis tak berperasaan sepertimu. Aku doakan semoga nanti jantungmu selamat karena bertemu dengannya. Good luck!” Ujar Jinwoo terkekeh.

Jiwoo menyeringai “Sayangnya hari ini jadwalmu mengambil baju kesana, karena aku shift pagi dan aku sudah terlambat. Sampai jumpa di The Quarters kakakku sayang!” Potong Jiwoo yang membuat Jinwoo terdiam. Jiwoo terbahak melihat reaksi kaku Jinwoo, ia segera menuju pintu keluar, karena ia memang benar benar sudah terlambat.

Jiwoo menarik ponsel dari kantungnya setelah mendengar bunyi pesan masuk, butuh beberapa detik untuk Jiwoo mencerna isi pesan itu.


From : Hoshi-ssi

To : Jiwoo

Semoga harimu menyenangkan!

Kali ini pesan itu berhasil membuatnya tersenyum lebar


“Aku pesan dua ice coffee.

Suara pelanggan di depannya mengalihkan pandangan Jiwoo pada layar komputer. Senyum ramah yang biasa ia tunjukan sirna melihat pemuda di depannya. “M-mohon tunggu sebentar.” Ujar Jiwoo tergagap. Ia kembali dengan dua gelas ice coffee. Hoshi menyerahkan selembar uang sesuai dengan total, dengan perlahan Jiwoo memberikan dua gelas itu pada Hoshi.

“Satu lagi untukmu,” Ucap Hoshi yang hanya mengambil satu gelas.

“Eh? Maaf aku harus kerja dulu,” Jiwoo menaruh kembali gelas plastik di tangannya, kembali melayani pelanggan yang datang. Sesekali sudut matanya melirik Hoshi yang tak kunjung pergi dan memilih mengacuhkannya.

Lima orang pelanggan sudah dilayani, dan pemuda itu tak kunjung berpindah dari tempatnya, ia malah asik memainkan ponselnya. Tungkai kaki Jiwoo berjalan keluar dari balik kasir, tak lupa melihat suasana yang agak sepi. Lagipula sebentar lagi jam kerjanya berakhir.

Jemari Jiwoo menarik lengan baju Hoshi secara tiba tiba tanpa sepatah kata. Pemuda itu sempat terlonjak kaget namun akhirnya mengikuti kemana gadis itu menariknya yang berakhir disebuah meja kecil di pojok kedai. “Tidak lelah terus berdiri disana?” Tanya Jiwoo.

“Aku tak pernah lelah menunggumu,” Jawab Hoshi dengan cengiran lebar.

“Kwon Soonyoung.” Ujar Jiwoo datar. Bibir Hoshi membulat, agak terkejut Jiwoo mengetahui nama aslinya.

“Oh-ho kau tau nama asliku! Apalagi yang kau tau tentangku?” Kata Hoshi dengan senyum percaya diri.

“Hanya itu. Jangan terlalu percaya diri. Ngomong – ngomong, ada apa mencariku? Pasti ad— Min Jinwoo!” Jiwoo mendadak berdiri, pemuda bertubuh jangkung yang wajahnya sangat mirip dengan Jiwoo. Mata Jinwoo menyipit seraya seulas senyum tertarik, memandang Jiwoo dan Hoshi bergantian.

“Kalian…”

Jiwoo sontak berdiri, menatap jam tangan di pergelangan tangan, “Jam kerjaku sudah selesai. Lebih baik aku bersiap untuk pulang.” Tungkainya bergerak menjauh, menuju ruangan staff. Dalam diam, berusaha mengusir rasa gugupnya karena ‘tertangkap basah’.


Hoshi tak bisa menutupi rasa gugupnya ketika Jinwoo duduk di depannya, bahkan ketika Jinwoo menatapnya dan Jiwoo bergantian ia tak bisa mengucapkan sepatah kata, hanya bisa membisu. “Hyung…” Panggil Jinwoo. Ah, ia lupa kalau Jinwoo lahir di tahun yang sama dengan Jiwoo.

Jinwoo menghela napas pelan, “Tak perlu sekaku itu di depanku. Aku tak akan memakanmu hidup hidup hanya karena hyung menyukai adikku.” Ujar Jinwoo sambil terkekeh. Napas Hoshi tercekat, ingin rasanya mengubur dirinya sendiri. Ia terlalu malu.

Hoshi mengusap tengkuknya, “Adikmu sulit ditebak.” Ujar Hoshi pasrah. Sejak pengakuannya tempo hari, Jiwoo tak pernah membahas lagi bagaimana kelanjutan mereka, dibiarkan mengambang tanpa tujuan yang jelas.

“Adikku itu cukup unik, dia tak pernah jatuh cinta sebelumnya. Dan bisa dibilang hyung cinta pertamanya. Bukan cinta monyet yang biasa dialami remaja, kali ini berbeda. Bahkan waktu itu dia sanggup uring uringan berhari hari hanya karena memikirkan perasaannya.” Jelas Jinwoo.

Hoshi bersyukur, bukan hanya dirinya yang uring uringan, berarti ia tak gila kan?

“Jadi sekarang bagaimana kelanjutan kalian? Mau terus berlanjut tanpa status yang jelas?” Tanya Jinwoo to the point.

“Aku harap hyung tidak membiarkan Jiwoo seperti itu terlalu lama. Dia terlihat baik dari luar, tapi di dalamnya tak sebaik tampak luarnya. Maaf aku terkesan menggurui, tapi aku mengatakan ini sebagai seorang kakak. Aku pergi dulu. Aku titip Jiwoo.” Jinwoo bangkit, menepuk pundak Hoshi sambil tersenyum kecil sebelum pergi ke balik kasir.

“Kanpa-ssi! Aku pulang dulu, Jinwoo sudah datang. Sampai jumpa besok.” Ujar Jiwoo. Tungkai Jiwoo berjalan menuju meja yang Hoshi tempati, dilihatnya pemuda itu menyesap kopinya sambil menatap keluar. Hoshi sontak menoleh mendengar derap langkah mendekat. “Sudah selesai? Ayo pulang.” Ajak Hoshi.

Kening Jiwoo mengerut, walaupun akhirnya mengikuti keluar dari kedai, tak lupa melambaikan tangan pada Jinwoo yang sudah berdiri dibalik kasir. “Kwon Soonyoung.” Panggil Jiwoo, sedetik kemudian Hoshi berhenti dan menoleh kebelakang, “Kenapa?” Tanya Hoshi.

Jiwoo berdiri di depan Hoshi dan berjalan mundur, “Kalian tadi terlihat bicara cukup serius. Bicara apa saja?”

Hoshi mengulum senyum, “Rahasia. Pembicaraan antara sesama pria. Anak kecil sepertimu tak boleh tahu. Sekarang berbaliklah dan jalan yang benar.” Hoshi memutar badan Jiwoo, mendorong pelan badan Jiwoo.

Jiwoo merengut muka, “Kalian pasti bicara tentangku ya? Mengaku saja.” Ujar Jiwoo curiga. Hoshi menggeleng pelan.

“Jinwoo cerita ketika kau uring uringan berhari hari. Puas?” Mata Jiwoo membulat, sumpah serapah tak terucap keluar dari bibirnya. Mungkin sumpah serapah itu akan keluar ketika pemuda itu hadapannya, ditambah jitakan dari tangannya. “Jangan percaya apa yang dikatakan Jinwoo, itu semua bohong.”

“Min Jiwoo. Aku punya pertanyaan untukmu.” Seulas senyum Hoshi sirna, berubah menjadi tatapan serius, alis Jiwoo terangkat sebelah, “Tanya saja.” Jawan Jiwoo santai.

Hoshi membasahi bibirnya yang kering, mendadak rasa gugupnya kembali muncul. “Bisakah kau memberiku garis yang jelas?” Jiwoo terdiam, tak mengerti maksud pertanyaan Hoshi.

“Setidaknya berikan aku jawaban yang jelas soal perasaanmu, sehingga aku bisa memutuskan langkahku selanjutnya, harusnya aku melewati garis itu atau tidak.”

Jiwoo membeku, bahkan bibirnya sulit untuk terbuka, mengucap kata yang sudah sekian lama terngiang di kepalanya namun tak pernah satu kata pun yang berhasil lolos keluar dari bibirnya. Menunggu saat yang tepat mengeluarkan isi kepalanya, mungkin saatnya telah tiba.

Jiwoo menunduk, tak berani menatap kedua mata yang menatapnya lurus. Bahkan ia terlalu takut untuk menaikan kepalanya.

Sudut mata Jiwoo menangkap bus yang ditunggunya mendekat, membuatnya menaikan kepalanya, namun masih tak berani menatap Hoshi. “Busnya datang. Ayo.” Jemarinya menangkup tangan besar Hoshi dan menyelipkan jemarinya di sela sela jari Hoshi, menarik pemuda itu menaiki bus.

“Lewati saja garisnya, aku tidak keberatan.” Gumam Jiwoo.

Dan Hoshi masih bisa mendengarnya.

****

note : setelah lama nginep di draft akhirnya keluar juga. tadinya pengen dibikin konflik, tapi… kasian sama dua sejoli ini yang statusnya masih gak jelas. tunggu aja konfliknya suatu hari bakal nongol (ketawa setan)

-Rinchan

Advertisements

One Reply to “Draw A Line”

  1. HAHAHAHA ASSSSIIIIIKKK DIKASIH RESTU ABANG EEEH DIBOLEHIN LOMPAT GARIISS YAHAAAASSS

    Hosh jangan lama-lama jangan pake banyak peritungan ya, tinggal lompat doang udah ga usah pake ribet ribet udah jelas ada hati langsung gas pooool yahaaaa /shipper ga woles/plak/

    eaaak bisa juga jiwoo galau anak muda karena perasaan lagi berbunga bunga yeeaaah aku juga kalo jadi kakak jiwoo pasti udah gatel goda godain kayak jinwoo wkwkwk adek udah gede udah bisa naksir cowo ihiiiiy /ditendang/

    ayo rin, jangan lama lama bikin perjalanan ke seberang garisnya, greget greget gemes nih sama mereka hihihi

    Like

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s