Meet Up

familymart-800x533

Min Jiwoo X Hoshi

Canon – Repetita

.

.

.

The Quarters
21st June 2016
13:00 PM KST

Orang orang berlalu lalang dihadapannya, memberikan selembar uang dan menerima struk pembayaran dari Jiwoo, senyum itu tak lupa terus tertarik memberikan kesan ramah pada pelanggan. Suara mesin struk menjadi hal biasa yang didengarnya setiap hari. Jam makan siang kedai kopi dipenuhi oleh orang orang yang menghabiskan waktu dengan menyesap secangkir kopi dan bercengkrama dengan kerabat atau rekan bisnis.

Sudah 10 menit Jiwoo berdiri di depan kasir –melayani deretan pelanggan yang mengantri mendapat giliran membayar. Bahkan karena sibuknya, ia belum menyentuh makan siangnya yang masih tersimpan rapih di dapur. Helaan napas lega lolos dari bibirnya ketika selesai melayani pelanggan terakhir yang mengantri.

Tungkainya melangkah ke dapur, mengambil bekal buatannya sendiri. Empat potong sandwich tersusun rapih dalam kotak, seharusnya itu menjadi sarapannya. “Pantas saja kau kurus,” cibir Kanpa yang entah kapan muncul dari dapur.

Well, sebenarnya ini sarapanku. Makan siangku masih ada lagi, mau? Ambilah sebelum aku berubah pikiran.” balas Jiwoo menyeringai.

Kanpa mengulum senyum, lengan panjangnya mengambil sepotong roti segitiga dari tempat makan, “Sebenarnya empat roti untuk sarapan terlalu banyak, aku lupa kau shiksin. Oh iya, terimakasih rotinya.” Kanpa menggigit roti dan diam sejenak, namun kembali mengunyah.

“Ngomong ngomong, aku baru ingat. Roti yang kau makan sempat terjatuh tadi pagi, karena baru 3 detik jatuh jadi aku ambil lagi.” Kanpa mendelik mendengar ucapan Jiwoo. Gadis itu tertawa melihat ekspresi kaget Kanpa.

Kanpa melotot, “Kalau aku sampai sakit perut, kau harus tanggung jawab,” Ujar Kanpa yang menarik ponytail Jiwoo, gadis itu mengaduh sakit. Detik selanjutnya dia kembali tertawa, Jiwoo tak sejahat itu memberikan makanan yang sudah jatuh, semata mata hanya untuk menjahili pemuda yang berprofesi sebagai asisten chef itu. “Tidak tidak, aku bercanda. Kalau kau nanti sakit perut mungkin karena kau sedang datang bulan, karena itu kau terlalu sering mengomel.” Ucap Jiwoo santai, yang mana kembali membuat Kanpa mendelik.

“Diam kau, bocah.” Cibir Kanpa.

“Hey, aku bukan bocah. Ah lupakan. By the way, bos hari ini datang kan?” Tanya Jiwoo.

“Sepertinya iya, lihat saja nanti.” Jawab Kanpa.

Tadi pagi, Jiwoo menempelkan kertas lowongan pekerjaan paruh waktu di pintu masuk. Sebelum menempelkan kertas itu, Jiwoo sudah memberikan info pada Jinwoo. Yah… Jinwoo bilang ia butuh kerja paruh waktu untuk mengisi waktu kosongnya, kalau memang Jinwoo terpilih, dia bisa menggantikan shiftnya pada sore hari hingga malam.

Bisa jadi, jika Jinwoo bekerja disana, pemasukan The Quarters akan lebih banyak, mengingat salah satu kelebihan kedai itu adalah pegawainya yang memiliki paras rupawan, bahkan Jiwoo mengakui itu, terutama sang bos pemilik kedai, ia bahkan jatuh hati saat pertama kali bertemu denga Nate, walaupun semakin lama ia disana, ia sadar bahwa itu hanya perasaan kagum.

Tak jarang, sekelompok gadis SMA datang hanya untuk menanyakan Kanpa, pemuda yang hobi menebar pesona, dan tak sedikit pula yang terlena dengan senyuman ramah Kanpa, dan Jiwoo bukan salah satunya. Hubungannya dengan Jiwoo lebih mirip Tom dan Jerry, dengan masuknya Jinwoo mungkin akan menambah ‘penggemar’,  mengingat Jinwoo cukup terkenal di kampusnya, setidaknya itu yang ia tahu dari cerita Jinwoo sendiri, agak sedikit narsistik memang.

Jiwoo meraih ponsel di kantung celananya setelah merasakan getaran, keningnya mengernyit. Satu pesan dari Hoshi. Ah… melihat nama pemuda itu kini membuatnya menjadi salah tingkah.

From : Hoshi-ssi
To : Jiwoo

Hai. Kau sibuk?

Kedua ibu jari Jiwoo bergerak cepat diatas layar sentuh, tak sadar bibirnya mengulum senyum. Ugh, efek ucapan pemuda itu ternyata berhasil membuatnya selalu tersenyum.

From : Jiwoo
To : Hoshi-ssi

Tidak. Aku sedang memakan bekalku. Kenapa?

 

From : Hoshi-ssi
To : Jiwoo

Hanya bertanya

 

“Pacarmu ya?”

Jiwoo melonjak kaget, Kanpa berdiri disampingya, dengan kepala yang agak menunduk dan matanya terfokus pada ponsel Jiwoo, “Apa? Bukan! Hei, kau tak sopan membaca pesan orang lain!” Seru Jiwoo tak terima. Ia kembali menyimpan ponselnya ke kantung celana.

“Salahmu yang tak hati hati. Jadi, dia pacarmu?” Tanya Kanpa dengan seulas senyum jahil.

Jiwoo mendelik tajam, “Yaampun, sudah kubilang bukan. Sana pergi, kau menganggu makan siangku. Oh, selamat datang. Ada yang bisa kubantu?” Nada bicara Jiwoo berubah ketika seorang pelanggan berdiri di depannya, Kanpa terkekeh, Jiwoo selalu bisa menjadi sasaran empuk.

 


Seven Eleven
21st June 2016
17:00 PM KST

Hari ini kedai ramai pengunjung, bahkan ia tak sempat beristirahat untuk duduk, kesempatannya istirahat hanya 5 menit kemudian datang orang yang ingin memesan. Kedua tungkai kakinya serasa ingin lepas. Beruntung ia bukan bekerja di tempat yang mengharuskan pegawai wanita memakai hak tinggi, hanya memakai sepatu saja sudah membuat kakinya pegal.

Ia segera melahap mie instan yang sudah jadi didepannya, belum hilang kepulan asap, Jiwoo sudah mengarahkan sumpit ke mulutnya, menghela napas ketika rasa gurih menyentuh lidahnya. Sumpitnya mengambil kimchi dan melahapnya.

“Aku rasa kau butuh air.” Jiwoo mengernyit mendengar suara yang tak tampak pemilik suara itu. Suara itu tak asing, tapi ingatannya samar samar. Matanya membulat ketika kepalanya menoleh –mencari sang pemilik suara. Dibelakangnya, Jinwoo dan seorang pemuda –yang  diingatnya sebagai teman sekolahnya dulu berdecak pelan.

Minhyuk, nama pemuda itu. Jinwoo dan Minhyuk menatapnya bergantian kemudian menggeleng pelan, “Dia tidak berubah,” Ujar Minhyuk sambil meneliti Jiwoo dari atas ke bawah.

Jinwoo menghela napas, “Jiwoo memang selalu begitu, tidak anggun sama sekali.” Cibir Jinwoo. Pemuda itu mengaduh sakit karena Jiwoo mencubit perutnya.

“Diam kau. Kau Minhyuk kan? Ingatannku buruk,” Jiwoo terkekeh, tangannya mengusap tengkuknya.

Ya, kau jahat melupakan temanmu sendiri. Untung kau masih ingat namaku, sifat pelupamu tak pernah hilang.” Minhyuk ikut mencibir, diikuti gelak tawa dari mereka berdua. Jiwoo mengerucutkan bibirnya, tangannya kembali bergerak, mengambil sumpit.

Minhyuk, teman sekolah menengah pertamanya. Ia tak satu kelas dengan Minhyuk, tapi ia mengenalnya dari Jinwoo. Dulu Minhyuk sering main kerumahnya untuk bertemu Jinwoo, bisa dibilang Jinwoo dan Minhyuk teman akrab, namun sejak lulus Jiwoo tak pernah melihat pemuda itu lagi. “Minhyuk-a, apa kabar? Lama tak berjumpa.” Tanya Jiwoo.

“Baik. Kau sepertinya terlihat sangat baik, dan tak berubah.” Jawab Minyuk mengulum senyum.

Jiwoo mengangguk, matanya beralih melihat Jinwoo, “Jinwoo-ya, kalau kau mau, kau bisa datang besok ke The Quarters.” Pemuda yang merasa namanya disebut mengangguk paham. Soal lowongan kerja kasir… anggap saja Jiwoo membooking posisi itu untuk Jinwoo. Dia saudara yang baik, kan? Lagipula, Nathan tak masalah ketika mereka mengobrol tadi siang.

“Ngomong – ngomong, kalian habis makan daging ya? Lain kali kalian harus mengajakku!” tukas Jiwoo menekuk muka.

Sontak Jinwoo dan Minhyuk mengendus baju mereka masing masing dan terkekeh, “Aku bisa bangkrut kalau kau ikut makan,” Sungut Jinwoo. Jiwoo mendelik tajam.

“Yasudah kalau begitu aku pergi makan dengan Minhyuk saja, kau mau kan, Minhyuk-a?” ucap Jiwoo sambil menatap penuh harap pada Minhyuk. Pemuda itu mengangguk pelan, membuat cengiran lebar di bibir Jiwoo.

Jiwoo bangkit berdiri, “Aku pulang duluan, ya? Aku rindu kasurku. Oh, senang bertemu denganmu, Minhyuk-a mungkin kalau kau tak sibuk kau bisa mampir ke the quarters.” Ucap Jiwoo yang setelah itu melangkah keluar dari mini market.


Jiwoo’s home
21st June 2016
19:00 PM

From : Hoshi-ssi

To : Jiwoo

Gadis laundry, aku didepan rumahmu.


“Hah?” Jiwoo terlonjak kaget, sampai tak sadar sempat menjerit. Ia buru buru bungkam, sebelum penghuni rumah sadar. Sekali lagi ia membaca pesan yang dikirim 1 menit yang lalu. Yaampun, itu bukan mimpi. Jiwoo meraih jaketnya yang tergantung dibalik pintu, mengambil tiga lembar uang dari dompetnya, “Aku pergi ke mini market sebentar,” Ujar Jiwoo setengah berteriak di depan pintu kamar Jinwoo.

Seiring langkahnya semakin dekat dengan pintu keluar, rasanya jantungnya semakin berdetak tak beraturan, Jiwoo menghela napas sebelum ia membuka pagar rumahnya. Ia tak menemukan sosok Hoshi di sekitarnya, tungkainya berjalan ke depan toko laundrynya, disana ia menemukan seorang pemuda berhoodie bersandar kaca.

“Tenang Min Jiwoo, tenang.” Gumam Jiwoo.

Ia berjalan mendekat, “Sedang apa disini?” Tanya Jiwoo. Pemuda itu menaikkan kepalanya, membuat sudut bibir Jiwoo tertarik tersenyum. Hoshi menarik hoodienya menyisakan topi yang masih terpasang di kepalanya. “Mencari udara segar?” Jawab Hoshi.

“Ikut aku,” Jiwoo berjalan mendahului Hoshi. Sial, pernyataan waktu itu kembali terngiang. Jiwoo menunduk, menatap tanah dan memilih bungkam ketika Hoshi berjalan disampingnya. “Soal isi kepalaku waktu itu… jangan terlalu dipikirkan. Jangan terbebani.” Ujar Jiwoo yang akhirnya mulai bicara.

“Aku tak merasa terbebani. Malah aku merasa lega karena kau tahu apa yang ku tahan selama ini.” Kata Hoshi tenang. Walaupun ada bagian dalam dirinya yang sangat tidak tenang karena sudah berdetak lewat dari batas normal.

Berdekatan dengan Hoshi sangat berbahaya.

Ini semua terlalu rumit. Bahkan Jiwoo tak tau harus berbuat apa setelah ia mengetahui bahwa bukan hanya dirinya yang merasakan ketertarikan. Ia tak memiliki pengalaman apapun soal dua manusia yang menjalin hubungan.

“Pakai hoodiemu kalau kau tak mau terlihat wartawan.” Jiwoo mengingatkan, Hoshi buru buru memakai hoodienya. “Aku harus berbuat apa?” Tanya Jiwoo.

“Jangan berubah. Tetap seperti itu.” Saran Hoshi.

“Aku tak berubah. Kau yang berubah yang menjadi….. lebih banyak bicara dan sering mencibir.” Sindir Jiwoo.

Sempat terpikir mengikat Jiwoo dalam sebuah hubungan, namun jika dipikir ulang, terlalu cepat. Hoshi pun merasa dirinya belum pantas, dirinya pun tak pernah mempunyai pacar sebelumnya, pengalamannya sangat minim, ia hanya mendengar cerita dari teman temannya.

Jiwoo berhenti melangkah, berhenti di depan mini market, gadis itu melangkah masuk, diikuti Hoshi dari belakang. Tangan gadis itu meraih beberapa makanan ringan dan susu kotak, “Kau mau? Aku traktir. Ambilah yang kau mau.” Ujar Jiwoo, pilihannya jatuh pada soda kaleng.

“Aku harus menggunakan alasan pergi kesini untuk pergi keluar, atau kakakku akan menginstrogasiku,” Jiwoo bersungut. Jiwoo mengeluarkan lembaran uang dari kantongnya, sebuah foto kecil ikut keluar, terjatuh ke lantai. Hoshi mengambil foto itu, foto sepasang anak kembar, “Kakakmu laki laki? Bukan perempuan?” tanya Hoshi dengan kening mengerut.

“Ya, kenapa? Kecewa karena Jinwoo laki laki?” cibir Jiwoo.

“Ah— tidak. Hanya sedikit kaget karena sebelumnya kau bilang kakakmu cantik.” Balas Hoshi.

“Jangan langsung percaya semua yang aku katakan.”

“Apa pernyataanmu juga—“

“Jangan mulai lagi, ayo.” Jiwoo menarik jaket Hoshi keluar dari mini market. Detik selanjutnya Jiwoo sudah meminum susu coklatnya, terlihat jelas ekspresi senang Jiwoo ketika susu coklat mengalir melalui kerongkongannya. Sibuk dengan dunianya sendiri hingga Jiwoo tak sadar Hoshi terus memperhatikannya dengan senyum tertarik di bibirnya.

Jiwoo sadar dari dunianya, menyadari Hoshi mengamatinya dengan…. Senyum yang membuatnya menjadi salah tingkah. Jiwoo memundurkan tubuhnya, memberikan tatapan heran. “Jangan melihatku seperti itu. Nanti kau bisa jatuh cinta.” Ujar Jiwoo

“Memang sudah.” Ucap Hoshi masih dengan tersenyum, Jiwoo mendadak terdiam dan pipinya memanas. Ia membuang muka ke arah lain, dua detik selanjutnya gelak tawa lolos dari bibir Hoshi, hingga mata sipit pemuda itu tinggal segaris.

“Diam kau.” Jiwoo mendelik tajam.

“Lebih baik aku mengantarmu pulang sebelum kau diintrogasi kakakmu karena terlalu lama pergi keluar.”  Ucap Hoshi setelah puas dengan tawanya. Jiwoo yang terlanjur kesal berjalan mendahuluinya, “Hei, tunggu aku! Ya! Gadis laundry!” seru Hoshi.

Dan Jiwoo tak berhenti, dirinya terlalu malu untuk memperlihatkan betapa merah wajahnya karena malu.

Fin

sebenernya ini udah jadi draft sebulan lebih dan baru bisa nongol sekarang ;__; anw selamat membaca!

  • Rinchan

 

Advertisements

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s