The Truth

The truth

Hoshi x Min Jiwoo

Repetita – canon – fluff – vignette

.

.

.

Created by Rinchann

 

18th June 2016

Satu hal yang paling rumit di dunia ini, mengerti isi kepala orang lain bahkan ia tak mengerti kemana arah pikirannya sendiri. Semua ini terlalu membingungkan, sangat merusak mood yang sudah diaturnya jadi hancur tak karuan. Uring uringan seperti orang yang tak memiliki tujuan sesungguhnya sangat Jiwoo benci, namun apa daya kondisinya saat ini uring uringan, semua  yang dilakukannya serba salah. Pikirannya kacau balau. Itu semua terjadi sejak……. Pertemuan terakhirnya dengan….. Hoshi.

Kejadian beberapa hari yang lalu sangat memalukan, bahkan Jiwoo tak berani menampakan batang hidungnya di depan pemuda itu, ada perasaan aneh setiap kali melihat pemuda itu. Perasaan gugup bercampur gengsi dan malu malu. Perasaan yang tak pernah dirasakannya seumur hidupnya.

Bahkan Jiwoo tak bisa mendeskripsikan perasaannya itu dengan kata kata, hanya bisa diungkapkan dengan berguling guling di kasur dan berteriak tanpa suara dibalik bantal, setidaknya itu bisa mengurangi rasa bimbangnya ketimbang harus berteriak tak jelas yang berakhir Jinwoo mengejeknya sebagai gadis gila.

Ah! Jinwoo! Ingin rasanya ia bertanya pada Jinwoo, namun rasa gengsi memenuhi pikiriannya, membayangkan reaksi sang kakak yang memiliki sifat dasar jahil, kalau ia bertanya pada Jinwoo, pasti pemuda itu akan tertawa terbahak bahak dan menjadikan curahan hatinya sebagai bahan lelucon.

“Ah, aku bisa gila.” Ujar Jiwoo yang mengacak surai rambut panjangnya.

Menatap kaca pun segan, tak mau melihat betapa hancur ekspresinya serta rambutnya yang acak acakan akibat menjadi korban dari rasa aneh yang dideritanya. Sialnya, sudah 3 hari semenjak pertemuannya dengan Hoshi yang berakhir dengan rasa malu tak berujung, masih segar di ingatannya bahkan tak mau hilang. Bagaimana ekspresi pemuda itu dengan senyum jahilnya dan… ah! Jiwoo menyerah.

“Butuh tempat cerita?”

Pemuda berpostur tinggi bersandar di pintu, kedua tangannya terlipat di depan dada. Kedua matanya menatap sang adik sambil menggeleng pelan. Sangat jelek, kata yang bisa mengungkapkan kondisi seorang Min Jiwoo.

Jiwoo menatap pemuda yang lahir 1 menit lebih awal darinya dengan muka menekuk, “oppa,” seru gadis itu dengan nada putus asa. Pemandangan langka melihat sang adik yang sok tegar menunjukan rasa keputusasaannya di depan dirinya.

Segera Jinwoo menghampiri Jiwoo, duduk disamping gadis itu dan langsung disambut hangat dengan kepala Jiwoo yang bersandar di pundaknya, “Ceritakan dari awal.” Ujar Jinwoo sambil mengusap puncak kepala sang adik.

Yah… jangan meremehkan naluri anak kembar.


Hoshi berguling ke kasurnya, wajahnya tak menunjukan ekspresi semangat yang biasa ditunjukannya diatas panggung, bahkan sangat jauh berbeda. Sesuatu hal menyangkut dipikirannya, entah ia harus merasa bersalah atau bahagia.

Gadis itu tak menunjukan batang hidungnya sejak 3 hari yang lalu. Pertemuan yang memalukan sekaligus berhasil membuatnya tercengang dengan kado sederhana, atau mungkin Jiwoo memang sering datang tetapi saat dirinya sedang tak ada di dorm.

Sempat terlintas dipikirannya untuk menemui Jiwoo –yang akhirnya menjadi pilihan terakhir mengingat ia masih sibuk dengan jadwal. Namun, Hoshi harus berpikir keras mencari alasan yang tepat untuk sekedar basa basi. Ia memang ahli diatas panggung, urusan wanita? Jangan ditanya. Sangat jauh dari kata ahli.

“Setidaknya jangan menunjukan muka murungmu itu.” Ucap Jeonghan, pemuda yang satu tahun lebih tua darinya menarik kedua sudut bibir Hoshi keatas dengan kedua telunjuknya.

Oh, efek Min Jiwoo terlalu besar, bahkan bisa menguasai seluruh pikiran dan hatinya. Padahal gadis itu tak melakukan apa apa, sikapnya masih dalam batas wajar, namun sikap wajar itu berhasil meluluhkan hatinya. “Hoshi hyung sedang jatuh cinta ya?” Dino menopang dagu, kedua matanya meneliti raut wajah Hoshi yang lesu. Pemuda itu menggeleng keras.

“Siapa yang jatuh cinta? Dengan siapa? Min Jiwoo? Tentu saja tidak!” Seru Hoshi. Segera ia menyesali ucapan yang keluar dari mulutnya. Pernyataan yang tak sengaja terucap, membuat semua orang di dalam ruangan menahan tawa. “Sebuah pernyataan ya?” sindir Jun yang berhasil membuat wajah Hoshi memerah karena malu.

Tanpa harus menunggu pernyataan Hoshi pun, 12 orang yang hidup satu atap dengannya itu bisa tahu kalau Hoshi sedang jatuh cinta. Yah… siapa lagi kalau bukan dengan Jiwoo? Satu satunya gadis yang intens bertemu dengan mereka dalam jangka waktu yang sudah cukup lama. “Oke, memang dia.” Ucap Hoshi putus asa. Beruntung tak ada staff ataupun cordy  di ruangan itu, hanya para member yang tau ‘pernyataan’ tak sengaja Hoshi.

Seventeen standby!” ucap seorang staff yang sebelumnya sudah mengetuk pintu, mereka mendadak terdiam setelah mendengar ketukan pintu itu. Selepas pergi staff mereka terkekeh.

“Ayo cepat!” Ujar sang leader yang berhasil membuat seluruh member berdiri.

 


Jinwoo mengulum senyum, ia sudah tahu semuanya. Jiwoo tipe gadis yang sulit mengungkapkan perasaannya. Namun dengan Jinwoo, Jiwoo bisa mengatakan semua perasaannya. Jiwoo mengerutkan keningnya, menunggu respon dari Jinwoo yang tak kunjung keluar, yang ada malah pemuda itu terus tersenyum.

“Kau tahu… sepertinya secara sadar atau tidak, kau memang tertarik dengan artis itu.” Ujar Jinwoo mengusap dagu. Jiwoo melotot, detik selanjutnya ia kembali mengacak rambutnya kesal. Sebagian dirinya tak bisa menerima kesimpulan Jinwoo, “Artis? Oke. Tapi…. Aku reaksiku berbeda dengan gadis seumuranku yang sedang jatuh cinta. Aku tak seheboh mereka.” Bantah Jiwoo.

“Sebentar lagi kau akan seperti mereka.” Cibir Jinwoo.

Mata Jiwoo semakin melotot. Dirinya memang merasakan sensasi aneh ketika Hoshi ada di dekatnya, rasa senang? Jiwoo juga tak tau apa yang dirasakannya, dirinya buta dalam hal cinta –berbeda dengan Jinwoo yang sudah memiliki deretan mantan pacar. “Aku hanya…. Penasaran dengannya. Sering bertemu mereka membuatku ingin mengenal mereka sebagai teman.” Seru Jiwoo.

“Tapi tidak dengan pemuda itu. Dia berbeda.” Sela Jinwoo yang menyeringai.

“Aku memang tak memiliki pengalaman sebanyak dirimu, tapi aku tidak mungkin tertarik dengannya. Dia dan aku sangat jauh berbeda.”

“Aku rasa tidak, diluar panggung dia hanyalah anak muda biasa. Status artis hanya disandangnya ketika berada di depan kamera. Sisanya? Dia juga manusia biasa sepertimu. Jangan merendahkan diri sendiri. Aku juga tak akan menyalahkanmu kalau kau tertarik dengannya. Itu hal wajar jika kau menyukai laki laki. Yang tak wajar itu kau menyukai sesama jenis.” Ceramah Jinwoo.

BUG!

“Jangan asal bicara,” Ucap Jiwoo kesal sehabis melempar bantal ke muka Jinwoo.

“Aku serius, Jiwoo. Mungkin kau butuh waktu untuk menyadarinya. Tapi intinya kau ter-ta-rik dengannya. Masalah clear! Eits, tak ada bantahan lagi adikku sayang. Sudah selesai kan? Aku pergi dulu. Semoga kau cepat sadar.” Jinwoo bangkit berdiri dan keluar kamar, memberikan Jiwoo waktu untuk berpikir.

Kepala Jinwoo kembali muncul, “Satu lagi, kau harus lihat betapa jeleknya dirimu. Lebih baik kau mandi sebelum eomma marah.” Dan ia kembali menghilang bahkan sebelum bantal lemparan Jiwoo mendarat di wajahnya.

“Ugh, bagaimana aku menghadapinya besok,” teriak Jiwoo kesal.

 


19th June 2016
Jiwoo’s house

Jiwoo menghela napas, masa liburannya telah habis, 3 hari berlalu sangat cepat. Semenjak pertemuan terakhirnya dengan Hoshi, ia meminta libur 3 hari dengan alasan lelah, sekarang Jiwoo harus kembali ke tempat itu lagi. Tempat tinggal pemuda yang berhasil membuatnya uring uringan, dan Jiwoo tak tahu harus berbuat apa ketika pemuda itu ada dihadapannya. Ia mendadak menjadi orang bodoh.

Hi sis! Siap kembali bertemu dengannya?” goda Jinwoo yang muncul tiba tiba. Matanya mendelik tajam, Jinwoo kembali menjadi menyebalkan seperti biasa, bukan Jinwoo yang sebagai kakak. Jiwoo hanya bisa menghela napas. Pasrah. “Tertawalah sampai kau puas.” Sindir Jiwoo.

Jinwoo terkekeh, “Bercanda. Jangan gugup, bersikap seperti biasa.” Saran Jinwoo. Pemuda itu berjalan memasuki kamarnya, dalam hitungan detik Jiwoo sudah berada dalam dekapan hangat sang kakak. “Ah, Jiwoo-ku sudah besar. Aku bangga. Apapun keputusanmu, jangan menyakiti hati orang lain.” Bisik Jinwoo.

“Kau yang terbaik. Semoga saja berhasil.” Ucap Jiwoo terkekeh.

“Kalau masih gugup, aku akan mendukungmu. Kau tahu, kontak batin.” Jinwoo mengulum senyum, senyum termanis yang pernah diberikannya. Kalau ditanya apa keputusannya, Jiwoo masih belum tahu. Semua ini hal yang baru, sulit untuk memutuskan pilihannya. Hanya berharap ia tak bertemu dengan Hoshi dan masalah selesai.

.

.

.

.

Seventeen’s dorm

08:30 AM

Jiwoo berdiri di depan pintu, menerka siapa yang akan membuka pintu sambil melihat sekeliling, baru pertama kali ia datang ke tempat tinggal baru mereka. ‘semoga bukan Hoshi, semoga bukan Hoshi, semoga bukan Hoshi’ pikir Jiwoo. Ia menekan bel lagi, beberapa detik kemudian pintu bergeser, bukan sosok Hoshi yang muncul di hadapannya, “Oh, Jiwoo noona! Masuklah,” Ujar Vernon.

“Untukmu,”  Jeonghan yang muncul tak tau dari arah mana menyerahkan jus kaleng ke tangan Jiwoo. Ia segera membuka tutup kaleng itu –tak lupa mengucapkan terimakasih. Matanya kembali menjelajah bagian dalam rumah, tak sengaja, matanya menemukan sosok yang dihindarinya, segera ia terbatuk batuk karena tersedak. “Astaga, kau baik baik saja?” Tanya Seungcheol yang baru muncul, Jiwoo yang masih terbatuk mengangguk pelan.

“Aku minum terlalu cepat.” Ujar Jiwoo sambil mengusap tengkuk.

Sial, Hoshi semakin mendekat. Lagi, perasaan aneh kembali menguasainya. “Tempat baru kalian bagus,” Puji Jiwoo. Sudut matanya bisa menangkap sosok Hoshi yang kini berada kurang dari 1 meter darinya, ia mengalihkan pandangan, dia butuh Jinwoo untuk menenangkannya. Dari penampilan pemuda itu –rambut basah dan mengalungkan handuk kecil di lehernya, sepertinya pemuda itu baru selesai mandi. Jiwoo mengulum senyum, berusaha bersikap seperti biasa.

Tak seperti biasanya, dorm ramai, hanya saja kurang beberapa orang, Jiwoo tak tahu jumlah pastinya, ia kembali menyesap jus kalengnya –berdalih menghilangkan rasa gugupnya. “Kemana saja? Sepertinya beberapa hari yang lalu kau tak terlihat.” Tanya Hoshi.

Mendadak, diam diam seluruh mata kini menatap kedua orang itu, Jiwoo diam sejenak dan tubuhnya seakan membeku, sambil memutar otak mencari jawaban yang tepat, “Hanya sedang libur.” Jawab Jiwoo sambil mengusap tengkuk.

“Boleh aku minta baju kalian? Karena aku harus ke tempat kerja paruh waktuku.” Ujar Jiwoo agak tak enak. Ia tak berbohong, ia memang harus buru buru karena mengambil shift pagi di The Quarters. Sudah menjadi kegiatan rutin, deretan baju sudah terlipat rapih. Tak jarang mereka membantu memasukan baju ke tas, membuat pekerjaan Jiwoo jauh lebih ringan.

Jiwoo merasa diawasi, ia tak berani menoleh ke orang yang mengawasinya. Kali ini mereka kembali berbaik hati membantu, sehingga ia bisa cepat pergi, eh tidak, bisa menyelesaikan pekerjaanya lebih cepat. Jiwoo berdiri, pakaian sudah rapih, lebih baik pergi lebih cepat sebelum perasaan anehnya kembali muncul, “Aku pergi dulu. Sampai jumpa!” Jiwoo berjalan ke pintu utama, tas di tangannya diambil Hoshi secara tiba tiba, dilihatnya pemuda itu sudah memakai hoodie.

Jiwoo berhenti, “Berikan padaku. Aku bisa membawanya.” Ucap Jiwoo. Langkah Hoshi terhenti, kepalanya menoleh sejenak lalu memalingkan pandangannya ke depan, terus berjalan tanpa berucap sepatah kata. Kening Jiwoo mengerut, “Ya,  kembalikan tasku,” Jiwoo meyamai langkah Hoshi dan menarik tasnya.

“Aku membantumu supaya kau tak telat pergi kerja. Kalau tak mau dibantu yasudah.” Hoshi menghempaskan tas, menatap gadis itu dengan tatapan jengkel. Ekspresi Jiwoo berubah menjadi cengiran lebar, “Oh, baik sekali. Kalau begitu lanjutkan tugasmu.” Titah Jiwoo.

“Tugas? Ini kan tugasmu. Aku hanya terlalu baik jadi mau membantumu.” Bantah Hoshi geram. Gadis disampingnya itu malah terkekeh, ia menggeleng pelan, kembali berjalan. Setelah itu… hening. Kosakata di kepalanya buyar. “Soal kadomu itu…. Terimakasih, dan maaf membuatmu kesal waktu itu.” Gumam Hoshi.

Jiwoo mengulum senyum, namun kembali merubah ekspresinya dengan cepat. Ayolah, hanya karena ucapan terimakasih saja bisa membuatnya goyah. Tidak tidak, ini tidak benar. Hatinya berkata berlawanan, “Permintaan maaf diterima.” Balas Jiwoo sambil tersenyum, tanpa sadar senyum itu akan meninggalkan bekas di pikiran Hoshi, menambah kenangan manis di memorinya.

“Dimana tempatmu bekerja?” Tanya Hoshi.

The Quarters. Sebuah kedai kopi. Mungkin lain kali kau bisa mampir.” Jawab Jiwoo santai.

Hoshi mengusap tengkuknya, “Ya, kalau tidak sibuk aku akan mampir.” Seulas senyum kecil tertarik, tak menyangka reaksi Jiwoo tak seperti apa yang dipikirkannya.

Mendadak, Jiwoo berhenti. “Kau tahu, aku tipikal orang yang sulit mengeluarkan pendapatku.” Ucap Jiwoo sambil menunduk.

“Tapi sepertinya kalau aku tak mengatakan ini, aku bisa mengambil liburku lebih lama agar tidak bertemu denganmu.”

Kening Hoshi mengerut, tak mengerti apa maksud dari ucapan Jiwoo.

“Jangan berpikir aneh aneh, aku hanya mengungkapkan isi kepalaku saja.”

Oh tidak… apa yang akan dikatakan Jiwoo? Pikiran negatif muncul dipikirannya. Bisa jadi Jiwoo ingin mengatakan kalau dirinya terlalu menganggu jadi dia tak mau dekat dekat dengannya lagi, atau lebih parahnya lagi, Jiwoo tak suka jika ia selalu membantunya.

“Kau tahu, kau orang baik. Kau selalu membantuku, ya, sangat baik. Aku sudah cukup lama mengenalmu –sejak kau jadi pelanggan laundry. Yah… sikapmu itu meninggalkan bekas, semacam perasaan aneh yang namanya aku tak tahu, tapi terakhir kali kita bertemu… itu meninggalkan bekas untukku dan membuatku tak bisa hidup tenang.” Benar, ia hanya menjadi pengganggu bagi Jiwoo, bahkan meninggalkan kesan yang lebih kearah buruk.

“Jadi?” Ujar Hoshi ragu.

Jiwoo masih menunduk, dia memainkan jarinya. Oke, Hoshi mengerti. Ia menurunkan tas dari pegangannya, “Kalau aku mengganggumu, aku minta maaf. Aku tak akan mengusikmu lagi sehingga hidupmu bisa tenang. Sekali lagi aku minta maaf.” Hoshi berucap dengan nada rendah, ia berbalik badan, melangkah kembali dengan lesu.

Langkahnya tertahan, dilihatnya Jiwoo menarik ujung jaketnya, kali ini gadis itu menaikan kepalanya, “Tidak, bukan begitu maksudku. Kau sama sekali tidak mengganggu, malah aku senang punya teman sepertimu. Hanya saja aku bingung dengan diriku sendiri. Pipiku memanas setiap kali melihatmu dan diikuti detak jantung yang tak biasa….”

Mata Hoshi membulat, siapapun tolong tampar pipinya sekarang. Rasanya seperti mimpi. Ia menatap gadis itu tak percaya. “Jadi kau…..” gumam Hoshi menggantung.

“Setelah konsultasiku dengan Jinwoo, dia bilang aku tertarik denganmu. Semua yang aku rasakan adalah gejala orang yang—“

Tunggu! Apa baru saja Hoshi mendengar sebuah pernyataan? Demi apapun itu bukan mimpi. Hoshi mengulum senyum. “Cukup. Aku lega ternyata perasaanku bukan perasaan satu pihak.” Ujarnya sambil menunduk malu.

“Tunggu… apa? Bisa kau ulangi? Sepertinya aku salah dengar.” Seru Jiwoo. Gadis itu terlihat kaget, bahkan tanpa sadar tak mengatur ekspresinya.

Hoshi terkekeh, “Tidak ada pengulangan. Sekarang lebih baik kau pergi sebelum bosmu marah karena pegawainya datang terlambat.” Ia membalik badan Jiwoo –yang masih dengan ekspresi kaget, mendorong punggung Jiwoo dari belakang keluar gedung.

“Hati hati di jalan.” Hoshi menepuk pundak Jiwoo.

Pemuda itu berbalik badan, masuk ke gedung, meninggalkan Jiwoo yang syok berat akibat ucapannya. Percayalah, mulai sekarang hidup Min Jiwoo semakin tak tenang.

FIN

Tadaaa!!! Surprise tengah malem! hehe
Setelah sembuh dari penyakit langganan (read : WB) akhirnya jadilah fic ini….

sekian curhatnya.

Btw, thanks to my sister who already review this weirdo fic.

See ya!!
Rinchann

 

Advertisements

One Reply to “The Truth”

  1. Ciyeee jiwooo ihir!

    Mulai merasakan kegalauan jatuh cinta asek, sampe2 curhat ke abang Jinjin
    Abang jinwoo mah dokter cinta yak? /Lalu mengalun lagu dokter cinta/

    IH ITU HOSHI APAAN PAKE SOK SOK TSUNDERE?!
    Aseek jadi udah fix fix ya ini ff selanjutnya hoshiwoo jadian eak! Udah gak bertepuk satu tangan langsung sikat aja bang hosh, daripada entar keduluan yang laen kan gawat.

    Btw rin, ada beberapa kata yang kurang tanda kayak apa apa harusnya apa-apa
    Gak ngeganggu sih cuma biar lebih rapi lagi hehe
    Yes, dede lanjutkan perjuangan hidupmu jiwoo biar bersama abang hosh hingga maut memisahkan /eeee

    Thank you!
    All.want.candy

    Like

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s