Last Call

badday101 6

Han Rami (OC) – Choi Seungcheol (Seventeen) //

Han Rami (OC) – Shownu (Monsta X)

..

..

sky.l

..

..

 

Central Park, New York City

 

Pencakar langit bergeming, tumpahan manusia berderap di antara arus dunia, tak tampak akan redup meski penghujung petang merayap senyap dari selip cakrawala di atas kepala.

Tepat tiga jam tangan menggores tarikan halus pada buku sketsa, tak terjamah lalu lalang sekitar dimana orang-orang tampak menikmati penutup hari dengan langkah ringan berteman obrol sekawan. Layang pikiran berusaha mengalih dari usik akibat surel Vernon yang sampai lima hari lalu. Dipikirnya akan berhasil, nihil sekali padahal. Tidak sampai penuh satu halaman di pangkuan -seperti wacana saat bokongnya mendarat pada permukaan kayu kursi taman.

New York tidak pernah membiarkan penghuninya dirundung sunyi, tapi bising dalam kepala Rami memekak lebih lantang dari pada aum kota penuh ingar bingar ini. Lusa terasa seperti hari peradilan, terasa bak buronan kelas kakap yang profil wajahnya diumbar ke seisi dunia beserta dosa kelam tertera.

Tapi bila kali ini Rami memilih menutup mata dan telinga, rasa bersalah akan memperpanjang masa bersemayam dalam diri. Tidak terdengar bagus. Meski awalnya sama sekali tak bermaksud, namun jalan cerita telah terlanjur menyusur kelok yang membuat runut cerita tak lagi lurus tanpa cela. Terlalu rumit diurai seperti awal. Seminggu kemudian Rami akan melancong lagi dari kota tanpa rehat, untuk kedua kali –dan terakhir.

Buang berat napas melebur bersama hembus angin sore. Sayang masalahnya tak dapat ikut serta menunggang pergi.

Keping memori menginvasi benak untuk kesekian kali, menghempas Rami kepada hampir tiga tahun terakhir; kepindahan mendadaknya ke Seoul. Saat ia berharap hidupnya tak akan semakin berkomplikasi dengan segala drama yang telah mengekor, namun tak pernah sesuai ingin, pertemuan lain menjerat pada kelumit cerita baru dengan akhir yang belum diputuskan hingga sekon berganti saat ini.

Rami tak pernah berbohong bila ia mengaku dirinya tak pernah pandai merangkai perpisahan. Tidak harus indah atau romantis ala lakon layar lebar, pun yang singkat tak lebih dari tukar percakapan singkat saja ia tidak tahu. Inginnya, tanpa pertemuan sama sekali, perpisahan dapat menunjukkan wujud sendiri. Terasa tak berhati sekali, bila ia memaksa melakukan hal tersebut.

Tumpukan dosanya pada orang yang sama sudah terlalu menunggak, siksa moral menghantui cukup membuat tidur malam tersentak dari lelap.

Memulai bagian baru terdengar gampang, andai tanpa harus mengakhiri bagian sebelum yang belum tertera prolog bahkan anti-limaks.

Notifikasi ponsel Rami kembali mengerang, menampakkan potongan surel pada layar lockscreen. Tak ada kalimat panjang atau basa basi kosong, namun lebih dari cukup membuat kerongkongan terasa kering.

From : Vernon Chwe

Cc: Natasha Han

Subject: Arrival


We’re going the day after tomorrow. See you?

Dua hal yang paling Rami tidak suka dari sebuah pertemuan; awal yang tak berperingat dan penghujung yang tidak dijamin kapan akan mendekat.

From : Natasha Han

Cc: Vernon Chwe

Subject : See you


Call me when you have time. +18005436663

**

Birch Coffe, Columbus Ave, NYC

 

Dipikir kembali, dirinya terlalu memaksa pertemuan kilat. Mengingat orang tersebut baru mendarat beberapa jam yang lalu di kota penuh manusia ini. Tapi begitu panggilan Vernon menyambangi kontak, yang ada dalam pikir Rami hanya ingin segera mengakhiri peradilan yang membuat perut terasa bergelung hingga ke dada seperti sesuatu menyudut disana.

What are you gonna say to him?” Ava meletakkan pan roasted fries yang dipaksakan. Semata karena Ava tahu gadis yang baru saja memotong setengah panjang surainya tersebut berbohong kala menyahuti pertanyaan makan malam.

“Jangan membuat perutku semakin mual. Kepalaku hampir mau pecah.” Tangan mendorong pelan piring beling putih yang disaji sang kawan. Kalau bisa mengesampingkan fakta umur, Ava sudah menjejal paksa salah satu main dish pada Rami.

You should be. It’s your punishment.” Ava mendorong kembali piring dengan kentang di atasnya tersebut mendekat. Rami mengernyit. “You know you hurt him, big time, right? You lied to him. And used that bear guy. You have more than enough sin, young lady.” Gadis dengan ujung surai berwarna kontras funky seperti permen karet di hadap Rami berkacak pinggang. Memulai entah sesi keberapa omelan semenjak kepulangannya satu minggu lalu. Lebih tepat disebut kemunculan mendadak sesungguhnya.

Memfabrikasi kebenaran bukan hal sulit, namun Ava lebih ahli ketimbang kepolisian jika tersangka utamanya adalah Rami. Berusaha sama saja membuang waktu. Satu pandang intens dari gadis asal Ohio itu, seluruh susun alibi runtuh. Tak butuh durasi panjang, hanya sewaktu tunggu mac n cheese instan.

Cangkir bergenang espresso kembali diangkat. “Why don’t you just kill me now so I can go to hell instead?” Ava mengulum bibir, menahan diri tidak melayangkan nampan bundar dalam dekap pada lawan bicara keras kepala berjarak dua langkah dari jangkaunya.

Just sort everything out. No more running away. Kau bilang akan memulai hidup baru. Ini langkah pertama.”

Noona!”

Kepala keduanya mengalih pada pintu kedai. Vernon melambai ke arah mereka. Sosok di belakang laki-laki dominan kaukasia tersebut membuat Rami menimbang-nimbang keputusan mengunjungi kamar kecil sejenak.

Nope. Uh-huh. Sort this out.” Seakan ide barusan menggaung sampai pada frekuensi jangkau, Ava telah menggeleng memelototi Rami.

**

Seoul

June 14th 2016

 

“Hyunwo-ya.” Dongak kepala, pandang menyorot pemanggil nama. Tanpa basa basi penjelas, sepetak amplop didorong padanya. “Kau tahu, dari siapa.” Imbuh barusan terdengar seperti satu mantra yang tak ingin disahut jawabnya. Namun benak telah lebih dahulu mengumandang satu nama.

“Aku akan berpura-pura tidak mengerti apa-apa.” Gayoung tersenyum tipis.

Buang napas terlontar begitu Gayoung meninggalkan ruangan. Menimang apakah harus dibuka walaupun dirinya bisa menebak apa yang tertera. Pertemuan terakhir dua minggu lalu salah satu penjelas lenyap diikuti tanpa kabar setelahnya. Mungkin surat tersebut hanya penutup singkat.

Jemari mulai merobek rekat segitiga amplop, menarik carik kertas yang tersemat.

 

Maaf. Terima kasih.

Maaf, karena aku pergi tanpa memberitahu.

Terima kasih, sudah menjadi kakak yang tidak pernah kupunya.

Kau tahu, aku tidak ahli dalam hal semacam ini.

Sampai jumpa di lain kesempatan.

-Han Rami

 

“Shownu-sshi, dimohon stand-by segera.” Ketuk pintu membuyar lamun. Refleksi dari pantul cermin menampakkan seorang gadis di ambang pintu, mimiknya mengalih dari sorot pandang. Sadar ia mengenali paras yang ditatap, tubuh segera memutar sembari beranjak. Berusaha menanggalkan sejenak perasa emosi bersama carik surat di atas meja rias. Menampakkan benak terusik selagi bekerja tidak terdengar elok.

“Rayi?” mengalih perhatian pada gadis yang masih mematung di tempat. Jelas raut ragu-ragu, gadis yang ia panggil mengangguk. “Lama tidak bertemu.”

“Hai sunbae.” Sorot tatap menolak arah pada netra Shownu. “Apa kabar?” Basi-basi tak tulus, dua kelam redup enggan memperpanjang interaksi. Hanya sekedar berniat tak tampak ketus, profesional sebut orang-orang.

“Tidak baik. Seseorang baru saja membuatku patah hati.” Jauh beda dari sahut, pinggir bibir menyembul rekah.

“Begitu ya? Ah… mungkin hukuman karena dulu sunbae juga mematahkan hatiku.” Seru yang bermaksud sarkastis berharap sang lawan bicara tersinggung. Yang ada Shownu malah terkekeh.

Ternyata memang sedang gilirannya mececap rundung kelam karena perasaan tak di gapai pihak sebelah. Telapak tangannya mengusap-ngusap puncak kepala. Kebiasaan lama. “Mungkin. Senang bertemu denganmu lagi.” Derap menjauh menyudahi reuni singkat mereka. Sedikit banyak mengurangi riuh yang menunjak dalam kepala. Serta perasaan kosong yang menjerit; tak ada satu hal yang dapat ia lakukan untuk merubah situasi.

Akhir yang mau tak mau terurai jelas.

**

Ava mengungsikan Vernon, Seungkwan, dan Dino ke meja di sisi berlawanan. Sementara dirinya duduk dalam diam. Tak tahu harus memulai dari bagian mana membuka percakapan. Telunjuk tangan masih sibuk mengusik sisi cangkir espresso kedua. Kentang di atas piring tak berkurang jumlah.

“Jadi, sudah baikkan dengan ayahmu?” Seungcheol melempar inisiasi pembicaraan. Meski dengan bahasan rumit. Perlahan tatap membalas netra Seungcheol. Berusaha sebisa mungkin menghalau buncah yang kapan saja bisa runtuh.

Setengah jam yang lalu perutnya terasa mual, semakin buruk begitu wajah Seungcheol benar-benar nyata tepat di hadapan. “Ya, kurasa. Lebih baik, setidaknya.” Kurang lebih, dirinya tak berdusta. Alasan pertama mengapa Rami kembali ke New York.

Tiga minggu lalu Paman mengembalikan paspornya, beserta tiket searah ke New York. Bersama satu kalimat pendek menggumam, “Ayahmu sakit.” Semenjak ibu tak ada, ayah Rami memforsir diri pada pekerjaan. Berpura-pura tak memiliki histori penyakit jantung turunan. Tambah usia yang tak bisa dicegat memberi peringatan jelas. Mengesampingkan perang antara dirinya dan sang ayah, Rami lekas memijak kembali metropolitan penuh toreh tak menyenangkan. Namun bukan berarti Rami menghapus keberatan pada pasangan baru sang ayah. Lantas memilih tinggal bersama Ava dari pada menahan diri tinggal bersama ayahnya dan Julia.

“Hyelim noona bilang kau harus mampir. Yang lain merindukanmu.” Seungcheol berusaha menyibukkan diri, melahap gelung pasta dari garpu. Bergelagat tidak ada hal yang perlu diluruskan setelah berbulan-bulan tak bersua kabar. Semenjak pertemuan yang tak pernah berlangsung terakhir Seungcheol menghubungi.

“Kau…” Seungcheol membiarkan jeda, menimang apa harus melengkapi. “Kau tidak akan kembali ke Seoul?” Entah, tapi terasa indikasi retoris intonasi. Mungkin memang terkanya menunjukkan probabilitas tinggi begitu saling hadap. Tak sering, namun sekali waktu tak sulit menguak jalan pikir Rami.

Angguk pelan menjawab. Kebetulan membenarkan tebakan Seungcheol. “Minggu depan aku pindah ke Milan. Melanjutkan studi di sana.” Sudut tatapnya kembali merendah, melucuti potongan kentang bergeming di depan tangkup tangan. Sama sekali tak menggelitik nafsu lahap. Mengulur durasi terlalu panjang tak berarti rasa bersalah akan menyurut. “Sebelum pergi dan meninggalkan kota ini, lagi. Memulai sesuatu yang baru tanpa melarikan diri, lagi. Ada sesuatu yang harus kuselesaikan.”

“Aku tidak pernah bisa menjelaskan kita ini apa karena….” sepersekian detik disesap panjang cacah udara, “aku tidak bisa menjawab siapa diriku sendiri.” Pandang Rami perlahan buram, hangat memenuhi pelupuk. “Seungcheola, terima kasih selalu menemaniku. Maaf, aku terlalu banyak melukaimu.”

Sesuatu mulai terasa mencokoti kerongkong. Menyita suara yang semakin senyap menuju akhiran. “Maaf membuat semua kekacuan ini. Kau, Shownu oppa, dan aku yang kekanakan terus menghindar. Membuat segalanya semakin rumit.” Mungkin satu dari sambung sel otaknya mulai putus, entah apa yang jenaka untuk ditertawai. “Shownu oppa hanya membantuku. Tidak pernah ada sesuatu spesial.”

“Aku –”

“Aku tahu.” Seungcheol memandang lurus. Bingkai sudut bibir merangkak naik. Tak bermaksud menyudutnya setelah semua pengakuan, namun tetap saja menohok keras kesadaran. Tidak barang sekali Seungcheol pernah mendorong langkah Rami menjadi kejar. Sementara pilih Rami bersembunyi meski tak ada petaka yang dirajut.

“Terima kasih juga, Hanra. Senang pernah mengenalmu.”

==

Sorry for this supeeeer too long story. This is the end of them. This weird triangle.  Maaf akhir yang begitu tidak jelas ini *sungkem. Draft ini mengendap dari kapan tahu dan dengan segala dorong paksa meski sudah sangat stuck bisa juga dikelarkan. Terima kasih buat yang sudah baca cerita tidak-jelas-rumitnya tiga makhluk ini.

Advertisements

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s