Prevention to Distraction

aparte

Im Nari (OC)  – Park Jaehyung (DAY6)

..

..

sky.l

..

..

Nari’s apartment, Seocho-dong, Seoul

June 4th, 2016

7:57 AM KST

Tidak banyak kebetulan yang benar-benar membuat Nari percaya takdir. Ternyata satu kampus dengan Brian misalnya, sebelum lantas pindah jurusan. Tidak sengaja bertemu Yejun selain di antara remang dan ingar bingar kelab. Bertetangga dengan laki-laki yang baru saja ia tolak mentah-mentah ; dengan tambahan interupsi Jae bahkan. Ketimbang mengakui ‘takdir’, Nari menyebutnya kesialan.

Satu minggu setelah ia menempati apartemen milik orangtua -yang telah setengah berdamai begitu Nari memutuskan meneruskan pendidikan dan pasangan paruh baya tersebut setuju kembali ambil peran sebagai penyokong hidup anak tertuanya- yang dihibahkan begitu masa sewa dengan penghuni lama rampung, Nari berpapasan dengan Junwon. Junwon kakak Hye In. Junwon yang terus menerus memaksa masuk lingkar dalam Nari. Junwon yang tersenyum seperti orang baru saja menang lotre begitu Nari berbalik dari meletakkan sampah daur ulang di tempat pengumpulan depan gedung apartemen tepat hari kedua ia pindah.

Sempat mengira Junwon adalah salah satu dari penguntit seperti yang sering Nari dengar dari berita kriminal, ia mengorek informasi dari security gedung. Yang lalu mengatakan bahwa Junwon memang sudah tinggal disana semenjak tiga tahun belakangan. Padahal Nari sudah merunut apa saja yang harus ia lakukan untuk melaporkan Junwon sebagai penguntit ke polisi. Sia-sia saja nampaknya.

Bagian paling mengejutkan adalah mereka tinggal tepat bersebelahan.

“Selamat pagi.” Tanpa perlu memutar tubuh, Nari kenal betul suara tersebut berasal dari manusia mana.

Nari menguap lebar, mengangguk sekedar. Bahkan saling berpapasan kala keduanya berkeliaran di sekitar apartemen sudah seperti rutinitas lazim -bagi Junwon mungkin, entah bagi Nari.

“Kuliahmu baik?” Sebagaimana karakter mahasiswa teladan, Junwon tetap bersikap ramah bahkan selalu mengumbar basa basi ringan –meski hanya dijawab singkat oleh Nari.

“Begitulah. Pak dosen.” Celutuk Nari, berbarengan dengan denting lift yang pintunya bergesar membuka. Diseret malas kantung sampah bersama tungkai enggan yang dipaksa beroperasi.

Junwon terkekeh. Menanggapi sindir Nari sebagai jenaka belaka. Benar-benar bermental baja laki-laki satu ini.

Setidaknya semenjak ditolak gamblang waktu itu, Junwon tidak lagi mengitar Nari lantas merentet berbagai ajakan kencan. Namun Junwon tidak juga menggali identitas Jae yang ternyata tidak ia kenal paska kemunculan mendadak kejadian smoothie stroberi waktu itu.

“Hye In bilang nilai ujian akhirmu bagus.” Uh-oh, Junwon bertanya perihal Nari lewat adiknya? Nari menoleh, melempar delik curiga. “Dia yang cerita. Kau tahu lah Hye In, bawel.”

Nari mengangguk bungkam, mendorong kantung sampah miliknya ke sisi kantung sampah lain di tempat penampung sementara. Junwon melakukan hal yang sama setelah Nari selesai.

Sementara Junwon meneruskan langkah, Nari tak bergerak. Junwon berhenti, menoleh dengan wajah menunggu. “Aku mau ke mini market.” Tukas gadis itu, mengibas-ngibas tangan mengusir sosok Junwon, lalu merasa aneh atas penjelasan yang dirasa tidak perlu sejatinya.

Belum Nari berjalan dua langkah berlawan arah ketika Junwon memanggilnya.

“Kenapa?” Sungut Nari.

Junwon menghela napas cukup panjang sembari berjalan ke arah Nari. “Lain kali, jangan keluar berpakaian begini. Meskipun masih pagi, tetap saja berbahaya.” Laki-laki itu berseloroh panjang. Kening Nari mengerut tak paham. Sekali gerak, Junwon melepaskan kardigan abu-abu yang dia kenakan diatas kemeja krem rapinya, lalu menyampirkan benda tersebut ke bahu Nari. “Jangan keluar dengan baju tipis begini nona.”

Tak bergerak dari tempat meski Junwon telah berbalik pergi, Nari mengerjap sembari menggaruk pelipis –gerak-gerik kala ia keheranan. Kepalanya merunduk, memandangi pakaian yang ia kenakan; kaus polos putih dan celana piama. Ah…. Kaus polos yang sudah terlalu lama dan jelas saja menipis akibat proses mencuci. Nari segera membalur bagian depan tubuhnya dengan kardigan Junwon.

Menahan keras agar hati tak mulai merajai definisi lain dari perasaan yang sekilas lewat begitu dirinya menyadari maksud perbuatan Junwon. Kepala menggeleng keras seiring tungkai yang ia perintah menuju mini market terdekat melaju. Berusaha tak menguras kerja otak, Nari menyalahkan kantuk yang masih mengatung di pelupuk mata atas lonjakan singkat yang berdesir saat punggung Junwon menjauh.

**

8:44 AM KST

Pintu apartemennya tiba-tiba dibuka dengan heboh. Hentak langkah kilat yang bergesek lantai mengikut, membuat si penghuni berhenti menyesap teh hangat dari mug kesayangan.

“Nari!” Jae muncul dari ruang tengah, raut wajah kusut, napas terengah dan hawa emosi yang meletup-letup jelas. “Bilang apa yang baru saja aku lihat bukan apa yang aku pikirkan telah aku lihat!”

“Hah?” Nari melongo, kehilangan konsentrasi atas tatanan kalimat Jae yang berbelit-belit. Jae merunduk, mengumpulkan kembali ritme normal nafasnya. Nari diam menunggu, kening bergurat ceruk.

That smoothie guy! He’s your neighbour?!”

Tak menjawab segera pertanyaan setengah histeris Jae, jemari Nari mengetuk-ngetuk pegangan mug teh paginya. Membongkar pasang penjelasan agar tak menambah oktaf suara Jae.

“Woah…. someone really do wish we’ll split I guess.” Jae bergumam tak jelas, sembari mondar mandir di perbatasan ruang tengah dan dapur. “Yang benar saja. Dari sekian juta penduduk kota. Bisa-bisanya laki-laki itu….. UGH!”

“Jae.”

I mean, like among billion of humans. Why does it have to be him? Why can’t it be other people? Why can’t it be…. Wonbin maybe or or…. Kang Dongwon or….”

“Jae.”

“….. or Kim Taehee. Anyone but him. Is he stalking you? He is, isn’t he? What if he plans this all along after you re—“

JAE!!!”

Tak tahan menonton Jae bermonolog seperti orang sinting, Nari memotong asumsi-asumsi aneh –tapi masih termasuk wajar- Jae. Laki-laki itu terlonjak kaget, tanpa sadar mengambil langkah mundur begitu menangkap mimik keras Nari yang menilik tajam. Jae bungkam dengan patuh, menaikkan kedua tangan yang berdempet di hadapan wajah.

“Aku menolak Junwon. Dia tahu aku punya kekasih. Jadi….?”

“Tapi…. te—“

“Jae……” tarikan panjang panggil namanya membuat Jae perlahan mundur teratur.

Jae mengakui dirinya keras kepala, kala kesal mengumbar letup-letup pitam. Berbeda perkara bila yang dihadapi Nari. Gelegak mendidih di ubun-ubun serta merta melebur tandas begitu Nari memasang peringatan tajam.

“Lagi pula aku tidak sering bertemu Junwon. Harus, aku setiap hari datang ke tempatmu supaya kau tidak memulai asumsi-asumsi aneh lagi?” Tidak sungguh-sungguh bermaksud sebenarnya. Namun pasang netra Jae melebar bersamaan dengan tarikan dua ujung bibir.

Deal!

“Huh?” Belum selesai Nari menalar apa yang baru saja Jae setujui, Jae telah lebih dulu mengesahkan perkataan Nari sebagai janji konkrit. “Hei!” Gadis itu besungut protes begitu proses pemahamannya menginjak level yang sama.

Tarikan sudut bibir Jae menukik makin terjal. “Setiap hari. Tidak masalah.”

“Tapi kan—“

“Sungjin? Abaikan saja. Kau kan sudah ahli menghadapi cerewetnya Sungjin.” Timpal Jae sebelum Nari sempat menyelesaikan argumen. “Kau boleh tidur di tempat tidurku bahkan. Terserah apa kata manajer hyung.”

Jae telah menyusun celutuk tak sengaja Nari menjadi kesempatan emas untuk keuntungan sepihaknya.

“Traktir bar Studio J?”

Tak butuh sekon berganti menit. Tekuk wajah Nari lekas beralih menjadi cengir lebar.

Deal!”

Tak pikir banyak mengenai esensi negosiasi yang baru saja terjadi atau sebab konyol akibat paranoid berlebihan Jae, Nari sama sekali tidak keberatan. Apa ruginya menjamah tempat tinggal kelima pria aneh tersebut? Untung malah seharusnya, ia bisa mencomoti persediaan yang tersusun rapi di dalam lemari pendingin mereka.

==

notes:

. jadi ini itu semacam ngejelasin alesan kenapa Jae sebelumnya nanyain kok Nari ga main ke dorm

. naaaah sebabnya yaaa karena ada sesosok makhluk tersebut

. awalnya ga termasuk Junwon dalam cerita

. tapi akibat pemberitahuan kemunculan wajah beningnya di mv

. yaaaah begitulah, saya lemah sama yang wajahnya bening

Advertisements

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s