Gift

chickenjae6

Im Nari (OC)  – Park Jaehyung (DAY6)

..

..

sky.l

..

..

May 23rd 2016

Junhyeok’s place

Tak ada suara, namun Junhyeok bisa melihat jelas layar datar lebar ponsel Nari terus menerus berpendar. Tertera notifikasi pesan percakapan. Gadis itu tak menggubris. Sibuk menyudahi semangkuk ramen bersama kimchi dari ibunya.

“Kau tidak sedang dikejar-kejar rantenir kan?” Tanyanya, dagu menunjuk objek keingin tahuan yang tergeletak bergeming di dudukan sofa. Si empunya hanya melirik, mendengus pelan. “Pacarmu? Bertengkar?”

Nari menyeruput kuah ramen hingga lenyap tak bersisa. “Kau pernah lihat aku marah? Sejak kapan tempat pelarianku berubah dari bar Reo?”

Junhyeok tahu, bila Nari tengah meletup-letup emosinya, ada saja pecah belah yang harus direlakan. Belum lagi berlembar-lembar uang yang hilang dari dompetnya hanya demi beberapa gelas cair pengalih duniawi. Dirinya dipaksa mengingat laki-laki bartender yang barusan Nari sebut, diam-diam Junhyeok bergidik.

“Lalu? Benar kau sedang dikejar lintah darat?” Junhyeok memiting netra Nari dengan pasang mata membulat. Gadis itu memutar bola mata sarkastik. Hasil terlalu banyak mengkonsumsi genre kriminal, Junhyeok mulai pandai mengada-ada.

“Berhentilah menonton CSI atau film-film sejenisnya,” seloroh Nari, mengangkat mangkuk yang telah kosong menuju bak cuci piring. “Aku tidak bertengkar dengan Jae. Tapi ada seseorang tidak tahu isyarat halus penolakan yang terus…. menghampiriku.” Menyebut laki-laki itu mengganggu sepertinya terlalu berlebihan. Lagi pula bukan salah orang itu tak kenal istilah ditolak karena menganggap statusnya yang lenggang tanpa pasangan.

Satu alis Junhyeok berjingkat. Nari mengendik bahu, sekembalinya dari dapur. “Seseorang? Laki-laki?” Nari mengangguk lemah. “Kenapa tidak bilang kau sudah punya pacar?”

Entah karena kakaknya itu berotak lamban atau hanya ingin mengolok-olok, mestinya Junhyeok tahu alasan Nari digentayangi kakak Hye In tersebut karena ia tak ingin mengaku memiliki pasangan. Mungkin kalau Junwon -kakak Hye In- tahu siapa Jae, bisa saja ia hanya dianggap satu dari penggemar yang imajinya berlebih. Bila Junwon tidak tahu, membuktikan sosok Jae adalah benar manusia terdengar terlalu beresiko. Jaman sekarang kabar tak hanya bersemayam dalam buah bibir, era digital lebih berbahaya dari era primitif. Kabar berserak dengan mudah bahkan lebih cepat dari kontaminasi virus. Siapa yang bisa menjamin Junwon bukan pengumbar rahasia seperti gadis-gadis berisik di kelasnya?

Nari memaparkan alasannya, menyelipkan juga kejadian kencan buta ‘jebakan’ yang sudah ia tolak dan hindari, tapi Hye In sangat ahli mengelabuinya. Nari tetap terperangkap menemani Hye In -yang mengikutsertakam sang kakak yang mati-matian berusaha ia jodoh-jodohkan dengan Nari. Junhyeok memerhatikan seksama. Begitu tuturan Nari berakhir, laki-laki itu mengusap-usap pelipis, lalu tertawa rendah.

“Percuma saja bercerita padamu. Urusan cintamu malah lebih payah.” Nari berdiri, memungut tas dan barang-barangnya yang tersebar di ruang tengah. Sekilas, dilirik waktu di lingkar pergelangan kiri. “Aku membawa satu kotak kimchi bibi. Sudah ya, aku harus menulis esai 700 kata.”

“Hei, kau tidak bilang apa-apa ke pacarmu? Bagaimana kalau dia tahu dan salah paham?” Junhyeok menahan daun pintu, membiarkan Nari lewat.

“Aku tidak sebrengsek si bocah Yejun.” gumam adiknya itu, lalu meneruskan langkah menjauhi pintu apartemen.

“Hati-hati! Sudah malam, naik bus berbahaya, naik taksi saja!”

Lambai singkat mengakhiri pertemuan Nari dan tersangka pelarian yang kembali ke peradaban.

**

May 24th 2016

Incheon Intl. Airport

“Masih tidak diangkat, hyung?” Wonpil sekedar basa-basi, prihatin juga melihat si tertua tidak lepas menekan tombol hijau pada opsi sambungan sesampainya mereka di bandara. Jae menggeleng.

Terhitung hari, sudah satu minggu lebih semenjak kabar tak enak mengenai Nari sampai ke telinganya. Tak ada konfirmasi kebenaran. Bagaimana bisa kalau gadis itu masih tak kunjung menyahuti segala jenis komunikasi yang Jae ulur. Kalau tidak ada kabar yang membuatnya gusar tersebut, Jae tidak akan sekhawatir ini. Toh selama ini Nari memang muncul-tenggelam sesukanya tanpa peringatan.

Situasi krusial seperti ini yang membuat ia begitu bergantung pada Junhyeok, dulu. Sekarang, tak bisa segampang kala itu mengendus keberadaan Nari.

“Bukannya dia satu kampus dengan Brian hyung?” Wonpil melirik sosok Brian yang tengah menunggui koper dan bassnya di depan bagage claim bersama manajer. Jae mengangguk ragu, tak paham kemana maksud pertanyaan Wonpil mengarah. “Kenapa tidak mencari kesana saja? Siapa tahu dia memang sedang sibuk kuliah. Bukannya bulan-bulan ini sedang ujian tengah semester ya?”

Oh, Jae baru ingat betapa merepotkannya dunia kuliah dan segala ujian, tes, quiz, atau semacamnya yang terasa tanpa akhir. Jelas saja ia lupa, sudah terlalu lama ia tak berkecimpung di ranah tersebut. Sudut-sudut bibir yang terhalang masker melompat tinggi, terlihat dari matanya yang berjajar membentuk garis lengkung. “Did I ever say how genius you are dude? You’re brilliant!”  Dilayangkan satu tepukan keras pada lengan atas Wonpil, bermaksud sebagai komplimen.

Jae beranjak, berjalan mengarah pada Brian.

**

May 25th 2016

Dongguk University, Seoul

Bedebah sekali memang, pendidikan yang diagung-agungkan strata sosial. Pantas saja banyak yang enggan menyentuhnya kembali atau bahkan mengakhiri nyawa karena merasa terlalu tidak kompeten akibatnya. Betapa harga manusia digantungkan dengan seberapa isi otak dan gelar seseorang.

Ujiannya di atas lembar kertas baru saja selesai. Kepalanya masih berantakan, after effect yang selalu menyergap setiap neuron saraf pusatnya dipaksa bekerja diluar dari kebiasaan. Sayangnya beda perkara pula dengan ujian kehidupan, mau kepalanya terasa hampir pecah pun tidak akan ada kredit akhir.

Nari tak langsung memerintah tungkai menyusur jalan pulang. Seluruh tubuhnya masih terkontaminasi soal-soal tak tahu diri yang menyebabkan otaknya keletihan bekerja.

Dilayangkan bokong pada kursi pekarangang kampus yang tak begitu lenggang tapi cukup nyaman ketimbang loby gedung yang bising atau kantin yang selalu dijadikan tempat berkumpul.

Matahari yang tak lagi menyilau di tengah tahta terasa bersahabat. Angin pun dengan nyamannya menyapu semilir menggelitik bersahabat. Kedua pendengarnya tersumpal riuh musik, sejumput usaha agar moodnya membaik.

Kemarin, Nari mengatakan penolakan lantang pada Hye In dan segala rencana tanpa persetujuan yang menyeret dirinya. Ia tidak bisa terus-terusan menahan jengkel hanya karena Hye In satu-satunya orang yang mau menemani Nari. Bahkan selama ini, tak digubris orang-orang pun ia tak ambil pikir. Apalah artinya memaksakan sebutan teman kalau kenyamanan dijadikan gadaian. Hye In hanya mengangguk. Belum sempat terpeta respon, Nari sudah lebih dulu menjauh.

Kenapa Sena harus memilih meninggalkannya? Ah… Nari agak rindu anak cerewet itu.

“Stroberi.”

Kepalanya mendongak, hampir saja keluar umpat dari bibir Nari.

“Kesukaanmu kan, smoothie stroberi?”

Tanpa menoleh, ia tahu ada banyak pasang mata yang menisik sosoknya akibat kemunculan laki-laki dengan kemeja biru pastel dan celana kain rapi yang tampak menggiurkan untuk gadis-gadis lain, tapi bagi Nari tak lebih dari makhluk halus yang tidak mau tanggal dari sosoknya akhir-akhir ini.

“Tidak. Aku lebih suka gin.” Dahinya agak mengerut diikuti wajah tak ramah yang kini otomatis terwujud pada mimiknya tiap oknum satu ini datang.

“Alkohol tidak baik. Lagi pula ini lebih enak. ” Junwon -satu nama ini selalu menggiring stok kesabarannya hampir terburai hilang- mendaratkan minuman berwarna merah muda tersebut ke depan lipatan tangan Nari.

“Tidak. Aku tidak suka stroberi.” Tolak Nari, mendorong gelas plastik dengan namanya tertera ke hadapan Junwon. Laki-laki itu malah tersenyum. Ingin sekali rasanya ia bertanya, apa ada sesuatu yang salah dalam kepalanya yang orang-orang sebut brilian itu?

“Kau mau tidak nonton film? Kudengar sedang banyak film romcom.”

“Tidak.”

“Konser musi—”

“Tidak.”

Junwon tak melunturkan simpul bibir. Namun terdengar berat hempas napas. Mimik Nari juga tak melembut, merasa kasihan berarti mengumbar empati yang memancing harapan. Tak diberi pun, ia sudah kewalahan berusaha menyingkirkan Junwon.

“Apa yang tidak kau suka dariku? Jujur.” Terlalu banyak gadis yang memuja laki-laki ini sehingga kadar percaya dirinya diatas rata-rata. Tidak masalah sesungguhnya, kalau saja bukan dirinya yang jadi target empuk semacam umpan baru bagi Junwon.

“Semua. Aku tidak suka semua tentang dirimu.” Ujar Nari, berusaha tak terdengar menggeram kesal.

Choi Junwon adalah asisten dosen, terkenal ramah, berpenampilan rapi, dan selalu menjadi mahasiswa dengan peraihan prestasi berderet panjang. Meskipun mereka tak berada di jurusan yang sama, banyak mahasiswa antar jurusan yang mengenalnya. Terbukti dari ekor mata mahasiswa pada meja lain di dekat tempat mereka duduk.

“Alasannya?” Junwon menatap telak pada pasang kelam netranya. Bertumpu dagu pada satu tangan yang menopang. Tampak serius menanti sahut balas Nari.

Karena aku sudah punya pacar, duh. Jawaban yang masih serupa dari sejak Hye In bertanya padanya dulu. Hanya saja tak pernah terutara lantang.

Why do I need a reason? One can like someone without a reason, the same apply to not liking someone.

Dipikir-pikir, Hye In dan Junwon sangat mirip dalam hal keras kepala, selalu mengacuhkan lawan bersangkutan. Semacam tidak kenal istilah pantang menyerah meski jelas-jelas Nari kelihatan ingin melemparinya dengan apa saja yang bisa membuat Junwon pergi.

What about I give you a reason to like me?” Lihat, betapa tidak ada tanda-tanda tunduk atau goyah. Level orang ini lebih tinggi dari pada Yejun, sangat menguras kesabaran.

Persetan dengan segala alasan yang menahannya untuk mengaku. Mungkin kebenaran adalah amunisi terakhir agar Junwon tak lagi mengekorinya.

I have a boyfriend. A real one.” Sengaja, Nari menyuarakan agak lantang. “Jadi, tolong… jangan muncul di hadapanku lagi.”

You heard her.” Tahu-tahu seseorang menyahuti sembari merangkul pundak Nari. Hari ini rasanya orang-orang tengah mengerjainya dengan penampakan mendadak.

Hi. I’m Jae, her boyfriend.”

**

“Sinting.”

Percuma saja mengharap pujian. Jelas-jelas akan lebih sesuai jika gadis itu menyumpahi tindakannya. Ceruk pada dahi, bibir cemberut, dan pasang picingan menghardik tak beranjak dari paras perempuan yang baru saja ia tarik pergi begitu laki-laki yang tidak ia kenal barusan meraih ulur tangannya dan menyebutkan identitas -yang tak sampai beberapa menit kemudian ia lupakan.

“Terimakasih.” Balas Jae, tak mau kalah. Ia juga merasa memiliki hak untuk merajuk, mengingat belum ada penjelasan tentang laki-laki yang kedapatan pergi bersama Nari saat festival musim semi kemarin.

Picing Nari semakin tipis. Air muka yang terpampang pada paras Jae tak jauh berbeda dari yang Nari gurat.

Diulurnya telapak tangan. “Tagihan penjelasan. Siapa laki-laki barusan?”

Mimik Nari membaik, namun tampak kosong. Diam-diam dirinya menanti waswas. Oh, crap. Tak sempat terpikir bila ternyata sesuatu yang buruk akan mencuat. Ia tidak menyiapkan hati untuk situasi semacam itu.

“Pertanyaanku dulu. Kenapa kau sampai nekat mencariku ke kampus?” Nari memindai penampakannya dari ujung kepala. Mereka tak lagi berada di tempat berkerumun orang-orang, ia melepas masker dan menurunkan tudung jumper yang dikenakan.

“Kau jalan dengan laki-laki itu ke festival musim semi.” Meskipun ia berencana tak terdengar jengkel, namun yang keluar malah bertolak. Terlalu kental nada rajuk pada pernyataannya.

Nari mengerjap. Mungkin tak menyangka kalau Jae baru saja memergokinya menyembunyikan sesuatu. Secara teknis gadis itu tidak menyembunyikan, tapi ia tidak sengaja tahu dan belum sempat bertanya.

Senyap cukup lama sebelum akhirnya Nari mengangguk. “Dia bukan siapa-siapa. Kalau kau percaya sih.” Pasang pandang Nari tak menubruk tatapnya, justru merunduk sembari tangannya sibuk mengaduk-aduk jus mangga yang belum dicecap.

Jae tahu, Nari lebih memilih bersembunyi dari pada berbohong. Maka bila gadis itu berujar tak ada apa-apa antara dirinya dengan laki-laki yang dia amati silang beberapa puluh menit lalu, benar adanya. Nari tak lihai memasang dusta. Lagi pula ia cukup tahu, tak mudah menerobos teritori Nari. Butuh waktu lama baginya memaksa masuk dalam cerita gadis itu. Khawatir yang merebak, mereda segera.

“Kenapa tidak menjawab panggilanku?” Jae menyodor layar ponsel dengan deret panggilan tak bersahut dimana tertera nama gadis dihadapannya.

Nari mendongak. “Aku menghindari melarikan diri dari ujianku dan menghindari laki-laki tadi. Mengangkat teleponmu membuatku ingin mencampakkan segalanya. Benar-benar cobaan.”

Tak ada sela manis dari ucapan Nari barusan. Ia tahu gadis itu juga tak bermaksud demikian. Tapi bagi Jae, perkataan barusan sudah lebih dari cukup menghapus gusarnya seminggu belakangan.

“Jadi kau merindukanku?”

“Mana oleh-oleh?”

“Kau rindu aku kan?”

“Oleh-olehku dari Kanada.”

“Rindu tidak?”

“Ya ya ya. Puas?”

Simpul bibir Jae tak bisa ditahan lagi. Jae menjulur leher, membungkam bibir yang menggerutu kesal padanya. “Oleh-olehku.”

==

notes:

. gagal menistai karena di toronto kemarin ayamnya kece

. saya juga baper kok sama Junhyeok

. tapi alhamdulillah dia masih sehat walafait

. Junwon ga segampang itu mundur…..

. huahahahah

Advertisements

2 Replies to “Gift”

  1. ULALA
    Penistaan berujung manis gini Li HAHAHA

    Awal-awal udah disuguhin sama dua sepupu ini, terlebih Juhyeok T_T kan jadi kangen masamasa dia masih didorm, terus pasti kan udah ngolok-ngolokin Jae “Benerkan hyung yang aku bilang, Nari itu gak bakal cocok sama Hyung” Khas dialah, sepupu sendiri dijelekin wkwkwk Terus ini, jadi (?) kalau Nari main kucing-kucingan sama Jae, pelariannya ke Juhyeok buat sekadar ngambil kotak kimchi sama dine in ramen ya HAHAHA

    YA ALLAH WONPIL SEKARANG BENERAN JADI WONPIL TEGUH :’) Nasihat-nasihat supernya udah mulai diterima wkwk, lain waktu tolong nasihatin si briagadir ya, bilangin effortnya lebih di gear up gitu biar gak kecolongan. Hmm pantes, kemaren briagadir ditinggal sendirian di kafe sampe molor gitu, mungkin abis belajar nyambil nungguin Jae kan.

    Aku kira awalan yang nawarin stoberi itu si Jae, tahunya orang ketiga. Hmm, dirasa Junwon ditolak itu karena dia terlalu sempurna, kan Nari? Kontras banget sama hidupnya Nari yang membabi buta sama dunia malam, sedangkan Junwon cemerlang gitu di otaknya. Mungkin Junwon cocok sama Max /halah//jadi nyembur kemari/ TAHU GAK, AKU KESEL MASA JAE MUNCUL GITU TERUS MAIN RANGKUL-RANGKUL NARI /dicekek Jae/ ITU JUNWON SAMA NARI LAGI PANAS /rider ribut/ /siapa elu/

    Tapi ya syukurlah ini pasangan sudah membaik sebelum konser. Jadinya kan ntar Jae gak galau gitu. Ah, Jae. Jalan di musim semi doang, apasih, bukan jalan di pelaminankan /plak/ itu baru kamu boleh kebakaran jenggot. DAN AKHIRNYA, MANISSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSS
    Cieeee, tiuman oleh-olehnya HAHAHAHA.

    Li, ditunggu berat ya pernyataan kamu ‘Junwon gak segampang itu mundur’ wkwkwkwk makasih fiksinya Li! Lanjut, lanjut!!

    Liked by 1 person

  2. junhyeok suka nonton film genre crime? kapan kapan bisa lah kita nonton bareng ((lho apa apaan ini)) aww nari-junhyeok moment setelah sekian lamanya ((genjreng gitar ala soneta band)) duo sepupu ini emang ga pernah gagal ngocok perut wkwk saling ejek tapi aslinya saling perhatian duh 💕
    jae kena serangan galau jd otaknya mandek mikir ide kreatif apa biar bisa nemuin nari wkwk untung ada wonpil! dia emang jd pencerah buat member day6, lanjutkan pil!!!
    junwon ini ya… dia pantang mundur bgt, tapi kalo ngintilin mulut ya pantesan nari sebel. mana dia ini pedenya selangit grrr!! tapi kocak jg sih junwon ngejar ngejar nari hahahah hayoloh jae si junwon ga bakal mundur dg gampangnya
    ini gagal nistain jae malah berujung manis ya duuuuh oleh olehnya ga terduga banget cikiwir kiwir kiwir nari dapet jekpot!

    Like

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s