Picking Up Traces

small note

Han Rami (OC) – Choi Seungcheol (Seventeen)

..

..

sky.l

..

..

“He’s you and you’re Tim.”

May 5th 2016

Beauty salon, Yongsan-gu, Seoul

5:48 AM KST

 

“Kau sakit?” jelas saja ditanyai demikian. Masker, kacamata setengah wajah, dan topi membayangi pandang. Alih-alih menjawab lengkap dengan alasan mengapa ia menutup penampakan diri, Rami hanya mengangguk. Menambah sedikit aksen terbatuk agar meyakinkan si penanya –sesama staf kreatif.

Rami tidak benar-benar sakit. Hanya berusaha membaur tak menarik perhatian agar tak bersilang langkah dengan orang yang tengah ia hindari. Melarikan diri tidak akan bertahan selamanya, tapi selama ia bisa, ia akan terus mengulur waktu.

Somi yang keluar dari naung gedung salon segera mengenalinya meski hanya terlihat dua binar netra kelam di balik kacamata kamuflase.

Oh no you don’t.” Geleng kepala menerangkan jelas respon Somi yang tahu alasan penampilan ‘sakit’ berlebihannya hanya karena misi bersembunyi. “What’s your deal? You can’t hide from him forever.”

Stop, jangan ikut mengomeliku seperti yang lain. I’ll hide as long as it takes.” Sahutnya memasangkan selimut tipis berwarna abu-abu ke pinggang gadis campuran tersebut.

Man, you know you can’t keep doing that. Can’t you imagine how he would feel?” Somi meraih kedua bahunya –yang terjangkau gampang karena tinggi mereka tak jauh berbeda. “I love you. But you’re such a coward.”

Dilepasnya pegangan Somi. Napas berat yang terhembus berhadang masker yang dikenakan, “Ini pilihanku. Ini cara agar dia tidak merasakan sakit yang kurasakan karena Tim.”

Nat,” Somi menggeleng, tak peduli tatap beberapa orang yang juga sibuk dengan pekerjaan masing-masing tampak mencuri dengar percakapan mereka, terlebih panggilan tanpa embel honorifik yang tidak dipermasalahkan sang lawan bicara. “He’s you. And you’re Tim.

No!” Sanggahnya, sedikit terlalu keras. Pasang-pasang mata di samping van hitam besar menanti penumpang yang tengah dipermak sebelum bergerak ke tempat tujuan menilik sosoknya dan Somi. “I’m not Tim and he’s not me. I can’t choose him. Choosing him means…. losing him. Like what happened when I choose Tim.”

“Nat! It’s –“

“Semua berangkat! IOI segera masuk ke dalam van!” koordinator skedul meneriakkan aba-aba menyudahi pengecekan terakhir sebelum semua orang memasuki kendaraan yang sudah diatur sesuai divisi masing-masing.

Somi melempar sekilas tatap terakhir lalu mengikuti perintah sang koordinator; masuk ke dalam van bersama sepuluh gadis lainnya.

“Natasha!” salah satu staf kreatif memberi isyarat lambai ke arah minibus yang harus ia naiki.

Semoga saja misinya berhasil.

**

CJ E&M Center

Sangamsan-ro, Mapo-gu, Seoul

3:15 PM KST

 

“Ada yang ingin kau sampaikan?” Rami mendongak, membalas tatap Nayoung yang sedari tadi mengawasinya terlalu jelas.

Dari kebanyakan trainee pada masa ia terpaksa menjadi salah satunya, Nayoung adalah satu dari beberapa yang tidak banyak ikut riuh seperti beberapa trainee yang mengusung kubu penolakan atas penerimaan spesial Rami karena posisi sang paman. Tapi masa itu sudah tak dipermasalahkan lagi, karena nyatanya para provokator tersebut lebih memilih menyelematkan diri dari agensi sang Paman yang terkenal kelewat irit.

“Barusan aku berpapasan dengan Wonwoo di lorong.” Mimik Nayoung datar, sebagaimana julukan yang melekat pada gadis itu. Rami mengangguk sekedar. Tentu saja mereka bersinggungan, ruang tunggu rookie hanya terpisah sekat-sekat tipis berhimpitan, sehingga tempat itu terasa tidak lebih luas dari telapak tangan. Karenanya ia tidak mengekor saat IOI dry rehearsal, memilih mengurus hal lain dari pada tertangkap basah manusia yang berusaha ia elak pertemuannya.

“Mingyu bilang kau melarikan diri.” Kalau saja ia sedang tidak lingkup kerja, ia pasti sudah menyanggah dengan suara lantang, alih-alih Rami hanya tersenyum masam. Tidak mengiyakan, tidak juga menyalahkan. “Aku tahu kenapa kau melarikan diri.”

Ruang tunggu sedang sangat bising –apalagi dengan staf yang melimpah dan sepuluh orang gadis terus menerus berceloteh satu sama lain. Percakapan mereka surut diantaranya, pun suara Nayoung bisa Rami tangkap jelas.

Perbincangan ini masih mengitar satu arah, Rami tidak tahu harus menyahut bagaimana. Takut malah ia mengumbar yang tidak seharusnya dan Nayoung hanya memancing –meskipun seingat memori gadis sebayanya itu bukan semacam yang sibuk bergulat di tengah urusan orang lain.

“Dulu dia bahkan tidak menggubrisku, sama sekali. Tapi begitu kau datang, ia seperti bukan orang yang sama. Baginya aku hanya teman seumuran, tak jauh berbeda dengan Jeonghan dan Jisoo. Kau beruntung,” tak sesuai bayang ucapan dan sorot netra yang terlihat muram, ujung-ujung bibir Nayoung berjingkat lemah.

“Tidak ada apa-apa, aku dan Dia.” Hanya dua kalimat itu yang lolos darinya. Tak tahu apalagi yang harus ia ucap. Kadang terus menerus mengumbar dusta itu melelahkan. Belum lagi rasa bersalah yang menggerogoti.

“Ini bukan urusanku, aku tahu. Tapi kurasa kau terlalu berusaha keras membuat kebohonganmu menjadi kenyataan. Kau tidak lelah?” Nayoung mengambil secarik kertas yang terlipat dari dalam sebuah pouch mungil,  diserahkannya pada Rami.

Nayoung berbalik begitu Rami menerima sodoran tersebut. “Chung Ha-ya ayo temani aku ke mesin kopi.”

Tanpa diberitahu asal dari catatan kecil yang ia pegang, ia hapal siapa pemilik tulisan tangan yang menggores disana.

Jaga kesehatanmu baik-baik.

Beberapa kalimat lain yang berderet di atasnya tampak dicoret hingga tak nampak. Namun, satu kalimat masih cukup jelas dibalik gores tebal pulpen yang berusaha menyembunyikan.

Aku merindukanmu.

**

Seventeen’s Van

8:24 PM KST

 

Tas kertas kecil itu masih ia pandangi. Sebelum ia masuk ke dalam van, tiba-tiba saja salah seorang stylist menepuk pundaknya lantas memberikan tas kertas tersebut tanpa ucap apa-apa. Ia tahu, benda itu bukan pemberian penggemar, terlalu polos. Lagipula biasanya semua pemberian penggemar diangsurkan sementara pada manajer sebelum mereka sampai ke dorm.

Seungcheol hanya bisa menebak. Namun entah kenapa ia justru takut apa yang ia terka benar adanya. Apalagi denga gelagat Vernon yang beberapa kali bertanya, “Hyung tidak lihat seseorang?” yang setelahnya ia dalihkan dengan salah satu staf mereka atau orang-orang lain yang ia tahu hanya sekedar basa-basi.

Seungcheol sengaja duduk di sebelah kursi pengemudi. Beralasan ia sedang ingin terlelap tanpa kericuhan di bangku penumpang.

Menimbang hampir selama setengah perjalanan, ia menarik sisian tas yang saling merekat. Menyusup tangan mengambil isi di dalamnya.

Bungkusan plastik berikat pita merah dengan beberapa potong kue kering di dalamnya. Secarik post-it berwarna biru ditempel pada pinggiran bungkus. Satu kata pendek tanpa inisial atau embel-embel emosi mengiring.

Congrats.

Derap gadis itu tak lagi tertangkap dengarnya. Namun seperti cerita kakak beradik yang menemukan rumah kue, beriring langkah yang menjauh, ada jejak-jejak remah yang sengaja ditinggalkan.

Harusnya ia tak lagi berharap, menunggu di tempat berusaha menangkap adakah suara langkah kembali ke arahnya. Tapi percik kecil yang berusaha ia lenyapkan enggan menghilang seperti inginnya. Seungcheol tahu, bukan berarti gadis itu memberitahu kemana celah yang harus ia lewati. Pun hatinya tetap mendorong ia tetap diam di posisi awal, menunggui gadis itu sampai ke pintu miliknya.

Mungkin ia salah, mengartikan bingkisan tersebut sebagai jejak yang harus ia jaga. Meski begitu, sedikit banyak egonya berbisik agar dirinya tetap menyimpan segala kemungkinan karena tak pernah terucap jelas sangkal keberatan akan perasannya terhadap gadis itu. Ia paham, gerak halus yang dipajang agar dirinya mundur perlahan. Tapi gadis itu tak pernah secara telak mengungkap perasaan yang berbalik dengan perasaan Seungcheol.

Bimbangnya kembali menyembul, mana yang lebih baik antara menanggalkan perasaannya atau memunguti jejak kecil yang belum pasti akan tetap ada setelahnya.

==

notes:

. selamat galau sekop

. selamat galau pendukung hanraxsekop

Advertisements

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s