Boy Friend

dowoon

Nanomura Keikou (OC) – Yoon Dowoon (DAY6)

..

..

sky.l

..

..

April 20th 2016

Studio J, Seoul

10:34 AM KST

“Apa-apaan kalian?” Sungjin tahu-tahu sudah berdiri di depan pintu studio tanpa tiga onggok manusia di dalamnya sadari. Ketiga orang; Jae, Brian, dan Dowoon itu sudah memasang posisi bersama instrumen masing-masing. Namun, bukan melakukan pemanasan sekedar atau menyetel nada, ketiganya melakukan hal yang sama; termenung kosong.

Brian menggeleng berulas senyum tipis lantas mulai mengutak-atik bassnya. Wajah Jae tampak muram dan gusar. Sungjin hanya menggeleng prihatin, apalagi kalau bukan telepon beberapa hari lalu yang mengabarkan penampakan Nari dengan seorang laki-laki asing. Wajar Jae masih uring-uringan, Nari tak kunjung bisa dihubungi –sebagaimana tabiatnya selama ini.

“Kau kenapa? Uang bulananmu habis?” Sungjin meraih instrumennya dari guitar stand di sisi drum. Yang ditanyai hanya menggeleng, tapi dengan mimik yang tak selaras maksud jawaban. “Kau juga jadi korban patah hati, ya? Maaf mungkin hyung-hyungmu ini membawa peruntungan buruk.”

Wonpil menepuk pelan pundak Dowoon, berharap enggan menjalani hari dari gerak-geriknya berkurang. Mungkin. Tapi nyali Yoon Dowoon sudah kepalang ciut karena penampakan yang langsung terdefinisi otaknya sebagai gambaran karamnya perawalan yang bahkan belum mulai berjalan tanpa halang. Bahkan bersimpati pada Jae saja ia merasa tidak pantas, setidaknya Jae mempunyai ikat jelas untuk merasa tidak keruan karena kekasihnya terlihat bersama laki-laki lain.

Tangannya memutar malas alat pemukul tabuh yang terasa lebih berat.

**

The Quarters, Shinsa-dong

Earlier the same morning

 

“Aku tidak tahu kau punya pacar,” ujar Ryu Ho selesai melirik laki-laki di depan kasir yang barusan datang bersama Kei. Gerak-gerik akrab dan perawakan sebaya semacam artian jelas memiliki hubungan khusus dari penampakan keduanya.

“Kao? Pacar?” Kei tertawa geli, kembali mengecek beberapa bahan yang baru saja di stok kembali. “Dia hanya laki-laki cerewet yang membuat orang lain enggan berteman dengannya. Aku yang jadi korban.”

“Yang benar?” nada menggoda Ryu Ho membuat Kei sekilas mencibir. Sama saja dengan respon orang-orang begitu melihat Kao bersamanya; langsung seenaknya menganggap ada apa-apa dibalik kedekatan mereka. Begitu tidak lazimnya hubungan pertemanan laki-laki dan perempuan?

“Terserah apa katamu. Tapi aku tidak tertarik pada Kao dalam artian apapun yang ada di dalam kepalamu.” Tangkis Kei, menyerahkan catatan ketersedian stok yang sudah ia teliti satu persatu. Ryu Ho memapar cengiran singkat, entah apa maksudnya. “Sampai ketemu nanti malam.”

Ryu Ho melambai singkat sejalan Kei keluar dari pelataran dapur. Gadis berambut pendek itu meraih tas dari loker pegawai lantas menghampiri Kao yang sibuk dengan ponsel sembari bersandar di dekat kasir.

“Maaf lama,” basa-basi Kei. Kao mendongak, mengangkat kedua bahu acuh. “Kau mau makan sesuatu?” Isyarat lirik Kei mengarah pajang menu yang kebanyakan menawarkan menu dessert atau makanan ringan.

Kao menggeleng. “Eish, ini bukan makanan. Makanan itu nasi dan hidangan hangat.” Tipikal selera orang Asia dimana-mana, makan belum lengkap kalau belum menyantap nasi.

“Terserahmu. Yang penting kita tidak telat. Aku malas mendengar omelan Shin sunbae,” tanpa sadar Kei bergidik membayangkan omelan pelatih senior yang terkenal bawel itu, apalagi soal disiplin waktu dan semacamnya. Lebih mengesalkan dari pada omelan bibi-bibi penggosip.

Kao melingkar lengan pada punggung Kei. “Bibimbap? Ok?”

Kei berderap menjauh rangkul Kao. Pantas saja orang-orang berpikir mereka menyembunyikan hubungan khusus. Yang mereka tidak tahu, Kao tidak pernah melirik Kei sebagaimana kodrat asalnya, seorang perempuan. “Sekali lagi kau merangkulku, dua sesi sparing selesai latihan.”

“Jangan sampai telat shift nanti malam.” Suara Ryu Ho bergaung dari balik pintu dapur. Kei berteriak rendah mengiyakan sebelum mendorong pintu kafe disusul langkah sejajar Kao yang masih meributkan menu makan siang mereka.

Kei tidak sadar, sepasang pandang luput dari perhatian begitu melihat laki-laki yang tidak hentinya mengoceh mengalungkan lengan akrab padanya.

**

“Kei punya pacar?” Jae lupa sejenak akan masalahnya sendiri begitu Dowoon -setelah didesak- mau menyembur apa yang membuatnya gusar sedari pagi hari.

“Kau yakin? Memangnya kau sudah tanya Momo?” Brian tampaknya menanggapi serius. Dowoon mendongak, menggeleng pelan. “Tunda dulu patah hatimu kalau kebenarannya belum pasti.” Brian menegak air mineralnya hingga habis.

“Kenapa tidak tanya langsung saja ke orangnya?” atas saran Jae, Dowoon lantas melirik Sungjin. Yang dilirik masih tak sadar, sibuk menggeluti ponsel tak melihat sekitar yang atensinya bertumpu pada sang ketua.

“Kau mau izin? Tidak kuizinkan pun kau pasti tetap akan pergi.” Sahut Sungjin, tatap masih lekat pada benda pipih dalam genggam. “Hatimu benar sudah siap untuk kemungkinan terburuk?”

Senyap tak ada tanggap dari orang yang ditanyai. Sungjin mendongak, “Tapi menelan kemungkinan terburuk lebih baik dari pada berdiam diri dengan usaha kosong.” Tanpa yang lain sadar, kilas tatap Sungjin singkat namun sempat mengarah pada Brian.

Your choice, good luck brother.” Jae menyerahkan kaleng cola terakhir pada Dowoon.

Kemungkinan terburuknya hanya satu, benar-benar patah hati mengambil langkah mundur.

**

“Oh, temannya Kei ya?” Penjaga kasir yang sama kali terakhir ia mencari Kei di tempat kerjanya tersebut. “Kei belum datang. Mungkin sebentar lagi. Mau pesan sesuatu sambil menunggu?” Sebenarnya Dowoon tidak terlalu lapar, tapi si penjaga kasir yang menyapa dengan ramah itu membuatnya tidak enak hati menolak. “Oh, Kei!” Tiba-tiba si penjaga kasir melambai pada si pemilik nama yang baru saja melewati pintu masuk kafe.

…. bersama laki-laki yang tadi pagi ia lihat akrab bersama Kei.

“Dowoon oppa.” Kei otomatis menyapa begitu menangkap sosok Dowoon.

Laki-laki di sisi Kei ikut menatap Dowoon. Pelan-pelan ada sesuatu yang runtuh dalam diamnya. Meski senyum Kei membawa gelanyar menyenangkan yang sama tiap kali jumpa mereka, tapi perawakan di samping Kei lebih menguras perhatian.

Oppa mau makan waffle lagi?” tutur Kei menarik kembali keharusan yang menjadi alasannya datang.

Dowoon tak menjawab, mengeluarkan carik tiket yang sudah ia siapkan di dalam saku. “Kalau kau ada waktu. Kau bisa mengajak pacarmu juga.” Rasa pahit mendadak menyusup pangkal lidahnya. Kei menerima pemberian Dowoon.

“Pacar?” Wajahnya nampak datar, tak paham tersirat. Tatap Dowoon mengekor seseorang yang masih berdiri di samping Kei yang tampak tertarik dengan tiket pemberiannya.

Kening Kei mengernyit, menahan rekah tawa, menyiku makhluk yang masih meniti tiket dari Dowoon barusan. “Kao, ini Dowoon oppa. Teman Momo nechan.” Laki-laki itu mendongak, ulas senyumnya tiba-tiba menyerang wajah muram Dowoon.

“Momo noona? Ah… auw… maaf. Namaku Kao. Teman hapkido Kei.” Ulur tangan yang mengarah padanya mau tak mau ia sambut.

“Yoon Dowoon.” Balasnya singkat.

“Aku boleh datang? Apa Momo noona juga datang? Twice?” Laki-laki itu tidak segan melontar seberondong pertanyaan. Dowoon agak terkejut, dalam konotasi yang anehnya baik. Kei lagi-lagi menyiku laki-laki itu, lebih keras dari sebelumnya. “Apa? Aku fans pertama Momo noona.”

“Maaf oppa. Anak ini memang tidak tahu tata krama,” tukas Kei dengan wajah tampak tak nyaman. Dowoon tertawa. Wajah kekanakan itu tampak seperti gadis kecil yang baru saja tertangkap basah melakukan sesuatu yang memalukan.

“Ya. Tidak masalah, kau juga boleh datang.” Sahut Dowoon, mengangguk singkat pada laki-laki bernama Kao dengan senyum lebar yang belum luruh. “Tapi kau punya misi penting.” Ulas bibirnya luntur berganti mimik memerhatikan, “kau harus membawa Kei. Harus.”

Dowoon menatap lurus pada Kao, berusaha mengulum senyum dan pipi yang kapan saja terasa akan meledak. Pura-pura tidak menangkap wajah Kei yang terkejut, terlihat akan menyanggah keberatan. Kao menampakkan senyum -kelewat sumringah- yang sama. Sebelah kepal tangannya ia angkat, mengawang menunggu Dowoon melakukan hal yang sama. Dowoon tertawa rendah, mengikuti apa yang Kao lakukan lalu menubruk kepal Kao. “Ok. Call!”

“Halooo… maaf, orang yang bersangkutan masih disini. Hei, jangan berbicara seolah aku tidak sedang dilibatkan.” Kei menekuk wajah, mendengus pelan padanya dan Kao. Dowoon baru sadar, berat yang ia bawa bersama derap saat menuju kafe telah buyar sejalan percakapan mereka. Penat yang mengganggu napasnya tak lagi mengganjal. Kalau saja ia bisa meraih sisi wajah Kei, mencubit kedua pipinya yang menggembung kesal.

Oppa, anak ini sassaeng fan Momo nechan.”

“Oi oi…. aku tidak separah itu. Dowoon-sshi jangan percaya apa kata Kei.”

“Tidak tidak. Aku tidak akan membiarkanmu dekat-dekat Momo nechan.” Kei hendak merengut tiket dari tangan Kao, tapi terlambat. Laki-laki itu lebih sigap menghindari siasat Kei.

“Dowoon-sshi sampai ketemu lagi. Aku akan menepati janjiku tentu saja. Bye,” ujar Kao buru-buru, membungkuk singkat lantas berlalu pergi begitu saja.  Rahang Kei mengendur, mengawang bungkam tampak takjub dengan tingkah temannya sendiri.

“Selera temanmu cukup unik,” ujar Dowoon. Mengganti perhatian Kei kembali padanya.

Gadis itu melenguh napas. “Aku ini korban. Saking uniknya anak itu, ia tidak punya teman lain.” Keluh Kei, terdengar meratap. Dowoon mengulum senyum. “Oppa tidak jadi pesan waffle?”

“O-oh. Tentu saja. Kau sudah…. ehm…. sebelum kesini apa kalian tadi sudah….” Kata-kata yang mengulur lagi-lagi terasa tersendat di pangkal lidah.

“Belum. Aku belum makan malam. Oppa juga kan?”

Dowoon mengangguk, berharap penerangan cafe tidak membuat kedua pipi yang terasa lebih hangat tersorot jelas.

Eonnie satu waffle dan satu pancake!” Kei berujar pada si penjaga kasir yang segera mengiyakan. “Oppa, aku ke dapur sebentar, minta izin Ryu Ho oppa. Duluan saja, pilih tempat duduk yang nyaman.”

Kedua sudut bibirnya lagi-lagi tak bisa berhenti merekah. Bahkan saat Kei berputar menuju pintu lain di sisi ruangan yang sepertinya adalah pintu dapur.

Syukurlah, hari ini bukan hari dimana ia terpaksa menenggelamkan perasaannya.

==

notes:

. garing ya?

. maaf, kalo abis ujian idenya melompong

. bonus deh bonus, foto imutnya Kao

. ati-ati kepincut

kao

Advertisements

2 Replies to “Boy Friend”

  1. Ah, sudahlah Bur Kang Ijo, gak usah sok galau. Dalam hati senengkan Max gak berkeliaran /diterjang/

    Itu awal-awal Sung Jin udah mau meletup aja, disodorin kegalauan ketiga member yang nasib percintaannya gak semulus paha atas ayam kfc.Ah, mestinya Sung Jin ngertilah, toh dia juga kisah cintanya begitu. Duh, Jae, kabar selingkuhan Nari udah nyampe ke kuping ya? Makanya, kalau lagi kangen itu pacar ditelepon, jangan dianggurin langsung disergap laletkan. Terus, Dowoon……sok tegar sih. Kemaren di radio bilangnya cuma punya fans dan sekarang uring-uringan mikirin status wkwkwk

    “Kau juga jadi korban patah hati, ya? Maaf mungkin hyung-hyungmu ini membawa peruntungan buruk.” YA ALLAH NGAKAK Ini mungkin para hyungsdeul perlu mencoba peruntungan di air, jangan di darat mulu. Coba ketik REG(spasi)Air kirim ke 7288 ya /duagh!/

    Tapi ya dowoon, itu–ehm, si Kao juga sayang kalau dilewatin. Harusnya kamu nanti dulu minta kepastiannya, biarin Kei bersenang-senang dengan cogan-banyak-ngomong-itu tapi kalau bicara hati, ya udah sih ya. Semakin ditahan semakin pengen meledakkan kan ya.

    CIEEEEE ngasih tiketnya langsung to the point gitu. Boleh banget nyalinya haha, pake ngomong di depan Kei segala lagi. Nih si Briagadir harus nyontoh maknae kesayangannya ini nih kalau mau sukses dalam hal percintaan. Tapi ya allhamdulilah ya dowoon, patah hati sama galaunya ditunda dulu karena emang belum takdir kena orang ketiga HAHAHAHA siap-siap aja, siapa tahu ntar emaknya Kei kesambet pengen masukin para daun muda *uHuuukpentagon!uhuuk*

    Okelah, makasih fiksinya Li!! Kemarin emang lagi butuh penceraahan terus kamu publish wkwkwk ditunggu kelanjutan pasangan cimit ini bareng orang ketiga!! /dirajam dowoon/

    Like

  2. duo unyu ini emang hobinya bikin orang gemes pengen bawa pulang ke rumah duh sini cubit pipinya dulu ❤
    asli ngakak ngebayangin pas sungjin liat trio jae, brian, dowoon lagi lemes lunglai letih diakibatkan efek samping hati yang dilanda kegalauan eaaaaaa. anak day6 kena virus galau semua, tinggal wonpil aja nih yang belum /lirik lirik nad biar wonpil dinistain juga/ wkwkwk
    “Tapi menelan kemungkinan terburuk lebih baik dari pada berdiam diri dengan usaha kosong.”
    hmm, sungjin udah pengalaman banget ya wkwkwk sekali patah hati sekali digantungin. dan ini pas sungjin ngelirik brian aku juga berasa ikutan melototin brian wkwk DENGERIN TUH BRI DENGER YA!
    asik ada daun muda baru uhuk kao uhuk temen apa temen nih hohoho dowoon kamu harus ambil langkah pasti cepetan gandeng tangan kei trus tentuin arah mau dibawa kemana hubungan kitaaaa /kemudian karaokean mendadak/
    oya, kao, jangan lupa ajak kei ke konser ya, biar kamu bisa ketemu momo trus dowoon sama kei bisa ketemu juga ❤
    ps: ryu ho, situ udah berumur jgn godain anak anak doang kerjaannya, sendirinya masih sendiri, buruan cari calon istri mas!

    Like

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s