Changing Lane

changing lane

Han Rami (OC) – Choi Seungcheol (Seventeen) //

Han Rami (OC) – Shownu (Monsta X)

..

..

sky.l

..

..

“Running away won’t last forever.”

April 20th 2016

GS25 Mini Mart

Nonhyeon-ro dong, Gangnam-gu, Seoul

6:58 PM KST

Hukuman semesta memang tidak terhindar. Detik ia menyalakan datar televisi, tayang acara musik menampilkan wajah orang yang paling ia hindari tepat saat tatap menumpu. Melucutinya, tuding kesalahan hingga titik darah penghabisan. Kejam memang.

Berdiam diri meskipun gaung televisi ia padamkan tidak membuat hati tenang seketika. Melarikan diri dari kurung petak sarang membuat bersalah sedikit menyusut, setidaknya. Segala cara menghindar ia jurus, bahkan pergi ke mini mart yang agak jauh dari tempat biasa karena ia tidak ingin konyol takdir membuat ketidak sengajaan dramatisir. Ia tidak akan semudah itu menyerah pada cemooh semesta. Simpan amunisi masih bertumpuk.

Tiga cup ramen instan mau tidak mau menjadi korban pelampiasan. Perut penuh tidak pernah salah dalam situasi begini. Seberapa persen dirinya merasa lebih baik. Dingin cola yang menerjang perasa menyegarkan kepala yang meletup-letup jam sebelumnya.

“Woaaah, aku baru tahu noona seahli ini melarikan diri,” berat husky di belakang punggung hampir membuat cola yang menyusup kerongkong mengalih jalur. Tidak tahu etika sekali memang manusia satu ini.

“Kau hampir membuatku tersedak, bodoh!” sengitnya, setengah berteriak. Seorang pelanggan yang hendak mengambil sesuatu dari pendingin tampak terkejut, mengirim picing terganggu ke arahnya.

Anak itu lantas terkekeh, alih-alih tersinggung. “Begini ya orang patah hati?” kening mengernyit menelusur cup kosong yang ditumpuk bersama di sisi botol cola. Lidah berdecak cemooh.

“Berisik. Kata siapa aku patah hati? Sok tahu,” tangkis Rami, menyiku sisi lengan Vernon. Melenguh rendah, mimiknya sarat canda. Diteguk kembali seperempat sisa cola yang terhenti karena tamu tak diharap menghampiri. “Kenapa jauh-jauh kesini? Di dekat dormmu kan ada mini mart lain.”

“Mereka kehabisan stok sabun paling besar. Karena sudah benar-benar habis aku terpaksa kesini, Dino juga ke mini mart lain mencari pasta gigi,” jelas Vernon, setengah meratapi nasib. Tentu saja, derita yang termuda tiap kali urusan beranjak dari sarang. “Sudah lihat teaser comeback kami? Ah… pasti tidak ya. Noona kan sibuk liburan.”

“Tch, bahkan walaupun aku tidak ingin lihat, entah kenapa takdir mengolok-olokku dengan berbagai cara. Begitu menyalakan teve mukamu yang langsung terpampang,” keluh Rami, botol kosong tak bersisa tetes ia remuk. Vernon di sisinya tertawa. Menambah cemooh yang sudah cukup ia terima.

“Woah… hokimu buruk sekali,” ujarnya, bahkan sambil memukul-mukul dingin meja besi di hadap. Merespon berlebihan. “Omong-omong sampai kapan noona cuti? Er… kudengar noona mengajukan pindah tugas, benar?”

Rami melirik sejenak, meraih limbah hasil nafsunya mengarah pada tempat sampah di pojok bawah meja. “Kau pikir aku setidak tahu malu itu setelah apa yang kuperbuat pada leader kesayanganmu?” lenguh berat napas menguar. Selalu berat menutur penjelasan. Mungkin jika orang lain yang bertanya, sejuta alasan ia lontar. Namun Vernon pantas tahu perkara di balik pelariannya. “Masih banyak yang bisa menggantikanku lagi pula. Aku juga mengorbankan diri menerima tawaran itu.”

“Tawaran?” bibir bodohnya kelepasan. Terlalu banyak informasi. Mau tak mau ia menerus penjelas.

“Ugh… too much information,” lenguh Rami, “you know that produce 101 project? Mereka mengirim beberapa perwakilan tim kreatif dari masing-masing agensi.” Vernon mengangguk, seulas sisi bibirnya tampak jelas meninggi. “Yeah right…. anyway I beg my uncle to let me be on it. So he did.

Kening Vernon melengkung ceruk, “Berarti, kita akan bertemu kalau mereka memulai promosi, begitu?” Rami curiga pertanyaan Vernon mengarah pada sesuatu, tapi bukan itu. Lebih seperti mengkonfirmasi bahwa ia akan berkeliaran di acara musik bersamaan dengan mereka. Tidak usah diingatkan, ia juga mengantisipasi.

Maybe, maybe not.” Sahut Rami. Tak terdengar meyakinakan, kepalanya sibuk merangkai rencana pelarian bahkan sebelum ia memulai tugas baru. Tapi peringatan sang paman masih menghantui, pihak yang mempekerjakannya sekarang bisa kapan saja menyuruhnya kembali jika ia bertingah tidak sesuai tugas dan tentu saja semua di luar kendali dari mana ia berasal. “I guess we will…. pretend you don’t know me then, please?”

Jeda cukup panjang Vernon cukup menanda ragu, “I will. Tapi aku tidak janji yang lain juga… mereka merindukan traktiranmu.” Kedua bahu mengendik. Hanya lenguh berat napas Rami yang menyahut. Memang sudah resiko dengan pilihan yang ia pijak. Tidak selamanya pula melarikan diri jadi jalan keluar yang menyelesaikan. Cepat atau lambat kenyataan di ujung jalan menanti.

Ponsel Rami meraung dari dasar kantung jaket, “Oh crap. I forgot. Talk to you later. Take care!” Panggilan masuk menggaung, menjadi tanda sekaligus alasan ia menyudahi percakapan. Vernon mengangguk, melambai singkat. Rami bergegas beranjak, melaju lekas memenuhi janji di ujung sambungan telepon.

Son Shownu calling…

 

**

 

Seventeen dorm

Nonhyeon-il dong, Gangnam

09:15 PM KST

 

“Kau mau bilang sesuatu?” tertangkap basah, curi tatap Vernon sedari tadi. Seungcheol mendongak, menubruk pandang lawan di seberang ruang yang sama-sama tengah menunggu gilaran pakai kamar mandi.

Yang ditanya justru tertatih gelagap menyahut jawab. Ia tidak ingin ikut ditengah pergulatan, namun kosong lamun yang kerap ia tangkap cukup membuatnya tak enak hati. Meski ia tak berjanji, tapi dirasa bukan tempatnya memberi penjelasan. Pertimbangannya kini hanya menghindar kejadian canggung bila nanti dua pasang manusia itu di permainkan nasib; mau tak mau saling bertemu wajah kembali.

Hyung….” suaranya lirih, berharap tak membesarkan perkara yang ada. “Hyung tahu kan kalau Rami noona pindah tugas? Sementara.” Keterangan terakhir ia ucap lebih seperti bisik.

Tak ada respon spesifik dari sisi pandang. Wajah Seungcheol datar tak berubah. Mungkin laki-laki itu sudah lelah meratapi romansa yang terbang diam-diam keluar jendela lantas tak ada tali peraih lagi yang tampak; tak ada harapan.

“Hansol Chwe! Chwe! Chwe~ aku sudah selesai…” Seungkwan keluar dengan handuk dikibas pada rambut basah. “Eoh… kalian habis bicara sesuatu? Kenapa serius sekali?”

“Tidak,” senyum mengulas singkat, “aku hanya mengingatkan Vernon untuk mengecek lagi barang-barang yang sudah ia pak. Besok truk yang mengangkut datang pagi-pagi sekali.”

“Ah… ya, tentu.” Angguk kaku Vernon. Seungkwan kemudian mengambil alih, bertanya soal tempat baru mereka sebelum kepindahan esok hari sesuai tutur Seungcheol. Ia teringat, ia tak menyampaikan pada Rami bahwa mereka juga akan pindah, cukup jauh.

**

Rami’s new place

Yongsan-gu, Seoul

08:33 PM KST

 

“Ini yang terakhir?” Tanya Rami begitu Shownu menyembul dari sudut lorong membawa satu boks polos dalam dekap.

“Barang-barangmu cuma segini?” Shownu mengekor melewati pintu setelah Rami masuk. Ruang tengah kosong dengan beberapa boks sama yang sudah terbuka beberapa, isinya berserak di lantai; majalah, album, perangkat elektronik, beberapa baju dan yang nampaknya seperti pakaian dalam.

Rami mengangguk, “Aku tidak suka menumpuk barang. Hampir setengah sisanya kusumbang atau kujual. Pakaianku juga banyak yang di rumah paman.” Kamar kosong di kediaman pamannya itu lebih seperti lemari pribadi tempat ia menitip barang-barang yang hanya dipakai sekilas untuk acara tertentu atau tumpukan bawaannya dari New York dulu. “Terima kasih, sudah mau repot-repot. Bayaranya kapan-kapan saja ya.” Rami bersandar lepas pada sofa yang masih dibalut bungkusan plastik.

Shownu terkekeh. Bersandar dinding, kedua kaki berselonjor lantai. Menggeleng memandangi barang-barang tak tentu, malas disentuh sang pemilik yang kehilangan hasrat merapikan.

“Maaf aku tidak bisa bantu menata. Setelah ini masih ada latihan.” Malaikat penolong satu ini tidak pernah setengah hati membantu Rami, sudah bersedia menguras tenaga cukup meringan sisa pekerjaan yang harus ia tatani.

“Tidak masalah. Masih ada waktu sampai lusa sebelum aku mulai bekerja,” Rami meraih kantung belanjaan, mengeluarkan minuman dingin yang sempat ia beli di mini mart sekitar. Ia ikut mengambil kosong samping Shownu, sembari memberi botol dingin di genggam.

Shownu meneguk sekali. “Benar-benar pindah juga akhirnya.” Gadis di sebelahnya melakukan hal yang sama. Tampak enggan memberi tanggap panjang.

“Akan lebih banyak pekerjaan. Setidaknya….” tak ada lanjut kalimat bersama jeda. Kepalanya menoleh, tatap berharap Shownu mengerti meski tak diucapkan seluruhnya.

Tidak pernah gagal, ulas bibir dengan pipi meninggi dan garis mata yang berhasil membuat Rami merasa sedikit relaks. Entah ada sihir apa dibaliknya. “Kau tahu, melarikan diri tidak akan bertahan selamanya.” Jemari di sisi tangan menyusup genggam Rami. Simbolis sekedar, seoalah Shownu membagi semangat yang surut dari gadis itu.

“Aku tahu. Aku memang pengecut.” Tangan meremas genggam Shownu. Enggan melonggar, takut bila terlepas lantas tinggal dirinya tak berpegang. Kepalanya jatuh ke sisi pundak Shownu. “Oppa….”

“Hmm….?” Sisi kepala Shownu bersandar ringan pada puncak kepala Rami.

“Maaf. Aku juga sayang oppa.” Berat hembus napas Rami terngiang. Belum selesai rasa bersalahnya pada satu orang, ia membubuhi hal yang sama pada manusia setengah malaikat di sisinya.

“Aku tahu.” Jawab Shownu, mengecup singkat puncak kepala Rami.

==

notes:

. Rami ngungsi ke YMC bersama neng neng IOI

. Jadi mereka sama-sama pindah

. RamixShownu =….. rahasia

. ciao~

Advertisements

One Reply to “Changing Lane”

  1. Emang kalau jodoh gak kemanakan Li *kedipkedip* ini mungkin emang udah jalan Tuhan buat ngasih kesempatan Seungcheol lagi tapi diliat dari judulnya, duh. Kayaknya udah gak ada harapan lagi buat doi.

    Harusnya paman Hanra ini ngubungi supplier sabun stok besar khusus buat Seventeen biar mereka gak repot gitu wkwk, kesian amat harus pergi jauh-jauh demi dapetin peralatan rumahan. Tapi ada untungnya sih, bisa ketemu Hanra yang lagi melarikan diri dari kenyataan.

    “Berarti, kita akan bertemu kalau mereka memulai promosi, begitu?”
    Curiga ini aku. Amibigu sangat omongan vernon ini. Jangan-jangan ada udang di balik batu. Vernon mau ketemu sama ehem kan?!! HAYOOOLOH ngakuuu

    “mereka merindukan traktiranmu.” Ini semacam kurang ajar gak si Li. Malah traktiran dirinduin, bukan orangnya. Ngomong juga langsung nyembur aja tanpa filter. Maunya apa sih ini bocah?

    WEEESH scene setelahnya langsung disodorin SHOWMETHESHOWNU hahaha langsung manis-manis gitu kan. Hanra, ini manggil Shownu karena cari kesempatan atau emang kamu gak ada duit buat manggil petugas pindahan? Bisaa bisa banget.

    “Maaf. Aku juga sayang oppa.”
    KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA AMPUN AMPUUUN akhirnya, terucap juga. Terus terus terus itu ciuman di dahi /berbusa/ /menggelinjang/ Ini dibuat kejang-kejang sendiri menyentuh garis akhir cerita. Ya udahlahnya, ada yang tamvan di depan mata ngapain di belakang ditoleh, kan. Ambil aja yang ada, nikmatin dulu, sedot sampe habis /sesat/ /jangan dengerin Hanra-ya/ /reader bacot/

    Intinya, puas sudah hati ini dengan fiksi ini. Meski hubungan mereka belum dideklarasikan secara jelas yang penting ada sebagian ucap sama gerak mengarah ke sana hihiy. Makasih fiksinya li! ditunggu kelanjutan SHOWMETHESHOWNUxHANRA lain~

    Like

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s