Single, No?

single no

Im Nari (OC)  – Park Jaehyung (DAY6)

..

..

sky.l

..

..

“Barusan aku bertemu Nari. Bersama seseorang. Kalian baik-baik saja, kan?”

April 12nd 2016

Dongguk University Cafetaria

12:23 PM KST

 

Sunbae punya pacar?” gerak suap mengatung. Nari mendongak. Semakin hari orang-orang semakin tidak paham sekali apa yang disebut privasi. Sejauh ini mereka belum terbilang cukup dekat untuk saling melucut pertanyaan sensitif. Seperti yang barusan terlontar.

Sensitif bagi Nari karena terlalu sulit menimbang jawaban. Jika ia jawab punya, maka ekor pertanyaan selanjutnya semakin rumit untuk dijelaskan. Lantas kalau bilang tidak, dusta sekali, tentu saja.

“Kenapa memangnya?” sahut Nari, mengorek alasan pertanyaan tersebut sebelum lekas menjawab.

Hye In –adik kelas yang beberapa waktu terus menggelayuti Nari- terkekeh malu. “Aku juga tidak punya. Sedih ya? Musim semi begini hanya jadi penonton pasangan-pasangan.” Tahu-tahu saja, Hye In menarik kesimpulan dari enggan menggamblang jawaban Nari sebagai tidak. Ya sudahlah, bukan masalah. Dia tidak mengucap bohong dari kerongkongan sendiri, setidaknya.

Getir senyum kaku mengulas singkat. Ingin segera menyeret pembicaraan lain yang tidak menyinggung perihal pasangan. Tapi, sedikit sisi dirinya membenarkan perkataan Hye In. Awal semester dengan semburat merah muda di sana sini, pasangan tidak peduli sekitar berserakan, piknik ala kadar saat jam makan siang di pekarangan kampus beralas seadanya, benar-benar tidak tenggang rasa pada orang-orang bernasib seperti Hye In.

Tahun lalu Nari bahkan tidak peduli dengan musim semi dan segala hawa romantis yang berjingkrak memenuhi. Ia terlalu sibuk meratapi hubungan tidak tentunya dengan bocah Yejun sialan itu. Alih-alih menikmati mekar bunga ceri, siang malam saja bagai tak berdurasi.

Masih ada dua mata kuliah lagi selepas makan siang, Nari sudah gatal ingin segera pulang mengurai lelah. Ah… sudah lama ia tidak bertandang temu Reo. Kembali ke kampus benar-benar merengut masa muda.

Sunbae, ehm…. ada seseorang yang minta dikenalkan denganmu.” Hye In menyeret jarak, seperti akan mengumbar rahasia penting. “Bagaimana kalau kita blind date?

Mata mengerjap, mencari konfirmasi bahwa yang barusan dilontarkan bukan sekedar canda. Sunggahan, nampaknya. Benar, kan? Susah sekali menjawab, bohong pun tidak akan terdengar meyakinkan.

Begini ternyata, mengencani seseorang dengan pentingnya penggambaran publik.

**

Hongdae, Seoul

6:55 PM KST

 

“Kenapa tidak kau terima?”

Otot mata bermain rotasi, jelas meretoris pertanyaan Reo yang tak perlu ditutur. Ia menjalin hubungan dengan sebangsa tidak tahu diri macam Yejun, bukan berarti ia lantas mengikut langkah serupa. Tidak bermoral sekali. Tapi mengingat Reo juga satu dari sejumput lingkar Yejun, Nari tak menggamblang ucapan di ujung lidah.

Alih-alih ia berkata, “Selingkuh begitu?”

Reo mendesau cukup keras. “Jalan dengan seseorang berdua hanya karena sedang musim semi bukan berarti kalian berhubungan. It’s a mere spring fling.”

“Setauku fling hanya ada saat summer, bukan saat spring.” cecar Nari, defensif pada pendirian, menolak tawaran Hye In.

Tidak terhitung selingkuh memang. Tapi mengulur ujung lain saat jelas-jelas ada ikatan yang tengah melingkar tetap terdengar curang bagi Nari. Lagi pula tidak mungkin dia menghadap pasangan di ujung satunya lantas bertutur, ‘Hei aku akan kencan dengan seseorang. Karena sekarang sedang musim semi dan kau jelas-jelas tidak bisa melakukannya karena kau publik figur.’ Hatinya memang sedikit kelam, tapi tidak sampai hati demikian.

C’mon, just try it. Nobody know, right?” Reo menarik gelas kosong dari lingkar genggamnya.

“Kau tahu,” dengus Nari. Racau hasut Reo terdengar masuk akal setelah tiga gelas Bourbon lolos ke dalam cerna.

I won’t tell a soul. I promise.” Jari terakhir dari deret Reo sodor. “Nikmati masa mudamu nona. Kemana Nari yang benci dengan rutinitas membosankan?”

Kemana? Ditelan omong kosong perihal tanggung jawab sebagai orang dewasa. Dunia ini benar-benar pandai mereka sandiwara bak opera sabun, semuak apapun tetap harus ia perankan. Ironis sekali.

Take a chance. This one’s on me.” Reo mendorong gelas yang kini terisi di hadap lipat tangannya, mata kiri mengerling singkat lantas berpindah ke sisi lain bar mencari racauan pelanggan lain untuk diramui.

Spring fling?

**

April 7th 2016

00:48 AM KST

“Kau mau tetap mengaku?” Brian bukan macam yang mengusik masalah orang lain. Namun kali ini rasanya ia berhak menyampaikan apa yang dirasanya bukan perihal kecil.

You know I can’t lie man.” genggam Jae pada kaleng cola semakin keras.

Naskah pertanyaan dari acara radio yang akan mereka hadiri membawa singgung status hubungan. Tentu saja Brian paham pandang gusar, desau berat hembus napas Jae begitu membaca naskah kemudian memutuskan keluar studio berdalih butuh membeli sesuatu di mini mart.

“Kau tahu apa yang akan terjadi. Nari juga pasti mengerti.” Brian mengusung prihatan bersama tatap. Namun tetap saja hal tersebut bukan sesuatu yang beranjak begitu saja dari kepala Jae.

But she’s not a fan. Nobody know her.” Tetap saja Jae mengorek alasan yang menguak entah dari mana.

Sooner or later everyone will. Kau tahu istilah lebih baik mencegah dari pada memperbaiki?” Brian mengeluarkan ponsel dari dasar saku, mendorong benda tersebut ke hadap Jae. “Jelaskan saja pada Nari. Dia pasti mengerti.”

Jae menggeleng. “I won’t tell her. She’s not gonna listen to that radio anyway.”

Brian lantas mengendik. “Terserahmu. We’re cool? I tell Sungjin you won’t spill it tomorrow.” Ia bangkit, beranjak sembari menepuk pundak Jae sebelum berderap ke arah dorm.

Semoga saja, pikir Jae, lagi pula Nari tidak pernah tahu tindak tanduk atau apapun yang ia lakukan selama waktu sibuk.

**

April 13rd 2016

Myeon-dong, Jung-gu, Seoul

03:57 PM KST

 

Sunbae, tahu Day6?” Hye In mengulurkan ujung lain haedset pada Nari.

“O-oh? Sepertinya pernah dengar.” Nari meraih sodoran Hye In, berharap gadis itu tidak menangkap lakon payahnya barusan. Hye In menunjukkan rekam acara radio. Lima orang yang sebenarnya ia kenal, tengah menyanyikan sebuah lagu yang rupanya lagu favorit Hye In. “Bagus.” komentar Nari, bertingkah selayaknya ia tak mengenal namun cukup merasa terkesan.

“Oh! Oppa!” Hye In tiba-tiba berdiri, menghampiri seorang laki-laki yang baru saja masuk lingkup kedai. Laki-laki itu balas melambai menuju arah Hye In.

Jemari Nari menekan layar ponsel Hye In, berniat menutup tayang yang bermain, tapi yang ada video tersebut malah memutar durasi awal bincang-bincang.

“Tapi aku tidak punya pacar.” Meskipun Nari tidak melihat siapa yang baru saja berkata, ia kelewat hapal pemilik suara barusan. Satu dari banyak alasan ia tidak pernah mau hadir atau sekedar mengikut jejak penampilan Jae.

Nari tahu, tidak mungkin menguak hubungan mereka sementara kebanyakan penggemar jelas tidak akan menerima begitu saja apalagi mereka tengah membangun nama di wajah publik. Tapi, tetap saja kali ia benar-benar mendengar apa yang ia hindari, sesuatu kasat seperti baru saja meneriaki telinganya dengan sejuta cemooh.

“Im Nari?” panggil namanya membuat Nari mendongak. Laki-laki yang tadi Hye In sapa berdiri tepat di hadapnya. Ulas bibir laki-laki tersebut merekah, sementara Nari merasa tak mengenal ramah yang dipampang padanya.

Sunbae, ini Jun won oppa. Kakakku.” Hye In memperkenalkan laki-laki disampingnya yang segera mengulurkan jabat. Nari mau tidak mau bangkit menyambung sodoran.

Sekilas ekor pandang Nari mengarah pada Hye In, meminta penjelasan kejadian mendadak tak berintruksi yang terlalu kebetulan tanpa bermain skenario. Hye In malah terkekeh.

“Maaf, lagi pula Jun won oppa memaksa. Dulu kalian pernah satu kelas, iya kan oppa?”

Jun won –masih dengan rekah bibir yang membuat Nari agak seram- mengangguk. “Dulu, kita pernah mengambil beberapa mata kuliah yang sama.”

Sunbae tidak punya pacar ‘kan?” lagi-lagi pertanyaan itu, “bagaimana kalau akhir pekan nanti kita double date. Oppa tidak keberatan ‘kan?”

Hye In bertanya seolah keputusan Nari dalam percakapan ini tidak terhitung krusial. Jun won yang duduk di sebelah Hye In menanggap dengan seulas senyum ragu sementara tatapnya menangkap wajah Nari yang jelas mengernyit.

“Ok, call!”

Belum sempat keberatan Nari bersuara, sepihak Hye in mendeklarasi rencananya dengan acungan cangkir berisi cappuccino yang telah separuh dingin. Jun won menggeleng dengan ceruk dahi keheranan persis Nari dan bibir yang diam-diam merapal ‘maaf’.

Oh, terserahlah.

Lagi pula bagi dunia luar, ia tak punya pasangan.

==

ta2

notes :

. karena pengganggu satu hilang, tumbuh yang lainnya hiahahaha

. kenalin, itu junwon, ehem ehem Nari selanjutnya

. semoga Jae kuat ya

Advertisements

One Reply to “Single, No?”

  1. DISUGUHIN BEGINIAN. SENENG BANGET AKU LI /ditendang Jae/ Da da Jae, Nari ada mainan baru lagi wkwkwk tamvan dan dewasa lagi cihuy~! Itu Hye Mi seenak pantat aja main bilang gak ada pacar, emangnya kalau bocah itu suka begitu gak mikir /lah malah sewot/ tapi makasih Hye Mi, berkat anda Nari ada bahan buat cemburuin Ayamnya HAHAHA mana Reo juga ikut manas-manasin, ih dia jangan-jangan emang ngiler sama Jae kali ya-_-

    Tapi ya Jae, itu kalimat Briagadir sakti juga sampe doi gak jadi bikin perang dunia ketiga di dunia perfandoman Sunday wkwk bisa banget bicara bijak, giliran sama Max keder, bisanya nolak mulu. Kurang asem emang

    PENASARAN LI BESOK LANJUT GAK MAU TAHU /disepak Lia/ Pengen tahu gimana reaksi Jae lagi, atau jangan-jangan dia malah lepasin Nari lagi :O GAK GAK BOLEEEEH okelah, aku siap menerima angst tapi hahaha ditunggu kelanjutannya Li!!!

    Makasih!

    Liked by 1 person

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s