I’m Fine. So Are You.

bare

Han Rami (OC) – Choi Seungcheol (Seventeen) //

Han Rami (OC) – Shownu (Monsta X)

..

..

sky.l

..

..

“Despite your best efforts, people are going to be hurt when it’s time for them to be hurt.”

-Haruki Murakami, Norwegian Wood

March 2016, Mapo-gu, Seoul 

5:56 PM KST

“Cuti? Seriously?”

Gadis dengan legam mata coklat benderang di bawah siram matahari petang memicing ke arahnya. Tak menggubris panjang lebar penjelasan beberapa menit lalu. Padahal ia sungguh-sungguh mengatakan yang sebenarnya.

Desau napasnya dibuat berlebihan, “He gave me days off since…. that old bastard-” denyut penat  masih terasa keras tiap kali kepalanya mengingat hal yang sama, “well you know. He feels sorry so he told me to take some days off.

Somi -masih memicing mata bertambah satu alis mencuat tinggi- tak yakin. Tidak ada catatan sejarah dimana laki-laki paruh baya penopang hidup Rami itu mau memberi toleransi terhadap waktu kerja, bahkan pada keponakan satu-satunya sendiri. Lagipula tempat bekerjanya memang kecil dibanding perusahaan entertainment yang memayung segala langkah dalam kancah gemerlap Somi, belum lagi tanggung jawab segerombol grup baru yang jumlahnya tidak bisa dihitung jari tangan saja.

Good luck for your debut anyway,” memangkas pembicaraan, menghalu pada topik lain.

“Oh thanks. I actually made it! Told you,” benar saja, wajah mencurigai segera berganti senyum sumringah yang memenuhi seluruh wajah dara campuran di hadapnya.

Wait, have you made up your choice?”

Tidak sampai lima menit, Somi menggeret kembali pembicaraan sensitif yang malas disentuhnya. Ia mengerang pelan, merutuk wajah seolah tak berdosa di depan jarak pandang.

Alih-alih merapal jawaban, hanya kedua bahu terangkat dan wajah kosong yang terpeta.

**

Seventeen’s Practice Room

9:33 AM KST

From : Hanra

Aku cuti, sukses comeback kalian.

Pesan singkat itu tak bekurang pun bertambah semenjak sampai ke amplop elektronik benda pipih di tangannya  semalam. Tidak ada tambahan lain, tidak ada panggilan masuk -kemungkinan yang berbanding jutaan.

Kepalanya berhasil tak karuan sekarang. Rami pandai bersembunyi, apalagi menghilang tak berjejak seperti lenyap eksistensi dari lingkaran sekitar. Cuti? Gadis itu memiliki waktu tak berbatas hingga kapan ia akan menampakkan batang hidung. Sama sekali tidak, mungkin.

Bohong sekali kalau ia tidak ingin segera angkat kaki, mencari gadis itu mengabai tanggungan tugas. Tapi kontrak yang menyegel perjanjian bukan hanya carik kertas yang bisa dilanggar tanpa konsekuensi. Egois hasrat diri mencampak kepala-kepala lain yang bernasib sama bukan hal mudah.

Ia selalu berhati-hati menunggu gadis itu sampai pada pijakan akhir. Tapi entah hanya firasat atau memang realita tersirat, gadis itu tidak tampak melangkah pada jalan yang ia pikir sama-sama mereka langkahi.

Berhenti melangkahkah? Enggan sampai kah? Hanya Rami yang tahu pasti jawaban tak bertaksir demikian.

Dicemooh bodoh berpuluh kali pun keputusannya tetap sama, diam tak bergerak sembari berdoa gadis itu kembali menyusuri langkah yang sama dengannya.

To: Hanra

Begitu ya? Kalau tidak sibuk

Jemari berhenti mendarat. Layar pandang pesan singkat lamat-lamat ia jamah, tak yakin apakah gadis yang ia kirimi pesan akan bersedia seperti perkiraannya. Kalau pun ditolak… ya sudahlah.

Begitu ya? Kalau tidak sibuk, bisa tidak kita bertemu nanti malam? Di kedai biasa.

Tombol ‘kirim’ yang ditekan terasa seperti hatinya yang tergerus, gusar tak menentu.

 Berlebihan memang, tapi ia lebih gelisah dari pada ketika harus menghadap paman Rami. Kenapa selalu saja ada batas yang tahu-tahu dibentang tak berancang. Sebegitu sulit membuat gadis itu sadar, sekedar mengarah tungkai berderap mengarah dirinya.

From: Hanra

Oh. Kutunggu jam 8. 

Entah dirinya siap atau tidak, menerima tolak mentah, ambigu keadaan, bahkan halau jauh. Lantas, ia malah merasa pertemuan nanti adalah ide buruk. Malam petaka tak diraih yang menerjang, mungkin. Sial, Seungcheol merasa baru saja memproses akhir hayat sendiri.

**

Exactly a month ago.

Rami merasa bodoh,

Tahu begini harusnya ia tolak saja. Tapi otaknya berkhianat, lekas membalas surel lantas mengiyakan ajak temu. Ia hanya ingin memastikan, perasaan lima tahun kemarin apa masih tak bergerak mundur. Lucu saja, ia dideportasi kembali ke tanah kelahiran sebab keras kepala mengikut langkah laki-laki itu.

Seperti baru hitung hari sejak hari pertama ia sampai di Seoul, air mata tak berhenti mengguyur pelupuk. Lagi-lagi sebab laki-laki itu.

“Nat.”

Sepasang siram hazelnut yang lama absen dari pandang hampir tiga tahun belakang membuat emosinya mengguyur deras seperti badai tak berperingat. Tiba-tiba dan lebat. Desir bergelanyar terasa kentara, seberapa otak berdikte, hati tak ulung berdusta memang. Ah… ia ingat, betapa lelah mencurah perasaan segenap.

Hi. How’s life?”

Paruh-paruh bibir melejit jauhi datar, “I’m fine. So are you, it looks like.” Baik-baik saja? Dunianya? Perasaan? Kepala? Dibagian mana yang terasa tidak menghentak. Ah… peduli apa laki-laki ini meski seluruh miliknya ia limpah demi menggapai sosok tersebut.

Yeah… I amI guess Sophie is a great impact, isn’t she?” Kapan lagi masam perkatan bisa diucap langsung tepat sasaran. Salahnya, laki-laki itu tidak merasa terhenyak sidndir. Rona membuncah wajah, tersipu akan imaji yang bermain atas nama perempuan yang Rami sebut.

Wah, benar-benar tak berhati, brengsek.

Glad you and Sophie are fine,” harus mencari serang lain. Kenapa ia baru sadar, laki-laki ini busuk. Setelah banyak hal ia lakukan atas perasaan tak berdasar tak berjelas yang mengungkungnya masa menengah waktu itu, Tim lebih memilih gadis manja dan merepotkan macam Sophie meski tahu jelas Sophie adalah satu dari antek-antek kelompok yang paling Rami benci dulu. Ada persaingan kasat antar mereka.

Mencurah perasaan, pada satu sosok dan menggantungkan hati disana adalah kesalahan paling bodoh yang pernah ia toreh. Menanti rasa itu berbalas bahkan lebih tak rasional. Melelahkan diri yang terhalang segala jalan hasil blokade omong kosong perasaan mengatas namakan cinta. Romansa konyol.

So you’re not going to collage and work for your uncle instead?” Tim meneruskan percakapan, benar-benar buta akan munafik yang Rami pasang disetiap kalimat yang berhambur.

I work in showbiz. It’s a fun job,” sambil lalu menjawab, membumbui sejumput lakon angkuh.

Good for you. I heard you even found someone,” bibir si brengsek itu tersenyum. Tersenyum?! Benar-benar tak berperasaan sekali. Budaya barat atau pun apalah itu alasan kosong, memainkan hati wanita dan bertingkah seolah tak berdosa, tidak pernah akan diterima dengan manis di belahan dunia bahkan planet manapun. Bisa-bisanya.

Rami terkekeh, bersit sarkasme ia tunjuk jelas, “Someone? To replace what you’ve done to me? Woah…. how proud you must be making a girl miserable and act like it’s nothing? Wow…. you really are something.” 

Tim mengerjap canggung, tak siap akan tembak serang tak bertanda.

W-what do you mean? I’m…. Nat what are you talking about?” Wajah Tim tampak kebingungan. Rami bahkan tak tahu laki-laki ini juga pandai mengusung sandiwara bahasa tubuh. Sempurna sekali rupanya.

You really don’t know?  I liked you! Why do you think I ran off to Greece,  grounded by my dad, even worse, he threw me up here! I liked you! ” Menahan gelegak emosi bukan satu dari hal yang ahli Rami lakukan. Berpasang-pasang pandang mengekor keduanya di dalam restoran tak ia ambil pikir. Bukan mereka yang dinomor duakan bahkan tak digubris perasaannya meski telah banyak jerih payah ia tetas kala itu.

Thank God I know what a jerk you are and move on with my live instead of bawling over someone like you.” Kedua telapak menghantak keras dingin meja berpelitur, menarik segala penjuru bertumpu atensi pada Rami. Iced Americano yang tak ia sentuh sejak mendarat di hadap dan hampir seluruh balok es lenyap segera tandas begitu gelas plastik transparan yang menampung ia raih dengan seluruh isi mengambur tepat ke wajah Tim. “Thanks for showing your true face and thanks for the lesson. Don’t ever call me again!”

Harusnya Tim tahu, macam apa watak keras Rami yang menahan dengki hingga begitu dalam dan memuntahkan segalanya dengan cara paling kekanakan dan memalukan yang bisa dilakukannya. Tak peduli tanggap sekitar.

Sayang, terlambat untuk menarik memori memperbaiki keadaan.

Rami mendorong segala simpanan yang ia tumpuk dua tahun ini dalam satu tarikan. Menyudahi lembar lalu yang bertoreh sedih tak berujung hanya karena rasa yang melumuri hati. Memilih perasaan, menyerah pada decak realita bukan sebuah jalan dengan akhir manis.

Belum terlambat, untuk tak mengulangi hal yang sama.

9a5b85cc652758e2c7b19049ee32c37f

 **

Garuso-gil, Seoul

7:48 PM KST

Tungkainya menurut, ikut tak bergerak begitu dua tatap menangkap apa yang bermain bak drama romansa. Namun bukannya malah merasa letup-letup menyenangkan, sesuatu tengah pecah seperti serpih kaca yang dihantam berat berlebih.

Penjelas panjang rasanya tak lagi dibutuhkan. Seungcheol memang tak berotak cemerlang, tapi apa yang terpampang menampakkan segala jawab pertanyaan yang terus berputar dalam kepala.

Apa guna meragu, terus menderap hanya untuk menyayat makin jauh gores yang baru saja merembes cair dalam diamnya atau berbalik meninggalkan apa yang tengah ia pertanyakaan seolah tak pernah ada jawab, demi penjelas yang akan sama saja keluar langsung dari mulut Rami sendiri.

Rami menyisihkan langkah maju dimana Seungcheol berdiri. Menggerak tungkai pada direksi lain. Namun Seungcheol berlaku tak tahu akan gaung derap yang jelas-jelas menjauh tersebut, berpikir hanya delusi menyusup pendengar hingga akhirnya derap itu tak lagi bersuara. Ia berdiri dalam kekosongan senyap.

Tahu apa dia tentang perasaan Rami? Sadar bahwa selama ini ia hanya mempermak angan bak kenyataan.

Tak ada rasa apapun untuknya. Tak ada balas tersedia baginya.

Seungcheol hanya opsi kasat mata.

Sedang Shownu, pilihan yang digenggam Rami.

Hatinya tahu, memutar tungkai menjejak arah berlawan adalah pertolongan pertama  yang Seungcheol butuhkan.

==

notes

. Rami got her revenge on her first love, Tim (and that damn hazel eyes she couldn’t forget before)

. Sorry, S.coups

. Sorry for everyone who wishes S.coupsxRami

. Well… this is not the end

. You never know what actually happen and how it’ll turn out….

Advertisements

2 Replies to “I’m Fine. So Are You.”

  1. YEAH SEUNGCHEOL SELAMAT YA JADI RUNNERUP PATAH HATI DI SEPEUNTEN HAHAHA /duagh!/

    Tapi seenggaknya joshy gak sendirian amat, bisalah curhat berdua. Sesama umur juga ye kan, jadi gampang nyambung.

    Aku gak sendirian yang balik-balik ngebawa angst Li, kamu juga 😥 mana seungcheol lebih parah, gak ada penjelasan sama sekali. Duh. Ya udahlah bang cheol, cari yang barulah plediz girls tuh pada banyak kan. Suruh Joshy juga godain Minkyung. Biar tentram hidup kalian.

    Mata Hazel tim..aku juga mau /ditendang Rami/ siapa yang bisa ngelupain mata seindah itu, ya kan. Tim, hubungi aku kalau dikau sudah single ya, aku siap nerima.

    HAAAAAAA berarti next cerita bang shonu muncul ya Li hihiy! Tapi iya, hati siapa tahu sih huahaha, barangkali ntar masih ada sisa tangga di hati rami terus perlahan dia bangun lagi /halah maunya sama siapa sih?!!/ /ya kalau bisa dua-duanya/ wkwkwk Aku belajar di manajemen 1+1 lebih baik daripada 2 NGAHAHAHA

    Makasih Li, keep writing!!

    Liked by 1 person

  2. ANJIR ANJIR ANJIR!!!
    INI KOK PADA ILANG SEMUA SIH, JOAN PINDAH, RAMI CUTI
    MBAK RAMI, NANTI JANE SIAPA YANG JAGAIN MBAK? HUEEEE /ah bacot/
    loh loh loh, ini… KENAPA NASIBNYA SEKOP SAMA KAYAK JOSH?! KENAPA INI SEPEUNTIN? KENAPA KENA VIRUS PHP SEMUA APA BEGIMANA? /ditampol
    duh sian ih sekop belom dapet jawaban udah melarikan diri… duh ini mas sekop sedi banget sih awal 2016 diwarnai warna kelam, bukannya berbunga2 mau musim semi….
    TAPI INI RAMI NTAR AMA JURAGAN MINYAK KAN? /om sonyu/ yah gak papa lah yang penting ada gaetan buat rami, biar masa2 cutinya lebih berwarna gitu ya??
    ah rami udah cowo brengsek gak usah diladenin, bawa aja rambutnya ke dukun terus minta dibikinin boneka voodoo biar kalo inget tinggal ditusuk2, enak itu effortless /gak
    Asik abis ini rami ama om juragan bensin ya? Boleh boleh lanjut liaaa

    Thanks!!
    All.want.candy

    Like

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s