Free Shoulder

comforting

Im Nari (OC) – Im Junhyeok

..

..

sky.l

..

..

 

Lolos panjang berat napas menjadi satu-satunya suara begitu jemari tak lagi menelusur susun panjang komentar –yang jika ia tahu siapa pemilik akun-akun dengan komentar pedas tersebut secara langsung, telapak dan kepal tangannya sudah berayun kesana kemari tak karuan.

Bundar dua jarum tak sama panjang yang bertempel dinding usang itu mengumbar sisa shift yang tinggal tertanggal menit. Ia tidak tahu rasanya dibombardir orang-orang tak dikenal yang menyerapah dari halus sampai kasar. Beruntung enam makhluk itu bukan santapan empuk media, tak banyak portal berita yang memanaskan suasana. Hanya beberapa.

“Hei,” sahutnya pada sambung di sisi lain telepon yang baru saja mendesak panggilan masuk. “Oppa bagaimana?”

Deseh berat terdengar, “Not so good, I think. Tidak apa kau mau datang selarut ini?”

Ia terkekeh, “Ini masih terlalu senja bagiku ketimbang dini hari.”

“Im Nari…”

“Iya iya bawel. Sampai ketemu, dah,” diputus percakapan sebelum merambah pada omel tak tentu arah yang sering Jae semprot belakangan.

“Mai, terima kasih. Maaf merepotkan,” disodor apron khusus pegawai pada Mai yang baru saja berderap masuk lingkup minimart.

Gadis itu tersenyum dan menggeleng pelan, “Tak masalah. Ganti waktu itu kau mau mengisi shiftku yang terlambat kemarin.”

Tas selempang disampir mantap pada bahu, lambai singkat ucap perpisahan sembari kaki membawa langkah cepat mendesak tujuan.

Ia berkali-kali mencoba meraih sambung panggilan Junhyeok, tapi tentu saja, ditolak. Atau entah sengaja dimatikan. Meminta Jae menuntut sambungnya dijawab pun terlalu merepotkan. Jae juga sepertinya tidak enak mengusik Junhyeok. Ia tahu persis kakaknya itu mengunci seluruh dunia di balik punggung kali waktu masalah menghempas. Kebiasan buruk yang tak pernah disisihkan.

Kunci pandang masih nanar pada satu nama yang tertera pada layar kontak. Ia ingin bertanya. Bukan karena ia berniat basa basi menanyakan kabar keadaan setelah beberapa bulan tak bertatap wajah. Tidak seperti biasa, ia ingin tahu. Apa yang sebenarnya berkelebat sebelum gadis itu pergi. Meski menurut terkaan intuisi, buruk. Apapun itu.

Hingga Junhyeok mencari celah lain, tak seperti pribadi sejatinya.

**

Ya,” lempeng pintu dihantam menjeblak, gadis itu memandang sengit tak peduli wajah kuyu yang keberatan terberkas jelas. “Kau mau melarikan diri ke Amerika lalu kau tidak mentraktirku sebelum pergi?”

“Masih tiga bulan lagi,” sahutnya, berniat mengusir tukang buat onar yang baru saja memaksa masuk, tapi percuma. Mengusir Nari lebih sulit dari pada mengusir tikus yang menyelinap dari loteng.

“Tidak mau tahu, kau harus mentraktirku,” ujar gadis itu, keras kepala seperti selalu.

Ia duduk diam, bersandar dinding tak berniat memindah satu senti tubuh bergeser kemana pun. Pandang saling menubruk, Nari berkacak pinggang. Ia paham bila hatinya diremuk apa yang harus ia lakukan, tapi jika hati Junhyeok yang berantakan apa yang bisa ia perbuat?

“Baiklah… kali ini aku yang traktir. Udon di ujung blok tetangga kudengar enak, bagaimana?” Nari menggoyang-goyangkan benda persegi panjang yang warnanya sudah tidak terlalu jelas disebut apa. “Bergerak sebelum kuseret.”

Ia menghela udara lamat-lamat, kalau seseorang berhak mendobrak pertahanannya, orang itu adalah Nari. Terlepas dari segala ulah dan kesusahan yang disodor akibat gadis itu. Nari membiarkannya masuk, setidaknya ia mencoba hal yang sama.

**

 

Nari menguras tiga porsi udon, beberapa botol soju tentu saja. Junhyeok cukup penuh hanya menonton sepupunya itu setelah mangkuk pertama.

“Woooah, aku baru tahu udon di tempat ini lumayah,” cecap bertebar diikut teguk soju.

“Habiskan kunyahanmu, berantakan,” gerutu Junhyeok, menyodor tissue dari saku ke hadap Nari yang menadas seperempat terakhir sisa porsi.

“Kau tahu Sena suka se—“

Belum selesai cecap di dalam mulut, ditelan bulat-bulat suap penuh udon yang menggumpal turun tenggorokan secara terpaksa. Bukan salah semesta, hanya mulut besar Nari yang susah jinak jika tidak ada yang mengingatkan verbal maupun dengan sedikit gertak di tempurung kepala.

Dipinggirkan sepasang sumpit dari sela tangan ke sisian mangkuk. Belum terasa cukup penuh, namun berkat bibir yang selalu seenaknya melambung kata-kata tak tahu tata pembicaraan, cukup tahu diri begitu Junhyeok tampak menghela napas kasar lantas hanya mengaduk-aduk sisa udon yang masih cukup banyak.

“Maaf, soal Sena. Aku tidak tahu….” Apa yang dia tidak tahu? Lucunya, ia tidak tahu apa yang barusan ia maksud.

“Kau ini lucu, saat tidak salah apa-apa malah minta maaf,” Junhyeok mendengus pelan, “giliran benar-benar harus minta maaf, kau keras kepala.”

Ya, hargai sedikit usahaku bersimpati, jarang-jarang aku bisa manis begini,” tangannya menghempas meja plastik kedai lumayan keras, membuat pasang mata di sekitar menoleh sesaat.

“Nah begini lebih enak. Kau tidak pura-pura manis,” Junhyeok menarik gelas bening mungil di samping mangkuk yang barusan dituangnya.

Nari berdecak cukup keras, “Aku serius. Aku tahu masalahmu dan fans kemarin. Bagaimana perasaanmu?”

Junhyeok menatap Nari diam, lantas meneguk isian gelas. Tak terlihat akan menyahuti pertanyaan Nari. Tak tertarik melilit diri dalam percakapan yang ingin ia singkirkan bahkan lupakan. Masalah yang ada sudah terkuak, mau diapakan pun tak ada arti lagi.

“Jadi, kau benar-benar pacaran dengan gadis yang digosipkan itu?” Nari gemas, tak peduli pertanyaan yang dilempar terlalu frontal.

“Mungkin. Kurasa.” Jawab Junhyeok, tak mengupas pembicaraan kearah yang Nari giring. Tentu saja, mereka kerabat, ahli menghindari percakapan seperti sudah jadi bawaan genetik.

“Beruntung kau tidak suka datang ke acara kami, sama sekali,” kekeh Junhyeok, sarkasme yang dituju memuji sebenarnya.

Nari mendengus, hidupnya terlalu sibuk dengan pekerjaan luntang lantung yang membuat 24 jam selalu terasa kurang panjang. Memfoya-foyakan waktu sekedar berdiri ditengah rombongan gadis yang meneriaki nama kekasihnya beserta lima orang laki-laki yang langsung bertransformasi 180 derajat dari penampakan harian yang biasa ia tahu tidak membuat rongga dompetnya terisi. Jika ia datang pun mungkin penggemar-penggemar mereka berpikir dirinya anti-fans, karena yang mungkin terjadi adalah Nari menertawai keenam laki-laki tersebut karena berusaha terlihat cool dari pada yang sesungguhnya ia kenal.

“Serius, kau benar-benar pacaran dengan penggemar Wonpil itu?”

Junhyeok menghela napas keras, lantas mengangguk pelan.

“Woah, tega sekali kau merampas penggemar Wonpil,” cibir Nari, menggeleng dengan wajah dibuat seolah tak percaya.

“Tch, harusnya kau bangga. Ternyata kakakmu ini bisa laku,” sahut Junhyeok, nadanya terdengar sedikit congkak. Nari hanya mengernyit.

“Sena….” Junhyeok menjeda apa yang ingin ia katakan, Nari berhenti menyeruput udonnya. “Sena tidak akan kembali. Dia bilang dia pergi karena…. ia ingin tinggal dengan laki-laki yang ia cintai. Disana.”

Pasang sumpit kembali dipinggirkan, pelan-pelan Nari menuangkan cair dari botol hijau ke dalam gelas kecil Junhyeok.

Saat pamit, Sena tidak mengatakan apa-apa. Hanya serentet ucap perpisahan, pengingat agar Nari mengiriminya kabar sesekali, harapan semoga hidup Nari tidak semakin rumit dan pelukan singkat sebelum gadis itu menghilang ke dalam taksi yang membawanya.

Nari tidak tahu apa-apa tentang alasan Sena kembali. Sena hanya bilang ia memutuskan meneruskan sisa studinya di luar negeri -tempat kedua orang tuanya tinggal. Nari tidak bertanya banyak, keputusan dan pilihan Sena bukan sesuatu yang harus ia campuri.

“Penggemar Wonpil itu adik kelasku dulu. Kami saling kenal sebelumnya. Dia cukup menyenangkan,” Junhyeok tersenyum samar, kembali menegak tuang cairan yang Nari sodorkan.

Nari tak banyak menimpali. Ia paham, yang Junhyeok butuhkan adalah seseorang untuk mendengarkan. Lagi pula ia merasa cukup bersalah karena terlalu sibuk dan berpikir Junhyeok baik-baik saja selepas Sena pergi.

“Dia selalu datang ke acara kami. Kupikir tidak masalah memberitahunya, toh dia memang penggemar Wonpil,” Junhyeok tampak agak muram, “tapi penggemar yang lain entah bagaimana tahu. Lalu… ya…. kau tahu apa yang terjadi.”

Parasnya tampak sedikit sedih dan kecewa, Nari memandang prihatin. Ia tidak paham perihal menggandrungi selebriti jenis apapun. Tiap kali menyalakan televisi yang ia tonton tak jauh-jauh dari acara komedi. Tapi sepertinya benar kabar burung kalau gosip yang melayang tiba-tiba sering kali membuat yang terlibat depresi karenanya. Beruntung Junhyeok belum menyandang nama besar yang membuatnya disorot media ternama, sehingga masalah yang ia hadapi tidak terpampang kemana-mana.

Oppa, kau baik-baik saja kan?”

Junhyeok mengulas bibir lirih, “Terimakasih sudah khawatir. Kurasa aku akan baik-baik saja.”

Nari tersenyum singkat, “Kalau kau butuh sandaran menangis, bahuku gratis.”

Kakak sepupunya terkekeh pelan, “Aku tidak secengeng itu.”

“Yakin? Aku ingat kau menangis berhari-hari karena anak kucing tetangga sebelah rumahmu mati,” Nari tertawa, teringat persitiwa yang ia sebut saat ia dan Junhyeok masih tinggal tak berjauhan masa lampau. “Kau berduka sampai tidak mau keluar rumah sampai dua minggu.”

Ya, tidak lucu, kau tidak tahu betapa lucunya Gguri,” sela Junhyeok. Nari masih terbahak sambil memegang perut teringat wajah Junhyeok kala itu yang otomatis merengek tiap kali ia mengungkit soal kucing.

“Aku tidak secengeng dulu,” Junhyeok membela diri.

“Tempo hari kau menangis saat kucingmu divaksin.”

“Kata siapa? Tidak.”

“Ya ya, tidak menangis. Hanya sedikit mewek.”

“Kau salah lihat.”

“Hidung dan wajahmu jelas-jelas merah.”

“Aku tiba-tiba alergi.”

Nari tak mau kalah, terus menyerang Junhyeok dengan ‘kesaksian’ yang ia lihat. Junhyeok pun segera lupa pembicaraan berat mereka beberapa saat lalu, balas menyahuti argumen Nari.

=end=

semoga abang kesayangan nggak sedih lagi. semoga Sena senang nun jauh disana.

 

Advertisements

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s