Are We?

Choi Eun Gi (OC) – Kim Mingyu (Seventeen)

..

..

sky.l

..

..

Pemandangan yang sama setiap bel paling akhir berbunyi, membuat seisi gedung sekolah meregang otot begitu satu tagihan hari selasai. Beberapa junior tingkat pertama bergerombol di lorong samping kelas. Sudah mirip fans yang sering berdesak-desak saat konser. Tebak saja penyebabnya, retoris.

“Mingyu sunbae!”

Nah, iya karena makhluk satu itu.

Laki-laki tinggi dengan senyum bertaring dan wajah yang berusaha terlihat cool itu melirik sekilas pada kerumunan di sebelah pintu belakang kelas, lantas berjalan lurus, tak menggubris.

Wonwoo yang bersisian di sebalah tersangka kericuhan hanya menyiku sembari terkekeh. Meledek sahabat sejalannya tersebut.

“Kau tidak mau pilih satu?” ledek Wonwoo, mengangguk ke arah belakang punggung, yang mana kelompok junior itu masih tak bergeser, tampak sibuk berceloteh riuh sembari menatap punggung Mingyu yang menjauhi lokasi.

“Berisik. Aku tidak tertarik,” dengusnya, pandang tertuju murid-murid yang baru saja berhamburan di kelas lain tak jauh dari kelas mereka.

“Kau ini, ada barisan gadis mengantri malah memil—“

“Oi, keledai!”

Gadis yang dipanggilnya baru saja keluar dari ruang kelas, menoleh mencari sosok tak berdosa seenaknya memanggilnya dengan kataan hewan dungu lambat. Wajah bengis khas dan dahi mengekerut menyambut kontras rekah bibir dan tawa tertahan Mingyu.

“Apa? Kau panggil apa aku barusan?” Protes pemilik tas berwarna jingga dan rambut bergelung tinggi acak kadut serta wajah yang jelas-jelas seperti baru saja bangun tidur.

Mingyu jelas tertawa sekarang, “Kau pasti habis tidur. Bekas air liurmu masih jelas.”

Gadis itu berbalik badan, menatap kaca kelas yang sedikit gelap, menyentuh sisi-sisi bibir. Ia berbalik, sadar Mingyu setengah membungkuk, memegang perut berdengung gelak.

Ya!”

“Ada yang manis kau malah pilih yang berandalan begini,” Wonwoo bergumam memerhatikan dua anak manusia, satu tertawa sementara satunya berkacak pinggang memukul lengan Mingyu lumayan keras.

Gadis itu menjeda, “Jeon Wonwoo, bilang apa kau?”

Wonwoo menciut, terpaksa mengumbar poles canggung jelas menyerah usung tarung terpampang berteman delik menghadapnya. Tak baik menanggapi singa betina yang jika sudah diusik bisa membuat sisa masa sekolahnya berubah seratus delapan puluh derajat dari baik-baik saja.

“Hei, keledai. Ayo, pulang,” tas punggung berwarna jingga ditarik lepas, lengan mungil gadis itu diseret tanpa permisi.

Tentu saja, perlawanan terusik, “Ya ya, pikirmu aku ini hewan peliharaan.” Tarik keras namun erat lembut yang mengitar lengan serta ajakan tak manis barusan sama sekali tidak mencuat keberatan barang setakar. Meski paras yang ia suguh terlihat kesal dan jengkel, hanya selepas kamuflase gengsi diri agar tak terlihat drastis dari dirinya yang biasa di waktu lain.

Mingyu tak memberi barang sepandang peduli pada pasang-pasang mata serta belas-belas mulut sejalan mereka keluar dari bangunan sekolah. Yang ia peduli, gadis yang berada di sebelahnya itu tak merasa risih dengan apa yang ia lakukan. Tak ada opini berarti selain tanggap sikap gadis dengan wajah masam bertutur tak manis yang berhasil membuat segelintir baris junior berjajar meneriaki tak berarti apa-apa sama sekali.

“Heh tiang, kau bisa jalan pelan sedikit tidak sih? Kakiku ini tidak sepanjang kakimu tahu,” gerutunya ditengah jalan menuju halte.

Mingyu berhenti, “Kakimu yang pendek atau kau sengaja agar bisa bersamaku lebih lama?”

Sebelah alis terangkat, dahi mengernyit, tak ada gurau terpoles sedikit pun, “Sinting. Aku ini bukan anggota penggemarmu. Jangan bermimpi.”

Tahu-tahu gadis itu berderap mendahului, tak menoleh panggil nama yang meneriaki supaya langkahnya tak terlalu memburu tujuan.

“Oi, Choi Eun. Toko es krim di dekat halte sedang promo. Kau tidak mau es krim vanila?”

**

Sunbae,” lagi-lagi junior yang sama, tempo hari menungguinya hingga akhir latihan basket. Tipikal gadis manja berisik yang akan terus mengekori sampai entah apa kemauannya tercapai. Sangat merepotkan.

“Kubilang aku tidak suka cokelat,” sela Mingyu berlalu menuju pintu keluar, tak berniat berhenti sekedar mendengar maksud gadis berambut sebahu tersebut.

“Tapi, sunbae tunggu, bukan. Aku tidak datang memberikan cokelat. Kudengar sunbae dan Eun Gi sunbae hanya teman dekat. Jadi kurasa tidak ad—“

“Apa urusanmu kalau dia teman dekatku atau bukan? Dan kurasa kau cukup pintar untuk tahu maksudku tidak menggubrismu,” Mingyu tak lanjut berjalan, menunjuk picing delik jengkel pada gadis dihadapnya yang juga ikut terhenti.

Gadis itu diam, tak menunjuk respon terbaca, “Tahu tidak? Aku bukan orang yang gampang menyerah hanya karena sunbae menyukai gadis lain.”

“Berhenti membuang waktmu mengejar-ngejar usaha kosong. Aku tidak suka gadis merepotkan,” dengusnya keras, kembali menginjak langkah melanjut tujuan awal. Peduli neraka dengan gadis yang terus melengkingkan namanya dengan nada merengek persis seperti bocah mungil minta dibelikan cemilan.

**

 

Eun Gi hampir selesai membereskan partitur di ruang musik, mengembalikan beberapa instrumen yang tadi tidak berada di tempat karena seenaknya di pakai lima pria sialan yang lantas pulang mengucap salam pisah mengangsurkan segala tugas rapi-rapi.

“Bocah menyusahkan,” bibir menggerutu selagi tangan masih bekerja beriring pasang kaki yang mondar-mandir kesana kemari menata kembali seperti sedia kala.

Beberapa partitur yang berserak di atas piano dan bangku, setelah itu ia selesai. Berada di sekeliling kumpulan laki-laki bukan hal menyenangkan seperti yang gadis-gadis lain fantasikan. Apanya yang merasa terlindungi dan dimanjakan, ia malah selalu dibuat susah, dioper segala jenis tugas, bahkan dirasa lima kepala manusia itu sudah lupa jenis kelaminnya selama ini.

“Eun Gi sunbae,” baru saja ia hendak keluar dari lingkup ruang ketika pintu malah berayun, seorang murid junior yang tidak pernah ia kenal atau perhatikan menyebul di depan pintu. Seperti sudah menunggui dari tadi.

“Ya? Kau butuh sesuatu?” Tanya Eun Gi, mengedar sekeliling ruang berusaha menangkap sesuatu yang tidak biasa berada di dalam sana, mungkin saja tengah dicari gadis itu.

Sunbae, apa sunbae menyukai Mingyu sunbae?

“Eh?” gerak bersiap-siapnya terjeda. Menyongsong pandang si junior yang lurus menanti balasan.

Bergaul dengan makhluk yang dikenal seisi sekolah –bahkan mungkin seluruh area, memang bukan hal yang baik. Semua orang mulai sibuk mengurusi hidupnya yang hanya membayang di samping.

Jangankan ditanya perasaan, ia sendiri tidak paham apa yang melingkar dirinya dan Mingyu. Semester baru, kelas mereka terpisah. Terusan study partner masih berjalan, namun tentu saja dengan orang berbeda. Bahkan kali ini ia malah terpaksa berbagi waktu belajar dengan…. Seungkwan. Dimana setengah waktu anak itu mengoceh tak tentu hal yang menurut Eun Gi sama sekali tidak mempengaruhi kehidupan maupun masa depan.

“Entahlah, kurasa. Ia tidak begitu buruk, maksudku sebagai partner,” Eun Gi mengangkat kedua bahu, berharap jawaban yang diserukan cukup. Ia sendiri tak ambil perkara.

“Bukan suka seperti itu maksudku,” junior itu tampak bersikeras. Eun Gi menunggu anak itu mundur, karena jalan keluar terhalangi. Ia diam, membiarkan kata yang bersisa terlanjutkan, “kalau sunbae tidak suka Mingyu sunbae seperti aku menyukainya, lebih baik sunbae menjelaskan itu, lalu mundur.”

Polahnya defensif, kedua tangan terlipat di depan dada, “Itu urusanku. Dan kau tidak perlu repot-repot memaksa dirimu masuk ditengahku dan si Tiang itu. Kalau memang dia lebih menyukaiku,” luncur seruan sesaat tercekat begitu kata selanjutnya tertinggal di pangkal lidah, “itu bukan karena aku yang memintanya. Kalau kau menyukainya, berpikir lebih pantas untuknya, aku tidak peduli.”

Ia mendengar derap-derap dari luar, curiga objek perdebatan akan menampakkan diri. Eun Gi tak mau repot mendebat sesuatu yang menurutnya bukan perkara gawat.

“Tolong tutup pintunya setelah kau keluar,” gumam Eun Gi sembari melewati junior itu keluar dari ruang musik.

“Lebih baik sunbae mundur. Perasaanmu pada Mingyu sunbae tidak sebanding dengan perasaanku.”

Beberapa kian sekon, langkahnya tertunda. Menyahut gertak kosong sama saja ia menyambut tantang yang tidak ingin ia geluti. Menghabiskan tenaga. Namun entah kenapa, ia gatal melempar tanggap. Sesuatu terasa mencuat janggal saat perkataan sudah di ujung tenggorokan.

“Aku paling tidak suka saat orang lain mendikteku untuk melakukan sesuatu. Apalagi melarangku dari hal yang kusuka. Mundur? Aku terlalu egois untuk membuat harapanmu tercapai,” ia mengecam setiap kata, menusuk lurus pada dua titik gelap yang makin lama makin tampak menguar pitam.

“Kau dengar, kau bisa pergi sekarang. Jangan usik pacarku lagi,” benar saja. Tak selang satu menit Mingyu menampakkan diri dari pojok lorong mengarah keluar gedung, sudut bibirnya menyudut melesak. Eun Gi mendengus, sadar barusan makhluk tak tahu aturan itu baru saja memanggilnya dengan sebutan sepihak tanpa persetujuannya.

“Kalian kan hanya sekedar study par—“

“Jangan ganggu Eun Gi. Jangan ganggu pacarku lagi. Sudah kubilang tidak usah buang-buang waktu untuk usaha kosong,” Mingyu berdiri tepat sejajar Eun Gi, melingkar lengan erat mengitar punggungnya. “Hati-hati jangan mampir-mampir di jalan pulang. Dah.”

Di dorong pelan tubuh mungil Eun Gi begitu tas jingganya dilepas lantas disampir enteng di rengkuh bahu Mingyu.

Kurang lebih lumayan jauh dari pelataran gedung ekstrakulikuler, sisa langkah Eun Gi tertahan di tempat.

“Kau bilang apa tadi?”

“Apa?” Mingyu menahan sisian bibir, berusaha tidak merekah lebar. “Oh… pacar. Kenapa? Kita pacaran kan?”

Eun Gi mendengus sarkastik, “Kita? Sejak kapan? Sebegitu jeleknya ingatanmu hingga mengarang-ngarang kejadian sendiri? Bodoh,” pasang kaki mungil kembali menghentak, sedikit terlalu keras. Jelas-jelas menunjuk gelagat jengkel. “Buat saja cerpen kalau kau pandai mengarang.”

“Hei hei, Choi Eun,” Mingyu mengejar derap, menghenti laju Eun Gi agar tak terlampau jangkau. Gadis itu berhenti, memicing delik tanpa ampun. Tentu saja ia tak akan goyah, sudah kebal mental dari segala gertak kosong gadis itu.

“Tsk, aku ada janji dengan Woojin,” Eun Gi menarik paksa tas jingganya dari sampir bahu Mingyu. Tapi tidak akan segampang itu tentu saja. Mingyu mencengkram ujung strap tas, tak berniat mengulur hingga gadis itu menyerah, mendengar tutur yang mencokol ingin segera dituang.

“Tidak. Dengarkan dulu apa yang ingin kukatakan,” Mingyu menarik strap, otomatis Eun Gi terdorong maju karenanya.

Gadis itu menggerutu pelan, “Ya, sudah. Cepat.”

Deret gigi -tentu saja dengan trademark dua taring lebih menonjol, terlampir lebar, “Kita pacaran.”

Eun Gi mengerjap. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Mempertanyakan apa yang baru saja diproses sistem pendengaran tak salah tangkap.

“HEH SINTING! KAU ITU BERTANYA, MEMAKSA, ATAU MENYURUH SIH?!” Lengking menggelegar tanpa peringatan, Mingyu menghalau kedua telinga agar tak kentara diserang pekik tiba-tiba Eun Gi yang bisa membuat burung-burung bertengger di sekitar pohon sekolah melarikan diri ketakutan. Belum lagi pukulan bertubi yang menyerang bagian mana saja tubuh Mingyu yang bisa dicapai Eun Gi.

Ya ya ya. Aduh Eun Gi-a, aduh. Aduh! Auw…. Eun Gi-yaa kau bukan atlet tinju kan?! Appo! Ya!” Mingyu menangkap pergelangan tangan Eun Gi, menghalau pukulan membabi buta yang membuat sekujur tubuhnya terasa baru saja dipukuli murid seisi kelas.

Napas Eun Gi naik turun kasar, seperti baru saja lari jarak jauh tanpa henti. Seluruh wajahnya tampak berwarna merah padam, bahkan peluh turun diam-diam di sekitar pelipis.

“Kita pacaran. Bukan pertanyaan. Bukan suruhan. Pernyataan singkat, retoris. Kau kan pintar, pasti mengerti,” seloroh Mingyu, masih mengunci tangan Eun Gi dengan kedua genggam erat.

Setiap inci otot wajah Eun Gi meregang.

Lalu tangisnya turun, tak terkira.

“Loh? Choi Eun…. loh, ke-kenapa? Eun Gi-ya… Eun Gi-ya…. a-ada yang salah?”

Eun Gi berjongkok, menyembunyikan paras yang tak karuan dari pandang Mingyu.

Ia tak biasa diserang banyak perasaan sekaligus. Ia marah, jengkel, kesal, sedih, senang, hingga ia kebingungan, terbata-bata yang mana yang benar. Rasanya ia mengerti kembang api yang meledak kesegala penjuru saat musim panas.

“Mingyu bodoh. Mingyu sinting. Dasar idiot,” gadis itu malah menutur serapah panjang. Mingyu makin tak paham, panik.

“I-iya, aku bodoh. Aduh, maaf. Kenapa malah menangis begini?” Mingyu mendekat, mengungkung Eun Gi pelan dalam bahunya, menepuk-nepuk pundak gadis itu pelan.

“Kau bingung kan? Ke-kenapa a… aku menangis. A-aku ju… ga bingung,” seru gadis itu, bercampur isak pelan yang terdengar serak.

“I-iya… maaf. Aduh…. jangan menangis dong,” Mingyu mengusap-usap puncak kepala Eun Gi.

Gadis itu berusaha tenang setelah terisak hampir sepuluh menit dan Mingyu hanya diam tak berucap selagi Eun Gi bertumpah kucur air mata.

“Bodoh, kau selalu seenaknya sendiri. Aku bingung harus bagaimana,” Eun Gi mengusap matanya yang tampak merah, sembab. Suaranya serak, sisa-sisa guguan yang pecah barusan.

“Ma… maaf kalau kau tidak suka. Tidak suka padaku,” Mingyu menunduk, menjauh selak tatap lalu tersenyum masam sembari bangkit. Diulurkan tangan membantu Eun Gi berdiri.

“Idiot. Kenapa sih selalu seenaknya menyimpulkan sendiri. Memangnya aku bilang ‘tidak’ barusan?”

Kelam air wajah yang sesaat bertengger, luntur segera. Rekah sudut masing-masing sisian bibir membuat seluruh wajahnya menyudut riang.

“Kita pacaran?” Nada akhir kalimat dibuat jelas mengarah tanya.

Eun Gi berdecak, mengusap hidungnya yang berair, “Terserahmu, idiot.”

“Kita pacaraaaaan!” direngkuh erat tubuh mungil di hadap Mingyu.

“Bodoh, mau seragammu kujadikan lap ingus?!”

 

=end=

ini nyambi magang, ga ngerti kenapa jadinya begini. wkwkwk.

eak, jadian juga ternyata makhluk dua ini. dengan confession abal-abal yang cewenya malah nangis tiba-tiba. emang dua makhluk ini suka bikin nepok jidat sih ya. maaf kalo ga manis-manis amat, sambil baca sambil liat mingyu aja coba biar kerasa manis 😀

Advertisements

3 Replies to “Are We?”

  1. JADIAAAAAAAAAAAAAAAAAN AKHIRNYA JADIAAAAAAAN TJOY

    MINGYU – CHOI EUN JADIAAAAAAN /keliling pake kolor/

    “Kakimu yang pendek atau kau sengaja agar bisa bersamaku lebih lama?”

    KEZAL KENAPA MINGYU INI KEPEDEANNYA TINGKAT NEPTUNUS?

    Dan ya itu awalnya kupikir ini hubungan Min Gyu sama Choi Eun bakal tersingkirkan lagi gegara ada hoobae yang tahan ngejer Min Gyu sampe segitunya, apalagi sampe ngomong kurang ajar sama Choi Eun, eh ternyata gegara itu Min Gyu nembak Choi Eun ahay! Itu, yang namanya Jeon Won Woo, sialan banget pake bilang;

    “Ada yang manis kau malah pilih yang berandalan begini,”

    Seharusnya Choi Eun sekalian jambak aja itu bocah-_- bikin susah! Dan aku ngakak parah bagian ini;

    “HEH SINTING! KAU ITU BERTANYA, MEMAKSA, ATAU MENYURUH SIH?!”

    ;_; choi eun nangis gegara terharu kena tembak sama si tamvan Min Gyu ya, duh akhirnya, malam minggu enggak ada lagi acara pacaran sama kasur. Tapi ya itu, Choi Eun malu tapi mau nget, ya saman haha pada akhirnya gak ditolak juga si tiang lampu jalan.

    BAHAGIAAA SANGAT, DITUNGGU KENCAN KEDUANYA YA CHOI EUN DAN MINGYU

    Like

  2. WOI ADA YANG JADIAN WOY HAHAHAHAHAHAHAHAHAHHAHA YAAMPUN BAHAGIA EUY LIAT MEREKA AKUR BIKIN SENYUM SENYUM GAJE OEMJIIIII!!!!

    “Lebih baik sunbae mundur. Perasaanmu pada Mingyu sunbae tidak sebanding dengan perasaanku.”
    wetss jangan pho pliss! biarkan mereka bahagia wakakakaka

    “Kita pacaran. Bukan pertanyaan. Bukan suruhan. Pernyataan singkat, retoris. Kau kan pintar, pasti mengerti,” seloroh Mingyu, masih mengunci tangan Eun Gi dengan kedua genggam erat.
    yang diatas………….. AH MELELEH YAAMPUN YAAMPUN YAAMPUNNNNNNNN >_<

    Mingyu diterima macem bocah dapet permen ya…. kelakuan
    AAAA DITUNGGU BANGET CERITA LANJUTANNYAAAA! SEMOGA BISA AKUR YAAA AMINNNNNN WKWKWKWK

    Like

  3. astaga ketinggalan momen penting begini… maafin daku li /sungkem ke choi eun & mingyu/ AKHIRNYA JADIAN JUGA MEREKA /tebar kembang melati/

    mingyu ini tipe cowok nyebelin tapi setia ya duh manis banget, ada segerombol cewek yang naksir dia tapi mata mingyu cuma mengarah ke eungi asik asik manis banget ngalahin kembang gula

    trus itu si junior kecentilan pake nyuruh mundur segala hah siapa elo neng? wkwk timpuk aja pake buku paket matematika itu bocah. masih junior aja berani sama senior duh musti diospekin lagi tuh

    mingyu nembaknya langsung jedar jedor ga pake aba aba ya wkwk emang dia bocah ajaib. mana eungi pake nangis juga gara2 bingung sama emosi yang campur aduk dari seneng sebel bingung jadi satu macem nano nano. wkwk lucu tau bayangin mingyu kelabakan liat eungi mendadak mewek. tapi ini maniiiiiiiiiiis manis manis unyu lucu gemesin bikin ketawa pula. semoga langgeng ya choi eun & mingyu!!! jangan lupa tuh sama traktiran buat seungcheol dkk, siapin duit yang banyak wkwkwk

    Like

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s