Floating Memories

tumblr_mtmtlcj5X41sr5tboo1_500Floating Memories

|| Canon – Lucille – Oneshot ||

- Arai Yuzuru & Park Sung Jin -

KARASU

.

.

— Kabukicho, Shinjuku District; Tokyo

August, 2006

Paman itu datang lagi.

Arai Masaki, namanya. Paman baik hati yang membantuku pekan lalu, ketika kami bertemu di sebuah gang kecil, masih di wilayah Kabukicho. Tempatku bersembunyi kala itu, menghindari pak tua sialan —bos club malam tempat ibuku bekerja— yang memukulku nyaris babak belur setelah tahu aku mencuri uangnya untuk membeli peralatan lukis di toko ujung jalan.

Sudah seminggu paman itu keluar masuk club malam ini, berkali-kali menemui ibuku. Awalnya aku tak tahu alasan apa yang membuatnya terus datang kemari. Mungkin saja dia sama saja dengan para lelaki hidung belang yang mencari kepuasan birahi, begitu pikirku sebelumnya. Namun, belakangan ini aku tahu, dia punya alasan lain di balik kedatangannya kemari.

“Anda pikir aku mau memberikan putriku begitu saja pada orang asing?”

Kudengar ibuku menggertak dari balik ruang yang biasa dipesan para pengusaha mesum untuk bercumbu dengan para pekerja jalang seperti ibuku. Beruntung pintu tak tertutup rapat, menyisakan sedikit celah untukku mencuri-dengar.

“Aku tidak bermaksud mengambil sepenuhnya dari Anda, Hoshino-san. Aku hanya ingin menjadikannya bagian dari keluargaku, dia bisa tinggal bersamaku, aku juga tidak akan mencegahmu untuk menemuinya, dan aku berjanji akan merawatnya dengan baik. Aku akan membiayai sekolahnya, juga semua biaya yang dia perlukan.”

Dua hari yang lalu, aku mendengar percakapan yang sama. Pertama kalinya aku tahu alasan sebenarnya paman itu berkunjung kemari tanpa kenal lelah. Alasan yang berhari-hari ini pula selalu membayangi malamku. Tentang niatnya untuk mengangkatku sebagai bagian dari keluarganya, yang berarti aku akan tinggal jauh dari Kabukicho dan memulai hidup bebas. Tetapi, aku tidak mau meninggalkan ibuku, meskipun seringkali dijadikan prioritas kedua di bawah gemerlap malam dunia prostitusi yang dia geluti.

“Bagaimana bisa aku mempercayai Anda, Arai-san?” dengus tawa ibuku. “Mana ada orang yang mau merawat anak orang lain dengan sukarela? Terlebih lagi, baru seminggu ini kami mengenal Anda. Aku bahkan tidak tahu bagaimana latar belakang Anda, Arai-san. Bisa saja Anda punya niat jahat pada putriku.”

Selang beberapa menit, sebelum paman itu menimpali dengan tenang. “Aku lahir dan tumbuh di sebuah panti asuhan sejak kecil. Ibuku meninggal saat melahirkanku, dan sampai sekarang pun aku tidak tahu dimana ayahku berada. Aku dibesarkan oleh ibu asuhku di panti, orang yang sama sekali tidak memiliki ikatan darah denganku.”

Sejenak suasana hening melingkupi ruang di dalam, juga aku yang ikut terhenyak diam. Cuplikan kisah dari paman itu membuatku termenung. Sama denganku, dia melewati masa kecilnya di jalan yang pasti penuh terjang berliku. Beranjak dewasa tanpa hadir orang tua kandung di sampingnya, bukan sesuatu yang mudah dilalui. Namun berbeda denganku, dia hidup dikelilingi oleh kehangatan, bukan dinginnya dunia yang kutempuh selama tiga belas tahun ini.

“Bagaimana bisa aku mempercai Anda,” ada nada gusar terselip dalam ucap kata ibuku.

“Terkadang, kita tidak butuh ikatan darah untuk menjadi keluarga, Hoshino-san. Saat aku pertama kali bertemu dengan anak Anda, aku sadar ada sesuatu yang menghubungkanku dengannya. Aku ingin merawatnya, seperti ibu asuhku merawatku hingga dewasa.”

“Jangan bercanda.”

“Ada dua anak lainnya yang tinggal bersamaku. Mereka juga pernah melalui hidup yang berat sebelumnya. Aku menjadikan mereka keluargaku, menyekolahkan mereka dan menanggung semua biaya mereka,” ujar paman itu. Ketika aku mengintip lewat celah pintu, kulihat dia merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel. Dia bergeser maju, memperlihatkan ponselnya pada ibuku. “Ini foto mereka, Takuma dan Kouhei. Foto ini kuambil setelah pertunjukan drama mereka di sekolah, tahun ajaran lalu.”

Senyum hangat lantas muncul di wajahnya, ada raut bangga yang terpancar pada dirinya. Seperti sosok ayah yang selalu kudamba dalam tiap mimpiku, juga doaku pada Tuhan.

Tanpa pikir panjang, aku mendorong pintu hingga terbuka sepenuhnya. Berlari masuk, dengan napas memburu. Pun sirat mata penuh harap. Aku tahu, ya sekarang aku sadar, Tuhan sudah mengabulkan doaku.

Okaasan1, aku ingin tinggal dengan paman. Ayo kita tinggal bersama dengan paman!” Lengking jerit yang tertahan, masih dengan dentum jantung berlomba-lomba, aku menatap lurus ibuku yang nampak terkejut. Lantas kugeser arah pandangku pada Paman Masaki. Penuh harap, aku menyodorkan pertanyaan di luar akal sehat. “Bisakah paman membawaku pergi dengan ibuku dari tempat ini? Kita bisa tinggal bersama, ya kan?”

“Jangan bicara hal konyol, Yuzuru!”

Nyaris aku terlonjak dari pijakku. Ibu kini sudah dalam posisi tegap, melempar tatap tajam padaku. Aku tak bisa menafsirkan raut parasnya. Bukan pasang amarah yang biasa dia perlihatkan saat memarahiku. Lantas pundaknya terkulai, dia menyeret pandangnya ke arah paman. “Bawa saja putriku pergi. Anda harus pegang janji tadi. Perlakukan putriku sama seperti Anda menjaga dua anak lainnya,” ujarnya sebelum mengalihkan tatap padaku.

“Pergilah, di sini memang bukan tempatmu.”

.

.

Di sudut gang kecil tempat persembunyian kini aku berada. Duduk beralaskan aspal, dengan tangan memeluk lutut. Kubenamkan wajahku di antaranya. Membiarkan kecamuk menari liar dalam benak. Bocah seusiaku tidak seharusnya memikirkan hal-hal seberat ini. Namun, beginilah nasibku. Jalan yang harus kulewati tidak semudah yang anak lain rasakan. Lahir di tengah dunia prostitusi, dari rahim seorang wanita jalang, tanpa tahu siapa ayah kandung yang sebenarnya. Tumbuh besar di kalangan para pendosa, pemuja nafsu duniawi.

Demi tinggal bersama ibuku, selama tiga belas tahun ini aku mencoba bertahan. Demi bisa bersama ibuku, bertahun-tahun pula aku mencoba membiasakan diri dengan kerasnya hidup dalam kurung dunia malam, dunia yang bagiku begitu menjijikkan. Meski pada akhirnya, ibuku melepasku tanpa mau pergi bersama.

“Yuzu-chan?”

Aku mendongak. Ulas senyum hangat Paman Masaki jadi hal pertama yang nampak olehku. Dia merendahkan posisi, duduk di sampingku. Dia diam, menungguku bicara.

Okaasan tidak menginginkanku lagi. Dari awal, dia tidak menginginkanku ada.”

“Yuzu-chan,” ucap paman itu, dengan tangan terulur membelai puncak kepalaku. “Jika benar ibumu tidak menginginkanmu, untuk apa dia melahirkanmu bahkan merawatmu hingga besar?”

“Tapi dia menyuruhku pergi! Dia tidak mau lagi tinggal bersamaku!”

“Itu karena dia menyayangimu.”

“Menyayangiku?! Dengan menendangku jauh-jauh darinya?!”

“Yuzu-chan,” kali ini paman memegang pundakku, hangat. “Ibumu menyayangimu, kau harus percaya itu. Dia memintaku untuk menjagamu, memintaku memegang janjiku untuk merawatmu dengan baik, itu bukti kecil kalau dia betul-betul menyayangimu. Seperti apa yang kujanjikan, aku akan membawamu tinggal bersamaku. Tinggal di lingkungan yang lebih baik, bersekolah seperti anak pada umumnya, itu yang ibumu inginkan, dan aku akan memenuhi janjiku.”

Tangisku semakin pecah. Kubenamkan wajahku sekali lagi. Tanpa peduli meraung kencang, melepas semua kesal dan pedih yang kurasa.

“Kau masih bisa menemui ibumu. Aku akan mengantarmu kemari kapan pun kau mau.”

“Tidak, bawa saja aku pergi dari tempat menjijikkan ini.”

.

.

— Around DAY6 Dormitory, Seoul

January 9th, 2016

Ini puntung keempat yang habis dibabatnya. Yuzuru membuang sisa rokok, masih dengan api yang redup menyala, ke permukaan tanah. Dirogohnya saku jaket hoodie miliknya, sekiranya ada puntung tersisa yang bisa ia hisap. Namun, nihil. Bungkus itu sudah kosong tanpa sisa.

Mendesah kasar, ia melayangkan pandang pada langit. Tak ada bintang, malam tertutup rapat dengan awan. Kelihatannya malam kini ikut dilanda rundung, sama sepertinya sekarang, setelah dibombardir ingatan masa kecil yang membuatnya merindukan sosok wanita yang sempat mengantarnya menyapa dunia.

Ia rindu ibunya. Bertahun-tahun tak berjumpa, ia tak tahu bagaimana rupa ibunya kini. Seperti ucapannya dulu, Yuzuru tak pernah lagi menginjakan kaki di tempat dimana ia lahir dan selama tiga belas tahun menetap. Sekarang, ia amat merindukan sang ibu. Meski ia tahu betul, bagaimana  perkembangan wanita pemilik nama Hoshino Miyuki itu dari pamannya. Karena semenjak mengambil alih hak asuh Yuzuru, pamannya masih menyambung komunikasi dengan sang ibu.

“Yuzuru?”

Suara dari titik kanan buatnya menoleh.

“O, Jin-chi!”

Pemuda itu melirik sesuatu di bawah depan Yuzuru. Keningnya mengernyit kala menemukan bekas puntung rokok dengan api kecil yang masih belum padam.

“Merokok lagi?”

Yuzuru melempar dengus tawa. Sementara maniknya mengekor pada plastik hitam yang lagi-lagi terlihat dibawa keluar Sungjin kemari. Tepat di belakang gedung tempat mereka menetap, tak jauh dari sana ada tempat pembuangan sampah.

“Kebagian tugas membuang sampah lagi?”

Balas jitu dari Yuzuru. Sungjin dibuatnya mendengus terkekeh. Masih dengan kantung plastik berisi sisa-sisa makanan, minuman dan segala tetek bengek sampah lainnya, Sungjin berjalan menuju tong, membuangnya, lalu melangkah kembali ke arah gadis itu berdiri, dengan dinding sebagai sandaran.

“Malam-malam begini merokok sendirian di belakang apartemen,” sindir Sungjin, lantas ikut menyandarkan punggung di samping gadis itu. “Tidak mengantuk, huh?”

“Belum. Kau sendiri?”

Sungjin menggeleng. “Belum juga. Kau melamun?”

Gumam pelan dari si gadis, “Hanya sedang mengingat seseorang.”

Sungjin tergelak. “Siapa? Pacarmu?” tebaknya asal. Ekor matanya menangkap tarik simpul bibir Yuzuru ketika gadis itu kembali membalas, “Ibuku.”

Memutar arah pandang sepenuhnya pada Yuzuru, Sungjin tak bisa menyembunyikan raut wajah penuh tanya. Ada ribuan pertanyaan yang mendadak ingin ia sodorkan satu per satu. Pertanyaan yang tersimpan rapi dalam benaknya awal kali bertemu dengan gadis itu. Juga pertanyaan baru yang berebut minta keluar dari kerongkongan. Agaknya kurang sopan jika ia harus mengeluarkan semua pertanyaan itu, maka Sungjin pun memilih bungkam. Beruntung, Yuzuru bukan tipikal orang tanpa kepekaan tajam, meski terkadang bisa jadi amat tumpul. Gadis itu mengerling, tersenyum singkat kala menyadari Sungjin yang diliputi tanya, seolah jelas berputar dalam lingkar kepalanya.

“Dia ada Tokyo.” Sungjin lekas memutar lehernya kembali, menghadap si gadis. “Ibuku, dia tinggal di Tokyo. Hampir 10 tahun kami tidak bertemu, entah bagaimana wajahnya sekarang. Masa-chi bilang, ibuku baik-baik saja, walaupun dua tahun lalu dia harus dirawat karena tumor ringan. Tapi tidak apa, Masa-chi bilang sekarang kondisinya makin membaik.”

Dahinya mengerut. Bukan mengobati rasa penasarannya yang makin menggelembung, gadis itu malah membuatnya makin tenggelam dalam lautan pertanyaan.

“Kalau ibumu masih ada di Tokyo, kenapa kau malah tinggal di sini bersama pamanmu?”

Dijulurkan dua tangannya ke belakang punggung, melipatnya hingga menumpu tengkuk. Sementara netranya melayang pada bingkai langit malam yang kesepian ditinggal bintang dan rembulan bersembunyi dari balik awan hitam. “Lebih baik tinggal bersama Masa-chi. Di sana, aku tidak punya masa depan.”

Sekali lagi, senyum simpul si gadis terlempar untuknya. Diselimuti rasa penasaran yang menjadi, juga bingung yang menyerang, pada akhirnya tak ada kata yang keluar dari mulutnya sekedar untuk bertanya. Sungjin hanya terpaku pada gadis di sampingnya, yang masih melayangkan senyuman. Dan, entah mengapa, Sungjin semakin merasakan adanya sejuta misteri di balik gurat lengkung milik Yuzuru.

“Aku bukan kerabat kandung Masa-chi. Aku, dua kakak laki-lakiku, juga Masa-chi, kami tidak terikat darah yang sama.”

Satu pernyataan gamblang yang sukses membuat Sungjin membelalak mata. Sulit dipercaya memang, berpikir kalimat tadi hanya candaan belaka dari seorang gadis sembrono yang tak bisa menjaga omongan. Tapi jika dipikir kembali, pertanyaan utama yang selalu berputar-putar dalam otaknya tiap kali bertemu pandang dengan Yuzuru maupun keluarganya, kini mulai terjawab. Tak ada tanda kemiripan dari wajah mereka satu sama lain, jika memang benar mereka bukan kerabat kandung, maka semua itu masuk di akal.

“Kami bertiga hanya sekumpulan bocah bermasalah yang dulu diangkat oleh Masa-chi, dijadikan bagian dari keluarganya.” Yuzuru melanjutkan. Terus bercerita, menguak satu rahasia tentang dirinya dan juga keluarganya. “Kami tidak tahu bagaimana nasib kami jika Tuhan tidak mempertemukan kami dengannya. Bersama Masa-chi, kami jadi punya mimpi baru, masa depan yang jauh lebih baik.”

Sungjin hanya bisa termenung. Pusat syarafnya kini masih mencoba mencecap tiap kata yang diucap oleh gadis itu.

“Oi, Jin-chi? Kenapa diam saja?”  Tawa renyah gadis itu menguar bersama tiup angin malam. “Kau tidak percaya Masa-chi sebaik itu? Tampangnya memang seram, tapi asal kau tahu saja, hatinya begitu hangat. Bagi kami bertiga, dia sudah jadi sosok seorang ayah.”

Lantas Yuzuru memutar tubuh setengah derajat, menghadap Sungjin. Dua tangannya menyampir di muka badan. Menopangkan sisi tubuh pada satu lengan yang bertumpu di dinginnya dinding.

“Bagaimana denganmu?”

“Aku?”

“Kelanjutan hubunganmu dengan gadis pujaanmu itu. Apa ada kemajuan?”

Sungjin mendesah. Kali ini dengan sebuah senyum tulus, berbeda dengan terakhir kali mereka membicarakan topik ini. “Game over. Sekarang aku bisa berbalik tanpa keraguan. Mungkin mencari jalan yang baru? Entahlah, yang jelas jalanku menuju dirinya sudah tertutup rapat.”

Decak singkat jadi lempar balasnya, sebelum dengan lantang Yuzuru berseru, “Busungkan dadamu seperti seorang pria, Jin-chi! Bumi masih terus berputar, kau harus segera bangkit dan cari jalan baru yang kau maksud itu.”

Gelak tawa jadi pengiring, ketika Sungjin mengangguk menyetujui. Agaknya ia cukup lega, meski jawaban yang ia dapat bukan sesuatu yang sebenarnya ia harapkan. Setidaknya, ia bisa bergerak dari tempatnya berdiam diri setelah sekian lama. Dan, satu lagi, teman berbagi yang baru ia dapat, walau sosoknya tidak disangka akan jadi temannya bercerita. Yuzuru, tetangga baru menyebalkan dan seringkali membuatnya sakit kepala, kini malah jadi tempatnya mengeluarkan keluh dan kesah yang menumpuk dalam sarang tempurung otak.

“Kalau dilihat lebih dekat,” Sungjin nyaris terlonjak kaget ketika tanpa ia sadari wajah gadis itu hanya menyisakan jarak tak lebih dari satu perempat meter. Sementara Yuzuru tanpa malu malah makin memperkecil jarak. “Kau ini tampan juga ya, Jin-chi?”

“A-apa? Kau baru sadar ternyata?”

“Kenapa mukamu jadi merah begitu? Jangan bilang kau mulai suka padaku, Jin-chi.”

“A-apa?! Tentu saja tidak! Seleraku tinggi, tahu!”

Reaksi Sungjin justru membuat Yuzuru terpingkal di tempat. Ia tak habis pikir, mudah sekali menggoda pemuda itu hingga merah padam mendominasi parasnya. Berbanding terbalik dengan Sungjin yang mati-matian meredam panas yang menjalar. Entah malu, atau apa. Yang jelas, ia sebal juga melihat Yuzuru puas menertawainya.

Yokatta2,” Yuzuru menimpali, lantas beranjak dari pijaknya. Ditepuknya pundak Sungjin, sekali, dua kali. Dengan sambungan kata mengekor, nyaris berupa bisik lirih ditelan angin, sebelum ia mengambil langkah. “Jangan sampai jatuh hati padaku, Jin-chi. Aku ini anak pelacur.”

Punggung gadis itu mulai menjauh, tenggelam di balik pilar-pilar lorong gedung. Sejenak Sungjin dibuat termangu. Detik berikutnya, decak sebal ia muntahkan begitu saja. Gadis itu mempermainkannya dalam bual jenaka murahan tadi. Kali ini, ia tidak akan masuk ke lubang yang sama.

“Cih, tidak lucu.”

fin

.

.

Notes:

1) Ibu

2) Syukurlah

.

.

Advertisements

3 Replies to “Floating Memories”

  1. ecieeee ecieeee uhuuy
    UJIN MUP ON WEEEI WETSEEEEH CONGRATULATION~ /pasang lagu day6 jadi bgm/
    ya ampun pasti berat hati banget melepaskan mbak mia yang ucul dan ‘langka’ itu, jangan sedih-sedih bang, masih banyak jalan menuju roma alias masih banyak cewe buat digebet. tunjuk aja satu, pasti mau. ga usah jauh-jauh sih itu di *eeehm* Eheeem* di sebelah rumah ada yaaa gapapa lah.
    azek azek tersipu sipu ala-ala malu malu kucing gitu diliatin yuzu uhuuuy, aduh pasti itu muka ujin lucu gitu ya kegep merah-merah malu wkwkwk

    semoga ga sedih-sedih lagi ya bang karena udah mup on. jalan hidup masing panjang, jangan diabisin meratapi nasip dan masa lalu terus bang /ala mario teguh/
    makasih yuzu udah menemani si abang dikala berduka lara, jangan meratapi nasip terus lah hidup ini banyak jalan banyak cerita kalo mau sama-sama ngenes ayok bareng nari ayok biar ada temen ga sendirian.

    semoga progres mereka lancar tanpa ada phpan ala ala trus ditinggal. huhuhuh semangat abang ujin.

    Liked by 1 person

  2. ehehehe… aku baru nemu ff day6!! cast-nya sungjin pula, biaskuuuu…. seneng XD

    oh ini macam sejudul tamat gtu ya? jd meski beda2 tp berhubungan antar part? oke oke aku mulai baca dr sini ya.. kebalik? gpp asal ceritanya mudah dipahami ga masalah..

    hihi, itu jd ikut bayangin sungjin yg malu2, haha.. sayang dy nganggep angin lalu ucapan terakhir yuzuru.. entah gmna klo sungjin tau bahwa itu kenyataan.. hummm~~

    Liked by 1 person

    1. halo! makasi ya udah berkunjung kesini 🙂
      iya jadi ff ini judulnya beda beda tapi masih satu series “lucille” dan main castnya sungjin
      kalo sungjin tau bisa gawat tuh kayanya huehehe 😀

      Like

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s