Someone to Talk With

tumblr_nfyulhCwh11sn5j46o1_500Someone to Talk With

|| Headcanon – Lucille – Ficlet ||

- Arai Yuzuru & Park Sung Jin -

by

KARASU

.

.

— January 5th, 2016

8.45 PM KST

Plastik hitam berukuran jumbo dalam lingkar jemari, Sungjin melangkah santai keluar dorm. Baru beberapa meter dari ambang pintu, berniat menuju belakang gedung sekedar untuk membuang tumpukan sampah yang menggunung. Biasanya, tugas buang sampah selalu jatuh pada maknae atau member termuda lainnya. Untuk sekali ini, Sungjin mau saja ambil alih mengangkat sampah ke pembuangan akhir belakang gedung tempat tinggal mereka. Nyatanya itu hanyalah alibi belaka, karena belakangan ini keruh pikirnya tak kunjung terobati. Asal bisa keluar menghirup udara segar, tanpa terkungkung terus-menerus dalam petak ruang, apapun akan ia lakukan. Bahkan bergelut dengan tumpukan sampah sekalipun.

Sayang, nasib jelek nampaknya masih menggentayangi hidupnya. Dalam jangkau jarak tak terlampau jauh, masih bisa tertangkap oleh pupilnya dua sosok muda-mudi keluar dari lift dengan jalan terseok. Oh, tentu saja ia hafal betul paras yang muncul di depannya. Gadis sinting, siapa lagi kalau bukan Yuzuru. Lengan kurusnya tengah melingkari tubuh seorang pemuda yang kesadarannya setengah raib ditelan alkohol. Bukan berniat mengacuhkan, lebih-lebih untuk tidak membantu, tapi kejadian seperti ini sudah berulang kali terjadi. Jujur saja, Sungjin bosan direpotkan si tetangga baru untuk kesekian kalinya.

Lekas ia menghentikan langkah, bersiap memutar punggung dan ambil langkah seribu. Namun, terlambat. Gadis itu terlanjur menangkap hadirnya di sana, dan buru-buru berseru memanggil.

“Jin-chi!”

Ugh, tidak lagi, batin Sungjin.

“Oi, Jin-chi, kemari bantu aku!”

Dengan amat terpaksa, Sungjin menggeser tubuhnya yang tadinya terlanjur berbalik setengah putaran. Ia menyeret tungkainya malas-malasan, tidak ingin berurusan dengan tetangga barunya itu, namun pada akhirnya sial menyapanya lagi dan lagi.

Ingin rasanya Sungjin mengerang keras-keras di depan muka Yuzuru dan kakak laki-lakinya yang mabuk —entah siapa namanya, Sungjin mendadak diserang amnesia ringan.

“Kakakmu mabuk lagi?”

Dengus singkat bercampur kekehan, Yuzuru menjawab, ”Kou-chi memang punya kebiasaan jelek. Apalagi belakangan ini dia sedang banyak pikiran, dia jadi kelewat sering minum terlalu banyak.”

Banyak pikiran, dia bilang? Lantas jika masalah bertubi-tubi menimpa seseorang, mabuk jadi jalan keluar hingga diperbolehkan mengganggu kenyamanan sekitar?

Meski dengan gerutuan bercokol dalam batin, Sungjin meraih lengan kiri pemuda itu dan menyampirkannya di pundak, ikut membopong bersama Yuzuru. Sesekali, cuping hidungnya mengernyit ketika aroma alkohol menguar pekat.

.

.

9.26 PM KST

Di sinilah Sungjin sekarang. Duduk di balik dinding kaca minimarket tak jauh dari dorm, berdampingan dengan Yuzuru yang bersikeras menraktirnya ramen setelah bantuannya membopong sang kakak sampai ke kasur kamar apartemen keluarga Arai.

“Tidak apa kakakmu ditinggal sendirian dalam kondisi mabuk?”

Sibuk meracik ramen instannya, Yuzuru tak lekas membalas pertanyaan Sungjin. Baru ketika ia selesai mencampur semua bumbu ke dalam cup ramen, menunggu beberapa menit ke depan hingga matang, Yuzuru pun buka suara. “Tenang saja, sebentar lagi Taku-chi juga pulang.”

Sungjin mengangguk paham. Memorinya terlempar pada hari pertama kepindahan keluarga Arai. Ia masih ingat wajah pemuda yang Yuzuru maksud, Takuma salah seorang barista di cafe milik Nathan, kakak sepupu Mia yang cukup akrab dengannya. Nathan sempat ikut membantu mengangkat kardus-kardus berisi perabot dan barang pribadi milik keluarga Arai. Nathan juga bercerita, kalau dirinya lah yang menyarankan Takuma untuk tinggal di tempat mereka. Dulu Sungjin tidak membayangkan akan sesulit ini memiliki tetangga baru yang super merepotkan seperti Yuzuru dan gerombol sanak saudaranya.

“Pamanmu?”

“Hari ini Masa-chi harus kerja lembur. Ada proyek yang dikejar deadline, kalau tidak salah pembangunan area pertokoan baru.”

Lagi-lagi, anggukan kepala jadi respon singkatnya, sebelum tenggelam dalam lamunan tanpa arti. Tidak tahu harus bicara apa sebagai obrolan lanjutan. Lebih tepatnya, Sungjin malas mencari topik untuk diulas. Ia lebih memilih menyibukkan diri dengan ramen miliknya.

Itadakimasu.” Tepukan ringan dari dua telapak tangan yang bertemu, sebelum Yuzuru mulai menyantap ramen yang siap meluncur masuk ke dalam perut.

Gerah terus-menerus diselimuti senyap, Sungjin diam-diam mengerling gadis di sampingnya yang masih lahap menikmati ramen. Entah kelaparan atau apa, Yuzuru nampak seperti pengamen jalanan yang kekurangan asupan makanan berhari-hari. Dengan kaos lusuh berlengan panjang, juga celana jeans belel, ditambah kuncir rambut karut-marut, Yuzuru lebih kelihatan seperti penghuni jalanan ketimbang keponakan seorang arsitek handal. Namun aneh, ada sesuatu yang menggelitik Sungjin untuk mengumbar tawa. Bukan tawa berisi ejekan, atau maksud untuk merendahkan, tapi untuk pertama kalinya —alih-alih menyebalkan— gadis itu malah terlihat lucu di matanya.

Sungjin berdeham, menahan tawa yang siap menyembur ke permukaan. Pun mengutuk diri dengan pikiran yang nyaris keluar dari batas logika. Beruntung, yang bersangkutan tak menyadari, tangannya masih intens beradu dengan sumpit.

Kembali berenang dalam lamunan, tanpa sadar ingatan tentang obrolan dua hari lalu menari dalam benak. Ucap kata yang sempat terlontar dari bibir Yuzuru, komentar tepat sasaran soal Sungjin dan kisahnya dengan seorang gadis yang kini terpisah jarak bermil-mil jauhnya.

“Soal omonganmu kemarin,” ucap Sungjin, berhasil membuat Yuzuru menghentikan prosesi santap ramen dan menaruh perhatian padanya. “Kau benar, aku memang lamban.”

Gumam pelan jadi balasan si gadis, diikuti gerak naik-turun tempurung kepala.

“Aku sudah pernah mengambil satu langkah, asal kau tahu. Dia yang membuatku diam di pertengahan jalan.” Ulas senyum lesu nampak menghias wajah Sungjin. Air mukanya perlahan mengeruh. Juga pundak yang melorot kehilangan semangat diri. “Mungkin memang aku harus berhenti. Memutar balik tak masalah. Lagipula, melangkah ke depan sekarang pun tidak ada gunanya.”

Telapak tangan Yuzuru mendarat mulus di punggung Sungjin, menimbulkan bunyi debum keras. Sontak Sungjin menegak, sembari meringis merasakan panas menjalar di sekujur punggungnya.

“Kau ini lembek sekali, Jin-chi. Mau berbalik atau melanjutkan langkahmu, itu memang hakmu untuk memilih. Tapi, seorang pria tidak akan berbalik begitu saja dengan tangan kosong. Entah bagaimana hasilnya nanti, jawaban apa yang kau dapat nanti, tapi kembalilah dengan kepastian, bukan bayang keraguan.”

Sejenak Sungjin dibuat termangu. Agaknya tidak menyangka kata-kata itu akan keluar dari bibir seorang Arai Yuzuru yang dikenalnya berperangai acuh tak acuh pada sekitar. Nyatanya, ia bisa juga bertutur bijak.

Sungjin menunduk, sadar betul ketika gurat bibirnya tertarik ke atas dengan sendirinya tanpa titah pusat syaraf.

“Terimakasih sudah menyemangatiku, Yuzuru.”

fin

Advertisements

2 Replies to “Someone to Talk With”

  1. wkwkwk hidup anak day6 tuh ya emang jadi tempat penampungan orang susah gitu, ga ada nari bikin kesel ada pula si yuzu yang bikin sungjin grasak grusuk galau
    tapi kesel kesel sama yuzu gitu tetep dibantuain juga huhuhu emang leader baik hati tidak sombong suka menolong yaampun terharu jadinya. senggaknya yuzu nyusahani masih mau ngasih imbalan gitu lah ya ga kaya nari, udah nyusahin pelit lagi. aduh abang kamu galaunya terus terusan ya gapapa sih galau bermanfaat gitu kan sampe buang sampah, bersih2 dorm seklaian gapapa lah ya lumayan kan sekalian olahraga biar makin macho huahaha galau jadi produkif ceritanya gitu ya
    Yuzu senasip sama junhyeok gitu ya, tukang bopong sodara mabok kali-kali ngegosip bareng tuh seru pasti
    kasian juga kak lama lama ujin galau akut parah gini ya hidupnya jadi terasa merana sekali tanpa mia
    bang semoga bisa menemukan yang lebih baik ya
    kalo sama yuzu, sekalian dituntun ke jalan yang benar gitu kan biar dapet pahala

    ayo kak abang ujin jangan lama-lama dibikin sedih. dia butuh pasangan hidup lahir batin
    nanti kalo sedih-sedih terus isi albun baru day6 lagu galau semua kan gawat

    Liked by 1 person

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s