Hollow

Im Nari (OC) – Han Yejun (Model)

..

..

sky.l

..

..

“You have to look for it….. alone.”

Tempat itu ramai. Walau tidak sepenat ketika akhir minggu- dengan nafsu yang bergaung di tempat duduk pinggir bar menggoda dengan pakaian terbuka atau bibir merah menyala dan tatapan mencari mangsa. Hanya beberapa onggok manusia yang tampak lelah dengan dunia, diam sembari mengangkat gelas menyesap kenikmataan sekejap.

Ia tidak sedang ingin melarikan diri. Pun mencari mangsa syahwat. Hanya meneguk racik alkohol favorit spesial yang siap disajikan Reo kapan pun ia mampir.

Tapi sudah hampir sepuluh menit semenjak bokongnya mendarat di kursi depan meja bar, batang hidung Reo masih tak terdeteksi sama sekali. Jangan-jangan bartender langganannya itu sedang cuti tanpa kabar. Padahal ia sudah mendambakan teguk spesial khusus itu semenjak satu bulan lalu -berkat orang tua yang tanpa persetujuan menitipkan sang adik sampai paman ibunya pulih dari sakit.

“Permisi,” Nari memanggil seorang bartender yang wajahnya tidak familiar, “omong-omong Reo tidak sedang bekerja?”

Laki-laki yang tampak lebih mudah beberapa tahun darinya itu menjawab, “Reo hyung? Beberapa menit lalu dia membawa pesanan ke lounge di atas.”

Nari mengangguk, memberi senyum terimakasih sekilas. Tidak pernah setahunya Reo mau mengantar pesanan langsung kepada pelanggan, sekalipun orang-orang berdompet tebal yang sanggup mengambil alih seisi kelab.

“Hei gorgeous, aku merindukanmu. Lama tidak mampir,” baru saja ia berniat beralih pulang, sosok yang dicari muncul. Membawa sebuah mangkuk cukup besar yang tampak berisi air dan nampan kosong.

“Oh, kupikir kau sedang tidak kerja.”

“Mana mungkin. Aku selalu setia menunggumu di  balik meja ini,” Reo mengedipkan sebelah mata, seperti biasa menggodanya dengan rayuan kosong.

“Sibuk?”

Reo mengambil satu baket es dari dalam pendingin di bawah meja, memasukkan bongkah-bongkah kecil itu ke dalam mangkuk yang mana airnya sudah ia guyur ke dalam westafel. Laki-laki itu mengangkat kepala sebentar, memoles senyum yang terlihat prihatin lantas menggeleng. Tidak pernah dalam ingatan Choi Reo mengisi seluk emosi nyata dibalik permainan bualan katanya.

“Orang spesial?” Nari tersenyum jahil.

Tangan yang tadi sibuk menjeda terkulai di atas meja. Desir napas berat terdengar cukup keras meski musik kelab mengisi seisi jagad. Jenaka pada paras Nari lepas, ia tidak bermaksud membuat Reo tersinggung. Laki-laki itu menatap lurus, entah apa maksudnya.

“Kurasa dia lebih membutuhkanmu.”

Kelopak matanya mengerjap cepat, memproses sirat petunjuk maksud Reo barusan. Tetap saja ia tak mengerti.

Reo menyodorkan mangkuk berisi air dan balok-balok es di dalam segumpal kain lap.

“Kau tahu siapa yang kumaksud.”

Kepala Reo mengangguk pelan, menatap lantai dua kelab dimana lounge bersekat setengah kedap suara berjajar jauh dari keriuhan lantai dansa kosong di belakangnya.

Oh sial, si brengsek.

**

Kalau saja tidak ada cahaya dari kaca transparan di salah satu sisi dinding, ruangan itu termakan gelap gulita seperti langit di luar sana. Gundukan tubuh yang meringkuk di sudut ruangan, bersandar memejamkan mata itu pun tak sadar Nari baru saja masuk. Dengan terpaksa, sangat.

“Kau tahu, ada tempat yang lebih nyaman bernama rumah atau kalau untuk ukuranmu, hotel,” ujarnya menubruk tempat di samping laki-laki itu tanpa payah mengucap permisi atau maaf.

Tentu saja, makhluk itu bukan merasa terganggu malah tersenyum dengan sudut bibir tergores entah karena apa dan beberapa bagian berwarna gelap di sana sini wajah tampan penuh topeng. Nari merutuk naluri bodohnya. Mau susah payah menghampiri laki-laki brengsek ini padahal ia sudah tak ada urusan apa-apa, apa pedulinya dengan mantan kekasih persetan yang membuat hidupnya terluntang lantung seperti wanita tolol.

“Kau masih sering kesini?” Yejun menggeser kepala, mencodong ke arah Nari.

“Asal kau ingat, aku yang menyarankan tempat ini padamu, tuan brengsek,” Nari mengikat sisi-sisi kain, agar balok-balik es di dalamnya tidak menyembul keluar.

Sedikit, hanya sedikit. Ia mengasihani manusia yang tak melepas pandang dari gerak-gerik Nari.

“Aku senang bisa melihatmu lagi.”

“Oh begitu? Kemana gadis-gadismu yang manis dan seksi itu saat laki-laki pujaannya ini babak belur?” Nari mengaduk-aduk tas selempangnya, mengeluarkan potong-potong tensoplas dan tissue basah.

Sudi tak sudi, kedua titik matanya bertubruk pasang kelam Yejun. Cercah rekah sudut bibir terulas tipis, Nari berusaha keras mengabaikan wajah kuyu berantakan yang masih tetap tanpa celah itu. Perasaannya kosong. Tapi bersitubruk langsung dengan paras itu lagi membuat goyah hati mencuat.

“Aku menolongmu karena Reo. Bukan karena aku memang ingin melihat wajah brengsekmu lagi,” gumam Nari, sembari menempel tensoplas pada tiap gores dengan bercak darah kering di sekitar tulang pipi Yejun.

Laki-laki itu meringis pelan, “Cengeng,” gerutu Nari.

“Kau…. baik-baik saja?”

Tangan Nari terhenti sejenak, “Pacarku yang sekarang bukan aktor atau model tukang tebar pesona yang bisa membuat duniaku berantakan, tentu saja aku baik-baik saja.”

Yejun terkekeh, “Aku yang terlalu bodoh membuatmu terus-terusan sakit.” Samar tersemat desah sedih.

“Ternyata hidpku lebih kacau setelah kau pergi.”

Diambilnya buntal es dari mangkuk, ditempelkan pada sisi wajah Yejun yang berbercak keunguan.

“Kalau aku bisa membuat hidupku lebih baik. Kurasa kau juga pasti bisa,” tangannya menyingkap rambut bagian depan Yejun yang menutupi dahi. Laki-laki itu malah meraih tangan Nari.

“Bisakah kau…. kembali?”

Diletakkan kembali kumpul es berbalut kain ke dalam mangkuk, dilepas genggam ringkih Yejun.

“Kau tahu, mungkin kalau sekarang aku tidak mengerti bagaimana rasanya benar-benar dicintai oleh seseorang, aku tidak akan berpikir untuk menolak tawaranmu,” Nari menyodorkan mangkuk berisi gelungan es ke pangkuan Yejun.

“Maaf, tapi kurasa kau harus mencari orang lain untuk mulai mengerti perasaanmu sendiri. Maaf, orang itu bukan aku,” ditarik genggam Yejun, diletakkannya sebuah benda bulat berwarna perak.

“Aku tidak membencimu. Tapi bukan berarti aku bisa kembali.”

“Na-ya.”

“Anggap aku memberikanmu pelajaran, karena bagiku sekarang kau hanya adik kecil yang kehilangan arah. Jangan membuat hidupmu semakin kelam. Ada banyak hal lain yang bisa kau lakukan untuk memperbaikinya. Kau yang harus mencarinya,” Nari siap-siap mengangkat tubuhnya kembali, “sendiri.”

Derap tak lagi dengan beban, gendang telinganya kembali diusik deru keras musik elektronik kelab.

Kali ini ia tidak sedang butuh desir alkohol.

Ia butuh Jae.

Hanya Jae.

=end=

GAH orang ini loh, orang ini… iya abis nonton dramanya jadi minta di kambekin gitu dalem cerita dududuh haraon haraon.

Advertisements

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s