Supper

Nanomura Keikou (OC) – Yoon Dowoon (DAY6)

..

..

sky.l

..

..

Matanya mengerjap, mencoba menangkap sosok yang ia tengah butuhkan presensinya. Tak perlu lama, sekedar hitung singkat menit pun tak jadi masalah. Walau hanya basa-basi kosong berputar pada lingkar yang sama setiap kali mereka bersua. Masih tidak ada progres, sindir Brian padanya kapan hari.

Dowoon tetap berjalan ke counter, tak tertarik dengan pampang heboh pada papan menu di atas counter yang memerkan menu spesial atau promo potongan harga khusus. Gadis berambut pendek yang biasa mondar-mandir di depan meja kasir atau etalase makanan tidak tampak wujudnya. Padahal ia datang pada jam tepat shift gadis itu mulai. Apa ia salah waktu?

“Selamat datang. Ada yang bisa saya bantu?” seorang pria berapron cokelat dan topi senada dengan logo cafe menyapa Dowoon. Lantas mau tak mau tungkainya maju mendekat meja kasir. Sudah kepalang terlihat seperti akan membeli sesuatu. Meski pun jelas niat datang hanya sekedar untuk bertatap wajah dengan Kei.

“Satu Americano dan satu cheesecake,” Dowoon mengeluarkan kartu anggota cafe bersama beberapa lembar uang sesuai nominal total pesanan yang ia beli.

Pegawai itu menerima uang dan beranjak, meracik pesanan si pelanggan.

Dowoon ragu-ragu. Apakah tidak apa bertanya pada si pegawai cafe? Apa tidak kedengaran seperti stalker? 

“Terima kasih. Ada lagi yang bisa saya bantu?”

Dowoon diam, mengambil pesannya yang disodor si pegawai. Tanya, tidak, tanya, tidak, tanya, tidak…..

“Tidak. Terima kasih,” ia mengangkat tas kertas dari atas meja kasir, tersenyum samar, membungkuk sopan pada si penjaga kasir sebelum berbalik pergi.

Ah…. kemana Kei menghilang?

**

Tongkat drum hanya bermain tanpa tabuh di tangannya. Isi kepala terlalu gaduh untuk ditambah debam berisik, tak membantu menjawab pertanyaan misterius yang dari siang tadi bergentayangan tak hilang-hilang.

“Tumben dari tadi kau salah ketukan terus. Banyak pikiran?” Wonpil yang biasa tak banyak berkomentar soal latihan tahu-tahu mengulur sebotol air mineral. Dowoon tersenyum seadanya.

 “Maknae, kau sakit?” Junhyeok yang mencuri dengar usung pembicaran, menghampiri mereka. Tahu-tahu meletakkan telapak tangan pada kening Dowoon.

Baby, what’s wrong?” Jae yang menganggap tingkah membernya candaan, ikut menimpali.

Kenapa ia murung sedikit saja sudah seperti seorang sekarat yang harus dilarikan ke ICU. Dowoon mengangguk, dua alis mencuram kernyit heran melihat tingkah orang-orang yang lebih tua darinya bersikap kelewat perhatian.

“Pasti gara-gara Kei pindah tempat kerja.”

Matanya lantas nyalang menacari sosok Brian, tertutup Junhyeok dan Jae yang menghalang pandang. Skill casanova Toronto memang berbeda dengan anak ingusan pemula macam dirinya kalau soal wanita.

Brian memulas cengir, terka tepat padahal ia hanya asal celutuk. “Tadi aku habis dari cafe, kutanya pegawai yang lain katanya Kei sudah berhenti kerja disitu. Gara-gara itu kau murung?”

Dowoon diam, pura-pura sibuk memutar-mutar tongkat drum di tangan agar terlihat tidak kelabakan karena ditampar tebakan jitu Brian. Ia bisa merasakan tatapan ingin tahu Junhyeok, Jae, dan Wonpil yang masih menggerayangi.

“Aduh adik manis. Tanya saja pada Momo. Masak Momo tidak tahu kemana Kei pindah kerja,” Jae mendekat, mencubit pipi tembam Dowoon gemas.

Astaga, ia tidak terpikir menanyakan Kei pada sahabat karibnya itu.

Dowoon tersenyum lebar, beranjak dari kursi di belakang drum.

Hyung aku…”

“Ya ya ya, sana cari gadis idamanmu itu sebelum hilang ditelan bumi,” Sungjin menyahuti sebelum Dowoon sempat menyelesaikan permohonan izinnya.

“Cari sampai dapat!” Teriak Junhyeok dibarengi sorakan riuh Jae sebelum pintu studio mengayun tertutup.

**

“Dia pindah ke cafe bernama The Quarters di daerah Sinsa-dong tiga hari yang lalu.

Setelah beberapa menit hening kebingungan mencari topik agar ia tidak terdengar terlalu kebingungan mencari gadis bernama Kei itu, akhirnya Momo hanya terkekeh geli lantas menguar kata-kata yang Dowoon coba racik dalam pembicaraan yang tak terucap lantaran kebanyakan pertimbangan,”Oppa, kau mencariku pasti karena Kei.”

Ia hanya tertawa canggung, menggaruk tengkuk lalu mengagguk membenarkan ujaran Momo.

Dowoon berdiri tepat di seberang cafe. Meniti dari luar memasang penglihatan pasat-pasat manusia yang tampak mondar-mandir di dalam cafe. Tapi tidak terlihat sosok berambut pendek yang ia cari-cari. Apa salah tempat?

Tapi jelas-jelas tulisan dengan lampu menyala di atas cafe tersebut bertuliskan ‘The Quarters’. Ia bahkan bertanya pada salah satu pegawai cafe lain yang kebetulan lewat apa ada tempat lain yang bernama sama, tidak ada. Hanya satu, tepat dimana ia tinggal menyebrangi jalan kecil di depan untuk sampai ke pintu masuk.

Atau jangan-jangan Momo salah memberitahu lokasi? Mungkin cafe yang dimaksud bukan berada di Sinsa-dongMungkin maksudnya Insa-dong? Atau Apgujeong? Atau malah Hongdae?

Sudahlah, apa salahnya masuk membeli sesuatu dan melihat apa benar ia salah tempat. Lagi pula tidak ada ruginya mencoba makan di tempat baru. Kebetulan ia mulai merasa lapar.

**

“Selamat datang? Mau pesan apa?” Penjaga kasir segera menyapanya dengan ramah.

Dowoon balas tersenyum, lalu menelisir jajaran menu yang tertera di papan hitam di belakang meja kasir.

Waffle blueberry, kentang goreng, dan segelas iced cappuccino.” 

“Silahkan tunggu pesanannya,” ujar penjaga kasir begitu transaksi pembayaran selesai.

Dowoon menyingkir membiarkan pelanggan yang mengantri dibelakangnya.

“Kei! Satu waffle blueberry.” 

Baru saja ia akan duduk di salah satu meja tak jauh dari kasir, tapi instingnya segera sigap begitu nama yang mengusik gulung-gulung neuron di balik tempurung kepala disebut lantang oleh salah seorang pegawai di balik counter makanan. Dowoon masih berdiri, pandang menjelajah sisi counter dan jendela kecil yang menampakkan dapur.

Ne,” nada tinggi yang ia hapal menyahut, kepala mungil merunduk rendah sembari tersenyum kepada pegawai yang barusan menempelkan kertas pesanan di pinggir jendela dapur.

Tanpa nalar panjang, tungkainya menjejak kembali ke arah counter makanan dekat jendela dapur.

“Ya? Ada yang bisa saya bantu?” seorang pegawai yang tadi ia lihat meneriaki pesanan menghampiri Dowoon.

“Uhm…. bisa tolong… Err…. boleh tolong….”

“Ada yang mau Anda pesan?”

Dowoon menggeleng, “Kei…. aku teman Kei.”

Si pegawai mengangguk, “Sebentar,” lalu berjalan mendekati jendela kecil dapur. “Kei…. seseorang mencarimu.”

Pipinya menggembung membuang banyak-banyak napas berat yang menyesak. Sudah susah-susah mencari begini ia malah gelagapan tidak tahu harus bagaimana kalau gadis itu muncul.

Tak lama pintu dapur tak jauh dari tempat Dowoon berdiri didorong membuka, Kei keluar membawa sepiring waffle.

“Oh, Oppa?”

Lambai tangan pelan canggung adalah satu-satunya hal yang otomatis Dowoon lakukan.

**

“Uhm…. enak,” komentar Dowoon setelah dipaksa Kei mencicipi waffle yang barusan dibawanya. “Tidak apa memangnya? Chefmu tidak marah?”

Kei menggeleng, “Tidak apa. Ryu Ho oppa bilang aku bisa istirahat sebentar. Masih ada asisten yang lain.”

Dowoon mengangguk, masih pelan-pelan menyendok lalu mengunyah waffle blueberry pesanannya. Diam-diam mengaduk ide membubuh pembicaraan.

“Omong-omong tahu dari mana aku pindah kesini?”

Ia menelan kunyahan lambat-lambat, “Momo. Uhm…. itu…. kapan hari kubilang aku ingin makan waffle. Tadi dia bilang waffle di tempat ini enak.”

“Oh ya? Padahal Momo néchan belum sempat kesini.”

Dowoon tersenyum kikuk, beruntung kunyahannya sudah ia telan sehingga ia bukannya malah tersedak karena alasan barusan gagal terdengar mulus.

“Habis ini, kau masih latihan?” ia berusaha memutar topik lain, berusaha tidak tertangkap basah ketahuan mencari-cari sang lawan bicara seharian ini.

Kei menggeleng, “Tahun baru. Sensei sedang kembali ke kampung halaman sebentar.”

Ia mengangguk.

“Terima kasih sudah datang, walaupun sebentar, ke konser waktu itu.”

Gadis itu tampak agak terkejut, “Loh, oppa tahu aku datang?”

Dowoon mengangguk. Mengulum senyum yang memaksa ingin menyembul.

“Momo néchan saja tidak lihat dan malah mengomeliku malam itu. Padahal sudah kubilang aku datang sebentar sebelum latihan,” ujar Kei, sibuk menggerutu sendiri. Ia tertawa melihat gadis itu menekuk wajah, tampak merengut.

Oppa suka waffle?” Ujar Kei, memerhatikan Dowoon yang dari tadi henti mengunyah atau mencomot kentang goreng. Terlihat sangat kelaparan

Ia hanya mengangguk. Tak mengerti kemana maksud pertanyaan Kei.

“Aku tahu tempat waffle dan pancake yang enak di sekitar Gangnam. Kalau mau kesana kapan-kapan akan ku—“

“Boleh! Tentu saja….” Kei terkekeh, tahu-tahu Dowoon terlihat begitu antusias, “maksudku. Kapan-kapan kau bisa menunjukkan tempatnya. Iya…. tidak uhm…. boleh.” Ia pura-pura sibuk memotong waffle, agar tak kentara terlihat rona pada pipinya yang segera dibuat sibuk mengunyah.

Oppa.”

“Y-ya?”

“Kau yang traktir ya?”

=end=

Ulaaaaa, ada cecimit baru. Emesh emesh dedenya Day6 kali ini mwehehee semoga suka si ucul kikuk yang kalo ngomong ngebass trus pipinya minta di cubit digigit sama bocah misterius yang idupnya luntang-lantung sambil nguli hapkido ini.

Advertisements

One Reply to “Supper”

  1. SERIUS DEH LI KAKAK BACA INI SAMBIL CENGAR CENGIR SENYAM SENYUM GAK JELAS UNTUNG LAGI GA ADA ORANG DI DEPAN TV KECUALI KAKAK KALO GA BISA DIKIRA GILA KALI YA SAMA TEMEN KOSAN WKWKWKWKWK

    hih gemes banget sumpah sama pasangan satu ini, lucu unyu gemesin pengen dicubit pake jepit jemuran! /ga gitu juga tir/ tapi itu dowoon nyariin kei sampe segitunya huhu unyu banget apalagi pas dia galau sampe latihannya berantakan. adek wowon kalo lagi galau mikirin gebetan bisa gitu ya gemesin malah bikin orang pengen nyubit pipi dia.

    DAN ITU HYUNG HYUNG NYA PADA KHAWATIR HAHAHAHAHA MAKNAENYA LAGI GALAU MEREKA LANGSUNG IKUT KELABAKAN. serius itu waktu member day6 lainnya nanyain dowoon kenapa kakak nyengir lebar banget hahahahaha GEMES! mana itu jae nyubit pipi dek wowon huhu aku juga mau!!

    “Ya ya ya, sana cari gadis idamanmu itu sebelum hilang ditelan bumi.”

    sungjin pengalaman ya wkwk, gebetannya juga ilang ditelan tokyo tower. dek wowon jangan sampe nasibnya sama kayak leader ya, biarin tuh si leader galau sendirian, kamu jangan sampe ikutan galau kejar terus kei sampe dapet! dapetin hatinya maksudnya hehehe

    pengen ketawa kenceng pas dowoon alibi tau the quarters lewat momo nyaranin wafflenya padahal momo belum pernah kesana hahahaha dowoon jadi salting gitu lol. ntar lain waktu bikin alibi yang ga sampe ketauan boongnya ya dek wkwk

    li ditunggu dowoon traktir kei ke cafe waffle di gangnam ya! ditunggu yang manis manis dari couple unyu ini 😉

    Liked by 1 person

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s