New Neighbour

new-neighbour

New Neighbour

|| Headcanon – Lucille – Ficlet ||

- Arai Yuzuru & Park Sung Jin -

© 2016

KARASU

.

.

— January 3rd, 2016

6.23 PM KST

“Yo, Jin-chi!”

Dari balik punggung, Sungjin memejam mata, menahan erangan. Enggan putar badan sekedar untuk membalas sapaan yang baru saja ia terima sesampainya di dorm. Jujur saja, ia malas bertemu dengan gadis itu. Gadis yang baru saja menyapanya dari ruang tengah, pemilik nama Arai Yuzuru. Sekaligus tetangga baru mereka, baru pindah akhir bulan tahun lalu. Keluarga keturunan Jepang, entah dari kota mana asalnya. Ada empat penghuni baru, gadis itu, dua saudara laki-lakinya, dan seorang paman berusia tiga puluh tahun ke atas —mereka mengaku satu keluarga, tetapi, demi Neptunus, wajah mereka sama sekali tidak mirip satu sama lain.

Amat terpaksa, Sungjin berbalik badan usai menutup kembali pintu dorm. Buru-buru ia tarik sudut bibirnya, menampakkan senyum paksaan yang jelas terlihat.

“Hai,” ia menyahut, dengan satu tangan terangkat malas ke udara.

Hampir Sungjin merapal sumpah serapah ketika melihat sikap duduk gadis itu. Tangan yang bertengger santai di punggung sofa, dua kaki terangkat melebar tak sadar etika, dan puntung tembakau terselip di jemari tangan lainnya.

Asap rokok menguar dari celah bibir Yuzuru, sebelum gadis itu kembali buka suara, “Dari studio?”

Alih-alih menjawab, Sungjin malah menerjangnya dengan pertanyaan lain setelah ekor matanya sama sekali tak menangkap batang hidung penghuni dorm lainnya. “Kemana yang lain? Dan kau, bagaimana masuk kemari?”

“Oh, Brian keluar membeli minuman, cola di kulkas habis, dia bilang,” seloroh Yuzuru, masih dengan posisi duduk seenak pantat. Tak merasa malu dengan pemilik rumah yang baru saja datang. “Brian yang membukakan pintu tadi, kami mengobrol sebentar lalu dia pergi ke minimarket. Dia bilang tunggu saja di dalam. Kalau yang lain, entahlah.”

Desah berat keluar dari cuping hidungnya, Sungjin lantas beranjak menuju kulkas. Ia butuh segelas air putih untuk menjernihkan pikiran, mungkin juga untuk jiwanya. Terjebak bersama tetangga baru yang tak kenal sopan santun itu rasanya sungguh menyebalkan. Dan sialnya pula, kemana perginya empat temannya yang lain? Sungjin jadi harus menghadapi gadis sialan itu sendirian. Ia hanya bisa berharap Brian lekas tiba, setidaknya ia bisa kabur ke dalam kamar, mengunci pintu rapat-rapat dan tidak keluar selama gadis itu masih berkeliaran dalam dorm mereka.

Bukan tanpa alasan Sungjin tidak menyukai Yuzuru. Semenjak kepindahannya kemari, ia dan keluarganya seringkali membuat kegaduhan tak berarti, terutama ketika malam menjelang. Sudah tak bisa dihitung dengan jari berapa kali mereka merepotkannya. Apalagi gadis itu, yang suka seenaknya masuk ke dalam dorm, berpikir seolah rumah sendiri. Memakai perabot tanpa ijin, menyalakan televisi keras-keras di saat Sungjin ingin beristirahat, menghabiskan makanan di dalam kulkas, merokok sembarangan, dan lebih parah lagi, tidur tanpa permisi di kasurnya tiap kali berkunjung di siang bolong. Entah gerangan apa gadis itu lebih suka menjadikan kasur milik Sungjin sebagai landasan pacunya terbang ke alam mimpi. Beberapa kali pula, Sungjin harus tidur ditemani bekas genang liur yang mengering di bantalnya.

Sungjin heran, mengapa Brian dan Jae cepat sekali akrab dengan gadis sinting itu. Tiap kali Yuzuru berkunjung, mereka selalu terlibat dalam percakapan seru. Sementara Wonpil dan Dowoon, keduanya kelihatan santai-santai saja, tidak ada tanda-tanda protes keras atas kelakuan jauh dari tata krama milik Yuzuru. Juga Junhyeok yang tampak bisa mengendalikan diri, mungkin karena sudah terbiasa dengan perlakuan yang tak jauh beda dari sepupunya, Im Nari.

“Jin-chi!”

“Apa?” Seruan yang disahuti dengan malas oleh Sungjin yang kini sedang menenggelamkan kepalanya ke dalam lemari pendingin, mencari sesuatu menyegarkan yang sekiranya bisa dilahap.

“Tadi aku membuka laptopmu, kulihat ada e-mail masuk.”

“Apa?!”

Terlampau kaget diterjang informasi dadakan, Sungjin yang awalnya buru-buru hendak menuju kamar tak sengaja terantuk langit-langit kulkas. Memijat puncak kepala yang berdenyut, lantas Sungjin lekas berderap dari dapur menuju tempat tidur. Meraup laptopnya begitu ia sampai. Dan dengan mata nyalang, ia mengecek satu per satu kolom e-mail masuk. Berbinar lantaran satu e-mail balasan dari Jepang akhirnya sampai, setelah berminggu-minggu ia menanti harap-harap cemas. Detik berikutnya, erangan kesal kembali muncul begitu menyadari sudah ada seseorang yang membacanya lebih dulu tanpa seijinnya selaku pemilik akun yang sah.

“Kelihatannya kau senang sekali, Jin-chi. E-mail balasan dari pacarmu, huh?”

Belum sempat Sung Jin membaca e-mail balasan Mia, pemuda itu malah mengangkat tungkainya kembali ke ruang tengah. Amuk nyaris mencapai ubun-ubun saat Yuzuru memamerkan senyuman miring tanpa dosa.

“Kau baca, kan?” todong Sungjin.

“Mm-hm, memang kenapa?”

“Bisa tidak tanganmu itu berhenti melucuti privasiku?”

Seakan tidak merasa bersalah, Yuzuru hanya mengedikkan bahu santai. “Aku tidak sengaja. Sudahlah, tidak usah malu begitu padaku. Toh, aku tidak akan membocorkannya pada teman-temanmu.”

Memejam mata, Sungjin berusaha meredam amuk yang siap tumpah kapan saja. Hanya sekali ini saja, —ya, sekali ini saja— ia coba menolerir kelakuan kurang ajar Yuzuru. Lain kali, tidak peduli seorang gadis, Sungjin akan menendangnya keluar.

“Tapi, Jin-chi,” Punggung Yuzuru menjauh dari sofa, dimatikannya puntung rokok yang sudah tiga perempat bagiannya habis dibabat api ke asbak di atas meja. “Kau ini, gerakmu ternyata lamban sekali, ya.”

Untuk kali ini, alih-alih mendongkol, Sungjin hanya membisu. Paham betul maksud ucapan yang baru saja dilayangkan gadis itu padanya.

Yuzuru benar, ia betul-betul lamban.

fin

Notes:

DOR!

Ada cewek sinting baru tapi sayang Sungjin dibikin kesel haha. Salam kenal dari Yuzu!

Advertisements

One Reply to “New Neighbour”

  1. hukss,, mengerti knp sungjin bisa emosi kyk gtu.. yuzuru cewek tp lbih bandel dr cowok… cuma mau tdur d kasur sungjin ya?? aku juga, hehe.. kasurnya paling harum mgkin, dy kan bersihan orangnya~~

    Liked by 1 person

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s