Overhear

fe287eab5f22552815f618c8b0b91b5d

O V E R H E A R

|| Headcanon – Phoenix – Ficlet ||

- Hasegawa Shiori -

©2016

KARASU

.

.

Seike University, Tokyo, Japan

December 8th, 2015

“Astaga! Bukannya itu Terada-senpai1?”

“Ssst, pelankan suaramu!”

“Oi, kalian sedang lihat apa, sih?”

“Terada-senpai bersama seorang gadis!”

“Aduh, Michiru, jangan mendorongku dong!”

Nyaris saja aku terjungkal keluar dari balik pilar tempat persembunyian jika tidak kuat memijak permukaan lantai. Tepat di balik punggungku, Michiru menjulurkan sebagian tubuhnya, terobsesi untuk melihat lebih jelas kejadian yang tengah terpampang di depan kami. Dan Saku di baris paling belakang, yang mungkin saja masih belum begitu sadar apa yang menginterupsi perhatian kami berdua.

“Gadis itu.. Yumi anggota baru klub kita, kan?” bisik Michiru dengan picing mata terfokus lurus seperti paparazzi yang sedang menguntit artis buruannya demi secuil berita panas.

Ikut memicing mata, kucoba melihat jelas-jelas rupa gadis belia yang tengah berdiri berhadapan dengan seorang senior di klub kyudo yang aku dan Michiru ikuti. Jarak mereka hanya beberapa meter dari tempat kami bersembunyi, cukup untuk jangkau radar pendengaran kami. Baru setengah jam yang lalu latihan kyudo usai, aku dan Michiru menyusuri lorong belakang kampus yang biasa kami lewati, juga Saku yang menunggu kami selesai berlatih untuk pulang bersama, ketika aku tanpa sengaja menangkap kejadian tak terduga.

“Laki-laki itu mahasiswa kedokteran Universitas Tokyo yang jadi asisten pelatih di klub kalian, kan?”

Michiru mengangguk kelewat semangat sebelum menjawab pertanyaan Saku, “Terada-senpai yang banyak diidolakan anggota perempuan, bahkan mahasiswi di luar klub juga tidak sedikit yang menyukainya. Kudengar sekarang mereka membentuk fanclub untuk Terada-senpai. Tidak diragukan lagi, Terada-senpai memang tampan sekali!”

“Jangan bilang kau berpikir untuk mendaftar fanclubnya,” erang malas Saku.

“Hm, kedengarannya bukan ide jelek.”

Agak sebal dengan dua sahabatku yang tidak bisa mengecilkan volume suara mereka, aku berbalik badan. Setengah melotot, aku menyuruh mereka untuk diam. “Sst, diam sebentar bisa tidak? Kita bisa ketahuan nanti.” Lalu kembali menaruh perhatian penuh ke depan setelah memastikan dua makhluk di belakangku benar-benar menutup mulutnya.

“Sebenarnya sudah lama aku memperhatikan, Senpai.”

Satu kalimat keluar dari bibir Yumi. Kepalanya agak menunduk, membuat surai panjangnya jatuh menimpa parasnya. Sementara Terada-senpai masih dengan baik hati mendengar. Berbanding terbalik dengan kami —mungkin Saku pengecualian, karena dia sepertinya tidak begitu tertarik dengan hal-hal berbau gosip-menggosip— yang mulai menahan napas menunggu kelanjutan pertunjukan gratis.

“Aku.. aku menyukai, Terada-senpai!” Geliat tubuh Yumi seolah makin mengerut. Entah karena gugup yang mendera atau apa. “Aku ingin Senpai pergi kencan denganku akhir pekan ini, kumohon.”

Aku bisa merasakan tangan Michiru meremas punggung jaketku. Sama sepertiku, sekarang dia pasti ikut diserang penasaran akut menunggu jawaban apa yang akan terlontar dari bibir pemuda pemilik nama Terada Yuutaro itu.

Dengan seksama kuamati gerak si pemuda, anak bungsu dari keluarga calon besan Hasegawa. Betul, aku mengenalnya sebelum kami bertemu di klub sebagai senior dan junior, tepatnya di hari pertunangan kakak sepupuku dengan seorang dokter bernama Terada Yosuke, kakak laki-laki Yuutaro. Meski, baik aku maupun dia, tidak begitu sering terlibat dalam obrolan panjang di luar urusan klub. Dia tipikal lelaki nyaris sempurna yang mampu menarik perhatian setiap gadis yang melihat. Dianugerahi paras elok, tubuh atletis, otak yang encer, juga tutur laku penuh santun, bukan hanya para gadis yang terpikat padanya, bahkan lawan jenis pun ikut mengagumi. Sedangkan aku? Hanya gadis biasa dengan kemampuan otak pas-pasan.

“Shimizu-chan, terimakasih karena sudah menyukaiku,” pemuda itu membalas, setelah sejenak diam nampak berpikir. Aku melebarkan mata, juga dua daun telinga, tak ingin melewatkan satu kata pun. Menyimak dengan penuh minat. “Tapi, aku tidak bisa menerima ajakanmu, gomen ne2.”

“Eeh, dia menolaknya?” Hampir saja Michiru menjerit begitu kakiku reflek menginjaknya, menyuruhnya untuk tetap tenang dalam persembunyian. Pukulan ringan jatuh di puncak kepalaku sebagai balasan, diikuti bisik geram Michiru, “Sakit, tahu!” Di belakang, kami bisa menangkap dengus tawa mengejek dari Saku, satu-satunya orang yang sedari tadi membungkam mulut.

Nande3? Kenapa Senpai tidak bisa menerimaku?”

Ada nada menutut dari ucap bibir Yumi. Berbanding lurus dengan air muka yang memerah, entah menahan tangis atau emosi. Tapi bisa kulihat bulir bening tertangkup di balik kelopak matanya. Ada rasa kasihan yang menjalariku, meski aku dan Yumi bisa dikatakan tidak begitu dekat, namun melihat seorang gadis menerima penolakan dari lelaki yang disukainya membuatku merasa simpati.

“Karena ada orang lain yang kusukai.”

 “Siapa dia? Siapa gadis yang Senpai suka?!”

Gomen, aku tidak bisa memberitahumu.”

Yumi menunduk semakin dalam. Aku tahu dia menangis. Sayup-sayup terdengar isaknya tertahan. Sungguh, aku merasa simpati padanya. Di luar prediksi, seorang gadis cantik seperti Yumi mendapat penolakan seperti itu. Kupikir Terada-senpai akan menerimanya, melihat sangat banyak pemuda lain di luar sana yang berbaris mengantri menunggu seorang Shimizu Yumi.

“Aku tidak akan melupakan penolakanmu ini, Senpai.” Kalimat terakhir diiringi isak tertahan, sebelum Yumi berbalik meninggalkan pemuda itu.

“Aku tidak begitu suka dengan Yumi, jujur saja, tapi melihatnya hari ini membuatku kasihan. Pasti sakit sekali ditolak orang yang kita sukai,” desah Michiru, dua pundaknya melorot turun. Kelihatan sekali jika dia juga ikut merasakan sedihnya patah hati. Sebelum Saku mendaratkan telapak tangannya di puncak kepala Michiru, sambil berujar, “Sudahlah, ayo pulang. Aku sudah lapar.”

Sedangkan aku sendiri, sedikit mencebik —masih bersimpati— memutar kembali tubuhku menghadap ke arah tempat perkara. Yumi, tentu saja, sudah tak nampak batang hidungnya. Sementara Terada-senpai masih ada di sana, belum beranjak satu senti pun dari titik semula. Aku terus memandanginya, dalam diam otakku memutar rekam ucap yang dia lontarkan tadi. Ketika pemuda itu berujar ada seseorang yang dia sukai, hingga tak menaruh secuil perhatian pun pada gadis cantik bak peragawati seperti Yumi. Tidak berlebihan kedengarannya jika aku agak dilanda penasaran.

Pandang kami bersirobok. Untuk sesaat, tubuhku terasa dingin memaku-beku di tempatku berdiri. Dia melihatku, dia pasti berpikir aku sudah mencuri-dengar percakapan pentingnya tadi. Sial betul hari ini, pada akhirnya aku kepergok menguping. Bagaimana mukaku jika bertemu dengannya besok?

Tapi siapa sangka, tatapnya melengos. Menjauhi sirat mataku. Seperti didera gugup yang datang tiba-tiba, dia memalingkan wajah, dengan satu tangan mengusap tengkuk, lalu mengangkat langkahnya jauh-jauh.

Dan, demi Tuhan, apa aku baru saja melihat semburat merah di pipinya?

fin

1) Panggilan untuk senior

2) Maaf ya

3) Kenapa?

.

.

HAHAHAHAHAHAHAHAHA INI ALA ALA SHOUJO MANGA BANGET YA MAAFIN SAYA

Niatnya pengen ngenalin Yuutaro tapi malah dapet idenya begini, maaf kalo rada gimana gitu, saya ga jago bikin yang manis manis.

7794433e699d4b6c7c814db11b655059

Ini Nakagawa Taishi adik manis saya yang sering bikin saya khilaf hahaha saya pakai muka dia buat cover/face-claim Terada Yuutaro. Maafin saya bikin dia jadi ala ala senpai cool padahal aslinya dia masih unyu unyu gini wkwk.

Terakhir, terimakasih sudah membaca! 🙂

Advertisements

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s