Double Trouble #4

Im Nari (OC) – Park Jaehyung (DAY6)

..

..

sky.l

..

..

2:34 PM KST

Nari mencoba mengingat-ingat, apa yang dulu ia lakukan saat seusia Raehyung. Ia sering bermain kejar-kejaran bersama teman-teman tetangga. Atau meneriaki Junhyeok dari pagar rumah karena jarak rumah mereka tidak begitu jauh, mengajak sepupunya itu bermain ke lapangan di dekat komplek. Itu dulu, saat ia masih tinggal di Incheon. Sebelum usaha ayahnya berlimpah untung dan menjadi baton beban tanggung jawab yang diancang-ancang pada Nari.

Dulu, ia dan Junhyeok sering merengek minta dibelikan gula kapas merah muda di belokan gang. Lain waktu ia mengerjai kakak perempuan Junhyeok agar memberi mereka uang untuk bermain di mesin game tua di samping toko serba ada milik paman Jun. Kadang mereka iseng menjahili tetangga dengan memencet bel di gerbang lantas kabur.

Ujung bibir otomatis merekah kala mengenang masa kanak yang tanpa beban, normal seperti anak sebaya lain. Masa yang harus direngut dengan cepat begitu ia menginjak menengah pertama dan terpaksa meninggalkan teman-teman serta sepupu kesayangannya itu mengikuti rencana besar sang kepala keluarga.

Noona,” Raehyung menarik ujung blus Nari.

“Ya?”

“Aku mau ke toilet,” bocah mungil yang tingginya hanya sampai sepinggul Nari itu berbisik pelan.

“Tutup matamu ya. Noona tidak bisa membawamu ke toilet pria soalnya,”
Nari meraih kedua lengan Raehyung dan menggendong adiknya itu.

Sena dihujani tutorial tambahan pagi-pagi sekali karena nilai yang merosot. Setelah kejadian tempo hari di dorm, ia dan Jae belum saling bertukar aum seperti biasa.

Mau tidak mau Nari memboyong Raehyung ke tempat kerja. Beruntung anak itu tidak banyak pinta, disodor mainan di ponsel atau tontonan apa saja di layar televisi, Raehyung akan duduk manis menunggui Nari selesai bekerja.

Nari menolak dipanggil Noona. Merasa tidak pantas karena selama ini sosoknya hiatus lama dari keseharian Raehyung.

Ahjumma,” Sena tergelak bukan main ketika Nari mengatakan pada Raehyung agar tidak memanggilnya noona dan bocah itu berinisiatif melontarkan panggilan lain yang ia tahu. Nari menyerah, mentolerir rasa bersalah tiap kali Raehyung memanggilnya dengan sebutan tersebut.

Junhyeok selalu mengiriminya pesan, bertanya tentang keadaannya dan Raehyung. Sesekali menawari bantuan -yang langsung Nari tolak. Seorang Nari, menolak pertolongan cuma-cuma adalah hal yang tidak biasa. Tapi begitu teringat konfrontasi Jae, ia segera sadar lumur rasa bersalah yang menempel lekat –terlalu lekat sampai ia lupa. Menginjak kaki di dorm berarti bertemu Jae. Mentalnya belum sampai pada tahap itu.

Nari menggandeng Raehyung keluar dari toilet, mendudukkan bocah mungil itu di bangku tak jauh dari counter dimana ia bisa curi-curi lihat tindak tanduk adiknya itu sambil membuat pesanan pelanggan.

Noona.”

“Ya?”

“Jae hyung.”

“Huh?”

Telunjuk mungil Raehyung mengarah lurus, tepat pada sosok menjulang yang tengah berjalan ke arah mereka.

Menjalani hidup yang seperti sebuah drama itu sama sekali tidak menyenangkan. Namun ia lupa, hidup adalah salah satunya. Meskipun kali waktu posisi sutradara atau penulis naskah dalam jalan cerita diambil paksa semesta yang bermain dengan balut makna naif dalam kamuflase takdir.

“Hi.”

**

 

5:23 AM KST

 

“Belum juga baikan dengan Nari?” Brian kembali dengan dua gelas sterofoam kopi. Jae bahkan tidak sadar kapan Brian keluar dari studio.

Jae tak menjawab, terus memilih aransemen yang tak kunjung rampung setelah beberapa malam di studio tanpa henti. Tentu saja, mengalihkan isi kepalanya dari masalah yang ia sendiri tak mengerti bagian mana yang membuatnya….. sakit. Kadang ia ingin menjadi orang lain dan menertawai dirinya sendiri.

“Masalah itu diselesaikan. Bukannya diabaikan, kau ini sudah tua masih saja perlu diajari,” seloroh Brian, kembali mengambil coretan berisi lirik-lirik yang ia kerjakan.

Jae tak juga menjawab. Berusaha tak terpancing perkataan pria yang diam-diam jitu menampar kenyataan yang ingin ia singkirkan sesaat.

“Junhyeok sudah menjelaskan padamu kan? Nah, apalagi yang jadi masalah?”

Yang jadi masalah? Mungkin dirinya merasa gagal sebagai seorang kekasih yang tidak bisa memahami perasaan pasangan. Mungkin juga ia yang seenaknya mengambil kesimpulan dan menumpahkan kekesalannya begitu saja sebelum mengklarifikasi duduk sebab akibat. Jae tahu betul, ia salah. Tidak ada argumen apa-apa lagi yang dapat melerai.

Saking salahnya ia tidak punya muka untuk menghadap Nari –setelah sepihak menghakimi dan membuat gadis itu tersakiti karena masa lalu yang jelas-jelas tak ingin gadis itu usung lagi.

Jae takut, jika ia muncul di hadapan Nari gadis itu akan menetaskan akhir dari perjuangannya.

“Jangan berasumsi macam-macam seperti yang selalu kau lakukan, bodoh. Tanyakan langsung, sebelum semuanya semakin berantakan.”

“Oh, hyung. Masih disini?” Dowoon muncul, membawa empat gelas kopi dari kedai 24 jam tak jauh dari gedung agensi.

Lalu ketiga orang lainnya menyusul, mengambil gelas kopi dari pegangan Dowoon.

“Tidak pulang lagi? Ckckck,” Sungjin menggeleng, berlalu menuju instrumen pegangan yang diparkir di pojok ruangan.

“Istirahat dulu sana. Kau sakit kita semua bisa kerepotan,” ujar Sungjin, menatap ngeri penampakan Jae yang semakin pantas disebut kumal.

Mana bisa ia tidur tenang kalau rasa bersalah masih menggerayangi seperti bisik setan yang tak pernah absen merasuki telinganya acap kali.

“Kalau Nari sampai mengakhiri hubungan kalian, kau kan cukup keras kepala untuk tidak membiarkan semuanya selesai,” Brian menepuk singkat bahu Jae, “sana. Sebelum duniamu benar-benar runtuh.”

Jae menurut –sebagian karena merasa perkataan Brian benar, sebagian lagi karena ia malas jika Sungjin sudah mengomel panjang lebar. Ia bangkit dari kursi.

Hyung,” Junhyeok yang masih berdiri di samping pintu kelihatan ingin mengatakan sesuatu. “Hari ini Nari bekerja di kedai kopi biasanya, di Gangnam.”

“Sampaikan salamku pada Raehyung,” teriak Sungjin sebelum pintu berdebam menutup di balik punggung Jae.

**

3.18 PM KST

Sena muncul tepat waktu. Membawa Raehyung pulang kembali ke boarding house sementar ia mengakhiri shiftnya lalu duduk bertatap wajah dengan laki-laki yang selama seminggu ini membuatnya tidak tenang.

Wajah Jae tak terbaca.

“Raehyung baik-baik saja? Tidak kerepotan?”

Nari mengangguk. Menolak merajam rana kelam Jae, menatap lingkar kepul uap di atas gelas vanila latte. Tak tahu harus menutur apa. Berpikir jika ia menjelaskan sekarang pun akan terdengar seperti alasan semata. Yang mana tidak meluruskan masalah.

“Soal tidak cerita apa-apa. Aku minta maaf,” hempas napas Nari berhambur berat, “Kurasa…”

“Tidak! Jangan!”

Nari mendongak. Jae mengangkat kedua tangan ke hadapannya, tepat seperti gerak menghentikan sesuatu.

“A-apa? Memangnya kau tahu aku mau bilang apa?” Nari mengernyit, tak mengerti tingkah Jae.

Jae menurunkan kedua tangannya, “Kau baru saja mau bilang ‘kurasa kita harus putus’ kan?”

Nari tertawa, keras. Tak begitu banyak pelanggan di dalam kedai, tapi beberap pasang mata menyisir ingin tahu karena tawa Nari memenuhi seisi kedai mengalahkan audio musik yang disetel kedai.

“Kau bisa tidak sih tidak usah sok-sok seperti cenayang?” ucap Nari setelah tawanya tak lagi heboh.

Jae menggaruk puncak kepala yang sebenernya tak terasa gatal.

“Kau itu paling tua dan paling sok tahu,” Nari mendengus cukup keras.

Ya siapa yang tidak panik pagi-pagi sekali ada seorang anak di depan pintunya. Kupikir kan dia anakmu!”

Kali ini tubuh Nari bergetar, berusaha menahan tawa karena lagi-lagi logika Jae yang tidak lebih maju dari pada alur dalam tayangan opera sabun di televisi. Pantas saja semakin hari ia semakin produktif menulis lirik, isi kepalanya sudah terkontaminasi dramatisir media.

“Jadi kau pikir selama ini kau mengencani seorang single mom?”

“Bukan begitu sih tapi—“

“Kalau benar aku single mom lantas kau mau apa?”

“Ya sudah tidak masalah!” Jae tetap membalas sahut Nari –yang sebenarnya hanya candaan, “asal anakmu bukan bayi yang belum bisa apa-apa dan kerjanya hanya merengek.”

Tidak sampai satu jam. Bukannya saling maki atau adu argumen keras seperti yang dilakukan orang-orang pada suasana tengkar, Nari malah harus terus-terusan menahan tawa. Sementara Jae bingung kemana seharusnya arah pembicaraan yang tadi sudah ia susun dalam perjalanan menemui Nari.

“Aku juga minta maaf. Waktu itu tiba-tiba langsung mengadili sepihak.”

Nari menggeleng, mengusung senyum samar, “Kita sama-sama salah.”

Jae mengangguk pelan, mengiyakan pernyataan Nari.

God I miss you,” Jae mengacak-acak rambutnya tak tentu.

“Jae….” Jae mendongak, kali ini benar-benar menatap kedua titik pandang Nari, “Kapan-kapan… aku akan cerita soal itu.”

It’s fine, kau bisa bisa menjelaskannya lain kali,” Jae menarik tangan Nari yang melingkari mug. Mengangkat keduanya ke sisi pipi Jae. “I’m not planning to go anywhere without you.”

Ia juga merindukan Jae. Meskipun yang malah ia katakan, “Menjijikan. Kenapa makin hari mulutmu makin sok manis?” dua telapak yang tadinya merengkuh wajah Jae ganti menepuk pipi laki-laki itu cukup keras.

Laki-laki bermata sipit itu merengut, “Tidak bisa apa manis sedikit saja? Kita kan baru baikan.”

Pandang Nari memicing keras, membuat Jae hanya bisa mendengus pelan menghabiskan sisa minumannya yang sudah hampir dingin.

Bisik riuh yang membuat kepalanya terasa berputar seminggu kemarin rasanya segera lenyap. Ikat-ikat erat kasat mata terpotong lepas tak lagi menjerat kencang.

Ia pikir Nari akan melempar kembali garis, mendorongnya jauh.

Tapi Narinya, tak beranjak kemana-mana. Duduk manis di depannya masih dengan sudut-sudut bibir yang merekah.

=end=

Niatnya, mau bikin omong-omongan serius. Tapi rasanya, ga cocok kalau Jae dikasih obrolan berat apalagi isi kepala dia aneh semua. Ini yang terakhir. Jejejeng…. maksudnya dari series ini. Bukan yang terakhir dari mereka berdua kok. Aku masih belum rela melepas mereka /peluk kuat-kuat/ Melenceng kemana-mana dari niat awal sih yang sejatinya mau bikin ini kayak Nari-Jae yang biasa sok unyu-unyu ga mau tapi malah jadi berantem-berantem gagal begini, Eheeee…. berhubung mereka lagi adem ayem, saya mau mencoba mengutak-atik cerita maknae day6 yang embem-embem emesh kasihan selalu jadi anak hilang kebingungan disini. Ditunggu kapan-kapan lagi yaaaa mereka.

 

 

Advertisements

One Reply to “Double Trouble #4”

  1. akhirnya lanjutan double trouble!!!
    hih gemes coba sama raehyung ini, sini main ke rumah noona nanti noona beliin es krim permen chiki apa aja deh raehyung mau minta apa, nanti noona ajak jalan jalan juga. duh pengen nyubit pipi raehyung emesh bangeeet mana anaknya nurut gitu. tapi itu dia lucu banget waktu manggil nari “ahjumma” wkwkwk bukan cuma sena yang ngakak kakak disini juga ketawa wkwkwkwkwkwk

    asik asik jae sama nari akhirnya baikan. adem ayem nih kayanya bentar lagi /toel jae-nari satu satu/ wkwk emang jae gabisa dikasi obrolan serius ya, otaknya ajaib sih. tapi mulutnya, hmmmm, hobi makan gula ya makin hari makin manis aja kata katanya. asal jangan sekedar gombalan ya jae, harus serius. awas sampe marah marah lagi kayak kemaren padahal belum tau kejadian sebenernya gimana.

    KAKAK RASANYA PENGEN GIGIT LAPTOP WAKTU JAE PEGANG TANGAN NARI TRUS NEMPELIN KE PIPINYA DUUUUUH MANIS BANGET BIKIN DIABETES TAPI BIKIN NAGIH!!!!!!!! walaupun nari rada gengsi gitu tapi lucu hahahaha gemes deh sama mereka, yang lama ya baikannya biar manis manisnya awet hihi

    plus, ditunggu dowoon sama kei pasangan maknae nan unyu ya li! semangat nulis!!

    Liked by 1 person

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s