Still

tumblr_static_vintage-alarm-clock-wallpaperS T I L L

|| Headscanon – Phoenix – Ficlet ||

- Hasegawa Shiori -

©2016

KARASU

.

.

Kagoshima Prefectur, Japan

December 26th 2015

Dua hari berlalu sejak peringatan hari kematian Keishi, dan aku masih di sini, di rumah ini. Seperti biasa, aku masih belum bisa menghadapi kenyataan dengan berani. Begitu banyak kenangan di dalam rumah ini, tentang dia dan kami berdua, karena di sinilah kami tumbuh bersama. Rumah ini bagai kotak kenangan kami, begitu indah untuk diingat sekaligus amat memilukan. Rindu dan rasa bersalah yang menyerangku bersamaan tiap kali jemari kakiku melangkah masuk ke dalam.

Aku seorang pengecut, aku tahu itu. Tidak ingin merasakan perih yang membelitku setiap kali aku berada di rumah ini. Itu alasan mengapa aku memilih untuk pergi. Memutuskan tinggal di ibukota demi menjauhi kenanganku bersama dia di sini.

Tetapi, seperti hantu yang terus-menerus menakutimu, rasa bersalah ini selalu mengejar langkahku. Memori pahit malam itu, jelas terekam dalam ingatanku dan mungkin tidak ada cara untuk menghapusnya.

Sejenak aku berhenti, memandangi sebuah ruangan yang tertutup rapat di depanku. Untuk sesaat detak jantungku tertahan, hanya berdiri bagai patung di tempatku berpijak.

Dari semua ruang di tiap sudut rumah ini, kamar ini yang sudah bertahun-tahun tak kukunjungi. Aku selalu menghindar. Kamar yang sejak kematian Keishi selalu kosong tak berpenghuni.

Meneguk ludah, mengambil napas dalam, memupuk keberanian diri, pada akhirnya tanganku terulur menggeser pintu dorong kamar itu. Pundakku melemas ketika aroma yang sama seperti terakhir kali berkunjung kemari kini menyambutku layaknya sedia kala. Membangkitkan memori masa lampau.

Satu langkah, dua langkah, aku memasuki kamarnya. Entah apa yang membuatku begitu emosional saat ini, airmataku jatuh begitu saja ketika mendapati kamar ini masih sama seperti dulu. Tidak ada yang berubah. Meja kecil di sudut ruang dengan lampu duduk dan sebuah foto masa kanak-kanak kami dulu, juga zaisu1 yang biasa dia duduki sembari menghabiskan buku bacaan. Di sebelahnya, rak dengan setumpuk buku tersusun rapi, dan oshiire2 berisikan futon3 hangat.

Segalanya masih terasa sama. Suasana dan aroma yang menguar di penjuru kamar, persis seperti hari-hari di saat dia masih ada di sini bersama kami.

Aku mendekati meja kecil, menggeser zaisu agak jauh, dan mulai memandangi bingkai foto masa kecil kami. Aku ingat betul kapan foto itu diambil, di waktu libur musim panas di tahun kelima sekolah dasar. Saat itu kami hanya menghabiskan waktu libur di rumah, tidak ada destinasi yang hendak dikunjungi. Aku merengek minta berwisata, namun sayangnya ayah tidak mengijinkanku pergi karena kondisiku yang masih belum pulih setelah beberapa hari didera demam tinggi. Aku juga masih ingat ketika ayah dan Paman Kazuyoshi membatalkan liburan kami ke Hokkaido. Hino menyalahkanku, menyebutku perusak rencana libur musim panasnya. Kami hampir berkelahi hari itu, Hino yang terus menudingku sebagai biang keladi gagalnya liburan kami, dan aku sendiri yang keras kepala tak mau disalahkan. Beruntung ayah tidak sampai tahu kejadian itu, Bibi Ayumi datang melerai kami tepat waktu sebelum terjadi kegaduhan besar. Dan Keishi menghampiriku, seperti biasa selalu mencoba menghiburku. Dia mengajakku ke dapur, mengendap-endap layaknya pencuri kecil dan mengambil satu semangka paling besar.

Sano yang pertama memergoki kami dengan semangka curian di belakang rumah tak jauh dari dojo tempat latihan para anak didik ayah menempa ilmu bela diri. Beruntung Sano tidak seperti Hino yang kelihatannya tak pernah menyukaiku, dia tidak melaporkan kami yang sudah mencuri semangka dan malah ikut menikmati bersama. Dia bahkan dengan suka rela memotret kami dengan kamera barunya pada saat itu.

“Pipimu dulu tidak jauh beda dari bakpao, Shiori-sama.”

Dentum jantungku berlomba, sementara mataku memaku pada sosoknya yang duduk di sampingku, entah dari mana munculnya.

Dia balas menatapku. Melempar pandang teduh yang lama kurindu. Juga lengkung hangat yang tak pernah raib dari parasnya.

“Keishi?”

“Hm?”

“Aku pasti sedang bermimpi.”

Dia memiringkan kepala, menggeleng pelan tanpa melepas senyum yang perlahan membuatku tenang.

“Tidak, tidak, ini pasti mimpi,” rapalku, memejam mata rapat. Meyakinkan diri bahwa yang terpapar di hadapanku ini hanya bayang semata. Tidak nyata. Meski sedikit harap jika ini benar adanya. Lalu aku membuka mata, dan dia masih ada di sana. Pasang matanya menelisik parasku.

“Kau kelihatan kurus, Shiori-sama,” ujarnya memicing. “Tambah sedikit berat badanmu, kau terlihat jelek dengan muka tirusmu itu.”

Baka! Ini semua gara-gara kau, tahu!”

Bodoh, kenapa aku menangis?

“Makanlah yang banyak, jangan sampai jatuh sakit, Shiori-sama,” ia tersenyum, begitu tulus dan teduh. Jemarinya terulur, menelusup di helai rambutku. “Dan jangan menangis lagi, Shiori yang kukenal bukan gadis yang cengeng.”

Masih terisak, aku mengangguk. Meski dalam hati merutuki airmata yang tak kunjung mengering.

.

.

Satu jentikan di dahi mampu membuatku terkesiap. Aku mengerjap mata, sekali, dua kali. Detik ketiga aku tersadar sepenuhnya, aku baru saja terlelap di kamar Keishi. Pundakku melemas, kecewa merambati penjuru nadiku. Ternyata hanya mimpi, Keishi tidak benar-benar ada di sini bersamaku.

“Shiori-sama?”

Ekor mataku bergeser ke sisi samping. Sontak aku mendorong tubuhku mundur ketika wajah itu kembali tersuguh di depan mata. Kupikir aku baru saja bermimpi, atau aku masih terjebak dalam buaian mimpi?

Aku mengedar pandang ke setiap titik sudut ruangan. Masih dalam kamar yang sama. Pun sosok yang tak berbeda.

“Tidak mungkin.”

Dia tertawa kecil melihat reaksiku. Tangan panjangnya terulur ke arahku, membuatku bergerak mundur. Untuk sesaat dia ikut terdiam, namun detik berikutnya dia bergerak maju, hingga jemarinya meraih sisi wajahku. Mengusap bekas airmata yang mulai mengering.

Tunggu, apa aku benar-benar menangis tadi?

“Kau tidur sambil menangis,” ujarnya seakan menjawab pertanyaanku yang tersembunyi dalam benak.

“Keishi?”

Awalnya, dia hanya termangu mendengarku mengucap namanya. Berlanjut dengan seringai miring yang belum pernah kulihat sebelum ini. Ketika itu aku mulai merasakan gelagat aneh. Sosok di hadapanku kini, bukan Keishi yang kukenal.

“Siapa kau?”

Are, kenapa nada bicaramu berubah dingin begitu, Shiori-sama?” Dia bersedekap, tampak berpikir. Satu tangannya teruntai mengusap dagunya lamat-lamat. “Ah, benar juga. Sejak peringatan hari kematian Keishi aku tidak ada di sini. Ini pertama kalinya kita bertemu setelah sekian lama.”

“Bicara apa kau?”

Seringainya kembali terekspos jelas. Buru-buru aku bergeser mundur begitu dia mencondongkan tubuhnya mendekat. “Apa kau tidak ingat denganku, Shiori-sama? Aku Keiga. Kita —aku, kau, dan saudara tersayangku— pernah berbagi malam di hari kelahiran kita bertiga.”

Mataku membelalak, terlalu lebar hingga bisa saja dua bola mataku meluncur keluar dari rongganya bersarang. Penyataan yang sama sekali di luar dugaan, terlampau mengagetkan untuk didengar, bahkan sulit untuk kuserap dalam pusat otak. Butuh waktu agak lama bagiku mencerna tiap kata yang dia ucap.

Aku tahu, tentu saja, meski sama sekali tidak bisa mengingat bagaimana rupa bayi laki-laki yang dulu lahir di hari yang sama denganku. Aku masih terlalu kecil waktu itu, pertama kali menyapa dunia sebagai makhluk kecil polos yang belum mengerti konflik yang saat itu mengitari kami. Lewat cerita yang berulang kali dituturkan padaku, tepat di malam kelahiranku dan Keishi, ada bayi lain yang lahir bersamaan. Dia saudara kembar Keishi. Bayi yang dibawa pergi oleh sang ibu setelah proses perceraian dengan ayah Keishi. Ketika itu usia kami baru genap menyentuh bulan pertama.

“Sayang sekali kita baru bisa berjumpa hari ini. Aku agak iri pada Keishi yang sudah  mengenalmu lebih dulu,” dia menarik punggungnya menjauh. Masih dengan gurat seringai —entah mengapa aku tidak nyaman melihatnya menyeringai seperti itu— dia menusukku lewat tatap tajam.

“Akhirnya aku bertemu denganmu, Shiori-sama.”

Oh tidak, Keishi, sepertinya aku punya firasat buruk.

fin

1) Kursi lantai dengan sandaran namun tanpa kaki penyangga

2) Tempat penyimpanan barang atau lemari khas Jepang, biasanya dipakai untuk meletakkan futon

3) Matras tradisional yang biasa dipakai oleh masyarakat Jepang untuk tidur

Advertisements

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s