Undefine Line

dokHan Rami (OC) – Choi Seungcheol (Seventeen)

..

..

sky.l

..

..

“My live, my whole live. I can’t even describe it.” 

December 24th 2015

Yongsan Art Grand Hall

Around 2.56 PM KST

 

Noona ambilkan aku kopi ya. Sekalian beberapa bungkus roti kalau bisa.” Kedua mata terpejam tak sadar sosok mana yang datang tepat di balik punggung.

Wajahnya lantas mengkerut mendengar titah tanpa sodor perkataan ‘tolong’ yang seharusnya diulur.

“Jangan lupa pakai cream. Rotinya tidak usah yang isi cokelat, terlalu manis,” sadar kalau tak ada jawab atau pertanyaan lanjut, titah itu semakin memanjang. “Oh, air mineral juga ya.”

Lama-lama ia gemas juga.

Ya! Sudah berapa kali kubilang? Stylist itu bukan personal assistant! Kalau minta tolong jangan banyak-banyak. Kau bahkan lupa bilang tolong!” dihentak satu gulung majalah yang ia pegang tepat pada permukaan kepala. Sekeliling memiting pandang ingin tahu, begitu tahu siapa tersangka yang menggertak, tak ada yang menggubris. Sudah seperti rutinitas biasa bagi mereka. Mendengar pertengkaran sekali dua kali –oh sering kali antara keduanya.

Kedua mata yang tadinya rapat tertutup hendak menikmati tidur singkat di sela padat persiapan konser kembali nyalang menangkap pandang. Ia menatap cermin di hadap, lurus pada sosok di balik punggung yang melipat kedua tangan defensif dengan air muka keras yang menandakan ia jengkel. Wajah yang menghilang tak terhitung hari tanpa repot-repot menggubris perasaannya yang seperti diombang-ambing roller coaster.

Ia masih menatap cermin. Mengkonfirmasi isi kepalanya masih normal, ia tidak berhalusinasi, atau melihat hantu.

Han Rami berdiri di belakangnya, menatap bengis. Han Rami yang tenggelam entah di samudra mana belakangan tanpa jejak kehidupan. Ia pikir Han Rami yang dulu menari-nari dalam kesehariannya hanya buih-buih ciptaannya sendiri, tak nyata.

Noona! Rami noona!!!

Dokyeom yang baru saja kembali langsung berteriak tak sadar tempat, membalik Rami menghadap dirinya lantas melonjak-lonjak seperti anak anjing yang bertemu tuannya kembali.

“Oi oi, simpan tenagamu untuk tampil nanti cerewet,” Rami menepis dua genggam di bahunya. Memicing Dokyeom yang segera bersikap lurus.

Ne noonim!

“Oh, you’re actually come,” Vernon yang tepat berada di belakang Dokyeom, hanya menggeleng, sedikit cengir sarkasme. Rami membuat catatan singkat dalam diam, untuk memberi anak itu pelajaran ‘personal’ selesai rangkaian konser ini.

Merry christmas noona,” seloroh Mingyu yang masih sibuk dipermak di depan cermin, tepat di sebelah Seungcheol.

Oh ya, Seungcheol –yang masih diam menatapnya dari cermin. Rami menyerah, tak bisa menebak apa yang kira-kira berkelebat di pikiran laki-laki itu saat ini. Kesal mungkin, marah sepertinya, atau bahkan muak. Campurkan saja semua; pahit. Baiklah, Rami mengaku ia merasa agak bersalah mengacuhkan panggilan-panggilan Seungcheol yang tak pernah absen sehari pun kemarin saat ia hibernasi dari seluruh dunia.

“Kupikir noona memutuskan kembali ke New—“ Belum selesai Dokyeom berkata, Vernon menyela.

“New Orleans! Pergi ke New Orleans. Kau bilang waktu itu ingin ke New Orleans kapan-kapan,” sahutnya asal. Jelas sekali menutupi lanjut perkataan Dokyeom yang Rami sendiri tahu maksudnya.

Rami menggeleng, “Aku masih di Seoul. Tidak berencana kemana-mana dalam jangka waktu dekat,” kedua bahunya terangkat.

“Lantas kemarin menghilang kemana?” Dokyeom yang menyodor picing, seolah tengah mengintrogasi kecurigaan mewakili Seungcheol.

Hell, you could say.”  Rami tersenyum masam. Mengingat perasaan yang masih seperti adukan obat paling pahit yang pernah ia telan.

“Huh?” Jelas, Dokyeom tak paham.

Vernon hanya tersenyum canggung, seolah mengatakan ‘Hwaiting’ secara non-verbal lewat tatapnya. Anak itu terlalu bisa membaca superfisial kamuflasenya dengan baik. Selalu.

“Tapi noona baik-baik sa—“

“Ikut aku,” lagi-lagi perkataan Dokyeom terpotong, Seungcheol berdiri dari duduknya, menarik lengan Rami, menggeretnya sejauh mungkin dari kerumunan.

Kalau pada situasi normal –tanpa dirinya menghilang sembunyi dari peradaban dunia, ia pasti lekas protes menghentak genggam Seungcheol dan mengguyur laki-laki itu dengan omelan karena bertingkah semena-mena.

Tapi ia merasa bersalah.

Karena menghilang tanpa kejelasan antara dirinya dan laki-laki yang masih menggenggam pergelangan tangannya.

**

Spill it. Semua omelanmu yang sudah kau susun dari semua panggilan masuk yang tidak kujawab,” Rami bersandar diam pada dinding tanpa pegangan tangga. Sementara Seungcheol duduk diam tiga anak tangga di atasnya. Tak menatap lurus, tak menguar perkataan, tak tampak akan melakukan apa-apa. Bergulat sendiri dengan dirinya, entah tentang apa.

Come on, sekarang makhluk yang kau cari-cari ada disini dan bersedia menerima bertubi-tubi kesalahannya tanpa protes,” Rami melangkah naik, duduk di sisi Seungcheol. Menghadap pasrah entah apa yang tak terprediksi akan pecah dari pertahanan laki-laki yang ia tatap.

Tapi tak ada. Tak ada apa-apa. Diam yang semakin membuat rasa bersalahnya berkali lipat seperti bakteri yang mereplikasi diri berjuta-juta kali. “OkI get it. Kau menghukumku, jadi selesaikan saja semuanya secepat mungkin. Seungcheol!” Rami mulai menghentak kaki tak sabaran. Ia benci menunggu, tanpa kejelasan apa lagi.

Seungcheol menghamburkan napasnya keras-keras. Kepala menoleh, lurus menangkap dua legam Rami. “Ya sudahlah. Kau sudah kembali,” dia berdiri. Tak melanjutkan kalimat yang bagi Rami hanya segelintir tak menyelesaikan.

“Hei! Kau bisa marah, kau bisa menangis, kau bisa mengumpat padaku bahkan. Masak hanya begitu?”

Seungcheol tak melanjut langkah, diam di tempat. “Aku sudah marah, mungkin sedikit menangis. Mengumpat, sudah juga. Sudah tidak ada apa-apa lagi tersisa kan? Ya sudah.”

“Kau membalasku karena mengacuhkanmu, ya kan?”

“Mungkin.”

“Aduuuh, tumpahkan saja semuanya. Setidaknya aku tidak merasa terlalu bersalah.”

Seungcheol membalik tubuh, menghadap Rami kembali.

“Definisikan. Apa kita ini?”

Pertanyaan itu. Lagi.

Ia tahu perasaan Seungcheol. Ia tahu perasaannya. Tapi ia tidak tahu, harus apa dengan peraaan Seungcheol dan perasaannya. Atau dengan perasaan orang lain.

Menata hidupnya sendiri saja ia masih tertatih. Menambah kerumitan di dalam segalanya tak terdengar seperti ide brilian yang menyelesaikan masalah. Masalah dalam hidupnya yang sudah seperti benang kusut tanpa ujung.

Terakhir kali pun masih sama. Jawaban Rami, “My live, my whole live. I can’t even describe it.” 

Ia baru sadar. Ia tidak berjalan naik atau mundur. Dari tangga yang ia janjikan akan ia tanjaki.

“Apa kau menyukaiku?”

Dua kali. Ia dua kali diserang pertanyaan yang paling tidak ingin ia hadapi.

Rami diam. Harusnya ia bisa menjawab tanpa banyak pikir. Karena perasaan tak perlu melalui nalar pikiran. Tapi ia tetap tak tahu, perasaannya seperti apa, dan bagaimana. Bak tengah kehilangan arah.

I don’t know,” kepala Rami tertunduk. Tak ingin tahu mimik macam apa yang menggores paras Seungcheol. “Tapi…. aku tahu aku tidak mau kau pergi. Atau membenciku. Atau tidak memedulikanku. Atau….”

“Aku tidak kemana-mana. Jangan abaikan aku lain kali,” Seungcheol mendekat, merunduk diatas Rami. Mengusap-usap kepala gadis itu pelan.

“Jangan bersembunyi dariku lain kali. Aku pengecualian untuk itu. Deal?”

Rami mengangguk.

Merry christmasSorry….” 

Ia menjulur tubuhnya, mendekat lebih. Mengecup pelan sebelah pipi Seungcheol.

=end=

HAAAAAA

HAAAAKS

Kenapa anak dua ini makin ga jelas masyallah. Jangan marahin saya plis….

pic courtesy: pinterest

Advertisements

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s