Special Eve

Choi Eun Gi (OC) – Kim Mingyu (Seventeen)

..

..

sky.l

..

..

“Hei adik manis. Mau kemana nanti malam?” Wajah penuh cengir usil itu membuat segala peringatan defensifitasnya melunjak. Sarkasme adalah bumbu termanis.

“Kemana saja yang tidak ada wajah tololmu,” sahutnya. Tak peduli dua orang tua yang tengah sibuk dengan dunia masing-masing. Sudah lelah mencegah anak gadisnya bertingkah bak gangster kawakan, entah dari mana gennya. Mungkin tak sengaja muncul, mutasi.

Natal. Seharian televisi memutar musik carol belum lagi tayangan film-film spesial yang tidak jauh-jauh dari anak sekolah dasar yang ketinggalan berlibur. Basi. Belum lagi suhu tak tahu diri yang membuat keluar dari lingkup penghangat ruangan seperti digemertak udara. Menyebalkan.

“Hei hei…. mana kencan malam natalmu?” mana mungkin Seungcheol menyerah menggoda adik kesayangan.

“Kasur,” balas Eun Gi gemas ingin melempar sendok selai yang habis ia pakai tepat ke wajah saudara idiotnya itu.

“Kau menolak ajakan kencan si ‘itu’?”

Baru satu lahap ia menelan sarapan roti bakarnya, benda itu tak melungsur turun di kerongkongan karena ucap Seungcheol membuat Eun Gi tersedak. Syukur ibu dan ayahnya mengobrolkan sesuatu tak memerhatikan anak laki-lakinya hampir berpotensi membunuh sang adik.

“Bawel! Mulutmu lebih lebar dari sumur ya?” Eun Gi mengangkat piring sarapan dan gelas susunya. Makan pagi tenang tidak akan terlaksana sesuai wacana kalau kakak bodohnya itu tetap mengusung pembicaraan yang jelas-jelas ingin dibungkam hingga batas waktu seenak aturannya.

Seungcheol tertawa, kening Eun Gi berkerut jengkel.

“Gunakan mulutmu untuk sesuatu yang lebih bermanfaat tahun depan,” Eun Gi berhenti, menjejal satu lapis roti bakar ke dalam mulut Seungcheol dengan paksa.

Permohonan enam tahun belakangan masih sama -meskipun batas umurnya sudah kadaluarsa untuk memercayai Santa Klaus dan semacamnya, semoga kakak laki-lakinya itu tidak semakin menyebalkan tahun depan. Hanya itu.

**

‘Jihoon : Aku kembali ke Busan! Yohooo.’

‘Seungkwan : Jeju is so nice awsome.’

Jeonghan : Aku menemani Jisoo ke gereja besok.’

‘Eungi: Berisik. Seseorang bawa pergi Seungcheol dari hadapanku.’

‘Jisoo: Kau tidak jadi kencan dengan Mingyu?’

‘Dokyeom: HAH?! APA? SIAPA? KAU TIDAK CERITA?’

Wah, ia baru tahu ternyata Joshua sama berbakatnya bermulut besar seperti Seungcheol. Eun Gi meletakkan ponsel, mematikan mode pemberitahuan. Malas menjawab deret tagih pertanyaan yang lain. Padahal ia tak sengaja bercerita pada Jeonghan tempo hari. Tentu saja, Jeonghan tak merasa Eun Gi akan keberatan jika ia bercerita pada Joshua. Yang lalu membeberkan pernyataan tak-lagi-rahasia itu pada seisi grup mereka.

Kenapa rasanya sekarang seisi dunia tahu Kim Mingyu mengajaknya berkencan malam natal ini?

“Choi Eun Gi Eun Gi Eun Gi Eun Gi-yaaaa,” pintu kamar terayun membuka tanpa repot ada permintaan masuk atau sekedar permisi. Tentu saja, Woojin. “Halo sepupuku yang paling cantik, yang paling manis, walaupun bibirmu tidak. Jadi, perlu bantuanku untuk kencan malam ini?”

“Ssiiish, Woojin. Mulut besar mana yang membocorkan padamu?”

Woojin menunjukkan senyum terlebar yang membuat Eun Gi bergidik, sama sekali tidak membuatnya tampak manis.

“Menurutmu kau bisa menyembunyikan sejarah penting yang akan terjadi antara kau dan Kim Mingyu dari sepupumu yang paling fantastis ini?”

Oh ya, satu lagi permohonan rutinnya. Semoga Woojin bisa kembali normal seperti Woojin saat menengah pertama. Bukan Woojin yang sangat bawel dan tukang gosip seperti sekarang.

“Tidak terimakasih. Kau bisa kembali dari mana pun kau berasal,” Eun Gi menghempas picing tak senang paling sarkastik, tangan kanan menuding pintu. Tak ambil pusing apakah Woojin tersinggung atau tidak diusir semena-mena dari teritorinya.

“Eun Gi-yaaa,” mulai jurus merengek Woojin yang selalu membuat Eun Gi ingin membekap mulut sepupunya itu dengan lakban. Atau bahkan memasukkan Woojin ke dalam peti kayu -seperti yang dipakai untuk pemakaman.

“Sampai jumpa. Dah. Selamat Natal!” Mau tidak mau Eun Gi mendorong paksa Woojin menyingkir dari kamar. Mood liburannya tidak sedang baik hati mendengar omelan berisik dan kabar burung orang-orang satu blok hari ini.

“Eun Gi!!”

Eun Gi memutar kunci pada gagang pintu. Prevensi perusak suasana liburan kedua yang bisa muncul kapan saja mengingat mereka tinggal satu atap 24/7.

**

“Eun Gi! Pangeran berkuda putih sudah datang.”

Mungkin ia bisa mengganti permohonan, ambil saja kakaknya yang idiot itu dan berikan kepada orang-orang yang membutuhkan atau menginginkan kakak laki-laki. Oh ia sudah cukup merasakan profesi adik teraniaya.

Rahang terkatup keras, menahan gelitik mulut pedas dengan senyum terpaksa. Dalam hati merunut rencana balas dendam apik untuk simpanan lain kali ada kesempatan mempermalukan Seungcheol.

“Jangan macam-macam, jangan aneh-aneh. Pulang sebelum jam dua belas. Kalau butuh kujempat telepon saja. Oke?” Seungcheol berkacak pinggang, mengingatkan dengan lagak protektif yang jarang-jarang ia tampakkan. Masih sadar naluri kakak laki-laki ternyata.

“Tidak terimakasih. Aku bukan anak sekolah dasar.”

“Adik manis. Sebesar apapun kau sekarang, kau tetap adik manis. Nah, sekarang pergilah supaya rumah bisa kupakai untuk kencan berdua.”

Oh sial, kamuflase niat baik hanya untuk mengusirnya secara halus.

“Hai.”

Eun Gi terlalu sibuk merutuki Seungcheol, tak ingat sosok menjulang bermantel krem dengan dalaman kerah kura-kura itu sedang menunggunya di depan pintu. Serapah yang meletus dalam kepala karena Seungcheol segera bubar. Mulut bungkam, senyum canggung tak berkutik.

Haruskah ia berlari kembali masuk ke rumah? Kenapa tiang menjulang itu malah menahan cengir begitu melihatnya keluar?

“Kenapa? Wajahku mirip komedian sekarang?”

Mingyu menggeleng.

“Aku tersanjung. Kau mau repot-repot manis memakai one piece.” 

Kim Mingyu dan kata-kata sejuta bual manis. Semakin sering mendengar, Eun Gi malah semakin tidak masalah. Aneh, memang.

“Ssh, tukang gombal. Kau dengar kan? Aku harus segera kembali sebelum jam dua belas,” Eun Gi mendahului langkah keluar dari pelataran rumah. Mingyu menyusul Eun Gi gampang dengan kedua kaki panjangnya.

“Wah, aku kencan dengan Cinderella.”

“Sepatu kaca itu tidak keren. Lagi pula naik kereta kuda itu merepotkan. Tidak sesuai zaman lagi.”

“Ya ampun, kau tidak bisa menerima pujian sama sekali huh?”

Eun Gi mengendik bahu. Menelik pandang sekilas ke samping.

“Omong-omong, mau kemana?”

“Entahlah, kemana saja.”

Eun Gi berhenti, “Yang benar saja.”

Mingyu kembali beberapa langkah menghadap Eun Gi yang tiba-tiba berhenti.

“Rencana itu tidak asyik. Lagi pula banyak hal yang bisa dilakukan spontan kan?”

Eun Gi masih heran, ia terlalu bertolak belakangan dengan Kim Mingyu. Hampir dalam setiap hal. Dari mulai pendapat sepele hingga pilihan makanan bahkan sikap. Tapi semakin lama, ia sama sekali tidak merasa keberatan. Tidak masalah, meski tidak ada akuan gamblang.

“Nah Nona, berhubung kereta kuda merepotkan. Bus di halte sepertinya adalah pilihan tepat. Bagaimana?” Mingyu memutar tangan bak penyaji istana, lantas mengulurkan tangan.

“Eh?”

Kepala Mingyu mendongak kembali, “Astaga. Begini saja tidak mengerti.”

Tangan Eun Gi ditarik pelan, diselip jemari yang tahu-tahu mengait genggam setengah terpaksanya. Dingin yang menyerbu tak digubris perasa sesaat. Kerja vital yang berlebihan membuat sekitarnya terasa sedikit lebih hangat. Eun Gi menyelipkan wajahnya semakin dalam diantara balur syal, tak ingin semburat yang bisa ia rasakan terekspos jelas.

“Omon-omong tadi Seungcheol hyung bilang kau ingin pergi ke toko pakaian dalam.”

Eun Gi memukul sebelah lengan Mingyu dengan tangannya yang bebas, “Bodoh. Jangan dengarkan omongan orang tolol itu. Otaknya terlalu mesum.”

“Kenapa? Itu kan ide bagus.”

Ya!”

=end=

Advertisements

2 Replies to “Special Eve”

  1. cieee yang akhirnya pergi kencan cie cie kencan pertama nih duh manisnya tinggal nunggu kapan resmi jadian nih kayanya 😉

    ini kalo jadi eungi bingung juga musti seneng apa sedih dikelilingin sama makhluk makhluk cerewet tukang gosip masyaallah hebohnya ngalahin tante tante arisan. itu eungi aja sampemau gadaiin kakaknya sendiri wkwk, gadaiin ke hanra aja atuh sekalian biar mereka hidup bersama selamanya . trus juga grup tim vokal ini wkwk, serius ketawa waktu baca seungkwan sok pake bahasa inggris langsung bayangin dia ngomong english huhu kocak banget pasti, trus nih ya si joshua ga nyangka ya astaga bisa gosip juga dia yaampun diajarin siapa kamu dek?! wkwk. yang paling keliatan begonya cuma dokyum, dek dokyum kurang kurangin lah oonnya -_- eh jangan deh, lucuan gitu, bego bego gemesin hahahahahahah

    kirain bakal diceritain gimana kencannya mingyu sama eungi!!! ini kurang li kurang!!! harusnya sampe mingyu nganter pulang eungi dong /maunya

    oke lah, tinggal nunggu mereka resmi jadian aja biar nanti bisa dimintain pajak jadian 😉

    Liked by 1 person

  2. NAJIS SEUNGCHEOL MASA ADEKNYA DIGODAIN BEGITU

    Tapi ini duo saudara Kim, meski lagi makan masih aja saling bacot. Gak sopan di depan orangtua, dasar wkwkwk. Itu ruang chat mereka, masya allah, si Seung Kwan sok engrish beud /ngakak jumplitan/ hastagaah dan iya, itu pastilah Jeonghan selalu bersama pendeta Jisoo tapi yang bikin kaget, mulut ember milik Joshy XD keserang apa dia sampe bisa ngegosip, siapa yang nularin.

    DAN CIE CHOI EUN SAMA MIN GYU LANJUUUT! Progresnya makin lancar euy, tinggal nunggu hari jadi dan pajak jadian aja beres sudah.

    Dan kamu curang Li!! Masa bagian kencannya di potong sampe omongan celana dalam XD AKU MAU LIAT MEREKA KENCAAAAAN /siapa elu/ Gapapa, gapapa yang penting ntar lanjutannya mereka kencannya diliatin yaaaaa

    Semangat nulis! makasih fiksinya~

    Liked by 1 person

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s