Living in A Nightmare

tumblr_nc8e409BOD1tbt4v7o1_500

Living in A Nightmare

|| Canon – Phoenix – Oneshot ||

- Hasegawa Shiori -

KARASU

.

.

.

.

Archery Club, Seikei University; Musashino, Tokyo

December 23th, 2015

05.14 p.m

Punggung yang tegap menyamping, dengan muneate1 melingkar sebagai pelindung badan bagian depan. Dua kaki melebar berlawanan arah, mantap menapak lantai kayu dojo2 yang tengah ditelan senyap. Tangan kiri lurus ke muka, melayang di posisi terdepan tubuh, dengan jemari yang kokoh menahan badan utama yumi3. Sementara tangan kanan menarik kuat anak panah, siap meluncur layaknya elang pemangsa.

Sorot matanya fokus pada titik merah di tengah lingkaran target sejauh 30 meter dari tempatnya berdiri. Berusaha mengumpulkan konsentrasi penuh, karena kunci keakuratan ada pada ketenangan dan kendali diri.

Berbanding terbalik dengan emosi yang menyelimutinya saat ini. Bayang masa lampau yang berkelebat satu per satu dalam rekam otak. Bagai iblis yang menyeringai kejam padanya.

Ini tentang pertarungan dirinya melawan ketakutan yang tertanam jauh di dasar hati. Sekali ia melepas anak panah, maka pemenang akan segera ditetapkan.

Mengambil napas perlahan, ia lalu melepas anak panah yang langsung melesat secepat kilat, membelah udara. Detik berikutnya, gemuruh jantungnya tak terkontrol. Rasa takut yang tiba-tiba mendominasi dirinya. Baru saja anak panahnya jatuh melenceng dari titik target. Dan ia tersadar, tangannya tak bisa menahan gemetar di sentuhan akhir sebelum melepas panah.

Ia telah kalah.

.

.

.

 Kagoshima, Kyushu

December 24th, 2011

Malam itu Shiori amat menikmati butir salju yang menghujaninya lamat-lamat. Cuaca dingin tak sebanding dengan antusiasnya yang kian membuncah. Hari ini seseorang memintanya untuk datang ke pusat kota, berujar ingin melewati malam Natal bersama setelah nyaris memasuki bulan ketiga sejak terakhir kali keduanya bersua. Sakurai Natsuki, pemuda yang sebentar lagi ia temui. Kekasih pertamanya, sebelum akhirnya Shiori terpaksa mengutarakan kata pisah setelah keluarganya mengetahui hubungan yang mereka rajut dalam diam.

Senyum tak lekas lenyap dari parasnya, terus terkembang hingga ia sampai di tempat yang dijanjikan. Berharap kali ini hubungannya dengan Natsuki bisa membaik, meski hanya dalam batas pertemanan, tentu saja.

Tepukan di dua sisi bahu menyadarkannya dari fantasi sesaat. Lekas Shiori memutar pandang, bayang wajah Natsuki pudar digantikan seorang lelaki jangkung yang berdiri di belakang punggungnya dengan cengir lebar.

“Keishi?!” Pemuda itu terkikik jahil melihat ekspresi terkejut dari si anak majikan. “Kenapa kau bisa kemari? Jangan bilang kau membuntutiku dari rumah!”

“Bagaimana bisa aku membiarkanmu meninggalkanku di malam Natal sendirian?” sahut Keishi dengan satu sentilan di dahi Shiori. Decak sebal diikuti dua tangan terlipat sebagai reaksi si gadis. Keishi menelengkan kepala, dua matanya menelisik raut muka Shiori yang berubah masam. “Aku merusak kencan butamu, Shiori-sama?”

“Kencan buta pantatmu!” Satu pukulan telak mendarat mulus di lengan kekar Keishi. “Aku ada janji dengan Natsuki, tahu!”

“Hoo, kalian sudah berbaikan rupanya?”

“Mm-hm,” Shiori balas dengan angguk kepala. Senyum malu nampak jelas darinya. Tak perlu waktu banyak untuk Keishi mengartikan suasana hati gadis yang berbagi hari lahir dengannya. “Uh, kau tidak kedinginan, Keishi?” Beberapa kali dua telapak tangan Shiori bertemu membentuk gerak berlawanan. Sementara Keishi hanya mendengus memperhatikan kardigan tipis yang dikenakan gadis itu di tengah kepungan salju. “Baka4! Tunggu disini, akan kubelikan hot-pack untukmu.”

Bibirnya mengerucut begitu pemuda itu mengatainya bodoh. Tak lekas ia membalas, punggung Keishi sudah nampak menjauh, berlari mencari minimarket terdekat. Sekali lagi Shiori merapatkan kardigan miliknya, berusaha mengurangi dingin yang mencercanya. Berdiri sendiri tak jauh dari bundaran air mancur pusat kota yang berhiaskan lampu-lampu kecil bertemakan Natal, sementara di sekitarnya orang-orang berlalu lalang mengapit pasangannya masing-masing dengan senyum bahagia menghabiskan waktu bersama di malam ini.

Belum terlampau lama menunggu hot-packnya datang, Shiori mendapati sosok yang ia harapkan sedari tadi berjalan menghampirinya. Gadis itu melambaikan tangan, tentu dengan senyum lebar yang tak bisa ia sembunyikan. Sikapnya berubah kikuk ketika pemuda itu sampai di dekatnya. Cukup lama tak berjumpa, kini dalam sekejap canggung menyelimutinya.

“Hai,” sekian detik Shiori memutar otak, memikirkan apa yang harus ia katakan begitu bertatap muka dengan pemuda itu, pada akhirnya hanya satu kata singkat yang bisa ia ucap.

Bukannya balas menyapa, si pemuda tak kunjung membuka bibir. Detik itu, Shiori menyadari pucat yang menyelimut raut wajah Natsuki. Canggungnya kini berubah menjadi cemas. “Natsuki, daijoubu5?”

“Aku merindukanmu.”

Mematung, Shiori tak tahu harus bagaimana membalas pernyataan Natsuki. Seketika bibirnya terasa amat kelu. Dan entah mengapa rasa bersalah mulai menghampirinya lagi, teringat hari dimana ia meminta pemuda itu untuk menyerah pada hubungan mereka.

Tersenyum lemah, Natsuki menatapnya sayu, jauh dari fantasi yang ia bangun seharian tadi begitu ia bertemu dengan pemuda itu setelah sekian lama. Tak ada paras ceria dari Natsuki, tidak pula senyum hangat yang biasa ia berikan padanya dulu.

“Sudah lama kita tidak bertemu, aku merindukanmu seperti orang gila.” Shiori tak kunjung mengucap sepatah kata apapun. Membiarkan Natsuki mengatakan semua hal yang ingin ia utarakan. “Masih ingat percakapan terakhir kita dulu? Aku masih. Kau bilang kita harus menyerah pada perasaan kita. Kau juga bilang kita tidak bisa bersama lagi.” Dengus kasar terdengar dari Natsuki diikuti tawa skeptis sebelum ia melanjutkan ucapannya. “Hidupku hancur, dan orang yang kuharap ada di sampingku tidak bersamaku. Rasanya seperti di neraka.”

Shiori menggigit bibir, kepalanya tertunduk. Masih tidak tahu harus mengatakan kata yang tepat. Situasi semakin memojokkannya. Meski ia tahu benar, ia pantas menerimanya.

“Aku terus berpikir, kalau aku tidak bisa memilikimu di dunia ini, apa aku bisa memilikimu di neraka?” Dan pada saat Shiori mengangkat kepala, tangan Natsuki sudah lebih dulu terulur dengan moncong pistol terarah lurus padanya. Jemarinya siap menarik pelatuk, dan sebelum memuntahkan satu peluru, Natsuki mengatakan satu kalimat yang sempat tertangkap indra pendengar gadis itu. “Aku mencintaimu, Shiori.”

Satu tembakan bersarang di rongga pundak Shiori, meleset dari titik jantung yang awalnya jadi sasaran, ketika tubuh Natsuki terhuyung menerima pukulan dari arah berlawanan. Teriakan  terdengar di setiap titik area bersamaan dengan kegaduhan yang terjadi, orang-orang berlarian menyelematkan diri masing-masing, tanpa seorang pun menghampiri Shiori yang jatuh terduduk dengan darah merembes di pundak kirinya. Sementara Natsuki tersungkur beberapa meter setelah Keishi datang dan menariknya menjauh. Lebam kini penuh di sekitar wajah Natsuki akibat pukulan bertubi-tubi yang ia terima.

“Brengsek!” Kepal tangan Keishi terus menghujam rahang Natsuki. Tak peduli seberapa dekat keduanya sebelum ini, tindakan Natsuki yang sudah melukai Shiori tidak bisa ia maafkan.

Di sudut lain, Shiori merasakan perih yang menjadi di pundaknya. Cair pekat tak kunjung berhenti, terus merembes keluar tanpa ampun. Di tengah sadar yang mulai menghilang, matanya terpaku pada perkelahian yang terjadi beberapa meter di depannya. Tubuhnya menggigil ketika dengan cepat Natsuki mengeluarkan belati dari balik bajunya dan menghunuskannya tepat di perut Keishi hingga pemuda itu ambruk. Kini posisi Natsuki berada di atas angin. Seperti orang kesetanan, ia menancapkan belati di sekujur tubuh Keishi berkali-kali. Menciptakan lautan darah di sekililing tubuh Keishi yang mulai tak sadarkan diri.

Otak dan hati yang tak lagi berjalan pada satu garis sinkron. Kesadaran yang mulai memudar. Sementara sayup terdengar sirine sahut-menyahut. Shiori pun menggapai benda bermoncong hitam yang jatuh tergeletak di dekatnya setelah tadi Keishi menyeret Natsuki menjauh. Dengan napas memburu, dipenuhi pikiran yang berkemelut, tangan kanan Shiori terangkat. Mengarahkan pistol ke arah pemuda yang kini masih mengoyak tubuh sahabatnya dengan bengis. Satu tembakan mengenai perut bagian samping, bersamaan dengan tembakan lainnya dari arah yang sama dari belakang gadis itu, tepat di pelipis Natsuki. Pelaku ambruk, dengan cipratan darah yang membentuk lautan merah lainnya.

Shiori masih di sana, ditemani pistol yang masih melekat di genggaman jemarinya. Duduk membisu, sementara dua matanya merekam dua tubuh bermandikan cairan amis pekat. Dua nyawa lenyap di satu malam. Ini mimpi buruk yang akan ia bawa hingga ke neraka kelak.

.

.

.

Archery Club, Seikei University; Musashino, Tokyo

December 23th, 2015

05.29 p.m

Berdiri di depan cermin wastafel, ia dan bayangannya seolah tengah bertukar pandang. Wajah yang ia miliki, wajah seorang pecundang yang melewati hidup dengan setumpuk dosa sebagai beban yang harus ia pikul. Menyedihkan memang, tapi pantas untuk seorang pembunuh seperti dirinya.

Diputarnya kran wastafel, lekas ia menyurukkan dua tangannya yang tak lagi berbalut yugake6 begitu air menyembur keluar. Seperti orang kesetanan, dengan napas memburu dan jantung yang berdentum hebat, berkali-kali ia mengusap tangannya yang dulu menarik pelatuk pistol hingga menghilangkan nyawa seseorang. Berharap bekas dosanya bisa terhapus tersapu air.

Tetapi, tidak. Sekuat apapun ia berusaha menghapusnya, bekas bayang mengerikan itu tak akan hilang. Tangannya akan terus melemparnya jauh ke belakang, ke peristiwa berdarah malam itu. Bayang itu akan terus bersamanya, selama sisa hidup yang ia jalani.

.

.

.

— Kagoshima, Kyushu

December 30th, 2011

4.15 p.m

Setelah beberapa hari menjalani rawat inap di rumah sakit pusat kota, ia diperbolehkan untuk kembali pulang. Meski dengan luka di pundaknya masih belum benar-benar kering dan perban yang setia membalut lengan kirinya.

Hari itu, rumah terasa begitu sunyi. Setelah menyambut kepulangannya, suasana duka kembali terasa pekat di tiap sudut ruangan. Sebagai bentuk rasa kehilangan yang begitu mendalam atas kepergian Keishi.

Menyusuri koridor rumah, tungkainya berhenti berayun saat netranya menangkap sosok pemuda duduk di pelataran berlantai kayu, menghadap ke arah nakaniwa7, sebuah taman kecil di tengah lorong-lorong rumah yang menyudut mengitarinya. Awalnya, Shiori ragu untuk mendekat. Terlalu pengecut untuk berhadapan muka dengan pemuda itu. Namun, pada akhirnya, ia pun memberanikan diri menyapa.

“Kaien-kun.”

Buru-buru ia memasang senyum, meski sudut bibirnya gemetar, ketika si pemuda menyambut panggilannya.

Bukan tatap bersahabat yang ia terima, tak ada pula senyum hangat sebagai balasan. Kaien memandanginya nyalang. Ada sorot penuh amarah dalam pasang matanya. Pemuda itu bangkit, terseok menghampiri Shiori seperti seorang pembunuh berdarah dingin mendekati sang korban. Begitu cepat gerakan Kaien, ketika dua tangannya mencengkeram kuat kerah baju Shiori tanpa peduli lengan si anak majikan yang terbebat perban. Tanpa perlawanan, Shiori hanya pasrah menerima amarah Kaien yang mulai menghujaninya.

“Ini semua salahmu! Kau harus bertanggung jawab atas kematian adikku!” tuntut Kaien, teriakannya begitu lantang. Cengkeramannya semakin kuat, nyaris membuat Shiori sulit bernapas. “Kalau saja malam itu dia tidak pergi bersamamu, kalau saja malam itu aku bisa mencegahnya, adikku pasti masih ada disini bersamaku!”

Rasa bersalah kembali menusuk. Wajah Keishi pada malam terakhir mereka melewati waktu berdua lagi-lagi mengambang dalam memori otak. Senyum terakhir sebelum mata itu terpejam dengan darah yang mengalir dari tusukan di perutnya, meninggalkan siksa batin yang amat membekas.

Gomennasai.. Gomennasai8..”

Tidak ada kata selain maaf yang bisa ia ucap. Sebesar apapun penyesalan yang ia rasakan, tak bisa membawa Keishi kembali pada mereka.

“Harusnya kau yang mati malam itu! Harusnya bukan nyawa adikku yang dipertaruhkan!”

Teriakan Kaien terlampau keras. Kini hampir semua penghuni rumah berbondong ke tempat mereka berada. Hasegawa Aoshi, kakak tertua Shiori, yang sampai lebih dulu. Menemukan sang adik tengah diperlakukan kasar, ia langsung berderap penuh murka. Belum sempat Aoshi melepas cengkeraman Kaien pada adiknya, seseorang lebih dulu menjauhkan pemuda itu dari Shiori.

Kouda Endo, ketua pelayan yang sudah bertahun-tahun setia mengabdi kepada keluarga Hasegawa sekaligus ayah kandung dari Kaien, dengan cepat menarik anak keduanya dan memberinya pukulan telak di rahang hingga Kaien terperosok jatuh dengan sudut bibir terkoyak.

“Jaga sikapmu di hadapan Shiori-sama,” geram Endo pada sang anak, sebelum berbalik menghadap Shiori dan membungkuk sebagai permohonan maaf. “Maaf atas kelalaianku menjaga sikap Kaien.”

“Jangan membungkuk padaku, Endo-san,” dengan tangan kanannya, Shiori mengisyaratkan lelaki paruh baya itu untuk lekas berdiri. Di belakang Shiori, Aoshi dan keluarga Hasegawa lainnya memilih untuk tak angkat bicara, beberapa menarik diri dari kebisingan yang begitu mendadak. Tak ada niat untuk tak peduli, hanya memberi kesempatan Shiori berbicara pada kerabat kandung Keishi.

Shiori menundukkan kepala. Kematian Keishi memang seharusnya menjadi tanggung jawabnya. Karena dirinya, nyawa Keishi hilang. Kaien benar, yang mestinya mati bukanlah Keishi melainkan ia sendiri.

“Ini memang salahku, Keishi tidak seharusnya mati, tapi aku.” Shiori menunduk semakin dalam. “Maafkan aku, maafkan aku..”

“Shiori-sama!” geram tertahan Endo menghentikan ucapan maaf Shiori yang bertubi-tubi. Gadis itu mengangkat kepalanya, mendapati Endo yang tengah memandang dengan sirat yang tidak bisa ia artikan. “Leluhur kami sudah bersumpah untuk mengabdi dan melindungi keturunan Hasegawa sekalipun dengan nyawa kami. Begitu juga Keishi, yang mati demi anda tetap hidup. Jadi, kumohon berhentilah menyalahkan diri anda. Biarkan Keishi mati berbahagia karena sudah melindungi anda, Shiori-sama.”

Hilang kuasa menahan tangisnya, Shiori menekan kuat dadanya yang memilu perih. Sebagian dirinya melawan untuk menerima kalimat itu, sebagian dirinya memohon agar kalimat itu jadi awal untuk mulai memaafkan dirinya. Semakin pikiran-pikiran itu mendesaknya, semakin ia merasa rendah dibanding kumpulan pecundang di luar sana.

.

.

.

— Archery Club, Seikei University; Musashino, Tokyo

December 23th, 2015

05.33 p.m

Ia benci malam Natal. Tidak, ia takut. Terlalu pengecut untuk melewati malam Natal karena kenangan buruk itu akan dengan cepat melejit dari ingatan dibanding hari-hari biasanya. Menghantuinya lebih intens dari hari biasa.

Malam Natal, malam dimana dua nyawa lenyap karena dirinya.

“Besok malam Natal, ya?” gumamnya.

Shiori berjalan kembali ke ruang ganti. Kehilangan semangat, ia membuka resleting tasnya dan mengepak peralatan kyudonya9. Cukup untuk hari ini. Sudah waktunya ia bergegas dan kembali ke apartemen —yang ia tempati selama menjalani kuliahnya di Tokyo— untuk beristirahat. Hari sudah hampir petang, bahkan ia terlambat menyadari jika kampus nyaris sepi.

Ponselnya yang tergeletak di sampingnya, di bangku panjang yang ia duduki sekarang, bergetar dengan layar menyala. Satu nama nampak jelas terbaca. Buru-buru, Shiori menjawab panggilan itu.

Moshi-moshi10?”

Oi, Shiori, maaf menelponmu. Kau tidak sedang sibuk, kan?

“Tidak, Sano-nii,” balas Shiori pada pemuda di seberangnya. Hasegawa Sano, kakak sepupunya yang juga tinggal di Tokyo meski tinggal berlainan tempat dengannya. Pemuda yang menggeluti profesi sebagai fotografer itu cukup dekat dengannya, berbanding terbalik dengan Hasegawa Hino, adik kembar Sano. Tak jarang, di hari libur, Sano akan mengajak Shiori minum sake dan mulai bercerita banyak tentang hobi memotretnya. “Ada apa menelponku?”

Cuma ingin mengingatkan, besok akan kujemput agak pagi.

Bungkam. Shiori tak langsung menyahut. Benaknya lagi-lagi terlempar ke masa lampau. Besok adalah malam Natal, sekaligus peringatan kematian Keishi. Dan, tentu saja, ia ingat jika harus pulang menuju Kyushu untuk mengikuti prosesi hari peringatan kematian sang sahabat karib.

Oi, Shiori? Kau tidak lupa, kan? Kau masih disana?

“O, tentu saja aku ingat, Sano-nii!” Shiori buru-buru membalas. Ia tertawa kecil, coba mengusir gugup yang tiba-tiba berkunjung. “Kutunggu besok, ya!”

Sampai jumpa besok!

Sambungan terputus. Menyisakan Shiori sendirian yang mulai tenggelam dalam kubangan kenangan kelam.

fin.

Notes:

1) Pelindung bagian dada yang biasa dikenakan perempuan untuk panahan

2) Tempat latihan

3) Busur panah berukuran panjang yang terbuat dari bambu, biasa dipakai untuk panahan tradisional Jepang

4) Bodoh

5) Tidak apa-apa?

6) Sarung tangan yang dipakai oleh pemanah, biasanya hanya menutupi 3-4 jari

7) Taman letaknya berada di dalam atau di bagian tengah rumah tradisional Jepang

8) Ungkapan permintaan maaf

9) Seni bela diri memanah Jepang

10) Halo, digunakan saat menelepon seseorang

.

.

HALO!

Um, maaf karena fiksi ini ala ala drama gitu, mungkin efek galau yang lagi menimpa saya /halah/

Ada beberapa point dari kisah Shiori yang awalnya memang pengen saya ubah, jadi mulai dari fiksi ini alur dari series ini akan ada perombakan mulai dari awal lagi. Masih tentang kisah Shiori dan keluarganya, Shiori dan masa lalunya (re: Keishi), Shiori dan Kwangjin, Shiori dan banyak lagi cast baru yang bakal muncul nanti pokoknya hehe. Maaf buat pembaca yang mungkin sudah pernah membaca beberapa fiksi Shiori yang saya buat sebelum ini karena mulai dari “Living in A Nightmare” akan ada beberapa perombakan alur. Mungkin kalau agak bingung, bisa dibaca profil Shiori dan keluarga Hasegawa . Semoga cerita ini masih bisa dinikmati hehe.

Terimakasih sudah membaca! 🙂

 

Advertisements

One Reply to “Living in A Nightmare”

  1. Hmm…jadi gitu…

    /NANGIS KEJER/

    Shiori-sama cari kekuatan! DAN YA ALLAH, KEISHI PENGORBANANNYA /meringkuk di padang pasir/

    “Aku terus berpikir, kalau aku tidak bisa memilikimu di dunia ini, apa aku bisa memilikimu di neraka?”

    Dan bagian ini, kok aku ngerasa ini romatis sekali ya kak /sableng/ tadinya pengen kasian sama Keishi, eh kok tapi Natsuki malah bikin baper. Enaknya Shiori-sama dicintai sampe segitunya /serem woi/ tapi gak mau juga kalau sampe didor dor begitu._.

    DAN INI FEELSNYA DAPET BANGET KAK!!! Kegaloan si Shiori, perasaan gak langsungnya Keishi dan besarnya cinta Natsuki meski sedikit gila ini, terus marahnya si kaien itu ugh, ngena banget!! SUKA YANG ANGST GINI BANYAK BANYAKIN KAK!!

    Okelah, lanjut ke fiksi berikutnya. Makasih fiksinya kak, menghibur parah!! Semangat teruuuus

    Liked by 1 person

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s