Hot News

with,

Han Rami (OC) , Jeon Somi (JYP)

..

..

sky.l

..

..

Sebentar lagi acara musik akhir tahun akan berbondong-bondong membuat semua orang mulai dari pegawai cleaning service hingga semua kepala staff perbidang kelimpungan mengatur konsep penampilan ujung kepala hingga ujung kaki berminggu-minggu sekedar untuk jepretan kamera yang berlangsung beberapa menit dan lakon panggung yang hanya sejumput waktu untuk grup rookie. 

Mau tidak mau, suka tidak suka, tidak enak juga membebankan pekerjaan pada staff lain yang terkadang tidak hanya menangangi grup agensi mereka tapi juga beberapa model atau new face dalam drama. Sedangkan tugasnya berdiri tunggal dengan gaji mapan tanpa susah payah mepontang-pantingkan raga kesana kemari meraup nafkah.

Tapi ia tidak pernah suka bangun pagi. Pagi normal untuk orang-orang yang bekerja, mengangkat bokong dari tempat tidur serta menyeret tungkai kemana ia butuh membuat tempat tinggalnya tidak seperti kandang babi. Ketika orang-orang normalnya berangkat kerja pada pukul tujuh atau delapan pagi, dia menetapkan aturan sendiri menampakkan batang hidung pukul sepuluh lewat ke gedung agensi. Pandang jengkel pegawai agensi adalah sarapan rutin. Pun tidak ada yang mau buang-buang waktu mengomel karena Rami terkenal pintar beradu mulut -beradu jambak malah kadang. Kecuali Hyelim memergokinya di depan pintu utama baru saja melenggang masuk setelah menaruh jempol di alat pengenal identitas -Rami segera ciut pasrah menerima runtut kata-kata pedas atasannya yang bisa lebih mencekat dari pada Jjampong di Singil-dong

Rami menegak gelas kedua hot cocoa wajib pembuka harinya. Menggonta-ganti channel teleivisi yang kebanyakan berisi berita-berita persiapan hari natal dan perkiraan cuaca dingin ekstrem. Karena jaman sudah terlalu canggih, ia tinggal menggerak tangan sesuka hati mengalihkan saluran televisi untuk berseluncur ke ranah dunia maya.

Belum sampai sepuluh detik ia meniti deret berita, hot cocoa yang diteguk lancar terncam menyembur seperti air terjun karena Rami tersedak begitu membaca judul salah satu artikel di bagian berita terbaru.

“Sinting!”

Detak jam dinding yang tak menggubris kehebohan Rami masih bergerak santai dengan tangan pendek pada angka sembilan. Hari itu paginya bermukjizat, karena Rami segera meraih baju asal-asalan dari dalam lemari -tidak peduli dengan prediket sebagai pekerja bidang mode. Genderang protes dari perut bertalu seperti tengah perang, ia tak peduli. Lima menit terhitung; rambut digelung seperti emoji kotoran, baju kaus gombrang, celana jeans hitam serta kacamata untuk menutupi wajah yang hanya sempat ia cuci setelah bangun tidur.

Tungkainya berderu tak sabaran, jempol tangan sibuk bergerak kebawah menscroll setiap situs pencarian berita hiburan yang ia tahu. Semua headline yang terpampang sama. Keningnya semakin berkerut dalam.

Tangan Rami terpaksa berhenti ketika panggilan masuk yang sudah ia duga berpendar di layar utama.

“IYA BERISIK! AKU TAHU! Bilang bagian kreatif aku tidak jadi masuk hari ini! Cepat!”

Oh, anak itu peduli. Tapi ia tidak punya waktu untuk menggoda atau meledek bocah itu. Ia butuh konfirmasi dan alasan. Butuh, karena ia juga peduli.

**

“Aku tahu kau tahu. Singkat saja, kau tidak keluar riwayatmu habis.”

Yang menerima pesan serupa dari seorang Han Rami pasti tahu kalau gadis itu tidak sekedar mengancam. Banteng rodeo bisa kalah tanding ganasnya. Ia kadang bertanya-tanya kenapa gadis yang wajahnya polos dan manis itu bisa menyimpan topeng iblis dibaliknya. Tanpa peringatan, kebanyakan.

Dulu bahkan gadis yang lebih tua lumayan banyak tahun darinya itu tidak tanggung membuat kegaduhan di pintu masuk agensi karena Lena yang tiba-tiba memutuskan untuk mengakhiri kontrak tanpa berdiskusi dengan siapa pun.

Sekarang ia mengerti seberapa Han Rami bisa berubah mengerikan dalam hitung singkat.

“Aku izin keluar sebentar. Tidak lama,” ujarnya, tak tertuju untuk seseorang khusus. Anak-anak lain yang sama-sama sedang berlatih itu hanya mengangguk.

Bisa saja ia berbohong, bilang kalau ia sedang di sekolah. Percuma, Rami lebih hapal jadwal teratur kehidupannya dari pada tugas wajib pekerjaannya sendiri. Tak habis pikir.

Diturunkan hoodie tebal jumper dibawah jaket berbahan parasut berwarna merah yang ia kenakan. Pelataran gedung agensi tidak pernah absen dari deret penggemar yang berharap mendapat sejumput penampakan sang idola yang terlihat sempurna di atas panggung atau foto fansite.

“Somi!”

“Waaaaa! Somi!”

“Somi hwaiting!”

“Somi good luck!”

Riuh sorai begitu salah satu di antara kerumunan tetap mengenali sosoknya yang memang terlalu mencolok untuk berkamuflase. Ia hanya tersenyum. Mengangguk dan berterima kasih seadanya sembari mencari figur yang barusan mengiriminya ‘blackmail’.

Cukup lama kepalanya bergulir menyisir satu persatu deret penggemar, ia menemukan sosok dengan wajah yang paling ingin ia hindari; alis bertubruk, kening beceruk, picing mata tajam bak elang yang siap menyambar.

Kepala gadis itu meneleng arah untuk diikutinya.

Selamat, ia mendapat tiket gratis menuju neraka hari ini.

**

“Dibayar berapa untuk ikut acara bodoh begitu?”

Eonnie.”

“Sudah berlatih berapa wajah agar kau aman dari gadis-gadis jalang disana?”

It’s not what—”

“101! Are you even in your right mind? Sixteen is too much already. 101?!” 

Somi merunduk, tahu beberapa pelanggan kedai menoleh ke arah keduanya. Rami jelas tak ambil pusing, ia bukan publik figur yang bisa jadi bahan omongan di situs-situs gosip. Sementara dirinya, salah sedikit bisa ditelan hujat orang-orang di dunia maya seenak mulut mereka.

“Kenapa harus kau? Maksudku, ada trainee lain kan? Siapa itu yang paling kecil di antara kalian Natasha? Nattaniel? Na…”

“Natty.”

“Nah masih ada dia kan? Mana trainee hasil ajang pencarian bakat yang bertempuk di agensimu itu? Why it has to be you?

Somi bisa saja mengumbar serentet alasan. Malas saja berdiplomasi dengan Rami yang tidak pernah mau mundur tertatur dari berbagai jenis argumen, dengan siapa pun. Harusnya orang itu berkarir jadi pengacara saja ketimbang pekerja bidang fashion.

Because chances are hard to getAt least I’m trying my best and they let me,” napas panjangnya menghembus kasar, “murung terus menerus karena masalah tempo hari juga tidak akan membawaku kemana-mana,”

Mungkin Rami yang kelewat protektif. Karena sesingkat apapun ia merasakan masa pelatihan sebagai trainee calon entertainer panggung musik, ia tahu keras persaingan dan berbagai topeng yang disembunyikan perorang hanya demi merealisasikan impian yang sama. Ia lebih rela dilempar kembali ke antah berantah seperti yang selama ini dilakukan dad padanya, menjadi terasing karena tak paham sekeliling, dari pada berada di tengah orang-orang yang berbicara dengan satu bahasa tapi semua hanya untuk mengata-ngatai dan menyakiti semata.

I know you care about me and you don’t want me to suffer like what you felt,” pandang mata Somi tak menyalang langsung ke arah Rami, “but this is my great chance. At least.”

Mungkin Rami tidak mengerti. Tentang seberapa langka kesempatan diantara banyaknya orang-orang mengejar satu hal yang sama. Ia sendiri tak tertarik bertahan lama dalam dunia yang Somi idam-idamkan, dua bulan sudah cukup menampar ekspektasi. Dunia penuh kepura-puraan, begitu menurutnya.

Namun kala wajah Somi benar-benar serius akan perkataannya, Rami sadar ia tak tahu apa-apa untuk sesuka tutur menyalahi keputusan anak itu. Sepatu yang dulu ia kenakan dan yang Somi kenakan berbeda. Apa yang ia dapatkan dulu terbilang gampang banding dengan apa yang Somi perjuangkan. Tak sepadan.

I still don’t approve your choice,” picing yang membuat kerut wajah semakin bertambah mengendur, “but he’ll understand. Don’t expect me to even say ‘good luck’.”

“Dia? Dia siapa?”

Tersenyum simpul menanggap wajah hilang arah Somi, Rami bangkit dari tempat duduk tanpa berniat mengumbar penjelasan tanya tak paham Somi. Ganti gadis itu yang dahinya berceruk dalam sementara Rami terus melenggang seperti barusan tak terjadi apa-apa.

“Hai.”

Oh, dia.

Oppa?” 

“I told you to just call me Vernon. Remember?”

Somi mengangguk. Kelimpungan dengan kejutan mendadak sepihak Rami.

Kadang banteng ganas itu bisa juga semanis anak kucing. Kadang.

=end=

APAAAAA INI?! huahahahaha, saya butek karena mau uprak cacing-cacing di perut besok. Walhasil ngawur jadi begini. Garing ya? Kelamaan digoreng sih. Awalnya mau nyelipin sekop. Tapi nanti jadi kepanjangan, akhirnya gajadi. Ini juga sebenernya lebih fokus ke Somi dari pada Rami sih. Mau nunjukin bestfriend si mbak doang sih sebenernya. Maaf ga ada unyu lope lopenya ya. Maaf juga kalo typo serak di sana sini. Maaf juga kalo ini curhat colonga waktu tahu si dede ikut reality show yang kaya akb48 itu T_T

Advertisements

2 Replies to “Hot News”

  1. hanra ga pernah gagal bikin aku ketawa sama kelakuannya wkwkwk TRUS ITU RAMBUT DIGELUNG ALA EMOJI KOTORAN TOLONG DONG AJARIN GIMANA CARANYA!!!!! ya allah hanra kamu emang anak ajaib dari mars kali ya, bikin gemes bikin ngakak pula. plus, protektif parah sama somiiiii dedek unyu satu itu, kembaran beda tahun lahir, aku brojol duluan beberapa tahun kemudian dia nyusul /yakali

    101 ya.. kompetisi apa lagi itu… makin hari makin banyak aja ajang begituan. dek somi, kamu semangat ya! demi cita cita apa aja emang harus dilakukan sih ya, asal halal gapapa, dan tahan banting tentunya. harus nyiapin mental kuat lahir batin

    hanra awalnya garang begitu, tapi ternyata eh ternyata dia nyiapin kejutan yang ga disangka sangka hahaha. yang baca aja kaget mendadak seorang pemuda berwajah ala leonardo di caprio muncul apalagi si somi, untung dia ga sampe jantungan kan bisa gawat tuh kalo dia malah nginep di ugd ntar 101 gimandoooos

    tapi lucu deh itu ngebayangin muka somi pas vernon dateng. acie cie cie yang salah tingkah huahahaha. ayo li bikin ff somi-vernon!!

    Liked by 1 person

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s