Smiling Teddy Bear

with,

Han Rami (OC) – Shownu (Monsta X)

..

..

sky.l

..

..

 

Harusnya ia berhenti saja hidup. Ia bahkan tak pantas disebut makhluk hidup. Sama sekali. Jangankan repot-repot keluar dari petak officetel untuk sekedar pergi ke minimart, sejumput sinar matahari tak ia persilahkan memberingas ke dalam sarang. Mungkin ia lupa diri dan mengira telah berubah eksistensi menjadi penyuka kegelapan semacam vampir atau drakula. Bedanya ia tak nafsu lantas lemas ketika berhadap cair merah yang merembes permukaan kulit.

Beruntung tak ada yang tahu officetelnya. Tidak Somi, Vernon, bahkan Seungcheol. Hanya Jane yang tahu. Orang-orang tersebut tak pernah mengira Jane tahu. Intinya, tak ada yang mengusik onggok dirinya yang seperti mayat ‘hidup’ hampir dua minggu belakangan.

Zaman semakin canggih, tinggal angkat benda pipih pintar yang berharga hampir sama dengan perhiasan itu lalu sambungkan panggilan ke nomer-nomer yang tertera pada selebaran atau kartu nama restoran di penjuru Seoul, tak sampai tiga puluh menit kemudian mulutnya sudah sibuk menyecap makanan. Selebihnya, tungkai tak pernah bergerak lebih dari kabinet dapur dan tempat tidur –yang sudah tak jelas rupa permukaannya.

Segala panggilan masuk, pesan singkat, chat segala bagai media sosial ia acuhkan. Habis-habisan Seungcheol dan Vernon bergantian menjajak panggilan masuk serta kotak masuk pesan singkatnya bergiliran setiap hari, tanpa henti. Ia belum sanggup keluar menyapa peradaban dengan perasaan amburadul menyalahkan seisi semesta perihal hidupnya yang seperti opera sabun layar televisi.

Cukup sederet kalimat singkat, beruntung sang paman yang bengis itu pengertian dan sedikit merasa bersalah karena ulah kakak tertuanya tersebut lalu dengan ringan hati membiarkan Rami mangkir dari kewajiban pekerjaan selama yang ia mau tanpa rentet pertanyaan yang enggan ia sahuti.

Harusnya ia tidak dilahirkan sebagai manusia, dulu. Lebih pantas sebagai babi dengan siklus hidup sekedar buang air besar, makan, tidur, lalu buang air besar, terus begitu. Setiap hari.

Televisi bergeming tak menyala sekali pun, laptop yang tak henti beroperasi adalah satu-satunya hiburan untuk sesekali membuka referensi dunia fashion atau artikel-artikel seni yang setidaknya memberi otak Rami yang berantakan asupan bermutu.

Lagu-lagu dari iPod yang tersambung speaker tak henti berdengung di setiap sela penjuru officetel, sehingga Rami hampir tak mendengar ketuk tak sabar dari pintu masuknya. Ia pikir telinganya sudah terlalu usang hingga ia mulai mendengar suara-suara tak tentu. Tapi ketuk itu terdengar jelas begitu ia memberhentikan sejenak gaung musik.

Jane?

Lirik singkat pada jam mengatakan tidak mungkin. Terlalu pagi. Jane masih sibuk dengan serba-serbi sekolah.

Somi? Sama saja.

Vernon? Seungcheol? Seingatnya belakangan dua manusia itu sibuk dengan suatu project kolaborasi.

Lalu sia—

“Hyunwoo Oppa?”

**

Rami menyodorkan Shownu kaleng soda terakhir di lemari pendingin dan semangkuk es krim yang sempat ia tumpuk dalam freezer sebelum menjalankan hibernasi berkepanjangan.

Yang disajikan malah tertawa.

“Huh?”

“Kau tahu tidak sih es krim dan soda itu mimpi buruk?”

Rami menggeleng tak paham, “Tidak usah. Ini saja cukup.” Shownu mengambil mangkuk es krim dan menyuap bagian rasa stroberi.

“Omong-omong, dari mana tahu officetelku? Oppa kenal Jane memangnya?”

“Jane? Siapa?”

“Huh? Lalu dari siapa?”

Shownu tak segera menjawab, bibirnya melengkung sejenak lantas kembali menikmati es krim. Wajahnya sumringah seperti murid taman kanak yang sudah berhasil mendapat pinta rengeknya.

“Haru,” sahut Shownu, singkat.

“Haru? Koo Haru? Yang waktu itu sempat kukenalkan ke ruang tunggu kalian?” Shownu mengangguk –mulutnya tetap sibuk dengan es krim.

Sementara dahi Rami berkedut. Ia tidak pernah merasa memberitahu Haru apalagi mengajak Haru ke officetelnya, sama sekali. Haru juga tidak mengenal Jane.

“Haru pernah mendengarmu memberitahukan alamat ke Mirae noona. Kemarin sepulang dari Hongkong aku berpapasan dengannya di acara musik. Kudengar kau menghilang tanpa kabar karena masalah keluarga. Aku bertanya padanya dengan imbalan es krim,” lengkung bibirnya lagi-lagi mengembang, membuat pasang rongga matanya menyempit selaras garis lurus.

Ah ya, tempo hari Rami sempat memberitahu Mirae -sesama staff stylist yang dulu juga sempat menjadi stylist Shownu , alamat officetelnya karena beberapa baju sponsor yang ia tampung harus segera dikembalikan dan membawa berbelas-belas pasang baju sendirian tentu saja merepotkan.

“Bukan itu perkaranya,” Shownu mengalih suap sendok ke hadap mulut Rami.

“Vanila,” Rami menggeleng, menunjuk varian rasa yang berada di tengah.

“Kau… baik-baik saja kan?”

Rami membuka mulut, melahap suap es krim Shownu. Sembari menelan bulat-bulat pertanyaan yang ia sendiri belum sanggup menjawab. Mungkin. Mungkin sebagian dirinya baik, sebagian lagi tidak. Entah dalam takar berapa persen.

Bahu Rami mengendik.

“Aku tidak tahu. Bagian mana yang baik dan bagian mana yang tidak. Menangis juga tidak akan merubah apa-apa. Si tua sialan itu tetap egois mementingkan kebahagiannya sendiri,” Rami merengut mangkuk es krim dari pegangan Shownu. Melahap ganas rasa dingin yang menggelitik lidahnya.

“Dunia ini antagonis. Bahagia itu bukan bagian dari ceritaku,” raih pandangannya tak bertumpu kelam Shownu, mengalih kosong pada layar gelap televisi dua meter jauh dari mereka.

“Hei.”

Shownu meraih bahu Rami, memutar tubuh gadis itu menghadapnya.

“Bahagia itu ada banyak pilihan rasa. Seperti es krim. Tergantung yang mana yang kau pilih. Mungkin yang tak sengaja kau pilih bukan preferensi tepat hingga rasanya tidak enak. Tapi masih ada pilihan rasa lain kan?”

Tangan Rami berhenti menggerak sendok dari mangkuk es krim ke mulut.

“Bersedih karena satu rasa bukan berarti kau tidak bisa mencicip rasa yang lain,” Shownu menggosok-gosok puncak kepala Rami. Menangkap jiwa tersesat dalam onggok daging sosoknya. Ia sudah lelah menangis, kantung air mata sudah tandus mungkin. Namun tiba-tiba sisi pipinya terasa basah.

“Kalau kau tidak suka rasa yang terpaksa kau telan, pilih rasa yang lain. Gampang kan? Kalau kau tidak tahu mana yang kira-kira enak, aku disini siap membantumu,” ibu jari Shownu menepis pelan alir rembes kantung air mata Rami. Lalu menepuk-nepuk ringan pundak gadis itu. Seperti apa yang dulu mendiang ibunya lakukan saat Rami menangis sesegukan setiap kali hujan beriring cekam petir.

“Rasa yang begini tidak enak. Kalau yang begini kujamin menyenangkan,” Shownu menunjuk wajahnya yang tersenyum lebar dengan kedua pipi mengembang. Persis boneka beruang kesayangan Rami dulu –yang hilang saat ia pindah ke New York.

Oppa, kau mirip boneka beruangku yang hilang.”

Laki-laki dengan sepasang mata bersisa satu garis lurus itu terkekeh.

“Tidak usah membeli boneka beruang baru. Aku bersedia menggantikan boneka beruangmu itu,” Shownu merentang kedua lengan, Rami menatap tak mengerti. “Tugas boneka beruang kan hanya satu.” Lalu rentang lengan itu melingkar tubuh Rami.

“Yang dijuluki beruang itu diriku. Kenapa malah kau yang hibernasi?”

Rami tertawa. Ikat erat kasat mata yang mengekang terasa melonggar. Dekap lembut serta tepuk pelan Shownu pada pundaknya terasa nyaman dan hangat. Hangat yang tak pernah ia rasakan lagi semenjak hari terakhir ibunya mengantar Rami berangkat sekolah. Peluk erat yang membuat Rami tiba-tiba merasa kantuk, membiarkan kepalanya berasandar pada sisi bahu Shownu.

“Rami?”

“Hm?”

“Aku juga ada.”

“Huh?”

“Aku juga ada, selalu. Di sampingmu.”

Lingkar lengan yang meraup tubuh Rami terasa dipererat. Seperti laki-laki itu tengah mengklaim dirinya, keberatan melepas dirinya.

Ia tak masalah. Sekujur dunia terlalu luas. Dekap Shownu membuat Rami seolah ternaungi sosok kecilnya dari sekitar yang berkelabat. Aneh, ia tak keberatan. Ia menyukainya

 

=end=

HAYOLOOOOH, Hanra nyeleweng. Ups.

Eh, tapi kan sama si sekop belom ada segel apa-apa. Jadi….. ya…. gapapa mwehehehe.

Advertisements

One Reply to “Smiling Teddy Bear”

  1. nah loh nah loh ada apa ini shownu ambil satu langkah ke depan /nyipitin mata/ mas shownu ini mulai terang terangan ya aksinya. kirain dia bakalan kalem kalem aja. pertarungan makin sengit nih xixixixixixixixixiixixixixixixixi /ketawa ala kunti/

    untung ya haru pernah denger alamat hanra jadi pas shownu nanyain dia langsung dapet jawaban. rejeki nomplok si haru dapet es krim hahah, sering sering lho ya mas shownu. tiap hari juga gapapa ntar haru pasti terima dengan senang hati kok 😉

    huhuhuhuhuhuhu suka tiap kalimat yang keluar dari mulut shownu, dia disini kelihatan dewasa banget dan mengayomi sekali. kalo aku jadi hanra sih, udah pasti meleleh kayak es krim kena sinar matahari. suami idaman banget soalnya subhanallah

    ps: mas teddy, aku juga mau es krimnya. rasa coklat ya 😉

    Liked by 1 person

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s