Spring Song

Choi Eun Gi (OC) – Kim Mingyu (Seventeen)

..

..

sky.l

..

..

“Nah sesuai rencana Joshua dan Jeonghan akan duet, empat dari klub kita dan empat dari klub hiphop akan berkolaborasi untuk panggung festival musim semi nanti.” Woozi menjelaskan detil ide yang sama sekali tidak membuat Eun Gi menyukai secuil pun rencana tersebut. Gara-gara perselisihan penampilan pentas seni yang sudah diklarifikasi, kedua klub berdamai. Muncul lah gagasan kolaborasi dalam kepala ketua klubnya tersebut, entah wangsit dari mana.

“Agar adil, lebih baik diundi saja. Siapa yang berkolaborasi dengan siapa,” Woozi mengeluarkan sebuah kotak kecil –bekas kotak biskuit yang tanpa perlu diumumkan  berisi nama keempat orang tukang umpat berisik yang salah satunya adalah kakak laki-laki Eun Gi.

Perasaannya sama sekali tidak baik. Tidak mungkin ia dua kali dikerjai semesta dan berakhir dengan manusia tiang menyebalkan itu lagi, kan?

“Aku dapat Seungcheol,” Woozi menunjukkan lipatan kertas dengan nama kakak Eun Gi  tertera.

“Woo, Vernon­-nie,” Seungkwan melakukan hal yang sama.

Eungi menoleh, menunggu Seokmin membuka gulung kertas di tangannya.

“Wonwoo.”

Keberuntungan sedang segan menghampiri Eun Gi.

**

 Belum cukup semesta mengerjai, anggotan klub yang lain ikut mendorongnya masuk ke ruang yang selalu berhasil membuat napas terseret tipis-tipis seperti kekurangan oksigen di setiap celah yang ada.

Eun Gi hampir mengumpat. Namun hanya disimpan rapat dalam batin. Partitur di hadap adalah penyebab kata-kata kasar yang berjejer seperti gerbong kereta barang. Pasti ulah Seokmin, oh tidak Seungkwan, jangan-jangan malah Joshua, atau Woozi? Genggam tangan pada pinggir partitur siap berubah remuk melumat rapih kertas menjadi gumpal tak berharga ketika suara itu muncul dalam rangkap pendengar.

“Choi Eun.”

Iya tahu, di suatu tempat dimana pun itu kelima kepala orang-orang yang ingin ia  dorong mencium tanah itu tengah tertawa lantang.

**

Ternyata partitur dengan lagu pilihan itu hasil usul Woozi, sialan. Tiap kali Eun Gi siap memprotes, Woozi lekas menghilang ke belantara yang tak berhasil ia deteksi. Seperti mengejar buronan kelas kakap, batang hidupngnya tak kelihatan bahkan saat jam istirahat atau setelah bel pulang sekolah memekak seisi antero. Sebenarnya ia bisa saja mengganti pilihan lagu Woozi, tapi suasana piknik musim semi akan berubah menjadi ajang galau karena kebanyakan lagu-lagu yang didengar Eun Gi adalah lagu-lagu balada menyedihkan.

“Kau tidak punya playlist yang lebih merana dari ini?” benar saja, beberapa menit mengobrak-abrik daftar lagu Eun Gi, Mingyu ikut putus asa.

Gadis itu menggeleng. Hei, selera orang berbeda tergantung preferensi.

“Kau tidak punya lagu-lagu yang tidak ada serapahnya?” balas Eun Gi, kening berkedut menatap deret daftar lagu yang judulnya saja bahkan sudah provokatif.

Ganti Mingyu menggeleng.

Keduanya benar-benar tidak punya cercah referensi sesuai.

“Ya sudah, pakai pilihan lagu Woozi kalau begitu,” Mingyu mengembalikan kembali pemutar musik Eun Gi, meraih partitur yang masih ia kutuk karena lirik refrain yang terdengar seperti… ugh, lupakan.

Desah putus asa bergulir. Apa boleh buat. Ia hanya harus memastikan, tidak duduk pandang pada laki-laki menjulang di sampingnya saat bagian refrain. Atau bahkan lebih parah, Eun Gi bisa saja lupa lirik.

Woozi sialan.

**

Baginya, hari paling menyebalkan selain saat ujian berlangsung adalah festival musim semi. Festival menahun yang diadakan di hutan kota Seoul saat sakura bermekaran cantik di setiap sudut, memberi warna manis sementara siswa-siswi tingkat satu dan dua menikmati piknik bersama dengan suguhan penampilan dari klub-klub seni. Termasuk klub vokal. Bukan masalah tampil di depan banyak orang, tapi festival menahun yang kini selalu ditunggu-tunggu -terutama oleh murid perempuan tersebut lambat laun dijadikan ajang kencan hampir seluruh pasangan di sekolah.

Kalau bukan karena harus mengisi penampilan, Eun Gi tidak akan pernah mau berada di tengah festival bertabur kekasih yang berlomba berpolah sok manis di depan pasangan masing-masing.

“Kenapa? Gugup?”

Eun Gi tak menyahut. Hanya terus mengunyah permen karet hasil rampas dari Dokyeom. Gugup bukan sesuatu yang sulit untuk diatasinya, tapi memakan permen karet adalah salah satu kebiasaan Eun Gi acap kali ia mulai merasa tak tenang -Eun Gi tidak suka menyebut istilah yang Mingyu ucap padanya.

Ia tak tenang, membayangkan ucap dalam lirik itu lolos dari bibirnya. Meski tak menubruk titik kelam pandang Mingyu, tapi ia melantunkan kata-kata itu di sebelah laki-laki menjulang yang selalu membuat pipi Eun Gi seenaknya menaikkan temperatur tanpa otaknya sempat memerintah apa-apa.

Eun Gi bisa tidur dengan baik setiap malam. Tidak merasa kepalanya memutar rekam jejak hari panjang saat Mingyu merengek memintanya menjelaskan kembali bab trigonometri dua minggu kemarin, atau saat Mingyu mengatakan jelas-jelas di depan wajahnya ia menolak tawaran kencan senior Yuin, atau saat Mingyu menyelipkan sekaleng kokoa saat Eun Gi meringkuk di klinik sekolah, atau saat Mingyu—

Oh, tidak. Bahkan ia tidak butuh dimensi lain. Kepalanya segera membanjiri dengan setiap detil kejadian tersebut. Seperti potongan-potongan trailer layar kaca.

Eun Gi bertekad, suatu hari ia harus menemukan sesuatu yang bisa membuat hati dan otak seseorang bekerja sesuai aturan. Bukannya malah kebalikan, hati yang memerintah otak tanpa ia sadar.

“Choi Eun.”

Eun Gi menoleh.

“Hari ini kau pasangan kencanku, sampai selesai.”

Mingyu berlalu begitu riuh tepuk mengiringi pengumuman pembawa acara yang baru saja memperkenalkan keduanya.

Gaduh tepuk tak sanggup menyambangi pusat pendengarannya, kata-kata Mingyu memblokir segala hal yang bergulir setelah itu.

Eun Gi tidak lupa lirik. Eun Gi tidak lupa tidak menatap Mingyu. Namun Eun Gi tidak bisa mengusir perkataan Mingyu sebelum mereka tampil.

Celakanya, sampai kapan, ia tak tahu.

Sial.

=end=

Advertisements

One Reply to “Spring Song”

  1. T_T Akhirnya mereka update juga.

    ECIEEE MASUK LINGKAR SETAN LAGI YA CHOI EUN. Tapi yekan enak, meski manusia tiang mukanya tamvan sangat /halah/ /plorotin celana DK/

    Kalau mereka jadi pasangan gini mulu, duh berarti progres jadiannya makin cepet ya Li ❤ Woohoo! Jan, lupa PJ aja ntar kalau udah saling mengesahkan diri :p

    “Kau tidak punya playlist yang lebih merana dari ini?”

    Ya allah, Choi Eun, sebegitu ngenesnya kamu sampe cuma punya lagu yang receh gitu XD aku ketawa dibagian ini, entah kenapa dibayangin lucu aja. Terus pas di Eun Gi bales, dan si Tiang cuma punya lagu serapah hadeh ini berdua kebalikan sangat.

    Penasaran sama lagu Woozi, itu dia milih lagu bara cinta para pemuda ya? wkwk sampe si Eun Gi gak bisa ngelihat muka Mingyu dibagian refrain LOL

    DAN ITU YA PARAGRAF NYARI AKHIR;

    “Hari ini kau pasangan kencanku, sampai selesai.”

    BAH. SIAL.
    ITU KODE BERAT KAN YA
    IYA HARUS IYA

    Okelah, ditunggu lagi lanjutan mereka ini. Iya, cepetan ya Li /disepak/

    Liked by 1 person

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s