Invitation

with,

Han Rami (OC) – Choi Seungcheol (Seventeen)

..

..

sky.l

..

..

November 6th 2015

Gimpo Airport, Seoul

 

Hebat, ia kalah telak.

Rami diam menekuk wajah, kedua telinganya tersumpal rapat dua earphone dengan volume bocor hingga orang-orang tahu apa yang gadis itu dengarkan –hiphop keras dengan sejuta kata makian tiap bait. Meski kasat, tapi nampak jelas terpatri peringatan keras, ‘Jangan Diganggu’ pada kening Rami. Ia menyingkir dari gerombolan lain yang tengah mengantri di depan gerai check-in.

“Oi, pemalas. Ini tiketmu,” kepalanya ditepuk lipat tiket yang cukup tebal. Rami menoleh hendak melempar protes, namun segera tergerus niatan begitu menangkap wajah Yoon Hyelim –atasannya.

Rami menerima sodor tiket, memasukkan benda persegi panjang itu ke kantung mantel.

“Kau pasti merajuk karena Pamanmu memaksa kau untuk ikut, kan?” terka Hyelim, tepat sasaran.

Rami selalu bekerja sekedar saat dibutuhkan. Ia lebih suka berkutat dengan konsep di belakang layar ketimbang menata yang terjadi di lapangan. Ikut repot-repot dalam perjalanan jumpa fans keluar pulau tidak termasuk job desk wajib. Namun Han Sungsoo terkenal jeli mencari peluang, bahkan dalam hal bernegosiasi dengan Rami -keponakan perempuan satu-satunya yang paling merepotkan.

“Apa sogokannya kali ini?” Hyelim tentu paham apa yang membuat Rami terpaksa ikut serta dalam perjalanan ini. Apalagi kalau bukan iming-iming imbalan atau ancam diktator penambahan jam kerja sepihak.

Rami mencopot sumbat telinga, “Koleksi anyar musim gugur Marc Jacobs dan ancaman pindah tugas mengurus girl group kalau aku tidak bersedia ikut.” Kepalanya penuh serapah tak tentu pada figur atasan agensi ternama cukup disegani yang kini menjadi pemicu gerak roda kehidupan gadis itu. Entah dari mana, tapi pamannya sudah mendapat kabar bahwa ia dan trainee perempuan agensi tak berbaur baik sedari dulu –berkat ide mendadak sang paman yang lagi-lagi seenaknya mengoper Rami sebagai trainee meski hanya bertahan dua bulan.

“Kau ini. Anggap saja ini liburan. Kapan lagi kita pergi ke Jeju,” Hyelim menyiku lengan Rami yang diselip dalam kantung mantel. Gadis itu malah mendengus.

Bukan masalah kemana tujuan mereka. Tapi melewati lebih dari satu hari berpapas diri dengan Lee Seungcheol membuat Rami seperti dikejar-kejar penagih hutang, bingkai gambaran tak sedap. Ia juga tak paham medan untuk bisa kabur sesuka hati.

“Oh Noona!”

Otot mata Rami bergerak lebih dari seperlunya. Meski terhalang masker, ia bisa melihat kedut bahagia merundung paras bak model kelas atas tersebut.

“Uwaaah, kau ikut? Daebak!” Vernon melepas tawa, tak peduli pada jepret tele panjang yang mengekor pergerakan laki-laki itu dari balik pembatas ruang tunggu dan gerai check-in.

“Berisik!” desis Rami.

Tawa Vernon mereda, tapi pandangnya masih penuh jenaka. Tingkah gelagapan Rami tentu saja hiburan menyenangkan bagi laki-laki itu.

“Omong-omong Noona duduk di kursi mana?”

Baru saja Rami merogoh kantung hendak menarik lipat tiket ketika Hyelim sudah lebih dulu menjawab, “Tentu aja duduk dengan tanggung jawabnya. Seungcheol dan Dokyeom.”

Matanya mengerjap, lalu membulat hampir dua kali dari normal.

Vernon tertawa, lebih keras dari kilas sebelumnya.

“Ouch!”

Rami menghentak kakinya sekeras mungkin meninggalkan Vernon yang menikmati penderitaannya dan Hyelim yang berkerut kening tak paham.

**

 

“Mau permen?” Dokyeom mengeluakan genggam tangan berisi bungkus warna-warni permen berbagai rasa. Niatnya merenggang suasana agar tak terasa seperti dalam ruang persidangan tuntut namun kedua sisinya sama sekali tak ada tanda-tanda untuk saling toleh menyahuti tawaran.

Hyung?” lengan kiri Dokyeom menyenggol siku Seungcheol. Laki-laki itu menggeleng, tanpa repot-repot melirik.

“Er…. Noona?”

Rami asal meraup tiga bungkus teratas. Membuka salah satu, mengulum rasa vanila manis yang merayap perasa. Sedikit banyak merasa prihatin pada Dokyeom yang terpaksa terhimpit berbagi suasana ‘mendung’ yang belum beranjak darinya dan Seungcheol.

Bukannya semakin cerah karena Seungcheol menumpahkan tumpuk perasaan terakhir kali mereka berbicara, malah sikap laki-laki itu semakin berhati-hati sehingga Rami pun canggung menerima perubahan polah Seungcheol.

“Apa kabar kau dan Haru?” ujar Rami, cukup gatal mengusung pembicaraan.

“Ba-baik,” sahut Dokyeom, tersenyum kaku.

“Tidak apa-apa dia kau tinggal beberapa hari ini?”

“Mungkin. Kurasa,” jawab Dokyeom, lebih terdengar seperti meyakinkan dirinya sendiri ketimbang si penanya.

“Haru akan baik-baik saja. Dia kan tidak punya simpanan ‘alternatif’,” tiba-tiba Seungcheol menimpali.

Tanpa banyak pikir -lupa suasana tak jelas terhadap Seungcheol, tangan Rami yang berada paling dekat dengan Seungcheol menghantam bagian belakang tempurung kepala laki-laki itu dengan cukup keras. Membuat Seungcheol menggaduh sembari mengusap bagian yang disentak Rami.

“Hanra!”

Dokyeom berusaha menahan tawa sembari curi helaan lega karena ia tidak perlu merasa seperti tengah berjalan di antara tali penghubung tebing yang satu dengan tebing di seberangnya.

**

 

Baiklah, ini tidak begitu buruk, pikir Rami

Lepas berapa hitung menit dari bandara, matanya disapa hampar biru serta pesisir panjang yang membuatnya tak sabar ingin menanggalkan alas kaki lalu berlari menyusur terpa ombak yang bergulung menyapu. Kepalanya tak beranjak dari jendela mobil yang terus melaju menuju tujuan. Diam-diam Rami menyusun panjang rencana melarikan diri esok hari saat jumpa fans.

“Rami, mana ponselmu?” Hyelim menarik perhatiannya dari pemandangan menawan di luar kaca mobil.

“Kenapa?” pasang alis menjuntai curiga, namun tangannya tetap merogoh landai tas mencari benda pipih yang belum ia nyalakan kembali semenjak pesawat take off.

“Tidak apa. Han sajang bilang ponselmu harus disita sampai kembali lagi ke Seoul,” ujar Hyelim –tak merasa perlu menutupi apa-apa, menggamblangkan alasan menarik ponsel Rami.

Ia ingin mengorek lagi, tapi Hyelim tampak hanya tahu sebatas apa yang dia katakan. Perempuan garang itu tidak pandai merekayasa ekspresi wajah, tidak ada informasi lebih. Rami menyodorkan ponsel. Lagi pula benda itu lebih jarang ia pegang ketimbang perangkat game portable atau pemutar musik yang tak pernah absen dari dalam tas.

Mungkin pamannya khawatir, kalau ia tiba-tiba menyusun rencana ulung untuk melarikan diri bukan hanya dari Jeju tapi dari Korea sekalian. Tapi, mana bisa dilaksanakan gagasan itu kalau paspor Rami hingga kini entah dimana rimbanya disembunyikan Paman Han.

“Kalau kau perlu menelepon, pakai ponselku saja,” jelas Hyelim, memasukkan benda pipih itu ke dalam tas ransel.

“Baiklah.”

Hyelim berlalu, Rami kembali menyesap pemandangan yang berkelebat dari transparan kaca.

**

 

November 8th 2015

Jeju-do

9.57 PM KST

 

Perut terisi penuh meski otot sekujur tubuh terasa seperti mau putus kapan saja. Apalah arti lelah jika segenap jerih payah terbayar sesuai apa yang diharapkan. Setiap mulut terisi kunyahan, beberapa kali gelas berisi pekat alkohol atau sekedar kola terangkat bersorak. Euforia manis setiap jumpa fans dengan penggemar yang memenuhi setiap sudut lokasi.

Orang-orang sibuk dengan obrolan dan pujian-pujian masing-masing, imbalan kerja keras sehari penuh berlarian kesana kemari selama acara berlangsung. Saking sibuk dan ramainya hingga onggok manusia yang terakhir terlihat menyambar tablet PC milik salah seorang manajer kira-kira dua jam lalu tak kunjung muncul kembali di tengah kegaduhan.

“Vernon, kau tahu Rami dimana?” Hyelim yang pertama sadar, menepuk pundak Vernon berharap laki-laki itu menjawab seperti apa yang ia inginkan.

Sayang Vernon hanya menyahuti, “Huh? Terakhir kulihat dia bersama manajer Song”

Sesungguhnya ia tidak merasa perlu terlewat khawatir. Namun peringatan sang atasan tempo hari agar tak melepas pengawasan pada keponakan satu-satunya itu berputar menghantui begitu mata Hyelim tak kunjung menangkap sosok Rami.

“Ada yang tahu Rami kemana?” Hyelim menepuk sendok pada pinggiran gelas, memaksa atensi lingkar meja berisi enam orang manusia itu menoleh padanya.

“Rami noona? Dia bilang dia kembali ke hotel,” sahut Woozi, orang terakhir yang berpapasan dengan Rami sekembali ia dari kamar kecil di luar restoran beberapa puluh menit belakang.

“Kau yakin?” rasa cemas mulai menggerogoti Hyelim semakin kentara.

“Ada apa memangnya dengan Rami noona? Biasanya dia memang tidak suka ikut makan bersama kan?” Dokyeom mulai mengerti raut Hyelim yang makin gusar.

“Siapa yang belum kembali dari hotel?” Hyelim mengedar pandang, mengecek satu persatu kepala yang berada di dua meja di hadapannya.

Wonwoo menyahuti, “Seungcheol hyung tadi pergi mengambil ponsel dan dompetnya.”

Hyelim mengeluarkan ponselnya, buru-buru menyambung kontak Seungcheol sembari berdoa laki-laki itu tahu kemana bongkah nyawa Rami berada.

**

10.15 PM KST

 

Kakinya belum berhenti berlari, meski napas semakin pendek dan jantung seperti mau meledak. Kata-kata petugas bongkar muatan di samping hotel yang sibuk menurunkan kotak-kotak mentah bahan makanan memenuhi kepala dengan bayang-bayang mengerikan.

“Oh, gadis itu tadi jalan ke arah sana. Mungkin dia mencari kedai minum di pinggir pelabuhan yang masih buka.”

Tepat setelah itu pesan singkat Vernon membuat ketakutannya sampai meletup di ubun-ubun.

 

Hyung, aku baru memeriksa tablet Song hyung. 
Rami noona mengecek surel. 
Surel berisi.... undangan pernikahan ayahnya.’

 

Ia lupa, kapan terakhir berlari kencang sampai kaki mulai terasa kebas dan tubuhnya memental udara dingin musim gugur yang membuat kuduk meremang. Yang ada di kepalanya hanya Rami. Seungcheol tak henti-henti berdoa agar gadis itu tidak melakukan hal-hal bodoh yang berjingkrakan dalam fantasi liar benak. Berharap gadis itu masih selamat, tanpa ancang-ancang hendak menghantam diri ke gelung ombak.

Tenda merah kecil dengan lampu seadanya itu tampak sepi. Dari tempatnya berhenti sejenak, tak ada tanda-tanda Rami berada di naung tenda. Pasang mata mengedar panik ke pelataran pelabuhan yang gelap dengan sedikit cahaya temaram di sana sini.

“Hanra…. Hanra…. jangan sampai gadis i– tidak tidak. Hanra….” Seungcheol berderap tak tenang. Edar pandang belum juga menangkap sosok Hanra.

**

10.25 PM

'Aku menemukannya.'

 

“Hai bodoh,” Rami mendongak. Pasi  wajah Seungcheol segera luntur, akhirnya menemukan gadis yang dicari-cari tengah terduduk sembari bernyanyi dengan nada yang bisa membuat ikan-ikan di sepanjang pelabuhan beralih. Gadis itu menegak beberapa botol cair alkohol, tampak dari empat buah benda berwarna hijau yang berjejer di dekatnya.

“Kenapa lari-lari? Dikejar anjing galak yaa? Kulihat tadi ada anjing galak di rumah di pojok gang sana. Uwaaah bulannya indah,” Rami mulai meracau sesuka hati. Kembali ditumpahkan isi botol ke dalam kerongkong. Lalu kembali bernyanyi dengan nada sumbang yang segera mengganggu tengkak pendengar.

Rami tidak biasanya merajam pekat alkohol dari soju atau bir. Kecuali ketika ia benar-benar perlu beralih dari kenyataan yang memerangkap. Seperti saat ini.

Seungcheol menatap gadis yang tampak berantakan mengatur emosinya itu prihatin. Merasa sebagian dari dirinya ikut dihantam kesedihan yang berpusar di sekeliling gadis itu.

Seungcheol merunduk, mengambil samping Rami. Dilepaskan luaran denim tebal untuk disampir pada bahu telanjang Rami daro termakan dingin angin laut yang semakin ganas saat malam.

“Seungcheoool! Seungcheol-aaaa,” lalu gadis itu tertawa menggelak. “Lucu ya? Dunia ini lucu sekali.” Sudut-sudut matanya bernoda bercak bulir air. Pun begitu tawanya belum surut.

“Hanra.”

“Dunia ini lucu Seungcheol. Hahaha,” dipukul jenaka lengan Seungcheol pelan. “Mereka bilang jika aku jadi anak baik maka dunia akan selalu membalasku dengan baik. Tapi dunia malah mengambil mom dariku.”

“Aku memutuskan jadi anak nakal dan dad mencari dunianya sendiri tanpa aku di dalamnya,” Hanra memasok habis sisa cair dalam botol hijau ke dalam mulutnya. “Lucu, kan? Dad bahkan menyingkirkanku jauh-jauh supaya ia bisa memulai hidup barunya tanpaku.”

“Tch… bahkan dunia saja tidak bisa menepati janjinya. Apa-apaan?! Brengsek!” Rami memukul-mukul permukaan tak rata paving, masa bodoh dengan nyeri atau lecet yang membuat tangannya kotor .

“Hanra-ya, hajima,” ditangkap Seungcheol pasang pergelangan yang segera memberontak.

“Brengsek! Bisa-bisanya pria tua itu mencari kekasih baru sementara belum lama mom pergi! Stupid old man! You don’t deserve to be called dad! Shit!” Rami meronta keras berusaha mengambil alih bebas tangannya kembali. Namun genggam Seungcheol yang jauh lebih sadar dan waras dari pada Rami tak goyah sedikit pun.

“Brengsek! Mati saja kau! I hate you! I don’t need you. Go to hell!” jeritnya makin melengking. Tangis dengan suara serak yang hampir lenyap menggugu pilu.

Entah harus sesakit apa lagi ia harus merasa sampai-sampai godaan untuk melangkah membebaskan dunia dari kewajiban menaungi hidupnya menggiur janji. Hanya tinggal mencampakkan diri lima langkah ke pinggir pelabuhan. Bukankah dengan begitu ia akan terbebas dari rasa sakit yang membuat sekujur tubuh meronta sementara rongga dadanya menyesak.

Ditarik Seungcheol seluruh ronta Rami ke dalam lingkar dekap. Erat-erat dipastikan tak satu bagian pun dari gadis itu hilang. Tubuh kecil itu bergetar mengisak pilu. Tumpah segala rasa sedih dan kecewa yang menghantam dari segala sisi mengecilkan jiwanya yang memang sudah begitu kerdil. Rami tak tahu lagi mana dan apa yang harus disalahkan. Dirinya kah, Tuhan kah, Ibunya yang sudah tiada kah, Pamannya kah, ayahnya kah, atau memang seisi semesta?

Seungcheol hanya diam. Membiarkan gadis itu menguar segala kelumit yang membebankan hati. Menerima rentet serapah panjang Rami di sela isak tangis menggugu.

Ia tidak akan berpura-pura mengerti apa yang gadis itu lalui atau berusaha membuat gadis itu tenang. Yang Seungcheol lakukan hanya diam, memberikan pundak, dan peluk hangat agar Rami tak pecah berhambur kehilangan rasional dengan jiwa yang makin terkoyak.

Setidaknya Seungcheol ada, ketika arogansi Rami runtuh berganti rapuh pilu yang selama ini dibungkus rapat-rapat dengan tameng keras yang mengalihkan pandang orang-orang dari patri emosi sesungguhnya.

**

00.23 AM KST

 

Ternyata lumayan jauh jarak pelabuhan dari pelataran hotel. Seungcheol tidak merasa sebelumnya, ia terlalu terokupasi bayang-bayang mengerikan saat mencari Rami di antara gelung kelam malam yang menjadi setting tepat cerita horor yang menggerogoti isi kepala, membuatnya tak tenang.

Rami terlelap dengan dengkur pelan pada punggung Seungcheol. Melupakan hentak kenyataan yang mengusik serta lelah selepas menangis keras menuang campur aduk rasa yang memusingkan kepala.

Seungcheol sama sekali tidak keberatan. Tidak akan.

“Seungcheol…”

“Hmm?”

Dad tidak pernah menggendongku seperti ini,” ujar Rami masih dengan mata terpejam. Tampar keras angin laut cukup membuat kepalanya bisa berpikir jernih meski masih terasa pening.

“Jadi sekarang aku seperti ayahmu?” ditolehkan kepala menatap wajah yang bertopang pada salah satu bahunya.

“Punggungmu lebih hangat. Lebih luas. Punggung dad terlihat dingin.”

“Kalau begitu kau tidak boleh mau saja digendong orang lain kalau sedang mabuk.”

Rami menegakkan kepala, “Tapi punggung Hyunwoo oppa terlihat lebih nyaman.”

Ya. Han Rami,” Seungcheol berdecak. Gadis itu hanya tertawa pelan.

“Seungcheol-a.”

“Hm?”

“Panggil aku seperti biasanya.”

Seungcheol bingung, tapi tetap melakukan apa yang Rami minta, “Han Ra-ya

“Lagi.”

“Han Ra­-ya.” Berpuluh-puluh kali ia rela melakukannya.

“Han Ra-ya. Mom selalu memanggilku begitu, dulu.”

Seungcheol ingat, pertama sekali ia memanggil Rami dengan panggilan Han Ra. Bulan kedua ia berpapasan dengan wajah dingin yang paling akhir tertinggal di ruang latihan atau yang paling pertama tampil saat evaluasi rutin. Gadis itu keluar dengan peluh membasahi sekeliling kening dan wajah serta baju kaus yang dikenakan, wajahnya merah menggebu, napas berderu keras, dan matanya terpeta jelas amarah.

Pintu ruang latihan yang diayun terlalu keras menganggetkannya. Tapi wajah Rami saat itu lebih membuat kaget. Selama tiap kali berpapas sekedarnya begitu jadwal pakai ruang latihan berakhir sebelum giliran Seungcheol, gadis itu tak pernah memasang wajah-wajah berbeda. Hanya satu ekspresi yang terpampang; tatapan tak tertarik dan wajah datar. Rami bahkan tak pernah melakukan apa yang trainee lain lakukan ketika bertemu pegawai agensi; memberi salam dan membungkuk sopan. Dua minggu pertama ia muncul sebagai trainee baru dengan tingkah tak biasanya, bahan obrol di tengah istirahat latihan adalah Han Rami, trainee kurang ajar yang biasa-biasa saja dan tiba-tiba muncul padahal tidak ada isu audisi dari agensi.

Wajah marah itu berlalu dengan derap penuh hentak. Lalu entah dari mana datangnya inisiatif tersebut, Seungcheol memanggil gadis tidak sopan itu, “Rami. Oi, Rami-sshi.” Namun pemilik nama tersebut tak kunjung menoleh. Lalu tepat beberapa langkah sebelum belok dinding menelan sosoknya, Seungcheol memanggil kembali dengan sebut berbeda, “Han Ra-sshi.” Langkah penuh emosi itu terhenti.

Masih jelas dalam ingatannya, seperti baru kemarin, wajah yang meletup dengan gejolak panas sepersekian detik sebelum panggilannya tiba-tiba kosong. Kosong dengan tatap sendu.

Ia melihat segalanya sejak saat itu. Kebohongan kental yang dipasang begitu apik di luar.

“Seungcheol-a.”

“Hm?”

“Aku hampir sampai.”

“Aku tidak kemana-mana, bodoh.”

“Seungcheol,” telunjuk ramping Rami mengusik sebelah pipi Seungcheol. Mau tidak mau membuatnya memutar kepala.

Bibir mungil Rami mendekat, mengecup singkat sebelah pipi yang menoleh dekat.

Tidak adak gamblang, “Terima kasih. Karena kau sudah mau ada di sampingku,” seperti yang normalnya akan terjadi.

Namun Rami terlalu pelit ungkapan untuk menunjukkan jelas rasa hangat mengisi sela kosong yang sesaat lalu menyerbu seperti hujan deras tanpa halang teduh.

Tidak perlu kata-kata prihatin bertabur simpati atau bujuk bertele-tele agar tangisnya mereda. Hanya lingkar lengan serta tepuk pelan saat guguannya semakin menjadi. Dekap erat dan pundak tumpuan untuk mengamuk pada isi dunia, sudah lebih dari cukup.

**


From: avamarilyn11_3@yahoo.com

Sent: Sunday, November 9, 2014 01:34 PM

To: natasha_han01@gmail.com

Subject: (no subject)

 

I don’t know what to say. May be I shouldn’t send this to you. But, you know I can’t keep a secret from you. Just don’t do anything stupid and call me if you need me.

 

1 attachment | View all | Download all

invitation


=end=

yihaaaaaa, maaf kalo kepanjangan dan agak monoton ya.

ini sudah saya coba utak-atik sekiranya berkali-kali sampai final dan ke post.

maaf kalo masih agak kurang memuaskan, semoga suka.

Advertisements

One Reply to “Invitation”

  1. SENENGNYA PROGRESS MEREKA LANCAR HAHAHA

    Hanra-ya, Joan ngerti kok perasaan kamu. Dipaksa seenak jidat sama Bapak berumur itu emang gak enak. Tapi Hanra mah masih mending, janjinya sedap; koleksi jacobs, paling anyar lagi HAHAHAHA Joan mah apa, dikasih gaji kasat mata mulu /disepak Pledis sajang/

    Itu si Vernon, yaelah, noonanya malah diketawain gitu-_- kan kurang ajar buahahaha dan DOKYEOM, CIYUS NIH GAPAPA HARU DITINGGALIN? EMAKNYA SIGAP LHO, SIAPA TAHU KAMU GAK ADA HARU TIBA-TIBA UDAH ADA DI PENGHULU /FIREEEEEEEE/ /Kompor tiada akhir/ /Hidup angst!/

    Terus kirain bakal ada fluffy gitu, eh tahunya disuguhin scene sedih gini. Kasian, bapake Hanra mau kawin lagi ya? Iya, pak saya tahu jadi duda itu gak enak, gak ada yang ngelusin kalau lagi kesepian tapi ya gak gitu juga. Moso langsung aja ngasih anak gadis satu-satunya disodorin undangan kawin, lewat email lagi. Wong datengin kek, baik-baik dulu, baru ngomong mau kawin T___T

    Tapi gak apalah, dengan begitu Hanra sama Sekop ada progressnya haha. BALIK DARI JEJU JADIAN YA? /rider minta digampar/ HAHAHA

    “Aku hampir sampai.”

    Semoga Hanra beneran hampir sampe :’) Okelah, makasih fiksi canonnya Li! Semangat!!!

    Like

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s