Double Trouble #3

closed door
Double TROUBLE #3

with,

Im Nari (OC) – Park Jaehyung (DAY6)

..

..

sky.l

..

..

Petak besar tofu dipotong kecil-kecil, digeser turun dari papan potong ke dalam panci bersama kaldu kedelai, menambah varian di dalamnya. Satu dua kali jumput garam dan penyedap rasa dicubit masuk. Nari berkonsentrasi pada perasanya, mencari preferensi tepat yang ditakar sesuai lidah pelahap lain.

Punggungnya acuh akan sosok tinggi dengan tempurung hampir menyentuh lawang arena masak. Sementara sosok itu air wajahnya tak tergubah dari sorot menagih. Menagih panjang lebar cerita yang jelas tidak ingin diburai Nari, entah karena alasan apa. Siapa yang bisa menerka cuaca hati gadis itu? Hanya Tuhan sepertinya.

“Kau benar-benar tidak akan menjelaskan apa-apa, lagi?” urainya, berharap disahut jawab.

“Bukankah sudah kujelaskan? Aku buru-buru menjemput Sena yang tas dan ponselnya tertinggal di dalam bus yang meninggalkannya di rest area. Jelas, kan?” Seru gadis yang kini menjulur gapai ke atas lemari kecil mencari wadah tampung lauk racikannya.

Ulur lain ikut meraih, dengan gampang mengeluarkan mangkuk berukur sedang berwarna merah bata dan piring pecah belah di bagian paling atas lemari. Beruntung memang memiliki tinggi berlebih.

“Bukan itu penjelasan yang kumaksud. Jangan pura-pura tidak tahu,” mangkuk beralas piring diletakkan di sebelah bak cuci, sembari diambilnya beberapa tambahan piring bersih.

Kompor dimatikan. Tangan mungil Nari bergerak pelan mengaduk uap panas yang bergumul mengumbar aroma. Genderang lambung yang menuntut segera dipenuhi semakin kentara.

“Nasinya sudah matang, kan?” hindar begitu jelas mengalih tuding pernyataan Jae. Susah payah ia meminta Brian, Wonpil, dan Dowoon menemani bocah laki-laki bernama Raehyung yang ternyata berumur lima tahun tersebut dan Junhyeok yang dengan senang hati mengalihkan Sena ke taman di luar apartemen berama Sungjin yang tentu saja segera mencari Mia agar hanya tinggal ia dan Nari di dalam petak dorm.

“Kenapa, apalagi sih yang ingin kau sembunyikan?” Mungkin mood Jae memang sedang tidak senada dengan maha surya yang tak terusik akan makhluk-makhluk planet orbitnya atau mungkin memang terlalu rapat gumpal yang berdesak di dalam benak memohon segera dicacah. Yang jelas nadanya begitu sarat kesal tanpa repot berkamuflase.

Sebenarnya ia hanya baru merasa ditampar realita, ia sama sekali tidak tahu apa-apa perihal gadis yang ia kencani hampir beberapa bulan kebelakang. Hanya kulit ari tipis diluar tameng yang terlihat, sementara selebihnya tetap tertutup rapat. Ia merasa tersinggung, selayaknya seorang kekasih yang terkejut subuh hari diketuk pintunya lantas ditinggalkan seorang anak laki-laki yang hanya dibekali keterangan ‘adik kekasihnya Jaehyung’ tanpa basa basi, serta panggilan yang ia usahakan tak terjangkau si pemilik nomor seluler. Sama sekali.

“Im Nari, sebenarnya siapa yang aku kencani?”

Pintu yang ia capai selama ini ternyata semu. Hanya sekilas hiasan tak berarti yang mengalihkan fokusnya pada pintu lain, yang sebenarnya, di ujung lorong terhalang gulita tanpa rinai cahaya untuk sekedar memperjelas keberadaan. Begitu Jae sadar bahwa ia terpaku pada pintu hias yang salah, tak ada daya miliknya untuk dapat memutar kenop menguak dimensi dibalik pintu tersembunyi itu. Dimana, di bagian mana ia terlalu terlena dengan trik bodoh Naru hingga tak diraihnya kunci untuk dapat mengayun pintu gelap itu membuka?

**

Aneh.

Setiap nyawa di dalam ruang tersebut paham akan aura tak menyenangkan berkibar di sekitaran. Bahkan Brian -tipikal dengan segudang bahan obrol dari teman kuliahnya hingga pelayan cantik di kedai tak jauh dari gedung agensi tak berani bertutur mengusik. Takut ia malah memperburuk situasi yang sebabnya tabu untuk ditelusuri sembarang intensi.

Hanya terdengar cecap mulut yang sibuk mengemas makanan ke dalam pencernaan masing-masing. Tidak ada lambung kalimat hendak mengawali inisiasi pembicaraan.

Jengah, menjerit keras diselip hening.

“Nari-a Raehyung minta ditemani melihat kucing-kucing Mia,” Junhyeok mengambil alih piring dan mangkuk bertumpuk yang hendak digotong sepupunya itu ke bak cuci piring.

“Kucing? Ayooo!” malah Sena yang tampak kelewat senang dengan ide Junhyeok, segera meraih lengan Raehyung menajajak pintu keluar.

Pandangnya menelisik singkah Junhyeok, tahu bahwa dirinya sengaja diasingkan pergi dengan ide paling ampun tersebut. Saudara laki-laki itu bergeming melanjut tugas mengusir piring kotor dari jangkau mata, jelas enggan memberi setidaknya isyarat kecil tentang maksud sugesti pengusiran halus dirinya. Namun tentu saja, Junhyeok penghindar dan penipu yang lebih ulung dari pada Nari.

Ia hanya bisa berbalut bendera putih. Menjejak derap Sena dan Raehyung persis kemana keduanya berjingkat pergi.

Hyung, hari ini jatahmu dan Wonpil yang cuci piring. Dowoon, selesaikan partitur demo yang kau bilang itu,” Junhyoek tak perlu repot mencari alasan untuk mengalihkan Sungjin, karena leader mereka itu sudah buru-buru menyelinap mengekor Sena dan Nari.

Meski wajah Brian dan Wonpil tampak keberatan, namun keduanya paham Junhyeok ingin mengisolir pembicaraannya dan Jae perihal gantung aura tak menyenangkan serta membuat udara terasa lebih minim dari biasanya. Tanpa protes, Junhyeok menyelip langkah di belakang Jae yang menuju ruang peraduan.

**

“Bertengkar?”

Jae bergeming, memainkan ponsel di atas tempat tidur. Tak ada balas jawab.

“Soal Raehyung?”

Lolos desah napas berhambur. Jae mendongak, “Mungkin ya. Tapi lebih dari itu.”

“Karena Nari tidak pernah cerita apa-apa soal Raehyung? Atau alasan kenapa dia tidak bercerita soal keluarganya?”

“Aku tidak pernah berpikir untuk bertanya, kupikir lambat laun dia akan bercerita. Tapi, ditodong kejadian begini rasanya aku tidak mengerti apa-apa soal saudara perempuanmu itu.”

Junhyeok mengangguk, memainkan sampul seabuah buku di meja seberang tempat tidur dimana Jae duduk. Ia masih menimbang-nimbang, apa ia berhak menyampaikan apa yang Jae ingin ketahui. Namun melihat Nari tak kunjung menggubris janggal situasi yang beresonansi, rasanya tak ada opsi alternatif.

“Aku juga tidak pernah mengerti gadis itu. Tidak akan ada yang bisa paham jalan pikir Nari, hyung,” tatapnya mau tak mau bergamang prihatin. “Aku pasti dihajar kalau bercerita padamu tanpa izinnya. Tapi….” dihisapnya lamat-lamat udara yang berjejal. “Kurasa setidaknya setelah ini kau bisa sedikit tahu kenapa Nari enggan membahas alasan ia dan keluarganya tidak akur.”

Pandang Jae nanar fokus pada Junhyeok yang mencari dimana ujung memulai panjang lebar penjelas.

“Nari kabur dari rumah lima tahun lalu. Tepat ketika adik laki-lakinya lahir –Raehyung. Keluarga Nari pindah ke Busan kira-kira saat Nari berumur dua belas tahun. Ayah Nari orang yang keras. Karena Nari anak tunggal yang sudah jelas akan jadi penerus usaha keluarganya, ia dikungkung banyak aturan dan terkekang. Bahkan Nari tidak diizinkan bersekolah di sekolah umum. Dia home school.” Jeda cukup panjang membuat Jae was-was menanti lanjut perkataan Junhyeok -yang sibuk mengatur dan memilah esensi yang memang krusial untuk ditumpahkan.

“Tepat sebelum kelulusan, Ibu Nari ternyata hamil. Masuk tahun ajaran kedua universitas, Raehyung lahir. Nari memohon diperbolehkan untuk pindah ke Seoul begitu mendapat surat penerimaan dari universitas yang diam-diam ia daftarkan. Setelah protes berkali-kalinya tak di gubris, Nari begitu saja pergi tanpa peduli ancaman ayahnya.” Junhyeok mengusir karbon dari rongga napas sebanyak mungkin. Letup-telup lega sekaligus  tak tenang menari bak konser mahakarya sebanyak apapun alasan yang berargumen dalam dirinya sendiri

“Keluarga Nari tidak pernah hadir dalam pertemuan keluarga atau hari libur besar semenjak mereka pindah ke Busan. Karena itu aku tidak tahu apa-apa soal Nari, sampai tepat tiga tahun lalu ia menemuiku begitu tahu aku juga tinggal di Seoul.”

Seksama didengarnya pasat-pasat tiap kalimat. Menyetel skenario buram mengalir dalam penjelasan yang dipapar Junhyeok. Gadis itu menyembunyikan banyak hal rupanya. Termasuk alasan mengapa ia berpolah seenaknya tanpa peduli apa tutur sekitar akan dirinya. Gadis itu menjalani hidup diluar dikte yang mengekangnya dahulu.

“Sikap drastis Nari, kau paham kan sekarang hyung? Kurasa Nari enggan bercerita karena…. ia tidak ingin mengingat masa-masa ia terkurung.”

Jae mengangguk pelan. Ia mendapat deret penjelas yang ia inginkan, namun setelahnya ia merasa buruk beberapa saat lalu menuding Nari padahal gadis itu jelas-jelas menghindar tak nafsu mengumbar cerita. Sebegitu buruknya masa itu sehingga Nari benar-benar tak pernah ingin mengungkit.

“Polahnya memang semakin hari semakin tidak menyenangkan. Tapi setidaknya, ia banyak membuka diri. Tidak seperti saat pertama kali aku bertemu tiga tahun lalu,” Junhyeok bangkit. Diletakkan kembali buku yang ia bolak-balik tak tentu ke atas meja, langkahnya melambat di hadap Jae. Ditepuknya pelan pundak lunglai yang bersandar pada dinding kamar. Lantas membiarkan Jae bergulir dengan gaung pikirannya. Tertatih disana mencari pereda rasa bersalah yang serentak menyerbu.

Ia hanya terlalu gelap untuk mencari alasan lain. Jae terlalu mengingkan Nari, seutuhnya. Ia tidak pernah merasa cukup, tidak bisa.

Jae mengerti, ia harus berbalik. Merayap di pinggir ceruk-ceruk kasat disekitar pintu kelam tersebut. Seksama lambat-lambat menyusur tiap bagian, mencari titik dimana kunci yang hampir ia gapai terpental jatuh tanpa ia sadar.

=To be continue=

loh eh loh, tiba-tiba yang manis unyu ini jadi pait it it

maaf yaaaa, sesungguhnya niat awal pengen bikin cerita ini lovey dovey seperti biasanya.

namun mood dan ide berkata lain, maka jadilah situasi tak jelas ini.

sabar yaaa, hanya tinggal sediiiiikiiiit lagi sampai serial tak jelas ini berakhir.

maaf juga kalau emosi narinya kurang menari-nari disini. harap maklum setelah badai datanglah duka (re: hasil uts) jadi eksplorasi cerita semacam minim.

aniwei, sekian dan semoga suka.

Advertisements

One Reply to “Double Trouble #3”

  1. LIA INI KENAPA JADI GALAU BEGINI HUHUHUHUHUHUHU 😥

    aku ngerti kok rasanya, mas jae.. pasti berat ya ga tau apa apa tentang pacar sendiri, tapi kamu musti sabar mas!! seenggaknya jangan langsung keluar emosi huhu kan kasian nari. kamu kan calon imam dia, jadi harus ekstra sabar banget ngadepin nari yang ga gampang ngeluarin rahasia masa lalu dia. pelajari pelan pelan soal nari, jangan langsung ngegas pol nanti kalian bisa nabrak!!!

    kakak suka deh sama sikap junhyeok disini. bukan niat buat nyampurin urusan orang, karena dia sendiri awalnya pasti gamau cerita sebelum naru yang cerita duluan ke jae, tapi karena suasana makin genting gitu dia akhirnya buka suara. kamu berhasil nyelametin hubungan jae sama nari, jun! nanti aku traktir makan jajangmyeon ya wkwkwkwkwk /apa hubungannya/

    trus itu raehyung lucu banget li huhuhuhuhuhu sini main sama kucing mia tiap hari gapapa kok. atau nanti kakak tiara beliin es krim, kamu mau es krim cokelat apa vanila apa stroberi?

    lanjutannya ditunggu ya lia! semangat nulis! semangat berkarya!

    Like

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s