The Unloved

tumblr_n9tmwy2x7y1qaef0yo1_500

The Unloved

Staring by Koo Haru

|| Headcanons – Capella – Vignette ||

©KARASU

.

.

.

.

—October 22nd, 2015

7.00 p.m KST

Seperti mawar yang tengah mekar di tandusnya lahan berbatu, begitulah paras Koo Haru saat ini dengan gurat senyum mengembang tanpa dorongan paksa. Karena hari ini adalah hari penting dalam hidupnya. Hari dimana umurnya menua, tapi tak mengurangi bahagia yang terselip dalam tiap denyut nadinya.

Tart buatan bibi Lim —salah seorang pembantu yang sudah bertahun-tahun bekerja di kediaman keluarga Koo dan merupakan kepala bagian dapur— nampak begitu lezat dengan lumeran cokelat dan ceri yang duduk manis di atas whipped cream. Tak lupa lilin-lilin mungil yang mengitari kue, seolah menambah kesempurnaan malam dengan cahaya redupnya yang begitu menawan.

Haru tak sabar ingin meniupnya, tentu setelah mengucap doa kecil di hari spesialnya ini. Sepanjang pekan, ia sudah membuat catatan kecil dalam benaknya, tentang sederet harapan yang ingin ia sampaikan pada Tuhan. Sembari membayangkan satu per satu harapnya akan segera terwujud di keesokan hari, dan hari-hari berikutnya.

Sekarang ia hanya perlu menunggu kakak tertuanya datang, dan pesta kecil ini akan segera dimulai.

“Nona.”

Seorang paruh baya, dengan kumis tebal melengkung di sela bibir dan cuping hidungnya dan rambut yang mulai dipenuhi uban putih, bergerak mendekat. Pemilik nama Cha Jung Soo ini tak lain dan tak bukan adalah kepala pembantu yang sudah mengabdikan diri selama hampir separuh usianya untuk keluarga Koo. Pria berumur setengah abad yang tak pernah lupa untuk memberikan senyum tulus dan perhatian bak seorang ayah pada putri bungsu sang majikan. Berbeda dengan malam ini, tak ada ulas senyum yang bisa ia bagi seperti biasa, hanya tersisa sirat penuh sesal yang membayangi. Membawa berita duka di malam yang seharusnya menjadi momen terindah bagi gadis belia di hadapannya kini.

“Ada apa, Paman Cha?”

“Saya sangat menyesal menyampaikan ini—“

“Ada apa?”

Sejenak menghela napas yang terasa begitu berat, sang kepala pembantu melanjutkan kalimatnya yang tadi terpotong. “Tuan muda mungkin akan pulang larut malam ini, ada urusan mendadak yang harus diselesaikan secepatnya di perusahaan.”

Indahnya bayang mimpi yang sudah ia bangun sejak pekan lalu, menanti datangnya hari ini dengan penuh harap, merayakan ulang tahun bersama keluarga kecilnya. Momen sederhana yang mungkin bagi anak di luar sana hanyalah hal kecil yang mudah didapat, bahkan bisa dirasakan setiap waktu. Namun tidak bagi seorang Koo Haru.

Menahan runtuhan langit yang terasa nyata menekan pundaknya, Haru berusaha menopang tubuhnya dengan tungkai yang mulai terasa kebas. “Dimana kakek?”

“Beliau sedang dalam perjalanan menjemput Nona Emma. Hari ini dia juga berulangtahun, dan kakek anda ingin mengajaknya kemari untuk merayakan bersama.”

Ucap sabar, detik itu juga, tersapu oleh amarah yang seketika memuncak hingga ke ubun. Begitu kejamnya Tuhan pada dirinya di hari perayaan kelahirannya ini. Belum cukup melebur mimpinya menjadi segenggam debu yang tertiup badai, kini ia harus mendengar nama gadis yang paling ia benci. Menyadari bahwa kasih sang kakek padanya tak lebih besar ketimbang untuk gadis sialan itu.

Iblis telah menjarah hatinya, menundukkan kesabarannya hingga ke dasar neraka. Amuk yang menguasai jiwanya, benci yang membakar setiap inci sel tubuhnya. Ia kehilangan kendali. Dan dengan senang hati menyerahkan diri pada sang iblis.

Berderap menuju meja singgasana kue ulang tahunnya berada, lalu secara brutal melemparnya ke ujung lantai. Tak peduli pada Bibi Lim yang terkejut memandangi kue buatannya yang sudah ia hias sedemikian rupa harus hancur dalam hitungan detik.

“Tidak ada pesta hari ini,” geram Haru tanpa berbalik demi seucap kata maaf.

.

.

—October 22nd, 2015

11.30 p.m KST

Dua muda-mudi saling bergelayut mesra di pojok kelab, membentur tubuh pada satu sama lain, dengan nafsu yang membakar akal sehat. Mencicip nikmat duniawi di tengah dentum disko sebagai musik latar pelengkap.

Dae Hwan begitu lihai dalam permainan malam ini, melahap bibir ranum milik gadis yang menjadi mainan barunya, seorang mahasiswi angkatan muda yang dengan mudahnya terjebak dalam buai tutur manisnya. Mereka baru berkenalan sekitar tiga hari yang lalu. Nama gadis itu Jung Ha Rim, tipikal gadis polos dengan paras bak aphrodite yang jadi incaran banyak pemuda. Tidak ada yang pernah berhasil mendekatinya, mungkin Dae Hwan sebuah pengecualian. Bahkan tak ada yang menyangka seorang Jung Ha Rim mengencani lelaki brengsek yang dalam seminggu bisa saja memacari tiga-empat gadis berbeda. Siapa pula yang mengira gadis sepolos Jung Ha Rim bisa menjadi liar di tangan seorang Koo Dae Hwan.

Batuk dehaman disengaja, dari samping kiri, tepat di belakang punggung Dae Hwan. Lelaki itu mengerang, merasa sedikit terganggu dengan si pengacau kecil yang menginterupsi geliat nakalnya. Baru saja tangannya merayap lincah ke bagian bawah pinggul Ha Rim, mencoba menaikkan ritme permainan, sebelum gangguan kecil datang.

Memisahkan diri dari pelukan Ha Rim, Dae Hwan berbalik. Bola matanya berotasi ketika ia menangkap sosok gadis dengan gurat senyum miring penuh ejek, sembari mendesah berat, “Ada apa lagi, Jill?”

“Maaf mengganggu kencan butamu dengan boneka barumu, Dae Hwan,” dalih Jill, mengerling Ha Rim yang mendengus ketika sebutan frontal itu keluar begitu saja dari bibir sahabat karib si lelaki. Jill lalu menyodorkan ponsel milik Dae Hwan, “Ponselmu bergetar terus di meja bar. Lihat siapa yang merindukan si anak hilang!” Satu kedipan mata, yang —tentu saja— tak ubahnya sebagai sindiran untuk si lelaki, sebelum Jill kembali meja bar untuk segelas tequila.

Kini bukan erangan yang keluar dari bibir Dae Hwan, sebaliknya, rahangnya mulai mengeras. Tak begitu suka dengan nama yang terpaut dalam layar ponselnya. Sepuluh panggilan tak terjawab dari seorang gadis kecil menyebalkan.

Baru saja Dae Hwan akan mematikan ponsel, ketika satu panggilan kembali menyalak. Butuh beberapa menit untuk Dae Hwan menimbang apakah ia harus mengangkat panggilan itu atau bersikap acuh seperti yang ia lakukan sepanjang waktu. Dan sekali saja, ia akhirnya berpikir tak ada salahnya jika tidak berlagak acuh.

“Oh! Tebak siapa yang akhirnya menjawab panggilanku!”

Damn it.

.

.

“Apa maumu meneleponku?”

Suara itu, meski terlampau lama tak menyusup dalam celah telinganya, begitu kuat membangkitkan satu per satu kenangan silam. Pun meski terdengar begitu dingin, berbeda dengan bertahun-tahun lalu di masa kecil, suara itu tetap berhasil membuatnya tersenyum.

“Hanya ingin menyapa! Oppa tidak rindu dengan adik kecilmu yang terbuang ini?” Haru tertawa seperti orang yang tengah hilang kewarasan. Menyebut diri sendiri sebagai yang terbuang. Secuil fakta menyedihkan sebagai sindiran pada lelaki di seberang sana, sekaligus pukulan telak pada nasibnya yang miris. “Oppa, tahu tidak aku ada dimana sekarang ini? Aku ingin menemuimu, tapi adikmu yang malang ini bahkan tidak tahu dimana kakaknya tinggal. Menyedihkan sekali, huh?”

“Aku tidak peduli ada dimana kau sekarang. Pulang saja ke rumah, dan berhenti mengangguku.”

Seakan tak peduli pada balasan yang Dae Hwan lontarkan, Haru terus meracau tanpa jeda. Matanya memandangi gedung di seberang tempatnya berdiri, begitu sunyi dengan pagar yang terkunci dari dalam. “Ding dong! Waktu habis, Oppa gagal menjawab pertanyaanku! Aku ada di depan kampusmu. Ugh, di sini sepi sekali, apa aku terlalu larut datang kemari? Aku jadi tidak bisa bertemu kakak kesayanganku.”

“Kau mabuk, Koo Haru.”

Raut masam memenuhi wajahnya. Entah kemana perginya kewarasannya saat ini, Haru tak ada bedanya dengan pasien pengidap sakit jiwa yang mendekam dalam bangsal rumah sakit. begitu cepat suasana hatinya berubah, terbahak kencang tanpa peduli sekitar lalu sedetik kemudian digelayuti sedih tak terbendung. Mungkin sebentar lagi ia betul-betul membutuhkan perawatan intensif dari psikiater.

Oppa lupa kalau aku tidak bisa minum alkohol?” Haru mengeluh, seperti anak kucing yang tak tahan untuk terisak. “Oh, mungkin aku harus mencobanya nanti, sekedar untuk menghilangkan penat, benar kan? Dan, ah! Oppa ingat hari apa ini? Oops, tentu saja, kakak tersayangku Dae Hwan tidak akan mengingat apapun tentang adiknya yang malang ini. Dae Hwan tidak akan peduli pada adiknya. Tidak untuk mengingat hari ulangtahunnya, tidak untuk sekedar mengucap selamat, bahkan tidak untuk memberinya hadiah.”

Sederet kalimat yang tanpa sadar meluncur begitu saja dari bibir gadis itu, dengan notasi melengking yang kian menanjak di tiap kata. Emosi yang tak bisa ia bendung lagi, detik itu pecah tanpa bisa ia tahan. Terlalu sakit menyadari bahwa tak ada seorang pun yang peduli padamu, bahkan di hari yang begitu penting dalam hidupmu.

Haru menggigit sudut bibir. Tak ada balasan dari ujung sana. Hanya riuh musik yang menggema ditambah lengking kumpulan pemabuk dan penikmat dunia malam.

“Hari ini aku berulangtahun. Aku tahu Oppa pasti tidak mengingatnya, kau terlalu bahagia dengan duniamu sekarang tanpa perlu memikirkan keluarga, termasuk aku. Bagimu aku tak ada artinya, dibanding duniamu saat ini, kebebasanmu. Dan aku sendiri disini, melewati malam kelahiranku seorang diri tanpa satu pun keluargaku yang peduli.”

Masih tak ada jawaban. Lagi-lagi hanya terdengar dentum yang makin menjadi.

“Aku membuat list permintaan di hari ulangtahunku ini untuk Tuhan, tapi sayangnya aku belum sempat mengutarakan doaku pada-Nya. Sudah hampir berganti hari, dan sebentar lagi waktuku habis.” Genggam kuat tangannya yang bebas kini terasa kebas. Terlalu lama mengepal hingga buku jarinya memucat. “Oppa ingin mendengar salah satu permintaanku? Aku berharap Tuhan berkenan mengembalikan anak laki-laki yang selalu tersenyum padaku dan merangkulku tiap kali ayah selesai memarahiku. Aku merindukannya. Sangat merindukannya—“

“Sudah selesai dengan dongeng malammu? Tahu tidak, kau ini sudah menyita waktu kencanku. Dan biar kuperjelas padamu, Haru adikku yang manis, anak laki-laki yang kau rindukan itu sudah mati. Dia tidak akan pernah kembali. Berhenti hidup di masa lalu, dan hadapi hidupmu sekarang.”

Dan koneksi terputus, begitu saja. Meninggalkan Haru yang mematung seorang diri, dengan kata demi kata yang mengiris pilu lukanya. Bukan hanya hati yang terasa robek disana-sini, kini sekujur tubuhnya ikut merasakan sakit, seakan ribuan jarum menancap di setiap inci tubuhnya. Dan koak gagak yang seolah ikut menertawakan nasib malangnya.

Haru merosot. Tak kuat menopang beratnya tubuh, dan segala rasa sakit yang kian menghujam. Duduk di tengah angin malam yang begitu dingin menembus helai demi helai kain yang membalut tubuh kecilnya. Duduk tanpa alas di seberang gedung yang terkunci rapat bak seorang pengemis jalanan yang menyedihkan.

“Haru.”

Ia mendongak. Memandang seorang lelaki muda yang berdiri di sampingnya, dengan tatapan sayu. Sekujur tubuhnya terasa kebas, menjalar ke dalam dirinya, juga batinnya.

“Aku menunggumu di ujung sana sejak tadi,” ujar lelaki itu sembari menunjuk titik tempatnya berdiri tadi, tepat di bawah tiang lampu tepi jalan berjarak beberapa meter, mengawasi Haru dalam diam ketika gadis itu larut dalam obrolan-entah-apa dengan seseorang-entah-siapa.

Eo Jin menggaruk tengkuknya, merasa canggung —lebih pada dirinya sendiri— karena sudah tertangkap basah mengikuti gadis itu sampai ke tempat ini, bahkan melayangkan fokus untuk mengawasinya. “Tadi siang Paman Cha memberitahuku kalau hari ini kau berulangtahun, dan aku berniat untuk menemuimu setelah pulang bekerja untuk, um, mengucapkan selamat ulangtahun karena kupikir mengirim pesan kurang pantas, jadi aku datang ke rumahmu dan aku melihatmu keluar tanpa menghiraukan panggilanku, dan aku mengikutimu,“ Eo Jin mendesah, ia sudah menjelaskan detail alasan mengapa sampai berada di tempat yang sama dengan Haru. Mengaku dirinya yang mengikuti gadis itu tepat dari pagar kediaman Koo, meninggalkan Cherokee lamanya dan menyusuri jalanan dengan bus umum yang dinaiki Haru tanpa gadis itu sadari.

Ia baru saja pulang dari kantor pusat setelah melakukan audit ulang karena adanya beberapa file penting yang hilang, dan hendak menjemput adiknya, Oh Jin Ree, di gedung siaran SBS untuk mengantarnya pulang, sebelum ia teringat pada kilas kabar Paman Cha tentang hari penting ini. Maka Eo Jin menghubungi adiknya, berujar akan datang terlambat dan berkunjung sejenak ke kediaman keluarga Koo. Sekedar memberi ucapan selamat pada Haru atas bertambahnya usia.

Eo Jin sama sekali tidak menyangka rencananya malah berujung pada dirinya yang mengikuti jejak langkah si gadis bimbingannya dan mengawasinya sepanjang malam.

“Aku minta maaf sudah mengikutimu, tapi kupikir aku harus, karena kau tidak terlihat baik-baik saja tadi,” dalihnya. Meski sekali lagi, gadis itu hanya menatapnya dengan pandang kosong, seakan sebagian ruhnya hilang entah kemana.

“Haru?” Eo Jin merendahkan tubuhnya, duduk sejajar dengan anak bungsu keluarga Koo. Merasa bahwa gadis itu benar-benar dalam keadaan yang tidak baik. Sesuatu terjadi, dan Eo Jin tak tahu pasti apa itu. “Haru, apa yang terjadi?” Tangannya bergerak di sela surai hitam milik Haru, membelainya pelan, ketika mendadak airmata meluncur dari bendungan kelopak mata gadis itu.

“Kenapa Tuhan mengirimku ke dunia ini jika tidak ada satupun keluargaku yang menyayangiku?” Belum pernah sekalipun Eo Jin melihat Haru dalam kondisi sekacau ini. Gadis yang ia kira tak mengenal tangis, begitu keras dan terkadang tak menghiraukan omongan sekitar, dengan sejuta laku tak kenal aturan yang membuatnya kadang kelimpungan selama menjadi guru privatnya. Kini ia melihat gadis itu menjelma menjadi sosok yang begitu kuyuh dan rapuh, dengan genang airmata yang tak hentinya mengalir. “Ayah dan ibuku meninggalkanku dan tinggal bersama Tuhan tanpa mau mengajakku. Kakak tertuaku lebih senang disibukkan dengan pekerjaannya, dan kakakku lainnya lebih mencintai dunianya yang penuh dengan hingar bingar kebebasan tanpa menghiraukanku sedikit pun. Bahkan kakekku selalu mendahulukan gadis yang dia anggap seperti cucu kesayangannya di atas kepentinganku, cucu kandungnya sendiri. Tidak ada yang menginginkanku, tidak ada yang peduli padaku. Lalu untuk apa Tuhan mengirimku ke dunia ini?”

Menanggalkan segala akal sehatnya. Mengikuti gerak nurani. Eo Jin merengkuh gadis itu.

“Aku peduli padamu.”

.

.

“Dimana pacar barumu?”

Memejam mata, diikuti hela nafas dari cuping hidung, sebagai respon dari si lelaki untuk pertanyaan yang menyerangnya. Dae Hwan, dengan sisa energi yang terkuras, dalam permainan emosional yang melonjak naik turun tak kalah dari sensasi roller coaster malam ini, mengambil posisi duduk di jajaran kursi bar yang mulai kosong.

“Aku membentaknya, dia marah dan kami putus,” tandas Dae Hwan tanpa membagi tatap pada gadis di sampingnya. Ia sibuk memesan segelas vodka pada bartender. Segelas cairan penghilang penat untuk malam yang panjang dan begitu menyuntukkan ini.

“Wow,” sahut Jill, kini menggeser tubuhnya menyamping. Menopang siku kanannya pada meja bar, dengan telisik intens pada sosok pemuda yang nampak sedikit kacau. Jelas ini bukan soal perkelahian kecilnya dengan si boneka baru, yang menurut pengakuan Dae Hwan hubungannya baru saja kandas. Kalau boleh bertaruh, Jill yakin besok sahabat brengseknya ini akan menggandeng dua bahkan tiga gadis jalang lain. “Kau terlihat tidak stabil malam ini. Karena panggilan dari adik kecilmu?”

Dae Hwan tertawa serak, tak begitu berminat untuk membahas topik ini, tapi toh ia tetap saja menyahut. Setelah meneguk vodka pesanan yang baru ia raup, tentu saja. “Hari ini ulang tahunnya, dan dia menghubungiku. Rindu, dia bilang,” Dae Hwan mendengus, dengan otot bibir yang tertarik simpul. “Aku membalasnya dengan kasar tanpa peduli bagaimana perasaannya.”

“Dan kau menyesal.”

Jill menyambar santai. Mudah saja bagi gadis itu menebak apa yang sahabatnya rasakan. Jalin pertemanan yang terbilang erat selama tahun-tahun ke belakang sudah cukup membuatnya hafal dengan tindak-tanduk dan isi otak Koo Dae Hwan tanpa perlu menggali lebih dalam.

“Lebih baik begini,” sambung Dae Hwan. Satu gelas vodka lagi, menunggu titik sadarnya yang tak kunjung raib. “Jika dia membenciku, akan lebih mudah bagiku untuk melanjutkan hidup tanpa bayang-bayang keluarga tercintaku, dan Dae Hwan yang baru akan terlahir kembali menikmati dunia tanpa ikatan yang melilit lehernya seperti selama ini.”

Jill mengedik bahu, lalu menopang dagunya dengan telapak tangan yang terjulur di atas permukaan meja bar. Sementara irisnya masih menelisik paras si lelaki, menelanjangi isi benak sang sahabat dan senyum miringnya terulas ketika jawaban itu terpampang. “Tapi kau tidak bisa melenyapkan rasa sayangmu untuknya.”

Kali ini, Dae Hwan mengarahkan pandang pada gadis yang tanpa sungkan melucuti satu per satu kelemahannya. Keduanya berbagi tatap. Dan ulas gurat lengkung membalas senyum Jill.

“Tidak ada —di dunia ini, seorang kakak yang akan benar-benar bisa membenci adiknya, Jill, tak terkecuali aku.”

fin.

Notes:

Pertama, saya mau minta maaf karena di fiksi ini ga ada dokyum atau junghan atau member seventeen lainnya yang dekat sama haru. Karena secara pribadi, saya lagi pengen nyeritain sekelumit masalah haru dan keluarganya. Dan makasih buat Zen yang mau minjemin Jill buat curhatan bareng Dae Hwan, dan Eo Jin yang bisa jadi penenang buat Haru 😀

Dan sekali lagi maaf kalau tulisan saya ini berantakan, maklum lagi kena wb tapi gatel buat ngeluarin ide haha. Plus, maaf kalau cerita ini agak mendramatisir. Terimakasih sudah membaca! 😀

Advertisements

2 Replies to “The Unloved”

  1. Haru….. haru…. haruu….
    sini nak sini kamu jadi anak mbak hanra aja sini T_T
    kita tiup lilin potong kue rame rame sama anak asuh rusuh deket apartemennya jane yok
    kamu mau berantem sampe perang dunia 1000 sama dokyeom gapapa kok, kita rela menonton sampe selesai

    Jangan nangis depan gerbang sendiri gitu aaaah aku kan jadi ikut pengen mewek jadinya……

    aduh kak, ini diaduk aduk diubek ubek sudah itu ditumpahkan semua emosi sampe luntur luntur ilang begini jadinya……. huhuhuhu tissue mana tissueeeee tolong TTT_______TTT

    ABANG DAEHWAN JUGAAAA DEDE HARUNYA KOK DICUEKIN GITU AJAAAAA AAAAHHH

    kasian kan anak imut2 begitu nangis malem malem depan kampus, nanti disangka pasien rumah sakit jiwa kabur kan ga lucu baaaang. samperin bentar atuh barang sepuluh menit gausah deh lima menit juga itu anak gadis udah seneng luar biasa pasti /mode emak-emak on/

    Har…. kamu kok ga melarikan diri ke penampungan anak bawel sih biar ga sedih sedih gitu.

    kaaak….. jangan sering-sering bikin aku mewek yaaaa
    tapi tapi tapi tapi….. mau lagi harunya huhuhu

    Liked by 1 person

  2. Kemarin tuh udah mau komen pertamax kak, tapi ya itu, kehapus entah mengapa. Mau ngetik lagi, tapi ya kok malah mati lampu-_- kan double sial jadinya wkwk

    Kebayang bener gimana senengnya Haru di paragraf pertama, pasti dia udah berimajinasi Jo Hwan dateng bawa kado /halah sotoi/ eh tahunya, takdir berkata lain /wetseeh/ cuma ya kak, ini aku jadi ikutan kesel sama Emma. Kok malah dia dapet perhatian dari Kakeknya Haru, bukannya suruh sopir aja buat jemput emma T_T kalau tau gini kan enakkan Haru ngerayain ultah di anak sepenten aja, lebih ramee, kental gitu bahagianya HAHAHAHA

    EH YA EO JIN NGAMBIL KESEMPATAN DALAM KESEMPITAN. Bilangnya ke Jin Ri bakal sebentar, eh tahunya lama ya hayo ngapain aja /duagh!/ Gapapa mas, Jin Ri pasti ngedukung kalian, lagian dia juga gak peduli /Halah/ Tapi ini seharusnya Jin Ri dipertanyakan juga kak, kok dia malah gak ngucapin selamat ultah buat Haru-_- hadeh.

    SCENE FAVORIT; DAEHWAN DAN JILL. MAKASIH UDAH MELAMBUNGKAN MEREKA KEMBALI KAK :’)
    Kebiasaan nih si Jill, gak tahu aturan, kan Daehwan lagi main seharusnya jangan diganggu dulu. Tapi ini keajaiban karena Hwan gak teriak-teriak kayak biasanya, mencak-mencak gitu.

    Terus, bagian Daehwan sama Haru ngobrol itu…kok njes ya kak. Sedih parah, kok bisa Daehwan gitu sama Adek sendiri. Biasanya, sebencinya sama keluarga pasti gak abadi EH TERNYATA BENER.

    “Tidak ada —di dunia ini, seorang kakak yang akan benar-benar bisa membenci adiknya, Jill, tak terkecuali aku.”

    BIARKAN AKU BERGULING-GULING DI ASPAL KAK. OMONGAN DAEHWAN EUY NGENA. MAU DAEHWAN, MAU LAGIIIIIII!

    Makasih fiksi angst canonnya kak! okeh, ditunggu berat ini aksi Daehwan sama Haru di fiksi berikutnya ehehehe semangat kak!

    Like

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s