No Word War

IMG_3321 2

 

.NO WORD WAR.

Han Rami (OC) – Choi Seungcheol (Seventeen)

..

..

sky.l

..

..

Ia pandai bergulir kata pada lirik. Pandai mencari celah di antara tukar sanggah dengan member lain. Cukup pandai bernegosiasi dengan tetinggi agensi kala diperlukan. Namun ia baru tahu, ia pun sangat pandai menarik pitam jengkel Rami. Dalam segala tukar tatap mereka tiap harinya. Kecuali sunyi, yang ada hanya gaung ego berbuah tengkar di sela ‘percakapan’.

Hari ini sebab perkara sepele, ia menindik sebelah daun telinga tanpa berujar apa-apa pada penanggung jawab gayanya tersebut.

Dua puluh menit menelusuri labirin tak berujung, gadis itu hanya mendengus, “Terserahmu lah.” Derap malasnya menjauh ruang tunggu. Menggantung tengkar tanpa klimaks. Ia terperangah tak paham, tidak ada catat memori Han Rami menjauh dari tempur kata. Tak pernah sekali pun.

Rebah tubuh menghantam kulit sintesis berbebusa di ruang tunggu. Tak sebatang nyawa berani nyalang disana begitu nada lucut pitam terdengar makin menanjak curam dari normal. Hanya pada kali kesempatan mereka harus berbagi bilik tunggu dengan grup lain culas keduanya absen. Pun begitu, sesampainya ia di depan gedung apartemen, cuat-cuat janggal yang bergumul tersalur juga.

Jika kabar burung yang tersebar laki-laki yang jatuh cinta berubah polah di depan gadis yang ditaksir, ia tak paham mengapa perubahan yang menyahuti malah memperburuk hubungan keduanya. Semakin menutup celah kecil yang selama ini tak terjamah, tak jelas semakin luas atau semakin sempit.

Seungcheol hanya bias menggertak buku-buku jari. Kesal pada dirinya sendiri. Mana ia tahu bagaimana seharusnya ia bertingkah di depan gadis yang mengunci perasaannya kalau ini adalah hitung pertama ia sadar ia menyukai lawan jenis. Mengumbar fakta berharap jelas jalan keluar tak akan ada hasil. Ia yang tertua, pengalaman member lain bahkan lebih dangkal dari pengetahuannya.

Belum lagi saingan tak resmi yang makin membuat Seungcheol dirundung gelisah. Ia hanya bisa unggul dari segi waktu temu mereka. Sedang penampilan dan relasi, nyalinya mengkerut seperti spons tanpa guyur cairan.

Harus apa lagi seharusnya ia?

“Sudah. Jangan dipikirkan hyung,” Dokyeom menepuk pundaknya pelan. Semacam memberi dukung moral yang sudah keburu luntur sedari sebelum ia melangkah mulai.

“Jangan sok prihatin. Kau dan Haru tidak lebih baik dariku dan Han Ra,” dengusnya, tak menyambut itikad baik laki-laki berposisi vokal utama tersebut. Dokyeom berdecak tak tentu. Percuma mengumbar laku manis selayaknya adik yang prihatin, tak cocok antar mereka.

“Eish, hyung! Begitu saja ciut. Setidaknya aku dan Haru saling jujur tanpa gengsi,” sindir Dokyeom berbuah tepuk keras pada lengan atasnya.

“Berisik. Sana, jangan sok pamer!”

**

Persetan tugas tambahan yang dilimpahkan, hukuman dari paman tercinta yang telinganya tersambar kabar bolos Rami tempo hari disaat paling krusial untuk bekerja. Apanya yang mendapat perlakuan khusus karena keponakan atasan, yang ada sang paman menambah jatah tugas dan waktu kerjanya tanpa persetujuan terlebih dahulu. Selalu.

Sial.

“Sudah semua?” Didekapnya erat jejal setel pakaian yang bertumpuk. Satu jempol teracung dan angguk singkat dari staff yang mengangsur barang-barang barusan.

“Kau pulang sendiri?”

“Tempatku tak jauh dari sini,” Rami mengendik. Staff yang baru bekerja beberapa minggu itu mengangguk lagi. Tangan kanannya terangkat, mendemonstrasikan pemberi semangat sekedarnya. “Sampai jumpa besok.”

Pintu geser mobil berdebam menutup. Hanya ia dan tiga belas tumpuk kostum yang harus diangkut ke lantai tempat penampungan remaja labil yang sekarang berokupasi penyanyi. Serapahnya tak segan bertumpang tindih, seharian ini belum lagi besok penampilan rutin layar panggung komersil yang menguras titik hidupnya drastis hingga titik ambang. Kalau saja paspornya tidak ditahan entah dimana oleh sang paman, Rami pasti sudah menghilang ke bagian manapun dunia selain Korea, tentu saja.

Mungkin ke Yunani. Menghampiri sepasang iris abu-abu dengan sungging sudut tinggi di ujung bibir yang selalu berhasil menangkap setiap tetes kadar kewarasannya.

Atau mungkin kembali ke New York tanpa sepengatahuan ayahnya. Ia bisa menumpang sementara waktu dengan Beth. Kali terakhir ia bertukar surel dengan Liam laki-laki berkacamata itu bersedia meminjamkan kamar kakaknya yang tak berpenghuni belakangan. Ava bahkan tak lelah bertanya kapan ia kembali di sela pesan slot percakapan daring mereka.

“Kata tolong diciptakan untuk digunakan,” sepasang tangan merampas tumpuk pakaian berbalut pelindug plastik agar benda limpahan sponsor tersebut tidak cidera dari tangan-tangan ceroboh. “Ponsel diciptakan untuk dipakai. Teknologi sudah canggih, jangan disia-siakan.”

Jejak kakinya oleng karena tiba-tiba beban yang menumpu tubuhnya teralih tanpa aba-aba.

“Pulang saja. Sudah malam.”

Bundar hitam itu enggan menilisik pandangnya. Badan dengan bahu lebar itu segera berputar. Tak terlihat kesusahan menggotong tiga belas setel pakaian yang memenuhi lingkar tangannya barusan.

“Ada beberapa hal yang harus kuingatkan pada yang lain,” Rami menyusul cepat, meraih sisian Seungcheol.

“Sampaikan padaku saja,” sahut laki-laki itu, masih tak tampak akan memutar engsel lehernya menghadap Rami.

“Tidak bisa. Nanti kau lupa. Aku bisa kena masalah nanti,” balas Rami. Seperti biasa, menyambung sahut dengan tukasan lain.

“Terserah.”

Pendek. Tak ada lanjut penjelas setelahnya. Hanya suara jejak yang bergesek lantai dan desing elevator yang pintunya bergerak membuka. Tak ayal Rami merasa janggal, Seungcheol tidak menanggapinya sebagaimana banyak argumen kali-kali biasanya. Tidak lucu sekali kalau ternyata laki-laki itu merajuk. Padahal dikesempatan sebelumnya tak terpeta dongkol berarti yang dipenat diam-diam.

“Yang lain sudah tidur?” lucu, ia merasa lucu bertukar obrol normal. Terakhir berlaku demikian, hanya saat ia berhenti dari posisi trainee agensi.

Seungcheol mengangkat bahu acuh.

“Masih berdiskusi panjang lebar sebelum tidur?”

Angguk pelan menyahutinya.

“Kau sakit? Tumben diam,” dering pelan mengumumkan mereka sampai pada destinasi yang diinginkan. Pintu elevator lekas menghilang. Buru-buru kaki maju dari kotak besi.

“Aku lelah. Selalu bertengkar. Kita ini apa sih?”

Sisa langkah Rami tersendat. Sementara Seungcheol meneruskan derap sampai ke depan pintu dorm, menekan tombol kecil di sisi kiri pintu.

Perkataan singkat yang tak pelak menohok entah sisi mana dirinya. Tidak terasa emosi berarti disana, tapi jelas luap pendam sesuatu berayun di dalamnya. Kakinya tak meneruskan tujuan. Hanya terpijak diam enggan melanjut. Menjaga jarak yang sesaat tidak ia nikmati antara dirinya dan laki-laki yang menunggu jawaban di sisi lain interkom.

“Bantu ambil pakaian untuk pemotretan besok. Cepat, Han Ra ingin menyampaikan sesuatu,” ujarnya pada penangkap suara di interkom. Tak lama pintu terkuak, Mingyu dan member lain mengambil alih benda yang digotong Seungcheol. Riuh segera terdengar dari dalam dorm.

“Tuan putri! Ayo masuk. Mau makan sesuatu? Joshua hyung sedang memasak ramen,” Seungkwan dan Hoshi berlakon bak penerima tamu kerajaan.

Rami menggeleng, tangannya berkibas, “Bilang pada semua jangan telat besok. Jangan makan ramen, nanti wajahmu bengkak. Pesan saja tteokboki.” Tangannya menelusup masuk meraih dompet, lantas mengangsur petak keras yang berisi uang virtual. Dua pasang mata di hadapnya berbinar seolah terharu.

“Malaikatku! Noona kau yang terbaik,” empat acung jempol serta wajah dibuat-buat terenyuh menghiasi tanda syukur keduanya.

“Aku janji mengunjungi Jane. Simpan bajunya baik-baik, jangan tidur malam-malam. Dah,” tak ingin lama-lama ia segera berbalik arah, menuju apartemen gadis mungil yang sepihak ia angkat sebagai adiknya tersebut.

Kepalanya masih berputar tak nyaman dihantui ujaran Seungcheol barusan. Padahal hanya kata-kata tak berarti yang pada waktu lain akan ia balas tanggap dengan sahutan pedas membumbung aura tengkar. Rami sendiri tak ingat. Sejak kapan dan kenapa ia dan Seungcheol berganti peran menjadi tom and jerry.

“Telepon pamanmu dulu. Jangan bikin satu dorm kelimpungan karena ponselmu mati,” tidak ada banyak kepala lagi di depan dorm. Seungcheol tak mendekat, tetap diam pada posisinya -tiga langkah dari pintu.

Pikirannya masih berlompatan tak menentu. Tak tahu harus bagaimana, membalas apa. Kebanyakan karena seberapa keras ia menyangkal, perkataan Seungcheol dibenarkan segala sisi yang ada dalam dirinya.

Ia juga lelah.

“Seungcheol,” ia bahkan tak tahu kali terakhir melontar jelas nama laki-laki itu. Sisa langkah yang hampir lenyap di ambang pintu bergeming, “Selamat istirahat. Sampai ketemu besok.”

Seberapa lama terasa menjagal kemungkinan. Pun begitu tak ada dusta terselip, keduanya merasa nyaman. Buih-buih yang bersesakan membising isi kepala meletus perlahan-lahan.

Mungkin topeng tak perlu lagi dibusung. Mungkin jujur tak ada salahnya. Mungkin mengesampingkan gengsi terasa lebih tepat.

Mungkin.

Tak ada peramal andal yang paham watak ketika dua manusia itu berhadapan.

=end=

ga jelas ya? iya, ga jelas. kayak materia uts besok. HAHAHAHA

hanra sama seungcheol lagi capek, kayak saya yang capek sama pakan ternak /malah curcol/ditendang pemirsa/

mungkin, ya mungkin. setelah ini dua duanya tobat. mungkin…..

tergantung tingkat kegantengan tikungan hanra di ruang tunggu sebelah, waaaak

ciao~

Advertisements

One Reply to “No Word War”

  1. KAPAN TAUN PENGEN KOMEN, BARU SEMPET SEKARANG.

    SEUNGCHEOL RAMI DIEM BEGINI BLOG JADI ADEM YA RASANYA /woi capslock matiin dulu/ Enak aja ngeliat berdua akur gini, gak ada argumentasi. Kalau Haru-Dokyeom kan beda, adu argumennya diganti aksi haha. Tapi, eciee seungcheol perhatian amat, pake nyindir cuma pengen tetep bantuin.

    Iya, kita ini apa sih?

    Politikus yang demen tukar argumen, apa tukang pasar yang gak mau ngalah dalam hal teriak-meneriak biar laku? Atau sporter the jack mania sama viking yang gak bisa ngalah satu sama lain?

    HAHAHAHAHA. KESEL IH. KOK RAMI GAK JAWAB GITU. KAN TINGGAL BILANG, “kita ini dua insan yang seharusnya menyatu.” /Eyak/ /dilempar perkedel/

    Terus, terus bagian Rami dateng ke dorm. Subhanallah, itu bawel squad haha. Penyambutannya sok bener. Kenapa gak sekalian gelar karpet merah terus rebanaan? /Garing/ /plaak/ Aku ngakak parah bagian itu, gak bisa berenti.

    BURUAN JADIAN SEUNGCHEOL SAMA RAMI. TERUS BANTUIN JOSH DEKETIN JOANNA /maunya/ okelah ditunggu berat hari jadi mereka ya li, ini karena semata kayaknya rami udah kebawa arus wkwkwk. Makasih fanficnya!! Ditunggu berat lanjutan!!! S E M AN GHAT!

    Liked by 1 person

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s