Bad Grade

ring

 

Choi Eun Gi (OC) – Kim Mingyu (Seventeen)

..

..

sky.l

..

..

Otot bola matanya menggerak rotasi lokal. Rapor sementara setiap sebulan yang dibagi wali kelas di tangannya menghantam kerangka moodnya hingga tinggal serpih tak berharga. Satu deret nilai dengan keterangan yang mau tidak mau ia akui. Tulis angka yang tertera di tengah angka-angka lain yang tidak ia permasalahkan menarik segala rasa jengahnya.

Ia benci olahraga.

Benci. Titik.

Tapi jika angka enam puluh yang tertulis dengan tinta merah di rapor sementaranya tak berubah, kemungkinan besar ia harus menjalani semester pendek libur panjang mendatang. Sial.

“Oi, adik Seungcheol,” tepat ketika kepalanya mendongak, sosok menjulang yang tak pernah terlihat bersetel lain selain celana training dan kaus polos usang tak lupa kalung berpeluit yang melingkar di lehernya. “Nilai terakhirmu tidak tuntas. Kamis depan kau dan yang tidak ikut ambil nilai kemarin harus mengulang kembali.”

“Baik, ssaem,” Eun gi membungkuk ringan sementara guru olahraga dengan semerbak bau keringat itu berlalu.

Satu minggu ke depan. Satu minggu sebelum penampilan pentas seni musim semi awal semester. Bagus.

Siapa yang bisa membuatnya menjadi reinkarnasi LeBron James dalam kurun satu minggu? Siapapun. Kecuali Seungcheol.

Eun gi mengatup kedua tangan. Berdoa sungguh-sungguh, memohon apa saja kemungkinan yang bisa menyelamatkan liburan musim panasnya tanpa ancam gentayang semester pendek.

“Choi Eun!”

Sebegitu cepat Yang Maha Kuasa mengirimkan bala bantuan. Hanya saja dalam bentuk iblis berwujud Kim Mingyu.

**

“Tanganmu terlalu kaku,” kesekian kali Mingyu mengoreksi. Mendemonstrasikan gerak yang tepat. Menanggalkan kemeja seragamnya entah dimana, hanya berkaus putih tipis kegerahan tak ada hembus segar angin yang berlalu sekedarnya. Namun koordinasi tubuh Eun gi lebih buruk dari pada mengajari kura-kura berlari.

Bola berwarna oranye itu lagi-lagi melayang jauh dari papan pemantul. Jauh…. kira-kira seperempat meter tak sampai bahkan. Gadis itu merutuk tak karuan, kaki sibuk menghentak keras lantai lapangan sambil menggeram rendah.

Kening Mingyu mengkerut tak jelas menonton polah gadis itu.

“Aku menyerah!” seloroh gadis itu, berderap cepat ke pinggir lapangan. Menegak habis air di dalam botol berwarna hijaunya. Dihempas ringah tubuhnya ke dinding gedung. Napasnya menderu berlarian.

Berkali-kali tangannya berayun, tak ada barang sekali pun tembak jitu yang mendekati berhasil. Setidak bergairah ia pada pelajaran eksakta, namun kepalanya bisa dipaksa berpikir keras melumat soal demi soal asal ia tak harus ikut tutorial tambahan atau ancam semester pendek. Tapi, ia tidak bisa mengubah apa-apa akan kemampuan abal-abalnya dalam kegiatan fisik.

“Baru satu jam saja kau sudah menyerah,” Mingyu berdiri menjulang dengan tinggi di atas rata-ratanya menghalangi sorot cahaya di belakangnya. “Olahraga itu tidak butuh kalkulasi. Tapi usaha rutin.”

“Tch, berusaha mengerti aljabar saja kau malas. Jangan menceramahiku,” sungut Eun gi, polah bertaring yang ia ganjal lolos juga.

“Ayo. Tidak ada waktu istirahat. Seminggu bisa saja besok pagi saat kau terbangun,” Tubuh Mingyu merendah, tangan kanan mengulur maju.

Tangannya lantas berkucur deras keringat, padahal tubuhnya tak lagi berjingkat menarget ring tinggi. Deru dentum berlonjakan tak tentu atur, mungkin sistemnya belum mendingin.

“Oi, Choi Eun. Tanganku pegal. Ayo,” tanpa sempat hirau persetujuan bergema, tangan itu berekspansi meraih pergelengan Eun gi yang terkulai di lantai.

Alur napas yang berloncatan kilas sebelumnya menjeda cukup lama. Hangat lain yang bertimpang hangat tubuhnya terasa melejit tak karuan. Namun tak ada tarikan berontak yang mencuat dari inisiasi sarafnya.

“Omong-omong apa imbalanmu untukku?” Mingyu melempar bulatan jingga itu ringan ke arahnya.

“Hei, tambahan matematika dan fisika sehabis kelas belum cukup?”

Laki-laki yang berdiri di samping petak keranjang besi berisi bola-bola berbagai jenis itu mengangguk menyetujui pernyataan Eun gi.

“Tambahan dari tambahan, bawakan aku bekal satu minggu ke depan. Call!”

“Kata siapa aku setuju!” Bola yang dilontar padanya beberapa menit sebelumnya, melayang kembali pada si pelempar.

“Nah bagus! Lempar sekuat barusan.”

 

=end=

Advertisements

2 Replies to “Bad Grade”

  1. YUHUUU INI TIANG HAHAHAHAHAHAHAHAH duh jadi demen liatin mingyu semenjak lia nulis mingyu wkwkwkw

    eungiiii!!! mau dibeliin susu pertumbuhan? biar tinggi kayak mingyu gituh XD gemesh gitu liatnya pengen cubit mingyu *lah gak deg entar ada yang ngamuk ulalalaaa serem huahahahah

    unyu ya ceritanya!!! unyunya kayak akuuu /ditendang/ ditunggu yaw mingyu di cerita lain /kedip kedip genit/

    Liked by 1 person

  2. AKDJSKDNKSDJKJADHNNEKELOKDF

    KOK MEREKA BIKIN GEMES JUGA SIH AH LIA MAH GITU BAWA YANG MANIS MANIS KE SINI /Diterjang/ /Lah elu bawa yang gelep-gelep mulu/

    Iya deh yang tinggi, tiap hari makan telor setengah mateng /apa hubungannya peak/ Eun Gi seharusnya bersyukur dapet iblis tapi tamvan, seenggaknya pemandangan terasa lebih enak hahaha daripada malaikat muka ancur jah, kan nambah ribet lagi itu pelajaran olahraga. Tulisan kamu membuktikan kalau Allah itu maha adil /malah ngomong gini/ satu tamvan tapi mengsong di akademik, satu pinter akademik mengsong olahraga hahaha udah ini pasangan udah cocok, kibarin jangur kuninglah, langsung bawa ke malam pertama /WOI WOI/ /maapkeun rider alay ini/

    Ah, maafkan diriku ini juga li jarang komen, semata karena writerblock yang tengah melanda.

    Suka lah ini ff pokoknya, rajin-rajin nulis mereka ya HAHAHA simpenan mingyu kapan muncul nih? (red: maz woo) okelah ditunggu berat karya lain! Semangat!! Makasih ffnya 🙂

    Salam,

    Ejen.

    Liked by 1 person

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s