First Promise

jae11

Im Nari (OC) – Park Jaehyung (DAY6)

..

..

sky.l

..

..

 

Satu area di kalender yang sudah ia tandai jauh-jauh hari kini tampak nyalang karena bulan telah berganti dan lembar bulan lalu disingkir. Lingkar tebal dengan marker berwarna merah dan tulisan ‘100th’ besar di atas kotak tanggal tersebut. Desah berat lolos tak tergagas. Diingatnya terakhir kali menjalin status jelas dengan lawan jenis adalah saat rambutnya masih terburai tak tentu dan isi pikir seharian tak jauh dari serial kartun serta games terbaru yang marak di kalang sebaya. Hidupnya di luar tanah kelahiran dengan kultur dan tempo yang berbeda dalam banyak hal membuat pengetahuan perihal rentet hari jadi yang sering dirayakan pasangan lazim di negeranya sekarang nol besar.

Umurnya enam tahun lebih muda saat itu, masih penuh dengan gagas menyenangkan penuh imaji. Sekarang, segala kilas ide yang bergumpal di dalam kepala dialihkan segera pada lembar-lembar lirik atau nada.

Imaji andai yang bisa seindah dongeng pelabuh bunga tidur, jika harus dituang dalam realita, terlalu…. menjijikan. Iya, menjijikan. Tidak ada kata ganti lain terpikir.

Apalagi Nari, kekasihnya yang enggan disebut sebagai ‘kekasih’, sama sekali tidak bertetes jiwa romantis barang secuil pun. Kapan waktu dibawanya satu buket bunga mawar wangi sebelum mereka pergi kencan, gadis itu malah mencibirnya, “Mawar? Tidak bisa dimakan. Buang-buang uang. Lain kali belikan heottok saja.” Lantas mawar itu dihibahkan ke Mia –tetangga satu lorong yang kebetulan lewat. Nari tak menggubris wajah kecewanya sama sekali sepanjang kencan mereka hari itu. Sama sekali, catat.

Meminta saran pada kelima makhluk yang sama-sama tumpul pada wanita ‘sejenis’ Nari tidak akan menghasilkan apa-apa. Yang ada ia malah akan ditertawai sampai perut mereka tak sanggup menahan bahak –lebih keras dari pada tawa ketika Gag Concert menyalang di layar televisi.

Tangannya tak lepas dari usal kepala –yang tidak terasa gatal padahal. Mengorek bagian terdalam isi otak siapa tahu disana ada sisa ide cemerlang untuk dilaksanakan tanpa ia perlu menghadap seseorang memohon pencerahan. Namun hampir genap satu jam memandang lingkar pada kalender di atas meja seberang tempat tidur, setitik gagas cemerlang tak kunjung menyambangi. Jalan berpikir Nari lebih susah diterka dari pada labirin.

Padahal hanya hitung jemari sebelah tangan sebelum lingkar merah itu menghantui harinya.

Mungkin mencari udara luar bisa mendatangkan bola-bola ide. Semoga saja.

 

**

Jae berputar-putar tak tentu di depan gedung apartemen. Hampir tertunjuk dua jam ia berlaku seperti setrika pakaian yang bajunya tak kunjung licin meski sudah disemprot produk pelicin.

Tak sadar hadap tubuhnya karena hanya menatap kedua kaki yang bergerak bergantian, sosoknya tak sengaja menabrak seseorang. Membuat tumpuk belanjaan yang dibawa orang tersebut berjatuhan.

“Maaf,” cepat-cepat dipungutinya bungkus-bungkus yang menyeruak dari dalam tas kertas yang didekap orang yang ditabraknya. Jae menyodorkan kembali beberapa bungkus makanan instan dan satu kantung besar makanan kucing kepada sang pemilik.

“Tidak apa-apa,” gadis yang ia tabrak –Mia rupanya, hanya mengumbar cengir memasukkan bungkus yang Jae sodorkan kembali ke dalam kantung kertas.

“Sini biar kubantu,” Jae mengambil alih kantung makanan kucing serta beberapa bungkus besar lain yang tampak berat. “Untuk piaraanmu ya?”

“Terimakasih Oppa,” Mia kembali mendekap kantung kertas belanjaannya. “Iya, kucing-kucingku rakus,” jawab gadis itu, dengan senyum sangat lebar, sama lebar dengan rekah bibir Sungjin selepas berbicara dengan gadis itu.

“Oh… Sungjin bilang kau punya empat kucing ya?” Sambung Jae. Terhitung baru kali ini ia bertukar ucap lumayan panjang selain sapa seadanya saat gadis itu membawa ‘makanan’ ke dorm mereka.

“Iya, yang paling besar namanya Molly. Lalu ada Boo, Mong, dan Koong, anak-anak Molly,” jawab gadis itu antusias. Jae mengangguk-angguk seolah mengerti. Padahal melihat wujud piaran Mia saja ia tidak pernah. “Oppa mau bermain dengan mereka kapan-kapan?”

Jae tersenyum kaku, “Aku…. Alergi.”

Mia tampak sedikit kaget, “Benarkah? Waah…. Padahal Nari suka sekali kucing.”

Kali ini ganti Jae yang tersentak, “Nari suka hewan? Maksudku kucing dan semacamnya?”

Lawan bicaranya lantas tertawa. Padahal ia tak mengerti bagian mana yang terdengar lucu.

Oppa kau ini pacarnya bukan sih?” Mia balik bertanya. Jae tak paham maksud pertanyaan Mia. Otaknya makin tak sanggup berpikir keras. “Masak apa yang pacarmu suka saja kau tidak tahu.”

Jae hanya bisa menggaruk tengkuknya dengan sebelah tangan yang tak menopang barang-barang Mia. Ia hanya tahu Nari suka makan. Banyak. Nari juga suka klub dan segala jenis alkohol. Selain itu? Kosong.

“Omong-omong, kenapa Oppa mondar-mandir di depan sana seperti satpam gedung?” tanya Mia, lalu menekan tombol lift begitu mereka sampai di depan elevator.

Ah ya, menurut cerita Sungjin, Mia sama tak ‘normalnya’ dengan Nari. Mungkin dalam skala dan tingkat yang beda, namun bukankah otak ‘cemerlang’ berpikir sejalan? Memang bukan cemerlang secara harafiah yang benar. Apa salahnya mencoba? Mia sepertinya lebih banyak mengerti tentang Nari ketimbang dirinya.

“Tapi berjanjilah kau tidak akan memberitahu siapa-siapa,” Jae menarik telunjuk ke bibirnya, seolah ada orang lain selain mereka berdua di dalam lift. “Apalagi Sungjin, Junhyeok, Younghyun, Dowoon, dan Wonpil.” Ya tentu saja semua member kecuali dirinya.

Mia lekas mengangguk semangat.

“Jadi…..”

 

**

October 6th 2015

06:00 AM KST

 

Pagi-pagi sekali Jae sudah muncul di depan pintu boarding house Nari –bahkan mendahului pangantar susu dan koran. Menodongnya segera mandi dan bersiap-siap tanpa penjelasan lengkap apa, kenapa, kemana, sebagaimana prosedur seharusnya. Nari bahkan menatap Jae curiga begitu laki-laki itu tersenyum sangat lebar setelah ia melontarkan tanya, “Memangnya ada acara spesial apa hari ini?”

“Kau mau menculikku kemana?”

“Nanti saja kujelaskan.”

“Kau mau mengajakku kawin lari ya?”

“Apa susahnya sih mandi sebentar?”

“Kau benar mau mengajakku kawin lari?!”

“Im Nari! Duh…. serius,” Jae mulai jengah bujukannya tak kunjung mempan.

“Aku juga serius.”

“Iya aku mau menculikmu. Iya kita mau kawin lari. Puas?” Tentu saja Jae tak bersungguh-sungguh. Namun sikapnya yang seperti ditenggat sesuatu membuat Nari merasa makin penasaran. “Nah sekarang cepatlah mandi. Aku tunggu di bawah. Jangan lama.”

Lalu laki-laki itu buru-buru menuruni tangga. Sementara Nari masih memicing sembari bermain terka dengan dirinya sendiri.

Jae tidak berpakaian mewah atau formal seperti akan mendatangi suatu acara, tidak juga kelewat kasual seperti akan kencan biasanya, bahkan lebih terlihat seperti ia mau memberi impresi berarti pada orang penting.

Jae tidak mungkin benar-benar mau mengajaknya kawin lari kan? Meskipun sebenarnya ia tidak keberatan sama sekali. Tapi, terlalu mendadak. Bahkan Junhyeok dan yang lain belum terdengar gaung protesnya. Rasa-rasanya tidak mungkin.

Lantas, ada apa?

Ingatannya akan tanggal-tanggal penting kecuali natal dan tahun baru sama kapasitasnya dengan ingatan ikan mas.

Nari menyerah, kepalanya terasang pusing. Tungkainya menuntun diri masuk ke dalam kamar mandi, sesuai titah Jae yang entah sedang apa di lantai bawah.

 

**

Chungcheongnam-do

10:00 AM KST

 

Akhirnya kendaraan mereka berhenti. Setelah berjam-jam sepanjang jalan gadis di sampingnya tak kenal menyerah bertanya kemana tujuan mereka, apa yang akan mereka lakukan, dan berapa lama lagi mereka akan sampai. Padahal ia berniat melunasi tidur malamnya yang terpotong karena terlalu sibuk menyiapkan banyak hal. Namun dengking tanya yang tak putus dari sosok di sebelah membuatnya tak sempat terlelap nyenyak.

“Peternakan?” respon Nari tepat seperti yang ia bayangkan. Gadis itu berdiri mematung di depan gerbang dengan plang ‘Peternakan San-Deul-Ba’ terpatri di atasnya. Ceruk dalam mampir di kening gadis itu, sementara dirinya menghampiri loket pembelian tiket masuk.

Dihampirinya Nari, memasangkan wristband tanda pengunjung memilik akses untuk melewati pintu masuk. Gadis itu diam, tak terdengar lagi gaung-gaung pertanyaan yang dihambur selama hampir tiga jam perjalanan mereka.

“Jae, aku lelah bertanya,” gadis itu diam, membiarkan ia memandu langkah menuju pintu masuk. Tiba-tiba Nari menarik lengan kemeja panjangnya, menghentikan hampir lima langkah melewati gerbang utama. “Kau tidak mau menjelaskan? Sama sekali?”

Ia berbalik kembali, menghadap gadisnya yang memang terlihat frustasi tak menggapai situasi, “Kau tidak sabaran sekali ya? Nanti juga kau tahu. Nikmati saja. Tidak usah terlalu dipikirkan,” ditepuk-tepuknya puncak kepala Nari.

Derai napas keras terburai dari bibir Nari, “Aku tidak suka kejutan. Ingat itu.”

Kepalanya lalu mengangguk, mengiyakan permintaan tak langsung gadis itu. Sudut-sudut bibirnya melengkung naik.

“Baiklah. Ayo kita lihat teman-temanmu bertelur,” Nari menarik tangan kirinya, menaut jemari mereka satu sama lain.

Sorot tatap gadis itu tampak berbinar. Langkahnya begitu ringan berjingkat lincah. Kali pertama ia merasa sisi kekanakan Nari diluar polah sehari-harinya yang selalu berbuah omelan Junhyeok atau cibiran Younghyun. Gumul-gumul emosi yang ia pendam serta amarah yang ia tunda menguap begitu saja saat tawa lepas Nari terdengar, semerdu lonceng gereja. Deru vitalnya ikut betempo cepat tak tentu aturan.

“Yah. Sayang sekali kita tidak jadi kawin lari.”

Ya.”

Nari terbahak tak karuan, lalu menyenggol sikunya berkali-kali. Sial, pasti wajahnya membeku kikuk.

**

Sendawanya bergaung keras. Tidak ada kata semacam, “Hihihi maaf,” atau, “Ya ampun. Aku tidak sengaja.” Nari malah terus menegak kaleng kedua cola dinginnya.

Angin sore pesisir terasa menyenangkan. Serasi dengan semburat manis di atas gapai. Perutnya telah terpenuhi makanan laut di kedai di belakang mereka, kakinya mulai terasa berat setelah seharian berlarian kesana kemari. Laki-laki di sampingnya hanya diam, terpejam menghirup lamat-lamat aroma pantai yang memenuhi rongga hidung.

Nari berdehem. Sudah tinggal hitungan menit sebelum mereka kembali ke halte, untuk lalu kembali ke Seoul. Namun belum juga disahuti tuntut penjelasan yang ditagihnya pada Jae sebelum ia berlari masuk areal peternakan begitu melihat anak-anak domba berwarna putih yang berjejer di balik kandang.

“Kau hutang sesuatu,” Nari menyenggol sisian Jae.

Laki-laki itu membuka mata. Seharian poles senyum di wajahnya tak sempat absen barang tiga puluh sekon pun.

“Tidak ingat ini hari apa?”

Sial, Nari merasa seperti baru saja dilontarkan pertanyaan untuk ujian. Tapi tidak terpikir sedikit pun apa yang dimaksudkan Jae. Memangnya hari ini hari spesial? Seingatnya tanggal ulang tahunnya belum pindah.

“Hari….. Senin?”

“Kau pasti lupa,” Jae hanya terkekeh. Tahu pasti bahwa gadis itu tidak akan ingat. “Ini seratus hari kita.”

Otaknya tiba-tiba polos. Tidak tahu harus menanggapi bagaimana atau berekasi macam apa. Sedikit banyak merasa bersalah, tapi ia pikir hari jadi bukan perkara penting yang harus selalu dirayakan. Apalagi Jae terbiasa dengan gaya hidup luar negeri yang kadang terkesan acuh, pikirnya.

“Aku tahu. Menurutmu ini bukan sesuatu yang penting. Hari jadi, Valentine, White day dan semacamnya. Tapi,” Jae memutar tubuhnya menghadap sisi Nari, “hari semacam ini penting bagiku.” Kedua tangannya menangkup wajah Nari.

“Hari seperti ini penting bagiku. Karena hari seperti ini mengingatkanku bahwa kau sudah mengizinkanku masuk dalam lingkupmu, masuk ke kehidupanmu. Aku tahu, kau tidak akan mengakuinya tapi aku sadar kau perlahan-lahan merubah dirimu. Mungkin tidak banyak, tapi hal-hal kecil itu bisa berubah menjadi sesautu yang besar, bukan?” Jae menyelipkan surai yang lolos dari ikat rambut Nari. “Tapi bagaimanapun dirimu, perasaanku seutuhnya hanya milikmu.”

Sesuatu lolos menjuntai dari genggam Jae. Kalung. Dengan bandul dua ekor kucing tampak dari belakang, “Ini bukan kejutan, ya?” tanya Jae, takut-takut menginspeksi sorot air wajah yang terpeta di pandangnya.

Tahu-tahu geming tatap Nari berubah, pelupuk penuh dan napas tercekat.

“Nari?”

Tubuh Nari menubruk Jae, menenggelamkan wajahnya dalam-dalam di pundak laki-laki itu, “Jae….” isak serak terdengar parau.

“Hei…. hei…. aku tidak sedang melamarmu. Kenapa sampai terharu begitu?” lengan Jae melengkung erat di punggung Nari. Membiarkan gadis itu menuntaskan urai-urai emosi yang tak pernah tampak ia utarakan selama ini.

“Ri-a, aku tahu kau tidak suka berjanji. Tapi… maukah kau berjanji untuk selalu disampingku selama….. yang kau mau?”

Nari menegakkan diri kembali, mata dan hidung merah serta jejak-jejak air mata yang membasahi bagian kaus Jae, “Sialan….” tutur gadis itu. Putaran kata yang bermain di dalam kepala membuatnya merasa pening tak tahu harus berkata apa. Ucap Jae kilas sebelumnya membuat emosinya teraduk-aduk seperi patbingsoo yang hendak dilahap.

Jae mengernyit, tertawa pelan. Mengerti Nari tengah gelagapan dengan perasaannya sendiri. “Ugh… beraninya kau membuatku kebingungan begini. Sialan,” Nari mengusap-usap hidungnya yang berair. “Dari mana kau dapat ide membeli barang lucu seperti itu?”

Deret gigi Jae terpampang bak sedang mengiklan pasta gigi, “Mia.”

Pantas, pikir Nari. Mana tahu menahu Jae perihal kesukaannya pada hewan piaraan Mia yang sering melarikan diri ke atas pohon di depan apartemen.

“Jae…”

“Hm?”

“Aku tidak pandai menepati janji. Sungguh,” Nari menyalang nanar pada bulir yang tak melepas rananya di balik kacamata. “Tapi…. terimakasih.”

Jae mendekat, mengaitkan kalung yang melingkar tepat leher Nari. Lengan gadis itu merengkuh lembut Jae setelahnya. Titik-titik cair kembali merembes tumpah.

“Jae?”

“Ya?”

“Aku janji.”

=end=

YIHAAAAA

SELAMAT SATU BULANAN DAY6

SELAMAT 100th DAY ANNIV CUNGUKS /walopun tanggal jadian mereka ga jelas sebenernya/

Maap kalo rasanya garing garing nyos. maklum, dua minggu menjelas uts dibombardir kuis otak jadi susah berimajinasi gawl.

SUPPORT ABANG AYAM DAN MANTEMAN YAAA SEMUA

 cat necklace

Advertisements

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s