1 – 1

scoreboard on a small town field

Han Rami (OC) – Choi Seungcheol (Seventeen)

..

..

sky.l

..

..

Semua staff agensi sibuk berkutat disana sini pada setiap sudut lokasi pengambilan musik video tittle track untuk promosi berikutnya. Gaduh juru kamera yang menyetel berbagai perangkat untuk segera memulai agenda per adegan yang telah terjadwal rapi.

Pun ditengah ricuh lokasi, mata Seungcheol tak lantas berhenti mengekor tiap celah mencari sosok yang seharusnya menyodorkan perangkat kostumnya dan Dokyeom –yang tengah sibuk melahap habis makanan yang disediakan manajer mereka beberapa menit belakang.

“Seungcheol, kostummu!” seorang staff stylist yang baru beberapa kali ia lihat memanggil dari bagian pinggir setting yang tampak penuh gantung pakaian dan beberapa meja rias yang di okupasi beberapa member.

Noona, semua orang ehm… semua staff stylist ikut kan?” tanyanya hati-hati, berusaha tak terdengar kentara mencari sosok gadis dengan rambut yang sering digelung tinggi dan hanya duduk sepanjang kesibukan berjalan diwaktu biasa.

“Sepertinya,” perempuan yang satu kepala lebih rendah darinya tersebut mengangsur sepasang setelan untuk dua adegan pertama yang akan dishoot. “Oh… Rami. Dia bilang tadi sedang ada urusan lain. Jadi tugasnya dipindah padaku hari ini. Dimana Dokyeom?”

“Di ruang sebelah. Makan,” sahut Seungcheol.

“Haish, anak itu. Sudah kubilang jangan makan terlalu banyak sebelum shooting,” lalu stylist dihadapannya lekas berderap ke tempat yang dimaksud Seungcheol.

Sementara laki-laki tersebut lantas mengeluarkan ponsel, mengetik rentet pesan pada gadis yang baru saja ia tanyakan keberadaannya.

 

“Kemana? Kenapa bolos?”

 

Belum sampai ponselnya kembali masuk ceruk kantung, dering nada balasan bergaung.

 

“Selamat berkencan dengan model musik videonya!”

 

**

 

 

“Ada makanan!!!” tentu saja suara paling gaduh begitu kotak demi kotak masuk melalui pintu dorm adalah milik Seungkwan dan Dokyeom yang berlompatan tak tentu, seperti baru kejatuhan hadiah mendadak.

“Sebentar, siapa yang bayar?” Hoshi yang menghampiri segera menyadarkan fakta paling krusial. Mustahil tiba-tiba berkotak-kotak makanan tanpa ada yang mengaku memesan atau membayar muncul begitu saja.

Teriak rusuh Seungkwan dan Dokyeom sontak terhenti. Keduanya saling tatap lantas menggeleng.

“Ini bukan kiriman dari sajangnim?”

“Kalau dari sajangnim, manajer hyung pasti tahu. Bukan?” simpul Hoshi, tanggap cepat pada rasa janggal yang membuat mereka bertiga berlagak bak detektif andal di serial-serial kriminal yang tengah digandrungi alur drama televisi akhir-akhir ini.

“Seungcheol hyung, mungkin dia yang membelikan. Atau…. hanya memesankan,” wajah bahagia yang memoles tercoreng begitu terpikir bahwa kotak-kota makanan yang tersedia bukan jatah ‘gratis’ seperti yang diharap.

“Maaf, ini billnya,” pria berjaket merah di depan pintu menyodorkan kertas cukup panjang dengan rentet harga makanan yang telah tertata rapi di samping pintu dorm.

Hoshi menarik kertas bill, “Sebanyak ini?! Siapa yang mau bayar?”

“Oh, tidak perlu. Semua sudah dibayar,” petugas pengantar makanan tersebut lantas mengayunkan tangan. “Kalau begitu, terimakasih.”

“Makanan gratis!” Kali ini Hoshi ikut berlonjak riuh bersama Dokyeom dan Seungkwan selepas pengantar makanan undur diri. Tak begitu ambil pusing perihal siapa yang menguras dompet melunasi isi perut mereka malam itu.

 

**

 

Setiap kotak berlabel nama setiap member. Satu kotak berisi paket makanan lengkap dengan beberapa menu sampingan untuk semua orang.

“Habis? Punyaku?”

Ralat, semua orang kecuali Seungcheol.

Tidak ada yang mendongak sekedar menggubris, mulut masing-masing kepala di ruang tengah mulai sibuk mengunyah penuh tiap suap makanan yang menyesak isi lambung mengisi kekosongan sesaat lalu.

“Tidak ada yang mengerjaiku, kan? Ada yang menyembunyikan makananku? Oi!”

“Chahi haja hihepan hintu hyung!” sahut Chan yang mulutnya tak beruang leluasa untuk mengumbar sahut. Seungcheol menggeleng, tak paham bahasa alien yang disampaikan member paling muda itu.

“Maaf hyung, kurasa memang jatahmu minus,” Hansol menyodorkan ponsel dengan layar berisi pesan singkat, lalu ikut bergabung ditengah kerumunan yang melahap makan malam tanpa mencomot lembar di dalam dompet pribadi masing-masing.

Tentu saja, ulah gadis itu. Siapa lagi kalau bukan Han Rami.

 

“Selamat makan ramen malam ini.”

 

**

 

Noona, makanan kemarin lusa itu darimu?” Jika member lain memilih meraup waktu luang saat bersiap-siap sebelum berkutat di panggung untuk sekedar melahap waktu tidur yang terkorting, Dokyeom lebih tertarik menguak hasrat penasarannya yang tak pernah lelap.

Rami yang sibuk menata rambut Dokyeom hanya mengangguk singkat.

“Kenapa dengan Seungcheol hyung. Kau sengaja ya?”

“Sengaja? Begitukah?” jawab Rami, ambigu memerangkap logika Dokyeom. Yang bertanya makin tak paham. Se-tak paham dirinya pada lingkar macam apa yang kasat mata mengitari Seungcheol dan Rami hingga setiap ujaran berakhir dua oktav lebih tinggi padahal jelas-jelas Seungcheol bukan tipe yang umbar pitamnya berkobar sembarangan.

“Kau cemburu karena shooting kemarin? Makanya sengaja tidak datang?” Jeonghan yang entah sejak detik keberapa sudah menyusup ditengah tumpang pembicaraan, duduk tepat di samping Dokyeom dengan rias wajah menguar kecantikan yang siap membuat Rami mendengus sebal.

“Cemburu? Tch… hidupku terlalu sibuk untuk sekedar cemburu pada makhluk sialan itu,” beruntung topik pembicaraan terbelah sekat bersama unit hiphop di bagian ruang yang lain. Sahut tak setuju pasti langsung menyalangi bilamana telinga Seungcheol menelisik ujar Rami barusan.

“Menyerah saja kenapa sih? Kalian ini sudah jelas-jelas saling –“

“Menyerah? Tidak ada di dalam kamusku,” sela Rami, tatap menusuk rana Jeonghan, “kata siapa juga aku naksir si bodoh itu?!”

You’re mad. That’s just mean what he said is right,” Joshua pun ikut sumbang ujar. Tertarik lengking Rami yang cukup menangkap atensi yang seharusnya berkutat pada deret nada.

Shut up, Josh. Seleraku lebih tinggi dari makhluk sialan itu.”

“Oi, Han Ra. Siapa maksudmu makhluk sialan?”

Tanpa aba-aba resmi Jeonghan, Joshua, dan Dokyeom diam-diam serentak menggeser diri dari tempat kejadian bakal perkara. Perang kesekian di ruang tunggu akan segera bergaung dalam hitung jemari.

“Masih perlu tanya? Kau memang bodoh sih.”

Ya. Siapa yang kau panggil bodoh?!”

Rami menduduki kursi dimana tadi Dokyeom berada, memutar tubuh enggan menghadap Seungcheol, “Kau, Seungcheol. Kau bodoh.” Sahutnya enteng tak menggubris wajah jengkel yang terpatri di balik punggungnya.

“Bodoh? Lalu apa yang kau sebut balas dendam dengan sengaja tidak memberiku jatah makanan seperti yang lain?”

“Jenius!”

“Konyol. Itu namanya konyol,” nada Seungcheol mengekor raum fase pertengkaran.

“Terserah. Aku tidak akan pernah mengeluarkan seperak uang pun untukmu, bodoh.”

Seungcheol menarik banyak langkah, sampai tepat di belakang Rami yang memicing padanya melalui hadap cermin. Diputarnya punggung kursi hingga gadis itu tak bisa menampik sengat air mukanya.

“Kata siapa aku kencan? Itu kan pekerjaan.”

“Kata siapa aku butuh penjelasan? Memangnya kau siapaku?” sahut Rami, lekas memental balik tutur Seungcheol tak sampai barang satu sekon berputar.

Seungcheol mendengus. Berpikir serang balik macam apa yang mempan tanpa balas lekas. Otak gadis itu kelewat mencair lancar jika sudah berperihal tukar sanggah panas, apalagi dengan dirinya. Gadis itu seharusnya bukan berprofesi sebagai stylist tapi pembela perkara di ruang peradilan.

“Sana. Sebentar lagi dry rehearsal kalian mulai,” mengakhiri sanggah argumen bukan berarti Rami menyerah.

Tapi gerus yang mencokol kerongkong memaksa kata-kata yang tertahan menyeruak, “Kalau cemburu kenapa tidak bilang saja sih?”

“Bodoh! Siapa yang cemburu?!” Rami beranjak dari kursi, hentak berderap menyalang Seungcheol dua langkah darinya. “Percaya diri sekali kau? Memangnya karena banyak gadis yang banyak meneriaki namamu sekarang berarti aku bisa jadi salah satu dari mereka? Cih.” Kacak pinggang, desis cemooh, tuding tajam lewat lekam pandang. Padahal jika ditelisik, emosi yang meletup-letup antara dirinya maupun lawan hanya kopong dusta semata.

Lekat-lekat dilucuti dua titik gelap gadis dihadapnya, menerka bagian mana yang ia yakin hanya topeng perisai sekedarnya. Tingkat gengsi gadis bermarga Han tersebut bisa lebih tinggi dari gunung Everest sekalipun.

“KO HARU! ITU KAN JATAH MAKAN SIANGKU!!!”

Toleh kepala beratensi pada gadis yang duduk manis di salah satu sofa ruang tunggu, kotak bekal yang beberapa saat lalu penuh makanan kini hanya ruang kosong. Dokyeom yang baru saja kembali ‘mengungsi’ dari ruang sebelah lantas meledak menangkap pencuri makan siangnya yang tanpa dosa acuh akan teriak protesnya.

“Aku lapar. Kau makan saja yang lain,” seloroh gadis itu, wajah tak berair rasa bersalah sama sekali.

“TIDAK ADA JATAH LAIN LAGI SAMPAI SELESAI PENAMPILAN!!!” Dokyeom menggeram kesal, dua tangan terkepal keras, pandang nyalang pada Haru yang tak tergoyah ombak pitam laki-laki dihadapnya.

“Haru, ayo kutraktir makan siang. Dokyeom kau minta belikan si bodoh ini saja makananmu. Kita makan di ruang sebelah,” Rami melenggang enteng menuju pintu keluar. Umbar ujarnya menarik Haru segera beranjak.

“Memangnya ruang sebelah tidak dipakai?” Haru siap mengekor Rami dengan embel-embel makan gratis ronde kedua. Gadis itu bahkan tak peduli dimana rimba Jeonghan yang niatnya ia temui.

“Di sebelah ada laki-laki yang lebih tampan dan waras dari pada disini.”

Haru berjingkat riang mengikut jejak Rami. Meninggalkan dua laki-laki yang mengerang tak tentu begitu sosok keduanya lenyap di balik ayunan pintu.

“Ruang ganti siapa disebelah?” Pun tahu jawaban sebenarnya, Seungcheol tetap melontar tanya.

“Monsta X,” sahut Dokyeom yang menghempas raga di atas sofa.

Hening janggal mendekap dengan kedua nyawa yang tersisa sibuk bergulat jengkel yang meradang serta kelebat pikir yang bergelung bak angin topan. Tak ada satu diantara keduanya yang sudi mengalah, mengaku dongkol yang disebut-sebut ‘cemburu’.

Seri. Kali ini tidak ada yang bersedia menjadi runner up –mengalah maksudnya.

Han Rami 1 – Lee Seungcheol 1.

=end=

ihiiiy bawa pairing baru lagi. karena ide jae-nari sedang terombang ambing jadinya malah beralih kedua cecunguk ini.

Maaf kalo sedikit garing, imajinasi susah jalan kalau lagi minggu-mingu bergulat dengan organisasi.

Semoga suka dua cecunguk baru ini ya

Terimakasih.

scoups2

 

Advertisements

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s