One Sip

image

Im Nari (OC)

..

..

sky.l

..

..

 

“Jus. Jus melon,” bokongnya segera menghempas keras kursi bar. Pada jam tak biasa sosoknya muncul ditengah melompong klub yang belum nenunjukkan taring. Matahari bahkan belum meluncur turun di luar sana.

Tapi laki-laki berparas bak model runaway tersebut hanya menyimpul lengkung lantas menghilang di balik meja bar. Tak berapa lama segelas jus melon sesuai titah digeser mendekat.. Padahal bisa saja ia membeli minuman yang sama di gerai jus diluar sana -bukannya di bar.

“Kepalamu terbentur ya? Ini masih jam tiga siang,” Reo kembali pada pekerjaannya sebelum Nari datang -merapikan gelas-gelas bening lalu menjajarnya rapi di rak gantung di atas jangkau kepala. Namun pandang herannya belum beranjak dari gadis yang menyesap pesanannya seakan minuman itu begitu penting.

“Pelan pelan nona manis,” bibir penuh bualan laki-laki itu selalu lihai terumbar meski setahunya sosok berkemeja putih tersebut tak akan menaruh hati pada kaum hawa.

“Kau punya pekerjaan untukku tidak? Aku butuh uang. Banyak,” seloroh gadis itu setelah teguk tanpa henti menandas seisi gelas hingga ke dasar.

Raut tak berjenaka, pandang yang mengunci. Gadis itu tak main-main rupanya -apalagi segelas jus melon sama sekali tak melayangkan akal sehatnya.

“Hm…..” Reo berlakon seolah ia berpikir keras, “kau bisa jadi kekasih malamku.” Sebelah matanya mengerling jahil.

“Kau kan tidak suka perempuan. Sudah berubah pikiran?”

“Oh honey, kurasa denganmu aku rela bertukar selera,” ditariknya gelas kosong Nari, “mau tambah yang lain?”

“Jus stroberi.”

Reo berhenti, menguar tawa menggaung seisi klub yang hanya diisi senyap musik klasik pelan. “Kau sedang tobat ya?”

“Mungkin. Entahlah, malam ini dia mengajakku kencan. Jadi tidak ada klub dan minuman setan,” tangannya mengibas keras, mengusir Reo melaksanakan tugas seharusnya seorang bartender. Reo beranjak, kembali menghilang ke bagian belakang bar -dimana ia tahu ada perlengkapan dapur kecil dibaliknya.

Ia sudah muak bekerja paruh waktu kesana kemari membanting tenaga dengan runduk kepala yang bertolak dari keinginannya. Apa ada pekerjaan dengan limpah uang selain menjadi simpan malam ranjang pejabat mentereng? Mungkin ia bisa menikahi anak presiden. Entah presiden negeri mana, yang penting ia tak perlu menggerak barang satu jari lagi hanya untuk meraih sesuatu. Atau ia beralih bermain di bawah gelap hukum menjadi semacam gangster yang melayangkan kepal kesana kemari hingga wajah lawan tak berupa lagi.

“Kembali saja ke kehidupanmu. Bersekolah, rumah nyaman, dan uang saku lancar. Apa susahnya?” Kali ini Reo mengangsur gelar berisi cair merah muda kental.

Tak lama gelas di depan Nari bergeser, layang tangan menggusur gelas hingga meluncur dari meja bar begitu mulus menghantam keras marmer. Serpih kaca berserak campur dengan kental jus. Reo hanya menatapnya kalem, seakan tak ada denting keras benda yang berganti wujud tersebut.

“Jangan sebut-sebut neraka itu,” ringan tanpa emosi tapi cukup mengancam hanya dengan kilas picingan.

Reo berbalik, meraih gelas ukur kecil di rak terbawah. Cair kecoklatan mengalir tertuang hingga penuh. “Neraka? Honey, percaya perkataanku. Ada lebih banyak neraka jahanam di atas pijak dunia ketimbang keluarga kecilmu.” Permukaan gelas menghentak keras kayu meja bar. “Ini gratis, tapi kau harus ganti gelas barusan.”

Kata maaf tersekat keras di pangkal tenggorokannya. Menolak terhambur sebagaimana harusnya. Letup letup pitam begitu sebut ‘rumah’ terlepas masih membuat genggam tangannya mengepal keras, seakan kasat mata robek besar yang ia sembunyikan rapi terkuak sekali sentuh.

Definisi rumah bagi Nari tak lebih dari bangunan bak penjara tanpa jeruji yang menguncinya dari dunia luar hanya karena limpah harta yang harus dihibah padanya  karena ikat darah. Keluarga hanya sederet kata tanpa makna hampir sepanjang napasnya meraum dunia. Setiap sudut hatinya berkedut menyakitkan mengingat setiap kilas waktu ia terperangkap di dalam sempit petak bangun bak istana tersebut.

Melarikan diri begitu ibunya melahirkan anak laki-laki yang di damba adalah langkah paling signifikan yang pernah ia tempuh sepanjang sejarah eksistensinya.

“Tidak ada satu jiwa pun yang bersedia kembali ke nereka, Reo. Bahkan walau hidupku dijaminkan surga disana.”

Nari menegak habis cair dalam gelas mungil. Pekat alkohol menjamah letup letup emosi yang masih terus menari dengan musik horor di kepalanya.

“Kalau begitu, jaga surgamu baik baik. Jangan bermain api kalau kau ingin jauh dari neraka, Nona.” Reo mendekat, mengacak puncak kepala Nari bagai gadis itu hanya seorang bocah yang sedang tersesat di tempat yang tak semestinya.

“Re, kalau surgaku runtuh, kau mau menikahiku tidak?” lempar tukas refleksnya.

“Mungkin. Kalau kau bisa membuatku jatuh cinta,” kerling matanya bermain lagi. Seringai canda memoles paras tanpa celanya semakin tampan. Apron kelam yang membalutnya ditarik kasar, dilempar seenaknya ke pojok bar. Bahkan melakukan hal sepele pun ia tampak seksi.

Kalau saja insting seksual laki-laki itu normal, mungkin sekarang ia tidak akan sempat melirik Jae. Namun semesta telah menarik hatinya terpaut pada laki-laki yang tak disangka orang-orang berjiwa asal lebih seperti anak sekolah dasar tersebut.

Ponselnya berdering nyaring dari ceruk tas.

“Kau dimana?”

“Kau sudah selesai?”

“Eish, kau tidak sedang minum kan?” Semakin lama bersama Jae, semakin seperti cenayang laki-laki itu.

“Jae….. Mau tidak kau menikah denganku? Hari ini, sekarang juga.”

“Im nari, ini masih sore, kenapa kau sudah mabuk?!”

Derik napasnya bergaung melalui speaker ponsel, “Ya sudah. Kau tidak mau masih ada Reo yang bersedia.”

“Reo? Siapa Reo? Belum cukup Yejun kau punya selingkuhan baru?!”

“Bodoh. Kenapa kau bawel sih? Jemput aku di tempat biasa. Sebelum aku melarikan diri untuk menikah dengan Reo.”

“Im Nari!”

Dijauhkannya ponsel dari daun telinga. Bising teriak Jae tak kunjung mereda. Segera diputusnya sambung percakapan. Masa bodoh dengan kekasihnya yang dirundung gusar di sisi lain.

“Harusnya aku yang kawin lari dengan pacarmu.”

“Jangan harap,” Nari mengusung picing tajam, “dah. Jangan selingkuh dariku.”

Rana kelam Reo terus mengekor sosok Nari hingga menghilang dari lingkup klub. Mungkin ia bersedia mengencani gadis itu, jika suatu hari orientasi seksualnya sudah kembali ke jalan seharusnya. Mungkin.

=end=

Advertisements

One Reply to “One Sip”

  1. li, serius ya, MASA KAKAK SUKA SAMA GAY SIH ASTAGA KETAGIHAN BACA SI REO ((jedotin kepala ke punggung sungjin))
    tapi serius ya li andai aja si reo ini demen cewek kakak mau ngantri buat diajak ijabsah subhanallah mas reo kok bikin iman seketika anjlok gini sih
    NARI UDAH KEBELET KAWIN EAAA EAAA EAAAA
    ngakak waktu percakapan nari-jae via telpon itu wkwk ga ada hujan ga ada badai tiba tiba si nari minta dinikahin. kakak bisa ngebayangin muka cengo jae di ujung sana, mendadak pacarnya ngajak nikah subhanallah mana ceweknya duluan yang lempar “lamaran dadakan” hahahaha
    nari emang ajaib, thumbs up buat nari
    coba gimana kalo jae ga sengaja curhat ke junhyuk kalo nari ngajak dia nikah, junhyuk kebakaran jenggot gak tuh, trus dalam hati “anjir masa gue dilangkahin adek sendiri” wkwk
    li jangan bikin kakak jadi nari-reo shipper…. reo nya bikin greget banget coba gimana kalo dia normal gitu ya allah
    jae, kamu musti waspada biar nari ga lepas lagi ((lirik reo))
    ditunggu lanjutannya!

    Liked by 1 person

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s