When I Grow Up

tumblr_mtybzpTfqE1sif5mko1_500

When I Grow Up

Seventeen’s Jeong Han – OC’s Emma

|| Canon – Paxton – Ficlet ||

©KARASU

.

.

“You deserve good things, and I want to be one of them.” —Ellen Hopkins, Impulse.

Malam itu, Jeonghan menyempatkan diri keluar. Beralasan mencari udara segar, meski kakinya tanpa sadar mengantarnya ke tempat dimana ia bisa menangkap sosok gadis yang selama ini terus-menerus menginterupsi pikirannya.

Bibirnya mengulum. Gadis yang ingin ia temui kini tampak tak jauh di depan. Tengah sibuk dengan aktifitas hariannya di malam hari. Melayani setiap pelanggan yang datang mengisi bahan bakar.

Emma Miura. Nama gadis berdarah jepang itu, yang ia kenal sejak beberapa tahun belakangan. Gadis yang ditinggal mati oleh ayah kandungnya tiga tahun silam. Gadis yang ditinggal kakak lelakinya mendekam di jerusi besi dua tahun terakhir. Gadis yang harus melewati tiap harinya berjibaku dengan kerasnya dunia demi sepeser uang untuk hidup.

Bibirnya tersenyum getir.

Sudah terlampau banyak tumpuan beban di pundak gadis itu. Selalu menahan sakit seorang diri, tanpa mau berbagi. Ia pernah berujar pada Jeonghan, bahwa hidup mengajarkan dirinya untuk mandiri. Hidup mendiktenya untuk menjadi seseorang yang kuat tanpa harus mengharap belas kasih pihak luar. Meski berjalan dengan kaki terseok penuh duri, ia harus puas dengan takdir yang digariskan Tuhan untuknya.

Gadis kuat yang terlampau menjunjung tinggi harga diri hingga terkadang tampak seperti orang bodoh yang diselimuti sepi, begitulah Emma di mata Jeonghan.

Jika saja ia bisa memeluknya sekarang, Jeonghan akan berlari padanya detik itu juga. Menangis bersama jika perlu. Dan berharap bisa memikul sebagian bebannya, berbagi sengsara.

Tetapi, Jeonghan belum pantas berdiri berdampingan dengannya. Tidak dengan dirinya yang sekarang. Masih terlalu muda dan rapuh. Butuh waktu untuk tumbuh menjadi seseorang yang bisa diandalkan. Membuat gadisnya nyaman untuk bersandar hanya pada dirinya seorang.

Jeonghan tersenyum pasti, waktu itu akan tiba pada saatnya. Sementara ia tumbuh menjadi lelaki yang lebih pantas, hari ini bahkan esok pun ia akan tetap menggenggam tangannya.

Menarik topinya hingga menutupi separuh wajah, Jeonghan lantas memperpendek jaraknya dengan Emma. Ia memperlambat langkah, menunggu Emma selesai dengan satu pelanggan. Dan sebelum mobil lain maju dalam antrian, Jeonghan buru-buru mengambil alih handle katup selang pompa dari tangan Emma dan membiarkan gadis itu mundur beberapa langkah.

“Jeonghan?” desis terkejut Emma, mengintip paras pemuda dengan surai terkuncir dari balik topi.

Pemuda itu hanya membalas dengan kedipan mata, lantas kembali sibuk melayani pelanggan pertamanya malam itu. Begitu lihai Jeonghan memasukkan katup selang ke lubang tangki mobil, menerima bayaran dari sang pelanggan tanpa terdeteksi identitas aslinya sebagai seorang idol.

“Kenapa kau kemari? Tidak ada latihan atau jadwal lain?” Emma kembali bertanya, sementara tangannya membuat gerakan hendak merebut katup selang pompa dari jajahan tangan Jeonghan. “Berikan saja padaku.”

“Khusus malam ini aku akan menggantikan tugasmu. Kau bisa membayarku dengan semangkuk jajangmyeon lain waktu.”

“Tapi—

Jemari Jeonghan menangkup bibir kecil Emma, menahan kata yang siap meluncur dari gadis itu. Lalu mengibaskan tangannya, menyuruh Emma duduk beristirahat.

Meski awalnya Emma melempar tatapan melawan, tak ingin dengan mudah pekerjaannya diambil alih oleh Jeonghan, namun pada akhirnya ia menyerah dan menepi mencari tempat untuk melepas penat sejenak.

Jeonghan tersenyum, beberapa detik memandangi paras si gadis yang kini duduk bersandar di bangku yang tak jauh dari tempatnya berada, sebelum akhirnya melanjutkan perannya sebagai petugas pom bensin satu malam.

Tak banyak yang bisa ia lakukan untuk Emma dengan dirinya yang sekarang. Namun, seberjalannya waktu, kau bisa pegang ucapannya, bahwa ia akan jadi seseorang yang bisa diandalkan. Membiarkan jemari gadisnya menari bebas di atas langit, tanpa harus beradu kembali dengan katup selang pompa bahan bakar.

-fin-

Notes:

Pertama, saya mau jelasin dulu soal Emma, bagi yang pernah baca fiksi saya yang judulnya “I Can’t”, untuk series Paxton ((Emma Miura)) ada perubahan alur dan cast, kalau dulu saya pasangkan Emma dengan salah satu idol lain, di series Paxton yang baru ini saya pakai idol baru seperti yang tercantum di fiksi ini hehe.

Maaf kalau ada sedikit perubahan dan mungkin membuat pembaca bingung.

Terimakasih sudah berkunjung! 😀

Advertisements

One Reply to “When I Grow Up”

  1. Malaikat duile malaikat baik bener kamu bang bang
    Mau bantuin emma, baik hati, rajin menabung, geulis pisan aduuuuuhhh
    Em kamu ga merasa tersaingi apa sama kecetaran abang jeonghan? Hanra aja suka ngiri wkwkwkwk

    Kayanya emma sama haru kebalikan bener pairingnya, satu macem kucing sama tikus satunya macem anak kucing unyu unyu duuuuuhhh
    Duh mau juga dong dape gebetan kaya abang malaikat. Bukan tukang gombal macem scoups wkwkwk
    Bang jangan lama lama mikir nembaknya ya, ntar ada cowo cantik laen emma berpaling kan gawat.

    Jeonghan mah kapan aja ngapain aja auranya malaikat malaikat terus. Meskipun bergaul ditengah bawel squat dia tetap belom tercemari sepenuhnya -belom wkwkwk.
    Kak kak mau yang panjang kau yang panjaaaaang biar bisa puas bacain abang malaikat yang aduhai

    Liked by 1 person

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s