Study Partner

classroom

Study Partner

Choi Eun Gi (OC) – Kim Min Gyu (Seventeen)

..

..

sky.l

..

..

“Eun gi eun gi eun gi,” Woojin memberingsut tepat di kursi di depan mejanya. Membuat deret angka yang susah payah ia hitung kehilangan arah entah di bagian yang mana. Fokus total akhir yang ia kepul dalam-dalam bertebar begitu saja.

“Woojin! Kau mengacaukan hitunganku!” sergaknya menggebrak kedua sisi telapak tangan pada datar permukaan kayu. Picing mata menancap tatap Woojin yang jelas tak peduli pada protes sepupunya tersebut.

“Kau tahu tidak, ada berita besar,” Woojin meraup buku berisi deret angk di hadap Eun gi merekat kedua sisi hingga tertutup dan menyingkirkan benda tersebut ke sorok meja yang kursinya ia okupasi.

“Aku tidak peduli. Kembalikan tugasku!” gerutu Eun gi dengan alir mengancam bersarang menyerang tatap Woojin. Kalau saja gadis itu bukan satu-satunya sepupu perempuan dalam keluarga, mungkin Eun gi akan berpura-pura tidak mengenal sosok kelewat periang yang bibirnya tak pernah berhenti terpatri dari rentet pembicaraan dari mulai teman-teman di kelas hingga bibi penjaga mini market di samping sekolah.

“Kim Mingyu, kau tidak mau dengar?” heran, biasanya gadis itu akan menuang segala yang didengarnya tanpa repot meminta izin apakah orang yang diajaknya berbicara keberatan mendengar atau tidak.

“Kau tahu jawabanku. Retoris,” Eun gi beranjak, menarik buku tugasnya dari kolong meja di depan Woojin.

“Kau tahu senior Yuin? Senior paling cantik yang katanya model itu,” benar saja, tak peduli raut jengkel Eun gi, Woojin tetap lihat menumpahkan berita tanpa peduli enggan mimik orang yang ia suguhi pembicaraan. “Orang-orang bilang senor Yuin naksir Kim Mingyu. Katanya dia akan mengajak Kim Mingyu ke festival musim semi mendatang.”

Hitungannya terpencar entah kemana. Angka-angka yang tertera terasa memusingkan untuk dilihat. Eun gi mendongak, menonton wajah Woojin yang menagih respon dari mimiknya. Jikalau ia pandai, mungkin harusnya Woojin sadar Eun gi tengah memasang lapis kedua air wajah yang sesungguhnya. Atau memang sepertinya memang Woojin terlalu kurang tanggap.

“Lantas?” Eun gi menyodorkan suguh bohong dalam rautnya. Berpura-pura kabar angin yang tersampai tak mengacaukan segala sisi pikirannya.

“Begitu? Hanya begitu saja? Kau tidak cemburu?” Woojin mengernyit, merengut atas tanggap yang tak sesuai ekspektasi. “Kau sama sekali tidak seru.”

Eun gi mengendik acuh, berusaha terlihat kembali sibuk bertutur dengan angka-angka yang bahkan terlihat seperti cacing kremi bergelung karena otaknya tak dapat berkoordinasi baik.

Memangnya kenapa kalau ada senior yang menyukai Mingyu? Masa bodoh dengan anak sialan itu atau apapun yang berhubungan dengannya. Peduli kiamat kalau memang dia akan pergi ke festival musim semi depan dengan seorang senior paling cantik seantero sekolah –padahal ia sama sekali tidak tahu senior Yuin yang mana.

“Oi, Choi Eun.”

Lihai sekali dia mencari momen. Gerutuan cukup keras bergema begitu objek pembicaraan berdiri tepat di hadapnya –tentu saja dengan wajah penuh congkak dan seringai mengesalkan.

“Aku kena kelas tambahan. Nanti kau harus mentutoriku.”

Sialan, siapa sih yang berusul membuat program partner belajar -dimana satu murid akan bertanggung jawab atas murid lain dalam penialain akademik hampir semua mata pelajaran. Bisa-bisanya laki-laki menjengkelkan ini mendapat kelas tambahan padahal ini baru minggu kedua semester dimulai.

“Bukankah kau harus pergi kencan untuk festival?” ujar yang lekas ia sesali bagitu sadar gaung sarkasme yang tertumpah terdengar terlalu sarat apa yang Woojin katakan sesaat lalu –cemburu.

Kim Mingyu terkekeh. Nah tepat, ia baru saja membuat dirinya sendiri terdengar konyol. Eun gi merunduk, menyembunyikan paras yang mengernyit dalam-dalam.

“Jangan khawatir, aku lebih tertarik naik kelas ketimbang kencan di festival,” figur menjulang tersebut berderap pergi. Meninggalkan sekotak susu dan sepotong roti isi cokelat kacang kantin –yang selalu cepat habis lima menit setelah bel istirahat berdering.

“Coklat kacang!” Dokyum yang baru saja menghampirinya dan Woojin, meraup plastik pembungkus roti lantas melahapnya begitu saja.

“Bodoh!” Woojin menyampaikan apa yang ingin Eun gi lakukan –menepuk keras belakang kepala Dokyum hingga berbunyi keras. “Itu pemberian spesial.”

Dokyum tersedak keras, “Spesial siapa, sih?” sahutnya sewot.

“Spesial partner belajarnya,” Woojin menarik carik post it kecil yang tertempel di kotak susu lalu menepuknya keras di buku yang tengah Eun gi tekuri.

 Study partner, thanks.

 

=end=

setelah tiga kali bongkar pasang, akhirnya kelar. haha garing ya?

yasudahlah….. teheee

mindo

Advertisements

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s