(Un)Lucky Charm

junhyeok

Im Junhyeok (DAY6) – Oh Sena (OC)

..

..

sky.l

..

..

.

.

Ia tidak begitu menyukai bising klub, terlalu penat tanpa sela. Kepalanya sedang menengok kesana kemari mencari sosok di tengah kolam manusia, di tengah serak orang-orang yang bergerak tak tentu melempar tubuh sesuka hati. Ia tidak tahu dimana sosok itu, bagaimana penampilannya, atau sedang apa dirinya. Hanya pesan singkat tanpa keterangan dan sambung telepon yang tak kunjung disahuti si pemilik nomor.

Tubuhnya bergeser cepat melewati orang-orang yang dirasuki dentum musik dan derik alkohol, bar di ujung ruang yang tampak lenggang menjadi tujuannya. Meja kayu panjang dan suasana modern klub tidak dirasa selaras, namun kemungkinan besar gadis yang selalu tanpa sungkan menyodorkannya masalah itu berada di meja tersebut.

Deret kursi yang menemani meja bar tak sebegitu penat. Hanya beberapa perempuan malam yang mencari sensasi dengan gaun berpotongan rendah. Disana, di ujung meja tampak seonggok tubuh yang bertopang pada meja. Kaus oblong, celana jeans usang, serta sepasang sneakers merah sudah lebih dari cukup untuk mengindentifikasi gadis yang jelas-jelas sudah tak sadar akan bising yang mendentum keras gendang telinganya.

Junhyeok mendekat, menyingkirkan gerai rambut yang menghalang wajah gadis yang dicarinya –sekedar memastikan sosok itu benar sepupunya yang paling merepotkan.

Bingo. Nari.

“Bisa kubantu?” seorang laki-laki berpenampilan kelewat necis di balik meja bar tahu-tahu melipir. “Maaf, Anda siapanya Nari?”

Oppanya,” jawab Junhyeok, sembari melempar lirik pada sosok lawan bicara yang tampak begitu metroseksual. “Kau siapa? Omong-omong berapa gelas yang sudah ia rampok?” Junhyeok menatap pasrah pada gelas setengah kosong di samping Nari, tentu saja setengah cairan di dalam gelas bukan satu-satunya tegak minuman yang Nari sesap.

“Aku Reo, bartender khusus mi lady,” laki-laki itu mengerling.

Junhyeok merasa defensif, “Khusus?”

“Oh tenang saja, meski dia tanpa busana di hadapanku aku sama sekali tidak tertarik. Kau tahu….” laki-laki bernama Reo itu mendekat, menyandarkan siku pada meja lantas melempar senyum. Jenis yang tak terhitung lazim dilempar pada Junhyeok –seorang laki-laki.

Uh-oh sekarang ia merasa aneh.

“Tolong bill Nari,” alih Junhyeok, menggiring diri keluar dari situasi yang sama sekali tidak membuatnya tersanjung.

Reo menyodorkan bill –masih dengan seringai yang membuat Junhyeok segera mengeluarkan lembar uang yang tertera tanpa mengomel betapa mahal tagihan minum Nari hanya untuk satu malam.

“Terimakasih,” Junhyeok menggeser tubuh Nari, menarik lengannya ke lingkar bahu lalu menyeret tubuh gadis itu sekuat tenaga. Membawa seonggok Im Nari bukan tugas mudah, meskipun gadis penggemar alokohol tersebut belum mulai meracau tak tentu ditengah tidak sadarnya.

“Lain kali kalau hatimu sedang galau, minum teh saja bisa tidak sih?” erang Junhyeok, tangga terakhir keluar dari gelap klub terasa begitu jauh dengan rangkul Nari di bahunya.

Oppa….. antar aku pulang ke boarding house saja,” bisik Nari dengan sisa suara yang semakin menghilang di akhir.

“Yakin?” Junhyeok takjub, masih ada sisa kewarasan dalam kepala gadis itu setelah bergelas-gelas berbagai jenis alkohol yang merampas isi kantongnya.

“Jae…. aku tidak….. Jae….”

“Tidak ingin bertemu Jae? Baiklah,” Junhyeok meluap tanya alasan kenapa ia menghindari Jae. Sebanyak apapun rasional yang masih berkumpul dalam otaknya, ia tak ingin menguras sisanya dan mengundang kegaduhan di perjalan pulang.

“Baiklah, boarding house,” tangan Junhyeok segera mengudara, mengundang jasa trasnportasi yang segera menghampiri.

**

 

Beruntung boarding house Nari tak sebegitu jauh dari jalan utama. Ini kali pertama ia berkunjung.

“Sena… kau bisa tanya Sena.”

Junhyeok mengerjap tak percaya sesaat, mungkin makin lama otak Nari semakin kebal dengan takar alkohol meningkat. Nari menyodorkan tas selempangnya. Oh… ponsel di dalamnya maksudnya.

“Minta Sena bukakan pintu,” Nari menarik tubuh menjauh, berjalan limpung ke arah tangga lantas bersandar di depan pintu boarding house.

Junhyeok mengeluarkan ponsel Nari dari dalam tas, mencari nomor kontak ‘Sena’ yang disebut-sebut Nari. Sambung telepon segera terhubung.

Nari? Kenapa?” suara yang kentara setengah kuap segera menyahut begitu sambung ketiga.

“Er…. maaf, kau Sena? Aku Junhyeok, kakak Nari.”

“Huh, oh? Ya, ada apa?”

Junhyeok berdehem, “Aku di depan rumah bersama Nari. Bisa tolong bukakan pintu?”

“Oh, sebentar,” sambungan berakhir.

 

**

 

Terdengar derap cepat dari gesek lantai di dalam rumah, tak berapa lama pintu yang disenderi Nari berayun membuka. Sehingga tubuh gadis itu terhuyung menubruk tubuh gadis yang membukakan pintu.

“Nari-ya…. kenapa lagi denganmu?”

Junhyeok bergegas menghampiri, melihat gadis itu tampak kesusahan menampung berat tubuh Nari yang tampak lebih besar dari pada dirinya.

“Maaf, ternyata dia juga merepotkan orang lain,” Junhyeok segera menarik Nari ke sisinya.

“Tak masalah. Biarpun dia kadang menyebalkan.”

“Kadang? Woah, kau lebih sabar dariku.”

Gadis itu mendorong pintu hingga terkuak lebar agar Junhyeok tambah Nari bisa muat melewati persegi panjang tersebut.

“Tidak apa,” gadis itu berhenti dari langkahnya yang dua kali di depan Junhyeok dan Sena, berbalik tubuh sekedar mengumbar sudut tinggi bibir yang tampak tulus meski wajahnya tampak begitu lelah. “Kamar Nari di lantai dua.”

Sesaat ia disapa lengkung ditengah kering kuras energi mimik gadis itu, Nari yang melingkar lengan padanya terasa tidak begitu merepotkan atau sergap alkohol yang menguar tak tertangkap begitu pekat. Menyenangkan, menenangkan.

“Namamu Junhyeok, kan?” dering namanya menggema seperti gelitik angin yang menghembus segar.

“Aku Sena. Oh Sena.”

Nama yang segera menjadi emblem permanen tanpa otaknya mencerna lewat satu siklus sensor sempurna.

**

“Maaf atas keributannya,” Junhyeok menutup pintu kamar Nari. Menghampiri Sena yang tengah meletakkan segelas es teh di atas meja tamu tepat di samping pintu kamar Nari.

“Sudah biasa. Jangan terlalu dipikirkan protes barusan,” Sena meletakkan nampan dan duduk di sofa tepat di seberang Junhyeok. Gelung rambut yang sesaat lalu tinggi di atas kepala tergerai turun tak beraturan dari tempatnya. Mengusung figur wajah yang semakin menguras fokusnya dalam-dalam.

“Omong-omong aku tidak pernah tahu Nari punya kakak,” Sena mengerjap beberapa kali, mengusir kantuk yang kembali bersarang.

Bahkan wajah kantuk gadis di hadapnya tampak manis. Teh yang disodor Sena barusan tak ada apa-apanya.

“Halo…. aku bertanya padamu,” Sena melambaikan tangan, hampir dua menit tanpa sahut jawab dari lawan bicara yang ia tanyakan.

“Huh? Oh…. aku sepupunya,” Junhyeok meletakkan teh yang ternyata telah tandas tanpa ia sadar –entah pada teguk ke berapa sembari matanya tak lepas dari tatap yang juga terus mengekor pandangnya di tengah kelelahan.

“Berarti kau selalu bersama Nari dari kalian kecil, benar?”

Junhyeok mengangguk, “Dia seperti jimat sial yang selalu mengikutiku.”

“Jimat sial?” dahi Sena mengusung kerut.

“Anak itu selalu membuatku kena masalah karena menjauhkannya dari masalah dulu,” mengingat masa lalu, mengorek kembali kilas balik hukuman yang bergulir tiap kali Nari melibatkan dirinya. “Sekarang pun ia masih merepotkan,” hela panjang napas membumbung bersama kenang masa sekolah yang tidak begitu ingin ia pendam baik-baik.

“Syukur Nari punya kakak yang baik sepertimu. Setidaknya ia tidak begitu kesepian,” tak banyak pikir usaha namun surai bibirnya melayang begitu ringan. Merampas sekitar yang masih berkelebat menjadi tak ada. Bahkan matahari siang tak sebegitu berarti lagi jika ulas manis itu terus bertengger di hadapnya –meskipun saat ini nyalang matahari sedang tak berada pada tahta.

“Sudah terlalu larut, tidak pulang sekarang?” jika ia punya pilihan untuk tidak pulang, mungkin ia tanpa banyak debat akan langsung meraupnya. Senyum gadis berbaju gombrong bercelana piama tersebut menampik segala kepentingan yang menuntut.

“Ah…. ya, latihanku masih menunggu,” begitu teringat wajah lima orang yang menghabiskan malam di studio latihan segera menampar kesadaran. Berat hatinya memotong pertemuan yang diinginnya terasa lebih lama.

Tungkai yang melangkah ke pintu keluar terasa berat. Padahal tak pernah ada waktu latihan yang dirasa enggan ia jalani. Begini kah yang Jae rasa pada gadis tukang buat onar tersebut –Nari tentu saja.

“Sampai jumpa lain waktu, Junhyeok-sshi.”

Kilas-kilas terakhir sebelum pintu berayun menutup fatamorgana di tengah tandus wajahnya tetap terlihat menyenangkan. Sayang rasanya seperti detik-detik akhir kekalahan telak tim sepak bola nasional. Junhyeok berbalik, langkahnya boleh saja berjalan menjauh namun sesuatu jelas tertinggal.

Ah…. jimat sialnya ternyata bisa juga membawa keberuntungan.

“Sampai jumpa lagi, Oh Sena.”

=end=

reo
Reo

 

Halo…. halooo….

karena yang kemaren sempat ada cameo-an Sena kepikiran deh bikin sesuatu buat Sena dan si abang yang selalu kena apes Nari hohoho.

Nggak terlalu banyak feel sih, huhuhu mangap ya.

Semoga suka 😀

 

 

 

 

Advertisements

One Reply to “(Un)Lucky Charm”

  1. bentar dulu mau ngetawain junhyeok wkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkkwkwkwkwkwk

    subhanallah untung ya junhyeok ga sampe diterkam sama reo lol. ikut kaget sekaligus ngakak kenceng waktu reo bilang dia ga bakal tertarik sama nari walaupun ga pake baju trus senyum genit ke junhyeok wkwkwkwkwkwk. ini reo beneran gay atau cuma iseng doang ke junhyeok? lol pasti junhyeok langsung merinding lihat reo. kalo kata senior kakak, cowok itu takut sama dua hal, 1. kecoa terbang, 2. banci. nah reo masuk ke opsi kedua ga ya hahahaha. tapi li, itu reo lumayan bening juga ya ((nah loh))

    biasanya nari nyusahin junhyeok tapi bisa juga ngasih keberuntungan ya. ciee bang junhyeok yang lagi terpesona sama cewek, akhirnya jatuh cinta juga. udah deketin aja bang, gas pol!! siapa tau jodoh XD

    ini lucu li, kocak waktu bagian si reo. reo harus eksis! nanti ketemuin sama jae juga kalo bisa wkwk

    ps: bang junhyeok semoga cepet jadi ya sama sena, lepas masa lajang lah udah waktunya cari jodoh hihi

    Like

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s