#JaeDay

jaeday

Im Nari (OC) – Park Jaehyung (DAY6)

..

..

sky.l

..

..

 

08:38 AM

 

“Kenapa senyum terus? Habis dijanjikan cium manis Nari?”

Jae mendongak dari layar datar, Junhyeok tengah menyetel perangkat keyboard namun tatap menelisik wajah Jae. Kait jemari pada panjang senar terhenti. Pekat di balik kedua kaca transparan balas menatap Junhyeok.

“Kau kenapa sih? Masih tidak setuju dengan hubunganku dan Nari?” baru satu kalimat namun nada jengkel bergumul kental. Konfrontasi mendadak ini membuat mood senangnya melayang.

Paras ramah Junhyeok tak selaras lontar kata menusuk yang bergaung, “Kau paham maksudku, hyung.”

Junhyeok tak pernah menguar keberatan akan status yang melingkupi adik sepupu dan member tertua grupnya tersebut, pun begitu Jae merasa tidak ada isu berarti untuk mendadak membahas demikian.

“Kepalamu tidak pernah benar kalau sudah bersangkut Nari,” nadanya acuh tak acuh, seolah pembicaraan ini hanya obrol ringan di sela kopi. Sementara Jae sama sekali tidak merasakan hal yang sama.

Hempas napas menarik dongak Junhyeok, Jae meletakkan gitar lantas menarik pandang lurus lamat-lamat pada lawan bicara di balik keyboard, “Baiklah, katakan sebenarnya apa yang tidak kau suka?”

Kedua tangan Junhyeok bertumpu pada badan keyboard, “Nari. Aku tidak pernah suka Nari dan kelakuannya. Hyung, kau tahu itu, kenapa masih ngotot berpacaran dengannya?”

“Aku menyukai Nari,” jawaban singkat yang Jae pikir akan menjawab segala hal. Bagi dirinya sendiri, setidaknya.

“Menurutmu, rasa sayangmu sebesar rasa sayangnya kepadamu?” tidak pernah ada yang paham akan takar perasaan orang lain selain diri sendiri, begitu pun ia tidak memliki gagasan jumlah tuang perasaan Nari terhadap dirinya.

“Tidak ada perkara yang lebih penting selain perasaanku terhadapnya,” Jae berdiri –dengan tinggi terpaut jauh banding Junhyeok, mengecam tiap kata dengan legam tajam yang merajam ke hadapnya.

“Kalau dia mencampakkanmu?”

Stop. Aku sedang tidak nafsu berdebat,” tungkainya beraksi, melenggang jauhi tempat perkara. Tanggap tak disangka yang tak diharap menyamabangi kepalanya cukup meruntuhkan rasa manis memulai hari bahkan setelah ucap selamat pagi dari Nari.

Hyung, kemana? Kita harus latihan,” Dowoon tak ayal pintu yang didorong menjeblak, meloloskan langkah dari gurat pitam yang mengepul.

 

**

1:56 PM

 

Gerus lambung semakin kentara, isi kepala entah di buana mana, tubuh di ambang dehidrasi sementara nada yang bergema tak pula memuaskan persyaratan sempurna ketua, “Ada yang salah. Bukan, banyak yang salah. Kenapa dari tadi keyboard dan gitar tidak berketuk pas?” Sungjin berganti menelisik sisi kanan dan kiri. “Aku juga lapar dari tadi. Ditahan sebentar kan bisa.” Rupanya ia tumpul situasi.

Hyung lusa kan fansigning. Latihan hari ini didiskon ya?” umbar aura yang janggal membuat Dowoon angkat suara.

“Setelahnya kan kita tampil di festival,” sanggah Wonpil, memainkan perhatian pada perangkat lunak. Keberatan ungkap sang maknae.

“Dilanjut nanti malam saja. Kepalaku rasaya migrain,” Junhyeok sudah bersandar pada dinidng ruang, tangan memijat pelipis, kelopak mata turun menutup.

Lelah bukan alasan khusus, hanya satu dari deret panjang keseharian normal semenjak belakangan. Beberapa memasang demikian namun yang lain masih penuh corak semangat demi penampilan menjanjikan untuk membayar baris penggemar. Namun kali ini sedikit kelonggaran tidak akan mengundang fatal.

“Baiklah, kalian boleh istirahat. Nanti sehabis makan malam baru kita lanjutkan.”

Jae yang pertama mengusir diri dari ruang latihan.

Sukses. Jangan lama-lama. Aku gerah.

**

11:35 PM

“Kau dimana?”

“Cafe, kenapa?” suara di seberang sambungan terlalu sarat kebisingan. Nari berbohong.

“Kau di klub,” pertanyaan telak. Desah berat berhambur.

“Jae aku sibuk, nanti saja telepon lagi.” 

Bising berganting denging sunyi begitu nada pelan akhir sambungan. Melepas tempramen lewat hentak benda apa terasa melegakkan? Karena tangannya gatal ingin menghempas ponsel yang bergeming acuh. Pantas Nari sering menghantam barang dengan dinding.

“Masih berpikir dia menyukaimu?”

Hanya tinggal dirinya dan Junhyeok di ruang latihan. Yang lain berhamburan memuaskan candu kafein untuk menyelamatkan kantuk. Bumbu tempramennya malah memburuk menangkap tutur Junhyeok.

“Jangan memancing. Aku tidak tertarik,” balas Jae, tak mendongak dari layar ponsel.

Junhyeok mengusung nada, memainkan melodi tak tentu yang menyenangkan namun terasa genting. Ah… sarkasme berseni.

“Setelah kau tahu dia bertemu Yejun terakhir kemarin?”

“Kubilang aku tidak tertarik,” nadanya tak beranjak, namun tangannya semakin gatal meremuk atau setidaknya menghantam sesuatu.

“Kau tahu tidak, kali pertama ia bertemu Yejun adalah di klub.”

Kali ini kepalanya mendongak, tatap mengancam segera membersit. Gumul khawatir sambung telepon barusan membuat banyak pikiran aneh yang disahuti sarkastik Junhyeok, membuatnya semakin gemas menyalurkan letup-letup panas kepala.

“Setidaknya aku lebih baik dari model sialan itu. Lantas kenapa kau protes?” Jae diambang berteriak. Kalau saja ia bukan tipe yang menyambut kobar dengan kobar.

“Lebih baik? Hyung, jangan bercanda,” tawa yang sama sekali tidak menggambarkan rasa humor, minus jenaka.

Jae berdiri, menutup banyak langkah dari hadap Junhyeok, “Aku tidak pernah dan tidak akan membuatnya menangis. Apalagi berselingkuh. Aku lebih baik,” kecamnya tebal.

Hyung tidak membuatnya lebih baik. Menurutmu bagaimana?”

Alir jawaban berhenti, pukulan telak berbayang lewat perkataan Junhyeok barusan.

“Tidak akan ada lebih baik kalau Nari tetap menjadi Nari tanpa aturan. Kau bisa menyimpulkan sendiri.”

Jae berderap mundur, ingin menampik kalimat yang segera menancap di setiap bagian tubuh dan membuatnya merasa nyeri. Terlalu benar untuk dipantul menjauh.

“Kau begitu tidak sukanya dengan hubunganku dan Nari?”

Lirik Junheyok berkilas, sebalah ujung bibir meninggi, “Tidak.”

Klak.

Gelap, ruang latihan berubah gelap.

**

“Jae?”

Delik remang dari luar ruangan membuat matanya memicing mengenali sosok berambut panjang yang berdiri di depan pintu. Nari.

“Kenapa kau di—“

Sosok-sosok lain bergerombol masuk tepat di belakang Nari, samar terlihat ruam cahaya pendar. Lilin. Suara keyboard bergaung, memainkan musik yang tentu saja tak asing bagi telinga siapa saja. Lagu ulang tahun. Tepat setelah iring awal, riuh nyanyian berembuk merusuhi alunan tuts.

Happy birthday idiot,” pendar cahaya diatas benda bundar tersebut kini berpindah di hadapnya. Ia merunduk, menghempas udara menghilangkan cahaya mungil itu. Lampu ruangan kembali dinyalakan.

Matanya lekas menyalangi satu persatu kepala yang berada di ruangan, ekspresi mereka serupa : menahan tawa. Bahkan Nari tak segan meringkuk di kursi tak jauh dari Junhyeok, mengumbar bahak tawa di ruang kedap suara tersebut.

“Sialan, ide siapa ini?”

Lima pasang mata lain menaruh tatap tepat pada sosok yang masih sibuk memuntahkan rasa lucu atas keberhasilan rencana konyolnya terhadap Jae.

**

“Kau sogok apa Junyeok?” Jae mengulur kaleng cocoa pada telapak Nari.

“Nomor ponsel Sena, teman satu rumahku,” gadis itu hanya mengendik acuh, segera menuang cair cocoa pada kerongkongannya yang terasa serat karena berpotong-potong kue yang terus ia sodok masuk.

Jae menarik gadis itu keluar, ke atap gedung  agensi agar tak terpeta pasang mata penggemar yang tak pernah absen dari depan gedung tiap harinya. Sementara sisa kue dan kelima member yang ia beri ‘hadiah’ manis di tempurung kepala masih berebut kue dan potong ayam goreng yang dibawakan Nari.

“Kupikir Junhyeok tak sejago itu berlakon. Ternyata dia lebih andal dari pada—“

“Dari pada dirimu? Tentu saja,” Jae melantun kekeh cemooh. Kekasih di sampingnya mendengus, memukul lengannya cukup keras.

“Sialan. Makanya kumanfaatkan Oppa kesayanganku itu.”

“Kesayangan?” Nada jahilnya menelisik tak lupa satu alis lebih tinggi dan seringai manis yang membuat wajah Jae terlihat begitu menjengkelkan bagi Nari.

“Pikirmu aku lebih sayang kau dari pada Oppaku sendiri?”

“Tentu saja,” Jae mencomot jejak cocoa di sudut bibir Nari. Gadis itu menepuk keras kepala Jae, “Apa? Ini hukuman karena kau mengerjaiku.” Wajahnya masih menuding Nari dari dekat, “Lalu…. ini karena kau tidak memberiku kado,” Jae mengusir jarak wajah mereka, ikut menyecap sisa cocoa yang tadi ditegak Nari.

“Heh, gombal. Makin hari mulutmu makin menyebalkan, ya?”

Jae tertawa, mimik merengut Nari membuat momen sesaat lalu menguar. Lengannya menggeser tubuh Nari mendekat. Menyandarkan gadisnya di bahu.

“Selamat ulang tahun, bodoh. Terima kasih, sudah terlahir dan membuat hidupku susah.”

“Sama-sama, gadis idiot,” Jae mengecup puncak kepala Nari, matanya terpejam, menata setiap kilas yang berdenting menyenangkan. Tidak perlu hadiah mewah, cukup gadis itu di sisinya.

=end=

YIHAAAAAA akhirnya selesai, ke post juga. Meskipun udah H+1 ultah Jae kemaren.

Sebenarnya ini berasa garing sih……. mangap ya, lagi nggak ada ide cemerlang seliweran akhir-akhir ini, maaf juga judulnya ikut alay begini kaya Jae huhuhu. Anyway, semoga suka 🙂

Advertisements

3 Replies to “#JaeDay”

  1. HAPPY BIRTHDAY ABANG JAHE!!!!!!!! SEMOGA MAKIN UNYU MAKIN MIRIP AYAM CILIK SEMOGA SUKSES SEMOGA LANGGENG SAMA NARI dan semoga kamu pendekan dikit, kamu ketinggian orang tau gak sih mas kalo nanti aku bisa ke koriya trus ketemu sama kamu harus dongak seberapa tinggi ha?

    JUHYUKIE JAGO BANGET SIH AKTINGNYA DUH UDAH SIAP JADI AKTOR KAWAKAN APA GIMANA NIH hahahahahaha pengen ngakak kenceng waktu tau junhyuk cuma sandiwara belaka, jae juga gampang banget kebakar emosinya, tiap hari ngeluarin hastag alay nan panjang sepanjang jenggot limbad tapi ternyata disentil dikit soal nari-yejun udah langsung ngeluarin tanduk apalagi si junhyuk terang2an bilang ga ngerestuin dia sama nari wkwkwkwk

    dowoon. lagi lagi dia ada di situasi yang tidak tepat ya, hm.. nasibmu kok gitu amat ya dek ((sambil ngetawain dowoon)) padahal baru masuk, nanya baik2 ke jae eh malah jae nya ngegebrak pintu buahahahaha kasian dedek

    tapi ya.. habis surprise selesai, jae sama nari langsung aja nih main sosor sosoran. bikin yang jomblo gigit jari ((maksudnya si readernya)) ((lah itu sih nasib lo tir)) GEMES LAH SAMA DUA ORANG INI HUH POKOKNYA MEREKA HARUS LANGGENG YA GAMAU TAU

    nanti yejun biar buat aku aja ((disorakin dilempar bakiak ditimpuk wajan))

    sekali lagi, selamat nambah umur jae!!

    Like

  2. this is the very first day6’s fic yang aku baca dan sukaaaaaa
    aku suka susunan kata-katanya, unik tapi masih gampang dipahami, suka juga sama jae nya wow galak banget mau dong digalakin??!?

    aku kira ini konfliknya beneran junhyeok yg gak suka jae pacaran sama nari terus nari nya emang main main tapi ternyata.. dikerjain.. hahahaha i was kinda dumbfounded tbvh same like jae lol terus endingnya uhhhhhhhh gak kuat haha good job! thanks for this fic huhu pretty much made my day!

    Like

    1. Halooo
      Salam kenal
      Terimakasih juga udah mampir dan meninggalkan jejak 😀
      Makasih atas pujiannya hahaha

      Nari emang rada rada sih anaknya jadi maklum suka ngerjain aneh aneh begini contohnya.

      Sering-sering mampir dan baca baca ff lain disini yaaaa 🙂

      Sincerely,
      sky.l

      Like

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s